NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

​Mendengar ucapan Yudha, polisi dari pusat itu meliriknya dengan senyum meremehkan. "Kami tidak butuh diajari cara menangani kasus oleh anak ingusan seperti kamu. Sebaiknya kamu khawatirkan dirimu sendiri dulu!"

​Ia kemudian berbalik ke arah anak buahnya dan berseru, "Bawa anak ini ke kantor pusat!"

​Atas perintah itu, beberapa polisi merangsek maju dan mencengkeram lengan Yudha. Amarah Yudha sudah mencapai puncaknya. Ia tidak percaya masih ada aparat yang begitu buta dalam membedakan mana penjahat dan mana korban. Saat dua polisi mencoba menekuk lengannya, Yudha mengibaskan bahunya dengan tenang.

​"Tidak perlu kasar. Aku bisa jalan sendiri. Tapi ingat satu hal, kalian akan bertanggung jawab penuh atas apa yang kalian lakukan hari ini," ujar Yudha dengan suara rendah yang penuh ancaman.

​Pemimpin polisi itu menyipitkan mata, menatap Yudha dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tertawa keras. "Aku tidak menyangka kamu begitu sombong. Kita lihat saja apa yang bisa kamu lakukan setelah masuk ke sel nanti."

​Ketika dua polisi lagi mendekat membawa borgol, tatapan Yudha menajam. "Aku ikut kalian hanya untuk membantu penyelidikan. Simpan saja borgol itu! Aku tidak akan lari, jangan khawatir."

​Melihat Yudha memberikan perlawanan verbal, kedua polisi itu sempat ingin bertindak kasar, namun atasan mereka memberi kode untuk membiarkannya. Mereka akhirnya menyerah.

​"Yudha..." Luna menatap Yudha dengan suara tersedu, tak menyangka pahlawannya justru akan diseret ke kantor polisi sebagai tersangka.

​Yudha mengangguk lembut ke arah Luna, berusaha menenangkannya. "Suara kebenaran tidak akan bisa dibungkam, Luna. Tidak apa-apa, aku punya cara untuk menyelesaikan ini."

​Gerry kini tampak sangat jemawa. Ketakutan yang tadi menghantuinya hilang tak berbekas. Tatapannya terus berpindah antara Yudha dan Luna dengan sorot mata licik, jelas sekali ia sedang merencanakan sesuatu yang lebih buruk.

​"Bawa mereka!"

​Polisi-polisi itu menggiring Yudha, Luna, dan juga Gerry ke dalam mobil patroli. Para polisi lokal hanya bisa berdiri terpaku dengan perasaan kesal. Mereka sudah bersusah payah melacak tersangka, namun hasilnya justru direbut begitu saja oleh pihak pusat yang tampaknya telah "dibeli". Ini adalah penghinaan besar, namun sebagai polisi dari wilayah pinggiran, mereka hanya bisa menerima nasib sial ini.

​Di dalam mobil, Yudha melihat Gerry asyik bercanda dan tertawa dengan para polisi tersebut, sama sekali tidak terlihat seperti seorang tersangka kriminal. Meskipun Yudha yakin mereka tidak bisa menyentuhnya secara fisik, melawan polisi secara terang-terangan adalah langkah yang tidak bijaksana. Otaknya terus bekerja mencari solusi di sepanjang perjalanan. Melihat ekspresi Luna yang sangat cemas, Yudha memberikan isyarat lewat mata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

​"Yudha, apa kita akan baik-baik saja? Ini semua salahku... aku sudah menyeretmu ke masalah ini," tangis Luna pecah lagi, membuat hati Yudha teriris.

​"Jangan khawatir, Luna. Kita akan baik-baik saja. Aku menolak percaya bahwa mereka bisa memutarbalikkan fakta di siang bolong seperti ini," ujar Yudha dengan senyum tipis yang terasa dingin dan misterius.

​Tentu saja, Yudha bukan tipe orang yang hanya akan duduk diam meratapi nasib. Bosnya, Bang Januar, pernah berpesan bahwa jika terjadi sesuatu yang di luar kendali, Yudha bisa meminta bantuannya. Yudha merasa sosok Bang Januar ini cukup misterius. Kemampuannya yang sulit ditebak dan berbagai kejadian aneh yang pernah ia lewati bersama pria itu menanamkan rasa percaya diri yang besar dalam benak Yudha.

