NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trauma Gwen Kepada Pria

Setelah mandi cepat, Gwen mengenakan kaus abu-abu yang ditinggalkan Raymon di gagang pintu untuknya. Ia lalu naik ke ranjang besar dan menyusup ke bawah selimut tebal.

Sebelum memejamkan mata, ia sempat melihat jam di ponselnya. Sudah lewat tengah malam, tetapi ia sama sekali tidak bisa tidur.

Alasannya ada monster yang sedang tidur beberapa puluh meter darinya. Hanya memikirkan pria itu saja sudah cukup mengacaukan pikirannya yang memang sudah lelah.

Dada Raymon dipenuhi tato. Ia sempat melihatnya saat membuka kancing kemeja pria itu, tetapi tidak ada cukup waktu untuk benar-benar memperhatikan gambar-gambarnya.

Presiden Gladiators itu adalah teka-teki. Ia kebalikan dari tipe pria yang biasanya menarik perhatian Gwen. Ia biasanya menyukai pria yang santai, mudah diajak tertawa, seseorang yang ringan diajak bicara dan lebih mudah lagi untuk diajak pergi, pria yang tidak menuntutnya untuk membuka diri.

Gwen memejamkan mata. Bayangan Raymon yang mencengkeram pahanya, sementara bibir pria itu menyusuri lehernya dengan ciuman-cumbuan penuh dosa, memenuhi benaknya.

Tanpa sadar, tangannya meluncur melewati perutnya hingga ke sela-sela pahanya. Ia menyentuh rahimnya sendiri, memberi tekanan ringan, dan mengerang pelan.

Tidak.

Ia tidak seharusnya mencari kenikmatan dengan memikirkan pria yang pernah mengancam akan membunuhnya.

Ini salah.

Dengan cepat ia menarik tangannya, menyelipkan keduanya di bawah bantal, dan berusaha mengabaikan rasa berdenyut di antara pahanya.

Ia tidak akan melakukannya lagi.

Selama berjam-jam ia terjaga di ranjang, jemarinya mencengkeram bantal, menunggu tubuhnya yang mengkhianatinya itu untuk tenang.

Namun tidak. Justru semakin memburuk sampai akhirnya ia tidak tahan lagi. Ia pun menyerah pada hasrat itu dan kembali menggerakkan tangannya ke bawah.

Dalam hitungan detik, ia mencapai klimaksnya, wajahnya terbenam di bantal, dan nama seorang pembunuh terucap di bibirnya. "Ohhh ... Raymon!!!"

***

Ponselnya berdering saat Raymon sedang mengancingkan kemejanya. Nama pamannya muncul di layar. Lelaki tua itu biasanya tidur sampai siang di hari Minggu. Raymon hanya tahu satu alasan kenapa pria itu menelepon sepagi ini.

“Ada apa, Esmond?” bentaknya ke telepon.

“Aku dengar kamu bawa cewek. Dia masih di rumah?”

“Ini rumah aku, jadi itu bukan urusan kamu.”

“Berarti dia masih di sana. Kamu nggak pernah bawa pelacur kamu ke rumah,” kata Esmond.

Tubuh Raymon langsung menegang. “Kalau aku dengar kamu nyebut dia kayak gitu lagi, di depan aku atau siapa pun, aku bakal gorok leher kamu. Jelas?”

“Apa sih yang salah sama kamu, Raymon?”

"Jelas ... Esmond?”

Hening sejenak di seberang sana sebelum akhirnya terdengar jawaban, “Iya.”

“Bagus.”

Raymon mematikan telepon. Ia membenci pria itu, tetapi ia tidak bisa mengambil risiko untuk mengusirnya, seberapa besar pun keinginannya.

Esmond mengetahui terlalu banyak rahasia. Ia harus tetap di sini, di tempat Raymon bisa mengawasinya setiap saat.

Ia meraih kruk yang bersandar di meja samping tempat tidur, menempatkannya di kedua sisi tubuhnya, lalu berdiri. Dengan kruk menopang di bawah ketiaknya, ia menarik napas dalam dan mulai melangkah, pelan dan menyakitkan.

Lututnya biasanya kaku di pagi hari, tapi sekarang jauh lebih baik dibanding sebulan lalu. Semua jadwal fisioterapi itu akhirnya membuahkan hasil, meski ia masih sangat jauh dari bisa meninggalkan kursi roda sialan itu.

