Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Taruhan Nyawa di Tikungan Setan
Angin malam di kawasan pegunungan Bukit Selatan berembus lebih ganas dari biasanya, membawa hawa dingin yang sanggup menusuk sampai ke tulang. Tapi bagi puluhan anak muda yang berkerumun di garis start dadakan itu, udara dingin sama sekali tidak terasa. Darah mereka sedang mendidih, dipompa oleh adrenalin dan antisipasi. Malam ini bukan sekadar ajang adu kecepatan biasa, ini adalah perang harga diri. Perebutan takhta penguasa aspal antara The Ghost dan Kobra Besi.
Rama duduk tenang di atas jok motor sport hitamnya, mengabaikan suara bising knalpot racing yang bersahut-sahutan di sekelilingnya. Sorot lampu dari puluhan motor menerangi jalanan beraspal yang membelah tebing curam dan jurang yang menganga gelap di sisi kirinya.
"Ram, lo harus ekstra hati-hati. Gue dengar dari anak-anak yang mantau jalur di atas, Tora nyuruh beberapa kacungnya buat standby di area Tikungan Setan," bisik Galang, setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh deru mesin. Wajah cowok gondrong itu terlihat tegang.
Rama mengangguk pelan, rahangnya mengeras di balik helm full-face yang kaca visornya masih terbuka setengah. Matanya menatap lurus ke arah pembalap di sebelahnya. Tora. Ketua baru Kobra Besi itu menunggangi motor modifikasi berwarna merah darah yang bodinya dipenuhi stiker tengkorak. Tora membalas tatapan Rama, menyeringai lebar memamerkan giginya yang menguning karena nikotin, lalu menggorok lehernya sendiri dengan ibu jari—sebuah gestur provokasi murahan.
"Gue tahu cara mainnya, Lang. Dia pikir jalur ini kandang bapaknya? Gue udah hafal setiap kerikil di aspal ini," balas Rama dingin. Suaranya datar, tapi ada aura membunuh yang kental menguar dari dirinya.
Di tengah ketegangan yang siap meledak itu, tiba-tiba ponsel di saku dalam jaket kulit Rama bergetar pelan. Rama mengerutkan kening. Siapa yang berani menelepon atau chat di jam krusial begini? Teman-teman gengnya tahu aturan main: jangan ganggu bos saat sudah di garis start.
Dengan sedikit ragu, Rama merogoh sakunya dan melirik layar ponsel rahasianya. Matanya sedikit melebar saat membaca nama pengirim pesan WhatsApp yang muncul di layar (sebuah nama kontak yang baru siang tadi terpaksa dia simpan dengan rasa jengkel setengah mati).
Nayla (Majikan Rese): Heh Babu, gue lagi ngerjain PR Matematika nih, nomor 8 rumusnya apaan? Cepet bales, jangan sok sibuk lu.
Rama mendengus, nyaris tertawa saking tidak percayanya. Di saat nyawanya sedang dipertaruhkan di bibir jurang Bukit Selatan, di saat ratusan mata menatapnya sebagai dewa jalanan yang mengerikan, cewek berjilbab ungu itu malah dengan santainya menagih jawaban PR Matematika. Kontras yang luar biasa absurd.
"Kenapa, Bos? Ada masalah?" tanya Bagas yang menyadari bosnya malah senyum-senyum tipis ngelihatin HP.
"Nggak ada. Cuma spam," dusta Rama. Alih-alih mengabaikannya, jari Rama dengan lincah mengetik balasan singkat.
Rama: Cos 2x \= 1 - 2 sin^2 x. Otak lo ke mana aja pas Pak Haris ngejelasin tadi siang? Gue lagi ada urusan penting. Jangan ganggu.
Hanya selang beberapa detik, balasan kembali masuk.
Nayla (Majikan Rese): Dih, sombong amat. Urusan apa lo malam-malam begini? Paling juga lagi nongkrong nggak jelas sama berandal jalanan lo itu. Jangan sampai mati konyol di jalan, besok pagi lo masih ada utang beliin gue bubur ayam depan gang sekolah. Awas lo kalau telat.
Rama terpaku menatap rentetan kalimat itu. Jangan sampai mati konyol. Kalimat yang diucapkan dengan nada ancaman bercanda, tapi anehnya... berhasil membuat dada Rama menghangat. Selama ini, ayah dan ibunya hanya peduli pada nilai rapotnya, khawatir kalau dia gagal masuk universitas top. Galang dan gengnya hanya peduli pada kemenangannya, khawatir kalau wilayah mereka direbut. Baru kali ini ada orang yang, meskipun dengan cara yang sangat menyebalkan, secara tidak langsung menyuruhnya untuk tetap hidup.
