NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Rahasia Ibu

Malam turun perlahan di atas hutan, membawa dingin yang merayap dari sela akar dan daun.

Wira berjalan paling belakang sambil memegangi kain di pinggangnya, tempat lempeng kayu kecil itu disimpan. Sejak mereka meninggalkan pondok tua, ia tidak banyak bicara. Langit di atas mulai gelap bertahap, dan sisa cahaya senja yang tadi menempel di ujung dahan kini memudar menjadi biru pekat. Jalan setapak yang mereka lalui sempit dan naik-turun, kadang diliputi semak, kadang tertutup akar pohon besar yang menonjol seperti tulang. Di antara suara serangga malam yang mulai terdengar, Wira terus memikirkan rumahnya, desa yang terbakar, dan terutama ibunya.

Panca berjalan di sampingnya dengan langkah lebih pelan dari biasanya. Sahabatnya itu masih terlihat lelah, tetapi ia berusaha tidak mengeluh. Sesekali ia menoleh ke belakang, seolah takut ada penunggang yang menyusul dari arah hutan. Namun hingga saat itu, tak ada suara kuda. Hanya burung malam yang memanggil jauh di kejauhan, dan suara daun kering yang terinjak kaki mereka sendiri.

Di depan, Ki Rangga memimpin dengan tenang. Ia membawa mereka menyusuri jalur yang tampak lebih aman dari jalan utama, menembus semak dan naik ke bukit kecil di sisi timur hutan. Tidak ada obrolan panjang. Ki Rangga seperti sengaja membiarkan keheningan di antara mereka, mungkin supaya Wira sempat mengumpulkan pikirannya. Namun justru karena diam itu, pertanyaan Wira semakin menumpuk.

Akhirnya, saat mereka berhenti di bawah pohon besar untuk menunggu gelap lebih tebal, Wira tidak tahan lagi.

“Ki Rangga,” panggilnya.

Pria itu menoleh. “Ya?”

Wira menarik napas pelan. “Kau bilang ibuku bukan perempuan biasa.”

Panca langsung mengangkat kepala. Ia jelas mendengar bahwa ini akan menjadi pembicaraan penting.

Ki Rangga menatap Wira sebentar, lalu berkata, “Aku bilang begitu.”

“Jadi siapa dia?”

Ki Rangga tidak langsung menjawab. Ia duduk di atas akar pohon yang menonjol, menatap gelap hutan di depan mereka. Wira menunggu. Panca diam, seolah tak ingin mengganggu.

“Aku mengenalnya lama,” kata Ki Rangga akhirnya.

Wira menegang. “Dari mana?”

“Dari masa sebelum kau lahir.”

Kalimat itu membuat dada Wira mengencang. “Sebelum aku lahir?”

Ki Rangga mengangguk. “Ibumu pernah berada di lingkungan yang sangat dekat dengan orang-orang penting.”

Panca menatap Wira cepat, lalu ke Ki Rangga. “Lingkungan penting seperti apa?”

Ki Rangga memandang mereka berdua. “Orang-orang yang hidup di sekitar kekuasaan.”

Wira mengerutkan dahi. “Istana?”

“Ya.”

Wira membeku sesaat. Ia memang pernah mendengar istilah itu dari orang-orang desa, dari pedagang, dan dari kisah perjalanan para perantau yang singgah sebentar. Tetapi istana selalu terasa seperti tempat jauh, penuh aturan dan orang-orang besar yang tidak pernah menyentuh hidupnya. Mendengar bahwa ibunya pernah dekat dengan dunia itu membuat pikirannya berputar.

“Kenapa ibu tinggal di desa?” tanya Wira.

“Karena ia memilih pergi.”

“Pergi dari apa?”

Ki Rangga terdiam sesaat. “Dari sesuatu yang tidak aman.”

Wira menatapnya tajam. Jawaban itu semakin menambah rasa penasaran. “Kalau begitu dia memang lari?”

“Bukan lari,” jawab Ki Rangga. “Menyelamatkan diri.”

Panca mengernyit. “Dari siapa?”

