NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Alun-alun luar Sekte Awan Azure berbau keringat, ambisi murahan, dan keputusasaan. Ribuan murid luar berdesakan seperti lalat yang mengerumuni bangkai, masing-masing berusaha memamerkan Qi mereka sekencang mungkin.

Hari ini adalah hari Ujian Evaluasi Tahunan. Sebuah ritual sampah kejam di mana sekte akan membuang yang tidak berguna dan memilih segelintir murid untuk menjadi umpan meriam dalam ekspedisi Reruntuhan Kuno bulan depan.

Di tengah hiruk-pikuk suara tawa arogan dan isak tangis mereka yang gagal, Jiang Xuan berdiri tak acuh di sudut paling gelap di dekat pilar gerbang. Jubah luarnya telah diganti dengan seragam cadangan yang lusuh namun bersih dari noda darah. Wajahnya yang pucat tidak memancarkan emosi apa pun. Ia sama sekali tidak tertarik pada pertunjukan kera di alun-alun ini.

Otaknya yang rasional sedang memutar ribuan skenario.

Tiga jam telah berlalu sejak aku menghancurkan Ye Chen dan mematahkan kaki dua anjingnya, batin Jiang Xuan, matanya yang gelap mengamati para Tetua pengawas di platform tinggi. Cepat atau lambat, regu patroli akan menemukan pingsan mereka di Lembah Embun Beku. Jika aku tiba-tiba melesat dari tahap dua ke tahap empat Kondensasi Qi pada hari yang sama saat Bunga Teratai Sumsum Es hilang... para Tetua tua bangka itu tidak memerlukan bukti untuk langsung memenggal kepalaku.

Ia harus tetap menjadi "sampah" yang beruntung. Meningkat satu tahap ke Kondensasi Qi tahap tiga adalah batas yang masuk akal; itu akan menyelamatkannya dari pemecatan sekte, namun tetap membuatnya terlihat terlalu biasa-biasa saja untuk rasa bersalah sebagai pencuri harta tingkat tinggi.

Jiang Xuan menyilangkan lengan di depan dada, sikap defensif yang terlihat biasa bagi murid luar yang rendah diri. Namun, di balik lengan bajunya yang longgar, jari telunjuknya bergerak dengan kecepatan yang mengerikan.

Void Calligraphy: Array Penutup Aura.

Tanpa tinta, ia menggunakan sisa-sisa Formasi Niat di lautan kesadarannya untuk menggores langsung ke atas kulit dadanya sendiri. Sensasinya seperti disayat oleh puluhan pisau bedah tak kasat mata. Dagingnya berdenyut. Niat Formasi itu memaksa meridiannya yang telah melebar untuk menyempit kembali secara artifisial, menekan paksa Qi tahap empatnya ke dalam satu titik mati di dantian.

Jiang Xuan menelan rasa sakit itu tanpa memasukkan mata. sedikit menetes di balik bajunya, membentuk pola segel yang langsung menyamarkan keberadaannya. Hawa menekankannya danjlok drastis, stabil pada tahap tiga Kondensasi Qi. Sebuah penyamaran absolut yang bahkan tidak akan bisa ditembus oleh Tetua tahap Jiwa Baru Lahir sekalipun.

"Jiang Xuan!" Suara serak dan penuh penghinaan dari Tetua Penguji menggema di alun-alun. "Maju ke Batu Penguji Roh!"

Jiang Xuan menurunkan lengannya. Ia melangkah keluar dari bayang-bayang. Postur tubuhnya sengaja dibuat sedikit bungkuk, meniru sikap rendah diri murid luar. Ribuan mata menatap dengan cibiran. Julukan 'sampah abadi' sudah terlalu melekat pada namanya.

Di tengah platform, Batu Penguji Roh menjulang setinggi sepuluh kaki. Batu obsidian raksasa itu memancarkan aura energi spiritual yang sangat padat dan murni, berfungsi untuk mengukur kedalaman Qi dan kemurnian sumsum seorang yang terampil.

Jiang Xuan menaiki tangga batu dengan langkah pelan.

Namun, tepat ketika jaraknya tersisa lima langkah dari Batu Penguji Roh...

Krucuk !

Suara perut yang membusuk terdengar pelan, berasal dari balik kerah jubah Jiang Xuan.

Mata Jiang Xuan melebar sepersekian milimeter. Jantungnya, yang sebelumnya setenang air mati, tiba-tiba berdetak satu kali lebih cepat.

Gumpalan bulu putih pembawa bencana itu terbangun.

Baozi, yang sejak Tambang Roh Tua tertidur pulas akibat kekenyangan mengunyah pil murahan, kini menggeliat. Hidung mungilnya yang basah mengendus udara. Energi spiritual murni yang dipancarkan dari Batu Penguji Roh raksasa di depan mereka adalah godaan yang tidak bisa ditolak oleh insting rakusnya. Bagimakhluk itu, batu hitam raksasa itu adalah bakpao energi yang sangat lezat.

"Kyuu..." Suara cicitan pelan terdengar, diiringi oleh pergerakan pembohong di dada Jiang Xuan. Baozi mulai meronta, cakar-cakar kecilnya menggaruk dada Jiang Xuan, berusaha mengeluarkan keluar dari kerah jubah.

Jiang Xuan mengumpat kotor di dalam hatinya.

