Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara handal yang banyak memenangkan kasus persidangna di usianya yang masih terbilang muda. Semuanya terlihat sangat sempurna, jika saja dia bukan seorang cassanova.
Bermain wanita hanya untuk kepuasan semalam sudah biasa dia lakukan. Alasannya hanya satu, dia tidak pernah mau terikat dengan siapapun. Menganggap jika semua wanita hanya akan menginginkan hartanya, Bayu tidak percaya akan ketulusan cinta.
Hingga suatu malam seorang wanita beranjak naik ke atas ranjangnya, menemani malamnya, memuaskannya, tapi sama sekali tidak meminta bayaran, hal yang membuat Bayu merasa aneh hingga dia cukup penasaran.
Wanita bernama Viona itu menolak kehadirannya, menolak keras untuk tidur kembali dengan Bayu meski pria itu akan membayarnya mahal. Dia memilih untuk pergi dan tidak berurusan dengan Bayu lagi.
"Aku tidak meminta bayaran, karena aku sengaja memanfaatkanmu untuk tidur denganku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Sial wanita itu berani sekali menolakku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
Bayu berdiri di balkon Apartemennya, sebatang rokok berada di tangannya. Hembusan dari nikotin yang di hisapnya memudar di udara. Wajahnya terlihat dingin, namun bergejolak dengan pikiran yang kacau. Beberapa saat lalu Ayahnya menelepon dan mengatakan hal yang paling Bayu tidak ingin untuk membahasnya. Seorang anak dan pernikahan.
"Sampai kapan kau akan terus seperti itu Bayu! Kapan kau akan memberikan cucu dan menantu untukku"
"Yah, aku sudah nyaman hidup seperti ini. Kalau Ayah mau anak kecil, nanti kita adopsi saja"
"Aku hanya ingin anak dari darah dagingmu, Bayu! Kau memang tidak berniat menikah? Apa yang kau tunggu? Kau sukses, usahamu banyak, dan kau kaya, kenapa tidak mau menikah?"
Bayu tertawa mendengar ucapan Ayahnya, entah itu sebuah pujian atau hinaan, karena sebenarnya Ayahnya jelas lebih kaya darinya. "Wanita hanya ingin harta saja, untuk kepuasan aku bisa membeli banyak wanita yang melayaniku"
Hembusan napas panjang dan berat terdengar dari sebrang sana. "Apa yang harus Ayah lakukan agar kamu mau menikah. Ingat Bayu, tidak semua perempuan sama"
"Sudahlah Yah, aku mau pergi sekarang"
Bayu mematikan sambungan telepon, lalu dia lanjut merokok disana. Sampai beberapa batang rokok telah habis, dia kembali masuk. Saat mengambil kunci motor di atas meja, tidak sengaja dia melihat gantungan kunci perempuan yang tidur bersamanya beberapa minggu lalu. Dia mengambilnya, menatap sekilas gantungan kunci itu. Entah kenapa foto kecil gantungan kunci itu selalu ada, dan membuatnya terus membawanya. Hari ini pun Bayu memasukannya ke dalam saku jaket.
Dia pergi ke bar malam ini, sudah janji dengan Davin dan Bara untuk minum-minum di sana. Menikmati malam hanya untuk bersenang-senang. Dalam setengah pengaruh alkohol, Bayi mengeluarkan gantungan kunci foto itu dari saku jaketnya, menatapnya dengan lekat. Seperti tidak pernah bosan untuk menatapnya, selalu ada pertanyaan yang tidak tersampaikan.
Kenapa dia pergi tanpa meminta bayaran? Apa sebenarnya tujuannya ingin tidur dengan Bayu? Semua pertanyaan itu masih terus menghantui pikirannya, merasa jika ada sesuatu yang membuat Bayu penasaran dengan perempuan yang tidur dengannya tanpa meminta bayaran.
"Kau masih memikirkan tentang perempuan yang tidur denganmu tanpa meminta bayaran itu?" tanya Bara.
Bayu mendongak, menatap Bara dengan hembusan napas pela. "Ya, masih membuatku penasaran saja apa ingin dia sampai tidak meminta bayaran padaku"
"Atau mungkin dia punya rencana lain? Seperti ingin punya anak darimu dan nanti akan memeras hartamu menggunakan anaknya, bisa jadi kan?" Ucap Davin.
Bayu termenung memikirkan, mengingat malam itu karena terlalu buru-buru dan dia memang tidak berniat untuk tidur dengan siapapun, tapi tiba-tiba seorang wanita asing menariknya ke sebuah kamar hotel dan membuatnya tidak menghilangkan kesempatan itu.