"Woy, Bos! Udah mau mulai tuh!" teriak Cakra, membuyarkan lamunan Rama.
Rama segera memasukkan ponselnya ke dalam saku, menarik ritsleting jaketnya sampai ke leher, dan menutup kaca visor helmnya. Di depannya, seorang cewek dengan pakaian minim dan celana hotpants—Kikan, salah satu groupie Kobra Besi—berjalan ke tengah lintasan sambil membawa sapu tangan merah.
Mesin-mesin digeber hingga mencapai putaran tertinggi. Asap putih mengepul tebal, menyisakan bau karet terbakar dan bensin oktan tinggi yang memabukkan. Jantung Rama berdetak seirama dengan raungan mesin motornya. Semua pikiran tentang sekolah, tentang ayahnya, dan bahkan tentang senyum Nayla, dia kunci rapat-rapat di sudut otaknya. Kini, dia adalah sang iblis jalanan.
Kikan mengangkat sapu tangan merahnya tinggi-tinggi. Suasana mendadak hening selama sepersekian detik, sebelum akhirnya...
Syuuuut!
Sapu tangan dijatuhkan, dan kedua motor melesat membelah kegelapan malam seperti dua peluru yang dimuntahkan dari laras senapan. Angin pegunungan langsung menghantam tubuh Rama dengan beringas. Dia menundukkan badannya, menyatu dengan bodi motor untuk membelah angin. Akselerasinya sempurna, membuatnya langsung memimpin setengah badan di depan Tora.
Lintasan Bukit Selatan bukan arena untuk amatir. Jalannya sempit, bergelombang di beberapa titik, dan minim penerangan. Di sebelah kanan adalah tebing batu karang yang kokoh, sementara di sebelah kiri adalah jurang gelap tanpa pembatas jalan yang layak. Salah perhitungan sedikit saja, nyawa taruhannya.
Tora terus menempel ketat di belakang Rama, mencoba mencari celah untuk menyalip. Di lintasan lurus, motor Rama memang lebih unggul berkat settingan karburator hasil karya Cakra yang luar biasa presisi. Tapi Tora bukan pembalap sembarangan, keberanian gila cowok itu membuatnya selalu mengambil risiko ekstrem di setiap tikungan.
Saat mendekati tikungan ke-tiga yang menukik tajam ke kanan, Tora nekat tidak menurunkan gasnya. Dia memotong jalur Rama dari sisi dalam, memaksa Rama mengerem mendadak agar tidak bertabrakan. Decitan ban bergesekan dengan aspal menggema nyaring. Tora menyeringai puas dari balik helmnya karena berhasil mengambil alih posisi pertama.
Rama menggeram pelan. "Oh, mau main kasar? Oke."
Pertarungan semakin memanas. Keduanya saling salip, saling pepet, bahkan sesekali fairing motor mereka bergesekan, memercikkan bunga api di tengah gulita malam. Rama tetap fokus, matanya tajam memindai jalanan, otaknya mengalkulasi jarak, kecepatan, dan sudut kemiringan dengan akurasi layaknya dia sedang mengerjakan soal ujian fisika di sekolah.
Mereka mulai mendekati area klimaks: Tikungan Setan.
Itu adalah sebuah tikungan hairpin—tikungan menyerupai jepit rambut yang sangat tajam, memutar hampir seratus delapan puluh derajat ke arah kiri, tepat di sisi tebing jurang terdalam. Area ini terkenal mematikan.
Rama yang kini berada sedikit di belakang Tora, menyadari sesuatu yang aneh. Tora sengaja melambatkan lajunya sedikiiiit saja, membuka celah di sisi kiri—sisi yang berbatasan langsung dengan jurang. Itu adalah jebakan bodoh. Tora memancingnya untuk menyalip dari dalam.
Rama teringat peringatan Galang. Ada kacung Tora yang standby. Mata tajam Rama menangkap kilatan cahaya kecil di ujung tikungan. Seseorang sedang bersiap melemparkan sesuatu ke arah lintasan, kemungkinan besar oli bekas atau paku rakitan, tepat di jalur yang sengaja dibuka Tora. Kalau Rama nekat masuk lewat sana dengan kecepatan tinggi, bannya pasti selip dan dia akan langsung terbang bebas ke dasar jurang.
