Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Nisa bingung saat motor Ojan masuk ke basement salah satu mall besar tak jauh dari kantornya. Mungkin ada orderan makanan disini. Iya, mungkin begitu, ia menahan diri untuk bertanya.
"Lapar gak, Mbak?" tanya Ojan setelah melepas helm.
"Belum sih."
"Yah, padahal aku udah laper banget." Ojan mengusap perutnya.
"E... Jan, kita kesini mau apa? Ada orderan makanan, atau kamu mau nyari sesuatu?"
"Kita masuk dulu aja." Melihat Nisa hanya bengong, ia menarik lengan gadis itu.
Nisa yang tak tahu tujuan sebenarnya, hanya ngikut saja kemana Ojan jalan. Keduanya berjalan beriringan, dengan Ojan yang sesekali mengajaknya ngobrol santai sambil menggoda dan menggombal. Sampai akhirnya, Ojan menariknya masuk ke sebuah toko tas.
"Selamat datang." Pramuniaga langsung menyambut dengan ramah.
"Jan, ini toko tas mahal." Nisa berbisik di dekat telinga Ojan. Meski tak punya tas merk ini, tapi ia tahu, kalau merk itu lumayan mahal. Tas impor yang cukup terkenal di kalangan staf kantor dan banyak yang memakainya.
"Tenang, aku punya voucher belanja disini." Sahut Ojan pelan, lalu menarik Nisa untuk masuk lebih dalam, melihat-lihat.
"Mau nyari tas yang bagaimana, mungkin bisa saya bantu?" tanya mbak pramuniaga berbaju hitam.
"Mau tas yang gimana, Mbak?" Ojan sendiri kurang faham.
"Kami lihat-lihat dulu ya, Mbak." Nisa tersenyum ramah pada pramuniaga. Ia menarik tangan Ojan sedikit menjauh dari pramuniaga. Sumpah, gak nyaman banget dia disini, selain barangnya mahal-mahal, juga sepi, hanya ada mereka berdua yang otomatis jadi pusat perhatian penjaga toko. Gak jadi beli, pasti nanti diomongin sama mereka. "Disini itu mahal-mahal." Ia kembali berbisik, menekankan soal itu.
"Aku ada voucher, tenang aja." Ojan melangkah, hendak melihat-lihat, namun tanganya kembali ditarik Nisa.
"Kamu punya voucher berapa?"
"E..." Ojan mikir, soalnya dia bohong soal itu.
"Berapa?"
"2 juta."
Nisa sedikit bernafas lega, meski begitu, yang punya voucher kan Ojan, bukan dia. Mungkin niat Ojan baik, mau membelikannya tas, tapi menerima pemberian semahal itu, rasanya kurang pantas, apalagi tak ada hubungan apapun diantara mereka.
"Ish, malah bengong. Buruan pilih."
Ojan pengan ketawa melihat ekspresi Nisa. Ia meninggalkan gadis itu, keliling melihat-lihat tas. Sebuah tas bahu warna cream, menarik perhatiannya. Ia mengambilnya dari etalase, memperhatikan detailnya. Ia heran dengan Mamanya, padahal tas disini harga 3-4 jutaan sudah bagus-bagus, kenapa malah hobinya beli tas ratusan juta. Padahal sama-sama tasnya, cuma beda merk.
"Mbak, ini bagus loh."
Nisa yang sedang berkeliling melihat, menoleh pada Ojan. Memang bagus sih, tas yang ditunjukkan, ia mendekat, menghampiri untuk melihat.
"Katanya baju kamu warna nude kan? Nude itu warna ini bukan sih? Atau ini namanya cream, atau coksu, atau coklat muda, atau apa sih?" Ojan garuk-garuk kepala, bingung dengan banyaknya istilah warna saat ini.
Nisa tertarik, namun saat melihat price tag, ia langsung meletakkan kembali ke tempatnya.
"Gak suka?" Ojan mengernyit.
"Mahal," bisik Nisa. Dari tadi dia selalu bicara bisik-bisik, sampai dua orang pramuniaga terus memperhatikan, sedikit curiga. "2 juta kan, voucher kamu?"
"Lebih dikit gak papa, aku tambahin. Ambil aja kalau suka." Tanganya hendak meraih kembali tas tersebut, namun dihalangi oleh Nisa.
"Yang lainnya aja." Nisa menarik Ojan ke bagian lain. Ia akan mencari yang harga di bawah 2 juta, biar Ojan tak perlu keluar uang lagi.
"Mbak, hitam mau gak? Bagus lo ini." Ojan mengambil tas new arrival di etalase khusus.
"Ojan!" Nisa mendelik, mengembalikan tas tersebut ke tempatnya. Tadi ia sudah sempat melihat di bagian new arrival, memang bagus, tapi rata-rata harganya 4-5 juta.
Ojan garuk-garuk kepala, heran pada Nisa. Padahal ia sudah bilang mau nambahin, tapi gadis itu tak mau. Sungguh, Nisa beda dari pacar-pacarnya yang dulu, yang kalau diajak shoping, selalu nyari kesempatan minta yang mahal. Kalau Nisa, jangankan milih yang mahal, tiap diajak makan aja, pengennya gantian bayar. Ia membuang nafas kasar, memperhatikan Nisa yang sedang melihat-lihat di etalase diskonan.
"Jan, ini bagus gak?" Nisa menunjukkan sebuah tas hitam yang sedang diskon 30 persen, tas koleksi lama.
"Jelek."