Ia membenci benda itu. Tapi masih ada hari-hari ketika rasa sakitnya terlalu parah sampai ia bahkan tidak sanggup menggerakkan kaki kanannya.

Nanti saat ia menemukan bajingan yang memasang bom itu, ia akan menikmati membunuh mereka.

Ia mungkin sempat disedasi, tetapi ia masih ingat dua orang berbicara di kamar rumah sakitnya. Ia tidak bisa mengenali suara mereka atau menangkap seluruh isi percakapan, tapi cukup untuk tahu mereka terlibat.

Salah satunya kemungkinan besar keluarganya sendiri, yang kini tinggal di bawah atapnya.

Ia tidak punya bukti, tapi ia hampir yakin Esmond terlibat. Lalu siapa yang satunya lagi?

Itu yang masih harus ia cari tahu.

Saat keluar dari kamarnya, ia mendengar suara nyanyian sumbang dari arah dapur. Ia menoleh dan melihat Gwen sedang mengacak-acak isi kulkas.

Raymon tahu gadis itu pendek, tapi dari posisi duduk semalam ia tidak bisa menilai tinggi badannya dengan pasti. Ternyata Gwen bahkan lebih pendek dari yang ia kira, sekitar satu setengah meter.

Ujung kaus miliknya yang dipakai Gwen jatuh sampai lutut, membuatnya terlihat agak lucu. Tanpa alas kaki, ujung kepala Gwen bahkan tidak sampai ke tulang dadanya. Dia memang pendek.

Gwen membelakanginya, jadi ia tidak menyadari kehadiran Raymon saat pria itu mendekat dan berhenti di dekat meja makan, beberapa langkah di belakangnya.

“Ada yang menarik di kulkas?” tanya Raymon.

Gwen langsung melompat kaget sambil berteriak kecil dan menutup pintu kulkas dengan keras.

“Sial, kamu hampir bikin aku kena serangan ja—”

Kalimatnya terputus. Ia hanya berdiri mematung, menatap Raymon dengan mata melebar.

Raymon sempat mengira Gwen akan terkejut melihatnya tidak lagi di kursi roda. Tapi ekspresi di wajah gadis itu bukan sekadar terkejut.

Itu ketakutan.

“Gwen?” Raymon melangkah mendekat.

Gwen menciut dan mundur hingga punggungnya menabrak kulkas. Napasnya jadi cepat dan pendek, ia sampai kesulitan mendapatkan udara. Tangannya sedikit gemetar.

Serangan panik.

Raymon tidak tahu apa yang memicunya, tapi Gwen jelas ketakutan. Dan ia cukup yakin penyebabnya adalah dirinya sendiri.

Itu tidak masuk akal.

Beberapa jam lalu, Gwen duduk di pangkuannya dan tidak terlihat takut sedikit pun.

“Raymon,” akhirnya Gwen berkata, suaranya nyaris berbisik, “Aku mau kamu duduk. Tolong.”

Raymon tidak melihat alasan di balik permintaan itu, tapi ia tetap melangkah ke meja makan, menarik kursi, lalu duduk.

Gwen masih terpaku di depan kulkas, tapi setidaknya napasnya mulai lebih teratur.

Sebuah ingatan melintas di benak Raymon. Sesuatu yang Gwen katakan saat mereka tiba semalam. Kini ia mengingatnya dengan jelas, dan ia tidak menyukai arti di baliknya.

“Kamu bilang sesuatu tadi malam. aku mau kamu jelasin maksudnya.”

Gwen berkedip, lalu menggeleng. “Maksud kamu yang mana?”

Raymon menatap wajahnya, memastikan ia menangkap setiap reaksinya. “Maksud kamu apa waktu kamu bilang, ‘aku nggak suka yang besar’?”

Gwen berkedip lagi. Bukannya menjawab, ia justru berbalik dan berlari ke kamar. Pintu tertutup keras tepat saat Raymon tersadar, diikuti amarah yang mulai mendidih di perutnya.

Ya.

Seseorang pasti pernah menyakiti Gwen.

Dan kalau reaksinya seperti itu, pasti sangat buruk.

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!