​Beruntung, para polisi korup itu belum menyita ponselnya, sehingga Yudha masih sempat melakukan panggilan saat berada di dalam mobil patroli.

​Yudha segera merogoh ponselnya dan mendial nomor Bang Januar. Begitu panggilan tersambung, suara tawa yang sangat khas dan sedikit mesum langsung terdengar dari seberang sana.

​"Halo, adikku Yudha! Kebetulan sekali, abangmu ini lagi santai di spa bareng dua 'bidadari', kamu mau menyusul?"

​Yudha sempat terdiam tanpa kata, namun ia tidak punya pilihan selain menceritakan kekacauan yang sedang terjadi. Ia berharap Bang Januar punya solusi jitu untuk masalah pelik ini.

​Bang Januar terdiam sejenak di telepon sebelum akhirnya menjawab dengan nada suara yang berubah drastis menjadi sangat berat dan dingin, "Ikuti saja permainan mereka dulu. Kalau mereka tidak menyentuhmu, biarlah. Tapi kalau mereka berani macam-macam... aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos." Nada bicara Bang Januar yang penuh aura membunuh itu justru membuat hati Yudha terasa hangat. Ia tahu, bos "murahan"-nya ini ternyata sangat peduli padanya.

​Yudha menutup telepon dengan tenang, sebuah senyum penuh keyakinan kini menghiasi bibirnya.

​Meskipun Gerry yang duduk di kursi depan asyik mengobrol dengan beberapa polisi, matanya terus melirik ke belakang lewat spion untuk memantau gerak-gerik Yudha. Melihat Yudha menelepon seseorang untuk minta bantuan, ia mendengus meremehkan.

​"Di kota ini, kamu pikir ada yang bisa menyelamatkanmu? Kamu sudah berurusan dengan keluarga Gerry, jadi bersiaplah membusuk di penjara!"

​"Jangan sombong. Polisi pasti akan membela yang benar," sahut Luna dingin ke arah Gerry.

​"Oya? Kita lihat saja polisi bakal bantu siapa. Pacarmu ini melakukan penyerangan dan perampokan, menurut hukum pun dia bisa dipenjara bertahun-tahun. Hahaha!" Ucapan jemawa Gerry membuat wajah Luna memucat pasi karena takut. Ia menatap Yudha dengan pandangan tak berdaya.

​Yudha tersenyum tipis dan menenangkan Luna lewat tatapan matanya, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.

​Begitu tiba di kantor polisi, Luna ditinggalkan di ruang tunggu luar. Alih-alih diminta memberikan keterangan sebagai saksi, Yudha justru digiring oleh dua polisi ke sebuah ruangan interogasi yang suram. Salah satu petugas yang bertubuh tinggi mencengkeram bahu Yudha dan memerintah dengan kasar, "Duduk!"

​Yudha tetap bergeming, menolak untuk tunduk. Sebaliknya, ia menatap polisi itu dengan tatapan yang sangat dingin dan berkata, "Ini melanggar prosedur! Kalian bahkan belum mengambil keteranganku dan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ke sini untuk membantu penyelidikan, apa hak kalian menahanku seperti ini?"

​Seolah merasa ciut di bawah tatapan tajam Yudha, polisi jangkung itu membalas dengan bentakan yang terdengar dipaksakan, "Jangan banyak bicara! Kamu pikir aku butuh diajari cara kerja olehmu, hah?"

​Kilatan amarah sempat melintas di mata Yudha, namun ia segera menyembunyikannya dan berkata dengan senyum getir, "Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai. Kamu akan bertanggung jawab atas tindakanmu hari ini." Setelah mengatakan itu, Yudha duduk dan membiarkan polisi tersebut memborgol tangannya ke kursi besi.

​"Hmph! Sekarang sebaiknya kamu pikirkan cara untuk keluar dari sini! Salah sendiri berani mengusik orang yang tidak seharusnya kamu sentuh. Ada aturan main di dunia ini yang tidak bisa kamu ubah. Karena kamu belum punya kuasa, lebih baik ikuti saja arusnya!"

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!