NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pertama

BAB 4 — Ciuman Pertama

Keheningan di perpustakaan malam itu terasa begitu berat, seolah menekan dada siapa saja yang berada di dalamnya. Tapi bagi Alena, tekanan terbesar bukan datang dari suasana ruangan, melainkan dari pria yang duduk tepat di sebelahnya saat ini.

Pertanyaan Adrian masih menggantung di udara, aromanya masih memenuhi ruang napas Alena.

"Kau selalu gugup kalau dekat aku?"

[Kamu selalu gugup kalau dekat aku?]

Alena menelan ludah susah payah. Jantungnya berdegup kencang bukan main, berirama kacau yang rasanya bisa didengar jelas oleh pria itu jika mereka cukup dekat. Tangannya di bawah meja terkepal kuat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, berusaha mencari pegangan agar tidak hanyut dalam tatapan memabukkan itu.

Dia harus tenang. Dia harus bersikap profesional. Ini dosennya, demi Tuhan!

"N-no... It's not like that, Sir," jawab Alena terbata-bata, suaranya terdengar kecil dan lembut di ruangan yang luas itu. "I just... I want to do this assignment well. I want to get good grades. That's all."

[Nggak... bukan gitu, Pak. Saya cuma... pengen tugas ini hasilnya bagus. Pengen nilainya bagus. Itu aja.]

Alena memaksakan dirinya menunduk, pura-pura sibuk merapikan kertas-kertas di meja, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah padam. Dia berbohong. Dan dia tahu Adrian pasti sadar itu. Tatapan pria itu terlalu tajam, terlalu pandai membaca orang.

"Lying is not your strong suit, Alena."

[Berbohong bukan keahlianmu alena]

Suara itu keluar lagi, tapi kali ini berbeda. Adrian tidak lagi berbicara bahasa Inggris. Dia berganti ke bahasa Indonesia, dan nadanya... jauh lebih rendah, lebih berat, dan terdengar sangat intim.

Alena tersentak. Belum sempat dia bereaksi, dia merasakan kursi di sebelahnya bergeser. Gesekan kaki kursi di lantai keramik terdengar nyaring, tapi tidak separah detak jantungnya saat menyadari bahwa Adrian kini duduk sangat dekat.

Sangat dekat sampai kaki mereka bersentuhan di bawah meja. Sangat dekat sampai Alena bisa merasakan hangatnya tubuh pria itu merambat ke lengannya.

"Lihat aku," ucap Adrian lagi, kali ini lebih tegas, tapi tidak kasar.

Alena tidak punya pilihan. Dia perlahan mengangkat wajahnya, dan detik itu juga napasnya seakan tertahan di tenggorokan.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Alena bisa melihat detail setiap garis wajah tampan itu. Bulu mata panjang yang meneduhkan mata gelapnya, hidung yang mancung sempurna, hingga bibir tipis yang selalu terkomat rapat itu.

Dengan gerakan lambat yang penuh dominasi, Adrian mengulurkan tangannya. Jari-jarinya yang besar, hangat, dan kokoh menyentuh dagu Alena. Tidak keras, hanya sebuah sentuhan lembut namun memaksa, mengangkat wajah gadis itu agar tidak bisa lari lagi.

Matanya menatap lurus ke manik mata Alena, menelusuri setiap inci wajah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada amarah? Ada rasa frustrasi? Atau ada... rasa ingin tahu yang membara?

Pandangan Adrian turun. Mata itu berhenti tepat di bibir Alena.

Menatapnya lama. Sangat lama. Seolah sedang menilai, seolah sedang berperang sengit dengan logika dan nuraninya sendiri.

Alena bisa merasakan udara di sekitar mereka menjadi panas, padahal suhu ruangan sangat dingin. Dia bisa merasakan getaran aneh yang menjalar dari dagunya yang disentuh pria itu, menyebar ke seluruh tubuh hingga ke ujung kaki.

"If you don't want this..." Adrian berbicara lagi, suaranya terdengar parau dan berat. "Tell me to stop now, Alena."

[Kalau kamu nggak mau ini... suruh aku berhenti sekarang, Alena.]

Pria itu mendekatkan wajahnya sedikit lagi, sampai hembusan napas mereka bisa saling menyentuh.

"Go away from here. Leave this room right now, and we will pretend... that none of this ever happened."

[Pergi dari sini. Keluar dari ruangan ini sekarang juga, dan kita akan pura-pura... kalau semua ini nggak pernah terjadi.]

Adrian memberinya jalan keluar. Dia memberi kesempatan bagi gadis polos ini untuk lari, untuk menyelamatkan diri dari dosa besar yang akan mereka lakukan. Sebagai dosen, dia tahu ini salah. Sebagai pria dewasa, dia tahu ini melanggar semua aturan etika.