Bajingan rakus sialan! Diam di sana! Jika bola bulu itu melompat keluar dan mulai mengunyah Batu Penguji Roh—pusaka terpenting milik Sekte Awan Azure—di depan puluhan ribu murid dan menonton Tetua pengawas, Jiang Xuan akan langsung dicincang menjadi pasta daging sebelum matahari terbenam. Penyamarannya akan hancur lebur. Takdirnya akan tamat di sini.

"Apa yang kau tunggu, sampah?!" bentak Tetua Penguji, membukakan mata melihat Jiang Xuan yang tiba-tiba berhenti melangkah dan terlihat kaku. "Letakkan tanganmu di atas batu, atau aku akan mendiskualifikasimu sekarang juga!"

"Maafkan murid ini, Tetua. Murid ini terlalu gugup," jawab Jiang Xuan dengan nada datar yang dibuat sedikit gemetar.

Ia kembali melangkah maju. Dalam setiap langkahnya, kalkulasi rasionalnya bekerja dengan kecepatan kilat. Tangan kirinya masuk ke balik jubah seolah-olah sedang mengusap keringat di dada.

Di dalam sana, Baozi sudah membuka mulutnya lebar-lebar, air liurnya menetes bersiap melompat ke arah batu raksasa itu. "Kyuuu—"

Jiang Xuan tidak ragu sedetik pun. Ia menggigit ujung ibu jari kirinya hingga robek dan berdarah. Di dalam ruang sempit di balik jubahnya,Gambaran yang berdarah bergerak secepat kilat.

Sial ! sialan! Sret!

Array Pembungkam Seratus Segel.

Ia melukis formasi segel langsung ke atas dahi bulu Baozi dengan darahnya sendiri. Niat Formasi yang ditenagai oleh Niat Membunuh tipis menekan langsung ke tubuh kecil itu.

Bzzzt .

Tubuh gumpalan bulu putih itu tiba-tiba kaku. Mulutnya yang sedang terbuka lebar terkunci rapat seketika. Sayap kecil dan kaki-kakinya lumpuh. Baozi membeku dalam posisi ingin menerkam, matanya yang besar membelalak protes, tapi tidak ada satu pun suara yang bisa keluar dari tenggorokannya yang tersegel. Ia jatuh ke dasar kerah jubah Jiang Xuan seperti batu kerikil yang tak bernyawa.

Jiang Xuan menghembuskan napas yang tertahan, nyaris tidak terlihat. Keringat dingin benar-benar menetes dari pelipisnya kali ini. Ini adalah krisis paling mematikan yang ia alami sejak regresi, dan itu semua disebabkan oleh seekor bola bulu.

"Dasar tidak berguna. Menyentuh batu saja gemetar," cibir Tetua Penguji dengan suara keras, mengajak tawa menyampaikan dari ribuan murid di bawah platform.

Jiang Xuan mengabaikan tawa itu. Ia mengangkat tangan dan menempelkan telapak tangan ke permukaan Batu Penguji Roh yang dingin.

Ia mengalirkan Qi-nya, memastikan hanya kekuatan tahap tiga Kondensasi Qi yang mengalir keluar, sementara sisanya tetap terantai oleh Array Penutup Aura di dadanya.

Batu obsidian raksasa itu berdengung pelan. Sebuah cahaya biru kusam merambat naik dari dasar batu, berhenti pada garis ukiran ketiga dari bawah. Cahayanya sangat lemah, menandakan fondasi yang sangat biasa dan tidak istimewa.

Mata Tetua Penguji melirik hasilnya dengan malas. Ia bahkan tidak repot-repot menyembunyikan rasa muaknya.

"Jiang Xuan! Kondensasi Qi Tahap Tiga! Akar spiritual tingkat rendah! Lulus evaluasi dasar, tetapi tidak memiliki kualifikasi sedikit pun untuk mengikuti ekspedisi Reruntuhan Kuno!" teriak Tetua itu, diperkuat oleh Qi agar terdengar ke seluruh penjuru. "Kembali ke barisanmu, sampah. Berusahalah untuk tidak mati saat membersihkan halaman sekte besok."

Sorak-sorai sinyal dan tawa kembali meledak dari para murid luar. Bagi mereka, melihat seseorang yang lebih menghargai diri mereka sendiri adalah hiburan terbaik.

Jiang Xuan menarik tangannya dari batu. Wajahnya menunduk, seolah menanggung rasa malu yang luar biasa, berbalik dan berjalan turun dari platform.

Namun, di bawah bayang-bayang poninya yang panjang, sepasang mata gelap itu memancarkan dinginnya absolut. Sudut ujungnya melengkung, membentuk seringai kejam yang tidak tertangkap oleh siapa pun.

Penyamarannya sempurna. Ia telah menghilang dari radar para Tetua. Ia bebas bergerak di dalam bayang-bayang, merencanakan rangkaian takdir berikutnya.

Saat Jiang Xuan berjalan kembali ke sudut alun-alun, sebuah suara ledakan Qi yang sangat besar tiba-tiba bergema dari arah puncak gunung utama Sekte Awan Azure, terdengar raungan marah yang menggetarkan langit.

"TUTUP SELURUH GERBANG SEKTE! AKTIFKAN FORMASI PEMBUNUH BESAR!"

Suara Kepala Sekte menggelegar, membawa Niat Membunuh yang membuat seluruh murid di alun-alun jatuh berlutut pucat pasi. "Seseorang telah melumpuhkan Ye Chen dan mencuri harta sekte! Temukan pelakunya, dan bawakan aku!"

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
serasa gigitan nyamuk, kata na 😱
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!