Dalam hitungan milidetik, Rama membuat keputusan gila. Alih-alih masuk ke perangkap di sisi kiri, Rama justru menarik tuas gasnya dalam-dalam dan membanting setirnya ke sisi kanan—area yang berbatasan langsung dengan tebing batu, ruang yang sangat sempit dan nyaris tidak muat untuk dilewati.
Tora yang kaget melihat manuver bunuh diri Rama langsung panik. Tepat saat Rama memepetnya dari kanan, motor Tora oleng ke kiri. Kacung Tora yang kaget karena bosnya sendiri yang malah bergerak ke arah jebakan, terlambat menahan lemparan kantong olinya. Kantong plastik hitam itu pecah di atas aspal, membasahi ban depan motor Tora.
"Sialan!" umpatan Tora terdengar sayup-sayup.
Ban motor merah itu langsung kehilangan cengkeraman. Tora tergelincir parah. Motornya menghantam bebatuan pembatas jurang dengan keras hingga terpental, sementara tubuh Tora berguling-guling di atas aspal kasap sebelum akhirnya menabrak semak-semak keras di pinggir tebing. Beruntung dia tidak sampai jatuh ke jurang, tapi melihat kondisi motornya yang hancur berantakan, jelas balapan ini sudah berakhir untuknya.
Rama melewati tikungan itu dengan mulus, menyeimbangkan motornya kembali ke posisi tegak, dan terus melesat hingga mencapai garis finish yang sudah ditentukan. Saat dia mengerem dan berbalik arah, sorak-sorai kemenangan dari geng The Ghost memecah keheningan malam pegunungan.
"Hidup Bos Rama!! Hidup The Ghost!!" raung Galang, Bagas, dan anggota lainnya yang sudah menyusul dari arah berlawanan menggunakan motor bebek dan matic mereka.
Rama mematikan mesinnya, melepas helmnya, dan mengacak-acak rambutnya yang basah oleh keringat. Dadanya naik turun dengan cepat. Sensasi kemenangan ini... biasanya selalu berhasil mengisi kekosongan hatinya. Dulu, dia akan langsung turun dari motor, menerima kalungan tangan dari gadis-gadis penonton, dan merayakannya dengan menenggak minuman keras sampai pagi bersama teman-temannya. Menikmati gelar sebagai raja jalanan yang tak terkalahkan.
Tapi malam ini, entah kenapa, euforia itu terasa... hambar.
Rama menatap kerumunan anggotanya yang sedang mengejek anggota Kobra Besi yang menunduk malu. Di tengah kebisingan itu, tangan Rama malah tanpa sadar merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel rahasianya lagi. Dia membuka layar, dan membaca ulang pesan terakhir dari Nayla.
...besok pagi lo masih ada utang beliin gue bubur ayam depan gang sekolah. Awas lo kalau telat.
Rama menghela napas, sebuah senyum tipis yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba terukir di wajah lelahnya. Gengsi sebagai bos geng motor nomor satu se-Yogyakerto seolah menguap begitu saja digantikan oleh kenyataan bahwa besok pagi pukul enam, dia harus antre bubur ayam demi seorang gadis cerewet yang bahkan tidak tahu bedanya karburator dan busi.
"Bos, lo nggak apa-apa? Kok senyum-senyum sendiri?" tegur Galang, menatap bosnya dengan pandangan merinding. "Kita rayain di markas yuk, sekalian minum-minum santai. Anak-anak udah pada bawa amunisi tuh."
Rama menggeleng pelan, memasukkan ponselnya dan kembali memakai helm. "Kalian rayain aja duluan. Gue mau balik sekarang. Mau tidur."
"Hah? Seriusan lo, Bos? Menang besar lawan Tora malah langsung balik tidur? Tumben banget," protes Bagas nggak percaya.
"Gue ada urusan penting besok pagi-pagi buta," jawab Rama santai, menstarter motornya hingga mengaum buas. "Urusan yang nyangkut... utang nyawa. Duluan ya."
Meninggalkan Galang dan Bagas yang melongo kebingungan, Rama memacu motornya menuruni bukit, kembali menuju kota. Angin malam tak lagi terasa dingin. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Rama Arsya Anta, dia pulang dari arena balap liar bukan dengan niat melarikan diri, tapi justru dengan perasaan tidak sabar menunggu matahari pagi segera terbit.