NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: DIAGNOSA YANG MENYESAKKAN

​Ruang bawah tangga itu sempit, pengap, dan dipenuhi debu-debu Niskala yang beterbangan seperti serpihan abu vulkanik. Aku mendekam di sana, memeluk boneka beruang itu seerat mungkin. Di duniaku yang sunyi, suara napasku sendiri terdengar seperti deru badai yang mengancam ketenangan. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, sebuah sensasi yang aneh karena seharusnya aku sudah tak memiliki jantung yang berdetak. Namun di sini, di perbatasan antara ada dan tiada, emosi adalah satu-satunya bahan bakar yang membuat wujudku tetap utuh.

​Di luar gudang, aku bisa mendengar suara langkah kaki yang berat. Krak... krak... Suara itu bukan langkah kaki manusia. Itu adalah suara persendian yang dipaksa bergerak, suara dari makhluk tinggi kurus yang tadi merayap di langit-langit. Penjaga Niskala itu tidak menyerah. Dia tahu aku menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak ada di dimensi ini. Setiap kali makhluk itu mendekat, suhu di sekitarku turun drastis hingga aku bisa melihat uap dingin keluar dari mulutku. Di dunia nyata, mungkin Kinaya sedang menggigil ketakutan di pelukan ibunya, tanpa tahu bahwa ayahnya sedang mati-matian menjadi tameng di dunia lain.

​"Haidar... Apa yang sedang kamu lakukan?"

​Sebuah suara bisikan lembut tiba-tiba terdengar, namun bukan dari arah pintu gudang. Suara itu terdengar sangat jauh, namun sangat akrab. Itu suara Rina. Aku memejamkan mata, mencoba menyelaraskan frekuensi batinku dengan dunia nyata. Perlahan, dinding-dinding gudang yang kelabu mulai tampak transparan. Aku bisa melihat ruang tamu kami, namun versinya berbeda. Di sana, lampu menyala terang. Rina sedang duduk di sofa dengan mata sembab dan lingkaran hitam yang tebal di bawah matanya. Di sampingnya, seorang pria paruh baya mengenakan kemeja rapi—seorang dokter—sedang berbicara dengan nada rendah yang sangat hati-hati.

​"Ibu Rina, kita harus realistis. Kondisi Kinaya setelah kecelakaan itu... dia mengalami trauma pasca-kejadian yang sangat berat," ucap pria itu. Suaranya terdengar seperti guntur yang diredam di telingaku. "Halusinasi yang dia alami, tulisan di dinding, hingga keyakinannya bahwa boneka itu bergerak... itu adalah cara otaknya mengatasi rasa bersalah yang tak tertahankan."

​Aku berteriak sekencang-kencangnya dari dalam gudang Niskala. "Aku di sini, Rin! Aku beneran di sini! Bilang sama dia kalau aku nggak bohong!" Tapi suaraku hanya memantul di dinding kayu yang lapuk. Di dunia mereka, tak ada satu pun suaraku yang terdengar. Hanya keheningan yang menyesakkan.

​Rina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. "Tapi Dok, saya melihat sendiri spidol itu bergerak. Saya melihat tulisan itu muncul. Bagaimana mungkin itu hanya imajinasi seorang anak kecil?"

​Dokter itu menghela napas panjang, sebuah ekspresi yang sering kulihat saat seseorang mencoba memberikan berita buruk. "Trauma kolektif, Bu. Anda juga sangat kehilangan suami Anda. Kadang, orang dewasa pun bisa ikut 'terbawa' oleh delusi orang terdekatnya karena rasa sedih yang sama. Tapi bagi Kinaya, ini berbahaya. Jika kita membiarkan dia terus percaya bahwa ayahnya masih ada di rumah ini, dia tidak akan pernah sembuh. Dia akan terus terjebak dalam dunianya sendiri."

​Setiap kata dari dokter itu terasa seperti sembilu yang menyayat jiwaku. Di dalam pelukanku, boneka beruang itu kembali mengeluarkan cairan hitam dari matanya. Kinaya pasti sedang mendengarkan pembicaraan itu. Aku bisa merasakan rasa sakitnya yang makin memuncak. Rasa sakit itu berubah menjadi energi kinetik di duniaku. Tiba-tiba, lampu di gudang Niskala pecah berantakan.

​CRAAAASSS!

​Suara pecahan kaca itu diikuti oleh hantaman keras pada pintu gudang. Makhluk tinggi kurus itu berhasil menemukanku. Pintu kayu gudang itu mulai retak, bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena distorsi ruang yang diciptakan oleh kehadiran sang Penjaga. Aku melihat jari-jarinya yang panjang dan berwarna hitam legam mulai menyelinap melalui celah retakan pintu. Jari-jari itu tidak memiliki kuku, hanya ujung yang runcing dan tampak sangat tajam.

​"Pergi! Jangan sentuh jembatan kami!" aku meraung, mencoba mendorong pintu gudang itu kembali. Aku menggunakan seluruh amarahku. Aku teringat bagaimana truk itu menghantamku, bagaimana aku gagal memberikan boneka ini secara langsung, dan bagaimana Kinaya menangis di hari pemakamanku yang tak sempat kusaksikan. Energi kemarahan itu membuat wujudku membesar, tanganku menjadi cukup kuat untuk menahan dorongan sang Penjaga.