Nisa mendengus pelan. "Bagus kok. Apa ini aja ya?" Nisa menghitung harganya setelah dikurangi diskon. "Gak sampai 2 juta, Jan. Ini aja deh." Putusnya dengan wajah berbinar.
"Jelek, Mbak. Coba deh kamu pakai sambil ngaca." Mendorong bahu Nisa ke cermin yang disediakan toko. "Tuh kan, jelek. Kamu itu cantik Mbak, masa tas nya jelek. Udahlah, ambil yang hitam tadi aja."
"Tapi harganya hampir 5 juta." Nisa memutar kedua bola matanya malas. Hampir sama dengan UMR Jakarta, gajinya tiap bulan.
"Gak papa, Mamaku aja biasanya beli tas sampai ratusan juta."
"Hah! Mama kamu?" Nisa terperangah.
Astaga, keceplosan. Ojan tersenyum absurd sambil mengusap tengkuk.
"Hobi nonton dracin kayaknya kamu." Nisa geleng-geleng. "Ya kalau Bapak kamu CEO ya percaya Mama kamu tas nya ratusan juta."
Ya emang CEO, Mbak.
Ojan menyesal kenapa tadi bilang vouchernya 2 juta, harusnya bilang 5 atau 10 juta, biar Nisa gak mikir-mikir kalau mau milih.
"Mbak." Nisa memanggil pramuniaga. "Mau yang ini aja, Mbak. Bisa bayar pakai voucher kan?"
Ojan langsung panik, mana belum nge briefing pramuniaga. Ia berusaha memberi kode pada wanita yang sedang bicara dengan Nisa tersebut.
"Voucher?" Kening pramuniaga tersebut mengernyit. "Voucher apa ya? Sepertinya kami ti_"
"Itu Mbak, kami beli yang itu aja." Ojan sengaja memotong ucapan Mbak pramuniaga, menunjuk tas hitam new arrival tadi.
"Oh, yang itu?"
"Enggak Mbak, yang ini aja." Nisa Menginterupsi dengan wajah sedikit panik.
"Yang itu, Mbak." Ojan berjalan cepat, mengambil tas pilihannya. "Disana ya kasirnya." Lanjut membawanya ke meja kasir.
"Ojan!" Nisa buru-buru menyusul Ojan.
"Udah, kamu duduk disana, Mbak. Biar aku yang bayar." Menunjuk dagu sofa tunggu yang memang disediakan.
"Tapi, Jan." Nisa gelisah, ia sampai memegangi lengan Ojan.
"Udah! Biar aku aja."
"Biar saya bantu," tawar pramuniaga.
Ojan menyerahkan tas tersebut pada pramuniaga untuk diurus pembayarannya.
"Sayang banget uang segitu cuma buat beli tas." Nisa menatap gelisah tas yang sekarang ada di atas meja kasir.
"Aku gak sayang kok, kan sayangnya sama kamu." Ojan malah menggombal sambil cengengesan. "Bentar ya, aku bayar dulu."
Nisa mengerutkan kening melihat Ojan mengeluarkan kartu debit untuk melakukan membayar.
"Mbak, dipotong voucher ya," Nisa mengingatkan. "Jan, vouchernya udah kamu tunjukin?"
"Voucher apa?" kasirnya bingung.
"Udah langsung kepotongkan, Mbak?" Ojan mengedipkan sebelah mata.
"I, iya." Kasir itu sedikit bingung, tapi asal pembayarannya pas, ia ikutin saja alurnya.
"Makasih." Ojan menerima tas yang sudah di masukkan ke dalam paper bag setelah melakukan pembayaran non tunai.
Bukannya bahagia, wajah Nisa malah ditekuk saat keluar dari toko. Ia kepikiran soal harga tas tersebut. Uang 5 juta itu besar, rasanya gak worth it kalau hanya untuk sebuah tas.
"Kenapa sih, Mbak?"
"Aku gak enak sama kamu, Jan. Mahal banget loh harganya. Kamu nombok banyak."
"Udah, gak usah dipikirin. Aku lapar, Mbak." Ojan mengusap perutnya.
"Ya udah, ayo aku traktir."
"Gitu dong." Ojan tersenyum tipis. "Yey, ditraktir."
"Sini, biar aku bawa." Tangan Nisa terulur, meminta paper bag berisi tas barunya di tangan Ojan.
"Udah, biar aku aja yang bawa. Kamu cuma perlu terus ada di sampingku, dan tersenyum."
Nisa berdecak, menahan senyum. "Kamu gombal terus ah."
"Soalnya kamu makin cantik kalau digombalin, pipinya bersemu merah."
Nisa reflek menyentuh pipinya, tersenyum.
"Ah!" Ojan berhenti melangkah, memegangi dadanya.
"Kenapa, Jan?" Nisa terlihat panik.
"Pegang deh, Mbak." Ojan meraih telapak tangan Nisa, menempelkan di dadanya. "Dadaku berdebar kencang melihat senyuman kamu. Gak kuattt!"
"Dasar tukang gombal!" Nisa menarik tangannya, pipinya bersemu merah, berjalan cepat meninggalkan Ojan.
"Mbak, tungguin!" Ojan tertawa cekikikan, berlari kecil mengejar Nisa.
Sepanjang jalan menuju foodcourt, tak henti-hentinya Ojan godain Nisa, sampai cewek itu terlihat kesal namun kadang juga menahan senyum.
"Eh, Jan, kamu voucher tadi dapat dari mana?"
Mati dah.
"Oh iya, sama satu lagi, kok kamu banyak duit?"
Double kill
🤣🤣🤣