"Sial! Malam itu aku tidak memakai pengaman"
"Nah kan, dia seperti memang sedang ingin memanfaatkanmu. Dan jika suatu saat kalian bertemu kembali, jangan pernah kau mau menuruti keinginannya, meski dia sudah punya anak darimu sekalipun"
"Menurutku kalau dia punya anak juga seharusnya di tes DNA dulu, karena bisa jadi anak itu bukan anakmu. Siapa yang tahu dia tidur dengan siapa saja" tambah Bara.
"Ah, sudah sudah. Mana mungkin juga dia hamil hanya dalam satu kali saja. Lagian kalau misalkan benar dia datang dan menuntut hak atas anak, aku bisa membuat semuanya aman. Hanya perlu memberinya kompensasi saja, kau lupa kalau aku pengacara"
"Ah, benar" ucap Bara mengangguk menyetujui.
Mereka lanjut minum sampai puas, dan Bayu masih memikirkan ucapan kedua temannya. Meski dia tetap minum juga, tapi tidak bersemangat seperti sebelumnya. Bahkan dia tidak terlalu mabuk malam ini.
Jika dia benar punya anak, aku bisa meminta anak itu untuk Ayah. Karena Ayah selalu ingin anak dariku. Ah, tapi itu tidak mungkin.
*
Hari pertama masuk kerja, Viona cukup tegang karena setelah 5 tahun lamanya, akhirnya dia mulai masuk kembali ke dalam Kantor. Menatap penampilannya beberapa kali, mencoba untuk terlihat baik di hari pertama dia bekerja.
"Selamat pagi Pak, saya Viona yang akan jadi sekretaris Bapak"
Pria tua yang terlihat gagah dengan tubuh tinggi besar itu, tersenyum pada Viona. "Temannya Raisa itu ya?"
Viona segera mengangguk. "Iya Pak"
"Baiklah, kamu sudah bisa mulai bekerja, atur semua jadwal saya dan beberapa laporan yang harus kamu cek sebelum sampai ke saya"
"Baik Pak"
Viona keluar dari ruangan Presdir perusahaan ini dengan menghembuskan napas pelan.Waktunya untuk memulai hidup baru, menjalani pekerjaan dan hidup dengan tenang seorang diri.
"Hai, kamu sekretaris barunya Pak Hermawan?" Seorang pria muda menghampirinya dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
"Iya, saya sekretaris barunya"
"Kenalkan saya Yudi dari keuangan, saya keisni untuk kasih laporan keuangan bulan ini"
Viona menerima uluran tangan dari pria bernama Yudi itu. Hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Menerima laporan keuangan itu. "Viona, terima kasih untuk laporannya akan saya periksa dulu sebelum di serahkan ke Pak Hermawan"
Yudi tersenyum, dia mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. "Boleh minta kontak ponselmu?"
Viona menatap ponsel yang terulur ke hadapannya itu dengan cukup lama. Seharusnya dia tidak begitu menjaga jarak jika hal ini hanya berurusan tentang pekerjaan. Tapi hatinya seolah takut, bahkan hanya sekadar memberikan nomor ponsel.
"Em, jIka hanya untuk urusan pekerjaan, tentu boleh" ucap Viona, dengan ragu mengambil ponsel milik Yudi dan memasukan nomor ponselnya.
"Ah, tentu saja untuk pekerjaan. Tapi jika diluar pekerjaan ada yang ingin aku bicarakan, tentu boleh 'kan?"
"Sebaiknya tidak usah!" Tegas, jelas, dan tidak terbantahkan. Viona menjawab sambil membereskan beberapa berkas di atas meja kerjanya, sama sekali tidak menatap ke arah Yudi lagi. "Jika sudah tidak ada urusan lain, silahkan pergi. Saya masih butuh waktu untuk fokus bekerja disini"
Pria itu terlihat cukup tertegun dengan penolakan Viona yang begitu terang-terangan. Padahal Yudi belum berencana mendekatinya, tapi Viona seperti sudah membangun benteng tinggi untuk tidak di ganggu siapapun.
"Baiklah, saya permisi dulu"
Viona mengangguk saja, tanpa menatap lagi ke arah Yudi. Dia sibuk dengan layar laptopnya dan sama sekali tidak ingin terlalu lama berinteraksi dengan teman kerja pria mana pun selain urusan pekerjaan.
"Pak Hermawan ada di ruangannya?"
Viona yang sedang fokus mendongak saat menyadari kehadiran seseorang yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. Ketika Viona mendongak, bola matanya langsung melebar karena kaget. Wajahnya menegang, kedua tangan mengepal erat di atas meja.
Ba-bayu Rangga?
Sementara pria di depannya tersenyum dengan satu alis terangkat. "Waw, ternyata kau bekerja disini?"
Bersambung
di tunggu up nya thor 🙏
nnt panggil pengasuh bu Aminah, panggil viona, ibu.