​Namun, makhluk itu mengeluarkan suara statis yang menyakitkan. Sebuah suara yang terdengar seperti ribuan siaran radio yang rusak diputar secara bersamaan. Di dalam suara itu, aku mendengar gema kata-kata dokter tadi: "Dia harus melepaskan ayahnya... Dia harus berhenti berdelusi..."

​Makhluk ini bukan sekadar hantu. Dia adalah personifikasi dari kenyataan yang ingin memisahkan aku dan Kinaya. Dia adalah batas yang ingin menghapus keberadaanku agar Kinaya bisa "waras" di mata dunia. Tapi aku tidak peduli. Jika waras berarti Kinaya harus merasa sendirian dan memikul beban rasa bersalah itu seumur hidup, maka aku lebih baik membiarkannya tetap berada dalam delusinya, selama dia tahu aku sudah memaafkannya.

​Di dunia nyata, aku melihat Kinaya berlari menuju gudang bawah tangga. Rina dan dokter itu kaget dan mencoba mengejarnya. "Ayah! Ayah di dalam, kan? Jangan dengerin dokter nakal itu, Yah!" teriak Kinaya sambil memukul-mukul pintu gudang dari sisi dunia nyata.

​Duniaku dan dunia nyata seolah-olah beradu di pintu gudang ini. Dari sisi Niskala, aku menahan pintu agar sang Penjaga tidak masuk. Dari sisi nyata, Kinaya mencoba membuka pintu agar dia bisa menemuiku. Sang Penjaga mengeluarkan raungan yang membuat dinding Niskala mulai runtuh perlahan. Abu-abu kabut mulai berubah menjadi kegelapan total.

​Aku menyadari satu hal yang mengerikan. Semakin kuat Kinaya mencoba memanggilku, semakin kuat pula sang Penjaga menyerangku. Komunikasi kami adalah racun bagi dimensi ini. Setiap kali aku memberikan tanda, aku sebenarnya sedang menarik makhluk ini mendekat ke arah Kinaya.

​"Kinaya, jangan buka pintunya!" teriakku, meski aku tahu dia tak mendengarku. Aku melihat gagang pintu di duniaku mulai berputar liar. Sang Penjaga kini sudah berada tepat di balik pintu, wajahnya yang rata tanpa fitur mulai menekan permukaan kayu, membuat kayu itu melengkung ke arahku seolah-olah terbuat dari karet.

​Dengan satu hentakan terakhir, pintu itu meledak. Sang Penjaga masuk dengan kecepatan yang tak masuk akal. Tangannya yang panjang meraih leherku, mengangkat tubuhku hingga kakiku tak lagi menyentuh lantai. Aku merasa oksigen yang sebenarnya tak kubutuhkan seolah-olah ditarik paksa dari paru-paruku. Di saat yang sama, di dunia nyata, pintu gudang terbuka.

​Kinaya berdiri di sana dengan mata membelalak. Rina dan dokter menyusul di belakangnya. Di mata mereka, gudang itu kosong. Hanya ada tumpukan kardus tua dan debu. Tapi di mata Kinaya—yang kini sudah bersinggungan dengan frekuensi Niskala—dia melihatku. Dia melihat ayahnya sedang dicekik oleh bayangan hitam yang mengerikan.

​"Lepasin Ayah!" Kinaya menjerit histeris. Dia mengambil sebuah botol kaca bekas yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah sang Penjaga.

​Botol itu melayang menembus tubuh sang Penjaga dan pecah di dinding gudang. Bagi Rina, itu hanyalah tindakan anak kecil yang sedang tantrum. Tapi bagi sang Penjaga, serangan itu adalah gangguan. Dia melemparkanku ke sudut gudang hingga kepalaku menghantam rak besi. Suara berdenging kembali memenuhi telingaku.

​Aku melihat sang Penjaga kini berbalik menatap Kinaya. Makhluk itu mulai menjulurkan tangannya menuju wajah putriku. "TIDAK!" aku berteriak, mencoba bangkit meski seluruh tubuhku terasa hancur. Jika makhluk itu menyentuh Kinaya, jiwanya mungkin akan terseret masuk ke dunia yang sunyi ini selamanya. Dia tidak boleh mati seperti aku. Dia harus tetap hidup, meskipun itu artinya dia harus hidup dalam penderitaan.

​Aku meraih boneka beruang yang terlepas dari pelukanku tadi. Aku melihat spidol hitam yang masih ada di lantai. Dengan sisa tenaga, aku menulis di dinding gudang Niskala dengan tulisan yang sangat besar, berharap Kinaya bisa membacanya dan berhenti memanggilku.

​LARILAH, KINAYA! JANGAN LIHAT KE BELAKANG!

​Cairan hitam kembali mengucur deras dari dinding tempatku menulis, muncul di dunia nyata sebagai rembesan hitam yang menakutkan bagi Rina, tapi sebagai perintah bagi Kinaya. Aku melihat Kinaya ragu-ragu, air mata mengalir di pipinya yang mungil. Dia menatapku untuk terakhir kalinya sebelum Rina menariknya keluar dari gudang dan mengunci pintunya dari luar.

​Aku tertinggal di sana, di dalam gudang gelap Niskala, berdua saja dengan sang Penjaga yang kini perlahan-lahan menyelimuti seluruh pandanganku dengan kegelapan abadi. Suara decitan ban terdengar untuk terakhir kalinya, sangat pelan, seolah-olah maut sedang membisikkan bahwa waktu komunikasiku sudah habis.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!