Ki Rangga menatapnya dalam-dalam. “Dari orang-orang yang tidak ingin masa lalu tertentu terungkap.”

Wira menatap tanah. Satu per satu potongan jawaban mulai terbentuk, tetapi belum cukup jelas untuk menjadi gambaran utuh. Ibunya pernah dekat dengan istana. Ia pergi karena bahaya. Lalu ia tinggal di desa kecil jauh dari pusat kekuasaan. Dan selama bertahun-tahun, ia menyimpan sesuatu yang kini membuat mereka diburu. Wira merasa ada simpul besar di depan matanya, tetapi belum tahu bagaimana membuka ikatannya.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “apa hubungannya dengan ayahku?”

Ki Rangga menatapnya lama. Panca juga menahan napas.

“Terhubung lebih dari yang kau kira,” jawab Ki Rangga akhirnya.

Wira memejamkan mata singkat. Ia sudah menduga jawaban itu, tetapi mendengarnya tetap terasa berbeda. “Ayahku orang istana juga?”

“Bisa jadi dekat dengan itu.”

Panca memiringkan kepala. “Bisa jadi?”

Ki Rangga tidak menanggapi. Wira mengusap wajah dengan tangan, lalu berkata, “Kenapa ibu tidak pernah cerita?”

“Karena ada hal-hal yang tidak aman untuk dibicarakan,” kata Ki Rangga. “Terutama kalau orang-orang tertentu masih hidup.”

Wira menatapnya. “Orang-orang tertentu itu siapa?”

Ki Rangga tidak menjawab. Ia seperti sengaja menahan nama itu, mungkin karena malam belum cukup aman, atau mungkin karena Wira belum siap. Namun justru karena itu, Wira merasakan amarah kecil mulai naik. Bukan marah pada Ki Rangga, tetapi pada keadaan. Mengapa semua orang dewasa di sekitarnya selalu tahu sesuatu namun enggan berkata jelas? Mengapa hidupnya dipenuhi pintu yang hanya terbuka setengah?

Panca tampaknya membaca kegelisahan itu. Ia menepuk lutut Wira pelan. “Setidaknya sekarang kita tahu ibumu memang bukan orang sembarangan.”

Wira mengangguk pelan. “Itu belum membantu banyak.”

“Setidaknya ada arahnya.”

Ki Rangga bangkit dari akar pohon dan memeriksa jalur di depan. “Kita harus lanjut. Malam akan makin dingin.”

Mereka berjalan lagi setelah istirahat singkat. Hutan malam memiliki suara sendiri. Daun berdesir lebih lembut, serangga bersahut dari kejauhan, dan sesekali ada bunyi ranting patah yang membuat Wira menoleh cepat. Langkah mereka tetap berhati-hati. Ki Rangga memilih jalur yang tidak terlalu terbuka, terkadang memutar, terkadang menunduk di bawah dahan rendah. Wira mulai menyadari bahwa lelaki itu tak hanya tahu jalan, tapi juga tahu cara menghindari perhatian. Seolah selama ini hidupnya memang dilatih untuk bergerak tanpa dilihat.

Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di sebuah aliran air kecil. Airnya dangkal, tetapi cukup dingin untuk membuat Wira sadar betapa panas tubuhnya setelah berjalan. Ki Rangga berhenti dan menyuruh mereka minum sebentar. Wira jongkok di tepi aliran, lalu membasuh wajahnya. Air dingin itu menyentuh kulit dan membuat kepalanya sedikit lebih jernih.

Panca duduk di batu kecil tak jauh darinya. “Aku lapar lagi.”

“Kalau kau terus bicara soal lapar, aku juga ikut lapar,” jawab Wira.

“Memang itu tujuanku.”

Ki Rangga menyandarkan satu tangan pada batu, mengamati aliran air di depan mereka. Wira menatapnya lalu berkata, “Ki Rangga.”

“Ya.”

“Kalau ibu pernah dekat dengan istana, berarti ada orang yang mengenalnya di luar desa.”

“Benar.”

“Dan kalau begitu, mungkin ada orang yang masih mencari dia.”