Tapi sebagai laki-laki... dia sudah tidak sanggup menahan diri lagi.

Alena terpaku. Tubuhnya gemetar hebat. Pikirannya berteriak untuk lari, untuk mengatakan tidak dan kembali menjadi mahasiswi yang baik. Tapi hatinya? Hatinya berteriak hal lain.

Dia tidak mau pergi. Dia tidak ingin berhenti. Ada sesuatu yang menariknya begitu kuat ke arah pria ini, sesuatu yang membuatnya lupa segalanya.

Alena diam.

Dia tidak bergerak. Dia tidak menolak. Dia hanya menatap mata Adrian lekat-lekat, membiarkan perasaannya berbicara mewakili suaranya yang hilang.

Diam itu adalah jawaban. Diam itu adalah izin.

Melihat respon gadis itu, seolah ada pintu gerbang yang terbuka lebar di dalam diri Adrian. Tatapan dinginnya lenyap, digantikan oleh lautan hasrat yang gelap dan membara.

"Good girl."

[Gadis baik.]

Bisik itu terdengar sangat lembut, sangat seksi, dan sepersekian detik kemudian...

Bibir mereka bersentuhan.

Oh God...

Ciuman pertama itu. Awalnya pelan, hati-hati, dan penuh keraguan. Hanya sebuah sentuhan lembut yang mengeksplorasi, merasakan kelembutan bibir gadis itu di atas bibirnya sendiri. Adrian menciumnya dengan sangat pelan, seolah takut menyakiti, seolah takut gadis ini akan menghilang jika dia bertindak terlalu kasar.

Tapi saat Alena tidak menolak, saat dia merasakan tubuh gadis itu sedikit mendekat dan tangan kecil itu perlahan terangkat mencengkeram ujung sweternya...

Kendali Adrian hancur total.

Ciuman yang awalnya manis dan ragu, berubah drastis menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih lapar, dan jauh lebih intens.

Adrian memiringkan kepalanya, menekan bibir itu dengan lebih pasti, lebih mendominasi. Tangannya yang tadi di dagu kini bergerak memeluk belakang leher Alena, jari-jarinya menyusup ke rambut lembut itu, menarik wajah gadis itu agar semakin menempel padanya.

Tangan satunya lagi melingkar erat di pinggang ramping Alena, menarik tubuh itu hingga tidak ada celah sedikitpun di antara mereka. Dia ingin merasakan dia. Dia ingin memiliki momen ini hanya untuk dirinya sendiri.

Ciuman itu bukan sekadar sentuhan bibir. Itu adalah pelepasan semua ketegangan yang terpendam selama berminggu-minggu. Semua tatapan curi-curi, semua rasa deg-degan, semua rasa "salah" tapi "ingin", meledak menjadi satu dalam sentuhan yang membakar ini.

Alena memejamkan matanya rapat-rapat, tenggelam sepenuhnya. Dia tidak tahu cara mencium, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi instingnya memberitahu dia untuk mengikuti irama pria itu. Dia membalas ciuman itu dengan canggung namun tulus, membuat Adrian semakin hilang akal.

Dunia di luar sana lenyap. Tidak ada lagi kampus, tidak ada lagi aturan, tidak ada lagi dosen dan mahasiswi. Hanya ada mereka berdua. Hanya ada rasa hangat, rasa manis, dan rasa melayang yang luar biasa nikmatnya.

Beberapa menit berlalu, atau mungkin hanya beberapa detik? Waktu terasa berhenti berputar.

Perlahan namun pasti, Adrian mulai mengurangi intensitas ciumannya. Dia tidak langsung melepaskan, melainkan menciumnya lagi beberapa kali dengan pelan, mengecup bibir itu seolah itu adalah barang paling berharga di dunia, sebelum akhirnya benar-benar menjauhkan wajahnya sedikit.

Dahi mereka masih saling bersentuhan. Napas mereka memburu kencang, bercampur menjadi satu di udara yang dingin.

Alena masih memejamkan mata, wajahnya memerah sempurna, dadanya naik turun hebat, masih terguncang oleh apa yang baru saja terjadi. Dia tidak percaya dia baru saja mencium dosennya. Dia tidak percaya dia mencium Adrian Vale.

Adrian membuka matanya. Dia menatap wajah polos yang memerah itu dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ada rasa puas yang mendalam, tapi di saat yang sama ada rasa bersalah yang besar menghantuinya.

Dia menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di telinga Alena, lalu berbisik dengan suara berat yang terdengar bergetar, campuran antara hasrat dan penyesalan.

"Ini kesalahan besar..."

Ucapnya pelan, suaranya terdengar putus asa.

"...tuhan tahu, betapa aku sudah menginginkannya sejak pertama kali melihatmu."

 

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!