Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayap yang di Patahkan Di Ambang Pintu
Malam di pinggiran Jakarta terasa seperti cairan hitam yang kental. Menyesakkan dan tanpa celah. Jam dinding di ruang tengah kontrakan tua itu berdetak monoton.
Menunjukkan pukul sembilan malam. Di dalam kamar yang remang, Larasati duduk di tepi ranjang dengan napas yang memburu. Matanya yang sembab menatap sebuah tas kain usang yang sudah ia isi dengan beberapa potong baju dari desa.
Baju-baju yang membawa aroma sabun batang murah dan wangi matahari Sukamulya. Aroma kehidupan sebelum semuanya berubah menjadi neraka.
Bagas dan Maya belum pulang. Biasanya, mereka sudah kembali sejak pukul enam sore untuk merayakan kemenangan mereka di kamar sebelah. Namun malam ini, entah karena urusan apa, rumah itu sunyi. Bagi Larasati, kesunyian ini adalah celah sempit yang harus ia lalui jika ingin bertahan hidup.
Ia berdiri, kakinya gemetar hebat. Ia melangkah menuju cermin kusam yang tergantung di dinding. Bayangan yang terpantul di sana membuatnya ingin berteriak. Wajahnya pucat, bibirnya pecah, dan matanya kehilangan binar kehidupan.
“Apa Bapak akan percaya kalau aku pulang dengan keadaan seperti ini?” batinnya merintih.
“Apa Ibu tidak akan mati berdiri melihat putrinya sudah menjadi barang rongsokan?”
Keraguan sempat menyergap. Jakarta adalah labirin raksasa bagi gadis desa sepertinya. Ia tidak tahu di mana terminal bus terdekat, ia tidak tahu arah jalan pulang. Namun, ingatan tentang seringai pria gendut pagi tadi kembali menghantamnya.
“Aku akan datang setiap hari dalam seminggu ini, Manis. Suamimu sudah menjaminnya.”
Kalimat itu menjadi cambuk yang mengusir keraguannya. Lebih baik mati di jalanan Jakarta daripada menjadi budak nafsu pria-pria itu setiap hari.
Dengan tangan gemetar, Laras menyampirkan tas kainnya. Di bagian paling dasar, ia memastikan amplop berisi uang 50 juta itu masih terselip aman. Itu adalah tiket kebebasannya.
Langkah di Ambang Pintu
Laras melangkah jinjit melewati ruang tengah. Setiap derit lantai kayu terasa seperti ledakan di telinganya. Ia berhasil mencapai pintu depan.
Memutar kunci perlahan dan merasakan embusan angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Untuk sesaat, ia merasa bisa menghirup oksigen kembali.
Ia melangkah turun ke teras kecil. Tinggal beberapa langkah menuju gerbang. Lalu ia akan berlari sekencang mungkin menuju jalan raya. Namun, tepat saat kakinya memijak semen teras, sebuah sorot lampu mobil menyambar matanya.
CIIIIIIIIIT!
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan pagar. Jantung Laras seolah berhenti berdetak. Pintu mobil terbuka dan muncullah Bagas bersama Maya.
Mereka tampak baru saja bersenang-senang, tawa mereka masih tersisa di udara sebelum akhirnya membeku saat melihat Laras berdiri menenteng tas di ujung teras.
"Mau ke mana kau, Laras?" suara Bagas terdengar dingin, lebih tajam dari sembilu. Tak seperti kemarin yang memohon Laras untuk tetap tabah dan tenang. Bagas akhirnya menampakkan wujud aslinya pada Laras.
Laras mematung, tas kain di tangannya jatuh ke lantai. "Mas... aku..."
Bagas melangkah cepat, wajahnya yang tadi ceria kini berubah menjadi iblis yang murka. Tanpa banyak bicara, ia menjambak rambut Laras dengan kasar.
"Kau mau kabur?! Kau mau merusak kesepakatanku dengan para juragan itu?!"
"Lepaskan, Mas! Sakit!" jerit Laras.
Maya berdiri di belakang Bagas, bersedekap dengan senyum sinis yang menghina, "Wah, lihat si Kembang Desa ini. Ternyata dia punya nyali juga untuk melarikan diri."
Siksaan di Atas Ranjang Pengantin
Bagas menyeret Laras masuk kembali ke dalam rumah. Ia melemparkan tubuh Laras ke atas kasur lantai dengan kasar.