“Benar lagi.”

Wira menatapnya. “Kenapa orang-orang itu menyerang kami sekarang? Kenapa setelah sekian lama?”

Ki Rangga menghela napas pelan. “Karena masa lalu kadang baru mengejar ketika sesuatu yang lama muncul kembali.”

Wira mengernyit. “Maksudmu benda ini?”

Ki Rangga menatap lempeng kayu di pinggang Wira. “Ya.”

“Jadi benda ini semacam kunci?”

“Bisa dianggap begitu.”

Panca langsung menoleh. “Kunci untuk apa?”

Ki Rangga melangkah lebih dekat dan duduk di batu seberang mereka. “Untuk membuka jalan ke jejak yang lama.”

Wira menatapnya. “Jejak siapa?”

Ki Rangga diam sesaat. Lalu berkata, “Jejak keluargamu. Dan mungkin juga jejak seseorang yang dulu berada di lingkaran kekuasaan.”

Wira tertegun. Ada rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Ia kembali memikirkan ibunya, tatapan mata perempuan itu saat pagi sebelum desa terbakar, cara ibunya menggenggam pundaknya, dan perintah singkat agar ia tidak menjawab siapa pun yang memanggil namanya. Perintah itu kini terdengar jauh lebih berat dari yang ia kira.

“Kalau ibuku pernah dekat dengan istana,” kata Wira pelan, “kenapa dia hidup seperti orang biasa?”

“Karena itulah cara paling aman untuk menyembunyikan diri.”

Panca bergumam pelan, “Dan kami semua tidak tahu apa-apa.”

Ki Rangga menatapnya. “Justru itu yang diinginkan orang-orang yang dulu memutus jejaknya.”

Wira menatap permukaan air di depannya. Bayangan wajahnya sendiri memantul samar, lalu terganggu riak kecil dari angin malam. Tiba-tiba ia merasa dirinya seperti seseorang yang berdiri di tepi kisah yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Selama ini ia mengira hidupnya hanya soal desa, ladang, dan pekerjaan sederhana. Ternyata ada lapisan lain yang tidak pernah disentuhnya.

Tak lama kemudian, Ki Rangga berdiri. “Kita lanjut lagi. Ada tempat yang harus kita lewati sebelum tengah malam.”

Panca mengeluh kecil, tapi tetap bangun. Wira mengikutinya, walau lutut dan betisnya mulai terasa kaku. Mereka menyusuri lereng kecil dan masuk ke jalur berbatu yang lebih sempit. Di tengah perjalanan, suara dari kejauhan membuat Ki Rangga langsung berhenti.

Wira juga mendengar.

Suara orang.

Bukan dari dekat, tapi cukup jelas di antara sela hutan. Panca refleks memegang lengan Wira. Mereka bertiga segera merunduk di balik batang pohon besar. Ki Rangga memberi isyarat agar diam. Suara itu semakin jelas, lalu berhenti. Ada orang berbicara pelan, mungkin dua atau tiga orang. Namun kata-katanya tak bisa ditangkap jelas.

Wira menahan napas. Jantungnya berdetak kencang lagi. Apakah mereka masih diburu sejauh ini? Atau orang-orang itu hanya lewat?

Setelah beberapa saat, suara itu menjauh. Ki Rangga menunggu lebih lama sebelum akhirnya mengizinkan mereka bergerak lagi. Wira baru berani menghela napas.

“Bukan rombongan dari desa,” bisik Panca.

“Bukan,” jawab Ki Rangga.

“Kalau begitu siapa?”

Ki Rangga menatap gelap di depan. “Mungkin orang yang juga mencari jejak yang sama.”

Wira memandangnya. “Jadi masih ada orang lain yang tahu tentang ibuku?”

“Ya.”

“Dan tentang aku?”

“Bisa jadi.”

Wira terdiam. Kaki yang tadi pegal kini terasa lebih ringan karena pikirannya dipenuhi ketegangan baru. Dunia yang semula sempit kini terasa semakin luas, tapi juga semakin berbahaya. Ia tak lagi sekadar melarikan diri dari pembakar desa. Ia sedang masuk ke pusaran yang melibatkan nama, darah, dan rahasia lama.

Menjelang tengah malam, mereka tiba di sebuah tempat terbuka kecil di antara pohon-pohon besar. Ki Rangga memilih area itu untuk beristirahat sebentar. Ia memeriksa sekitar, lalu menyuruh Wira dan Panca duduk. Langit di atas tertutup rapat. Cahaya bulan hanya sedikit menyelip di sela daun. Tempat itu sunyi, namun tidak kosong. Ada rasa tua di sana, seperti tanah yang sudah menyimpan banyak langkah sejak lama.

Wira duduk dengan punggung bersandar ke batang pohon. Panca hampir langsung tertidur, kepala miring ke samping. Ki Rangga duduk tidak jauh darinya, mengamati sekeliling dalam diam.

Setelah beberapa saat, Wira kembali memikirkan ibunya. “Ki Rangga.”

“Ya.”

“Kalau aku ingin menemukan ibuku, apa yang harus kulakukan?”

Ki Rangga menoleh perlahan. “Pertama, jangan panik. Kedua, jangan bertindak tanpa arah. Ketiga, pelajari siapa yang mengejarmu.”

Wira menatapnya. “Dan kalau aku menemukan dia?”

“Baru kau tanya apa yang sebenarnya terjadi.”

Wira menggenggam kain di pinggangnya. “Kau yakin ibu masih hidup?”

Ki Rangga terdiam lama sebelum menjawab. “Aku berharap begitu.”

Jawaban itu tidak memberi kepastian, tetapi Wira menangkap sesuatu di dalamnya: Ki Rangga tidak mengelak. Ia juga tidak menenangkan dengan kebohongan. Itu justru lebih jujur daripada apa pun yang ia dengar sejak pagi.

Wira memejamkan mata sebentar. Bayangan rumah mereka, api, dan ibu yang berdiri di ambang pintu kembali muncul. Tapi kini ada lapisan baru di atas semuanya. Ibunya bukan sekadar perempuan desa. Ada masa lalu yang lebih besar. Dan mungkin masa lalu itulah yang menyebabkan hidup mereka tercerabut.

Tak lama kemudian, Ki Rangga berkata lirih, “Wira.”

“Ya?”

“Kalau nanti kau bertemu ibumu, jangan langsung minta jawaban.”

Wira membuka mata. “Kenapa?”

“Karena kadang orang yang menyembunyikan sesuatu bukan berarti tidak percaya. Kadang mereka justru terlalu ingin melindungi.”

Kata-kata itu membuat Wira terdiam.

Malam makin larut. Panca tertidur lebih dalam. Wira tetap terjaga, memandang gelap hutan sambil memikirkan ibunya, ayahnya, dan semua yang belum ia pahami. Ada rasa sakit di dadanya, tapi juga dorongan aneh untuk terus maju. Jika ibunya memang menyimpan rahasia besar, maka suatu hari ia harus mendengarnya sendiri. Tidak dari desas-desus. Tidak dari orang asing. Dari mulut ibunya sendiri.

Ki Rangga menggeser tubuh, lalu berkata, “Kita akan bergerak lagi sebelum fajar. Jika beruntung, kita akan mendekati tempat di mana jejak masa lalu mulai terlihat.”

Wira menatapnya. “Jejak masa lalu?”

Ki Rangga mengangguk. “Tempat di mana pertanyaanmu mungkin mulai menemukan bentuk.”

Wira tidak tahu apakah harus lega atau takut. Mungkin keduanya. Ia hanya tahu satu hal pasti: hidupnya sudah tidak bisa kembali seperti semula. Dan semakin jauh ia berjalan dari desa, semakin dekat ia pada rahasia yang selama ini mengelilinginya.

Malam itu, di bawah langit hutan yang gelap, Wira akhirnya mengerti bahwa kehilangan rumah bukan akhir dari segalanya. Itu justru awal dari jalan yang lebih panjang, lebih berbahaya, dan mungkin lebih penting dari yang pernah ia bayangkan.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!