Laras mencoba merangkak pergi. Namun Bagas dengan cepat menyambar seutas tali jemuran yang entah sejak kapan sudah ia siapkan. Dengan penuh kebencian, Bagas mengikat kedua tangan Laras ke sandaran ranjang kayu yang reot.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja. Setelah aku mengeluarkan banyak modal untuk membawamu ke sini?!" teriak Bagas.
Ia melepas ikat pinggang kulitnya. Suara gesekan logam gespernya terdengar mengerikan di dalam kamar yang sempit itu.
PLAK!
Cambukkan pertama mendarat di bahu Laras. Gadis itu menjerit histeris, rasa panas dan perih menjalar seketika. Namun Bagas seperti kesetanan. Ia melayangkan ikat pinggang itu berkali-kali ke punggung dan kaki Laras.
"Menangislah! Berteriaklah sekeras mungkin! Tidak akan ada yang menolongmu di sini!" geram Bagas.
"Dengar ya, kalau kau berani mencoba kabur lagi, aku akan mengirim pesan ke seluruh warga desa. Aku akan bilang kau lari ke Jakarta untuk jadi pelacur! Aku punya foto-fotomu saat melayani pria pagi tadi! Aku akan buat orang tuamu mati karena malu!"
Laras hanya bisa terisak, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin untuk menahan rasa sakit. Ancaman itu lebih menyakitkan daripada cambukkan fisik. Ia membayangkan wajah ayahnya yang penuh harga diri hancur karena fitnah Bagas. Ia terjepit dalam neraka yang sempurna.
Perampasan Harapan Terakhir
Sementara Bagas melampiaskan amarahnya, Maya masuk ke kamar dan mengambil tas kain Laras yang tertinggal di lantai. Ia menggeledah isinya dengan rakus. Melempar baju-baju desa Laras ke lantai. Hingga akhirnya tangannya menemukan amplop cokelat tebal itu.
"Bagas, lihat ini!" teriak Maya dengan mata berbinar.
Ia membuka amplop itu dan memperlihatkan tumpukan uang merah seratus ribuan, "Si bodoh ini ternyata membawa harta karun."
Bagas berhenti memukul. Ia mengatur napasnya yang memburu. Lalu merebut uang itu dari tangan Maya. Ia menghitungnya sekilas dan tertawa terbahak-bahak.
"Lima puluh juta? Luar biasa. Ternyata mertuaku benar-benar bodoh. Dia menggadaikan sawahnya untuk memberikan uang ini padamu, Laras? Dan kau ingin membawanya lari?"
Laras menatap uang itu dengan pandangan hancur, "Itu milik Bapak... tolong, jangan ambil itu..."
"Milik Bapakmu? Sekarang ini milikku!" Bagas mengantongi uang itu ke dalam saku jaketnya.
"Uang ini akan jadi modal bersenang-senangku dengan Maya malam ini dan kau... kau tetap di sini. Tunggu pria-pria itu besok pagi. Pastikan kau melayani mereka dengan baik, atau nyawa orang tuamu di desa taruhannya."
Bagas dan Maya keluar dari kamar, mengunci pintu dari luar dengan gembok besi yang besar. Laras mendengar suara mesin mobil mereka kembali menyala.
Mereka pergi membawa harapan terakhirnya. Membawa keringat dan air mata ayahnya untuk dihabiskan di tempat-tempat maksiat Jakarta.
Larasati terbaring dalam posisi terikat. Menatap langit-langit kamar dengan mata yang tak lagi mampu mengeluarkan air mata. Bayangan seminggu ke depan di mana ia harus menjadi tempat pembuangan nafsu pria-pria asing. Membuatnya merasa mual hingga ke hulu hati.
Di Jakarta yang megah di dalam rumahnya yang sunyi, Rizki Pratama tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia berkeringat dingin di telinganya, ia seolah mendengar suara jeritan yang sangat jauh namun begitu memilukan. Ia menatap tangannya yang gemetar, merasakan sebuah dorongan yang tak tertahankan untuk mencari sumber suara itu.
“Ada yang sedang disiksa... seseorang yang sangat dekat dengan jiwaku sedang dihancurkan,” bisik Rizki pada kegelapan malam.
Malam itu, Larasati benar-benar kehilangan segalanya. Hartanya, kebebasannya, dan harapan pulangnya telah dirampas. Ia kini hanya menunggu fajar, menunggu monster-monster berikutnya datang.
Tanpa menyadari bahwa di balik tembok-tembok beton Jakarta. Takdir sedang menyusun sebuah pertemuan berdarah yang akan menebus setiap cambukkan yang ia terima malam ini.