NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerajaan yang Berubah Asing

​Mentari pagi kembali menyapa, namun kali ini ia tidak membawa kehangatan yang sama. Bagi Nora, setiap berkas cahaya yang masuk melalui celah jendela terasa seperti sorot lampu interogasi yang menagih jawaban. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia kembali melakukan ritual di kamar mandi. Hasilnya tidak berubah. Garis merah itu tetap di sana, bahkan tampak lebih tajam dan gelap dari kemarin, seolah menegaskan bahwa mereka tidak akan pergi ke mana-mana.

​Nora menarik napas panjang, menelan gumpalan emosi yang menyumbat tenggorokannya. Ia mengambil alat-alat tes itu dan memasukkannya ke dalam kotak kayu berukir milik ibunya, menumpuknya di atas kain sutra hitam yang kini menjadi saksi bisu dari awal mula kehidupan ini terbentuk.

​Saat ia keluar, Martha sudah menunggu dengan wajah cemas yang seketika berubah saat melihat anggukan kecil dari Nora.

​"Ya Tuhan! Nona!" Martha memekik, namun segera menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suaranya tidak keluar dari pintu kamar. "Selamat, Nona! Oh, ini keajaiban. Ini berkat yang luar biasa!"

​Martha memeluk Nora dengan erat, sebuah pelukan tulus yang membuat Nora merasa sedikit lebih kuat. "Kita harus memastikannya ke dokter, Nona. Sekarang. Selagi Tuan Adrian belum kembali."

​Rencana disusun dengan cepat. Mereka tidak menggunakan mobil mansion yang dilengkapi pelacak GPS atau pengawal. Nora mengenakan trench coat panjang dan kacamata hitam, sementara Martha memesan taksi komersil melalui aplikasi di ponselnya. Mereka turun beberapa blok dari sebuah klinik spesialis kandungan yang cukup jauh dari pusat kota, memastikan tidak ada mata-mata keluarga Thorne yang mengenali mereka.

​Di dalam ruang periksa yang berbau antiseptik dan tenang, Nora berbaring di atas ranjang periksa. Dinginnya gel ultrasonik yang dioleskan di perutnya membuatnya sedikit merinding. Dokter mulai menggerakkan transduser, dan layar hitam-putih di sampingnya mulai menampilkan gambaran abstrak yang perlahan membentuk pola.

​"Nah, lihat ini," ujar dokter dengan suara lembut.

​Nora dan Martha terpaku pada layar. Martha bahkan harus menahan napas, matanya mulai berkaca-kaca. Di sana, di dalam rahim Nora, terlihat dua kantong kecil yang terpisah namun berdampingan.

​"Dua kantong janin, Nona Leone. Anda mengandung anak kembar," jelas sang dokter. "Usianya sudah hampir sepuluh minggu. Detak jantungnya sangat kuat dan sehat."

​Dug-dug. Dug-dug.

​Suara detak jantung yang diputar melalui speaker memenuhi ruangan. Nora merasakan air matanya luruh tanpa bisa dicegah. Itu bukan lagi sekadar teori atau garis merah di atas plastik; itu adalah dua nyawa. Dua nyawa yang terbentuk di tengah badai pengkhianatan, dua detak jantung yang tidak tahu bahwa ayah mereka mungkin tidak menginginkan keberadaan mereka.

​Martha menggenggam tangan Nora dengan erat. "Kembar, Nona... kembar," bisiknya dengan suara serak karena haru.

​Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Nora menatap foto hasil USG di tangannya—dua titik putih kecil yang kini menjadi seluruh dunianya.

​"Martha," panggil Nora pelan, matanya tidak lepas dari foto itu. "Aku memohon padamu. Jangan katakan apa pun pada Adrian. Jangan sepatah kata pun."

​Martha tertegun. "Tapi Nona, Tuan harus tahu. Beliau adalah ayahnya. Mungkin ini akan mengubah segalanya."

​"Atau mungkin ini akan menghancurkan segalanya," potong Nora dengan nada dingin yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku yang akan mengatakannya sendiri. Saat waktunya tepat. Aku harus tahu di mana posisiku sebelum aku menyerahkan nyawa anak-anakku ke tangan pria itu."

​Nora mendekap foto itu di dadanya. "Apa pun yang terjadi, Martha... apa pun rencana Adrian untukku atau untuk Stella, aku tetap akan mempertahankan mereka. Mereka adalah milikku. Hanya milikku."

​Sesampainya di mansion, suasana damai yang Nora bawa dari klinik seketika menguap. Sebuah mobil sport yang sangat ia kenali terparkir di depan lobi. Adrian sudah pulang.

​Dan dia tidak sendirian.

​Langkah Nora terhenti di ambang pintu ruang tamu. Di sana, pemandangan yang tersaji benar-benar mengiris hatinya kembali. Ruang tamu itu kini dipenuhi oleh berjejeran kotak-kotak oranye dari Hermès, tas-tas branded terbaru, kotak jam tangan mewah, dan beberapa perhiasan cincin emas yang diletakkan secara terbuka di atas meja.

​Semua itu adalah hadiah ulang tahun Stella yang jatuh dua hari lalu—tepat di hari saat Nora terbaring lemas karena demam dan patah hati. Adrian sengaja membawa Stella ke mansion ini untuk menyerahkan semua "upeti" tersebut.

​Stella sedang duduk di sofa, memegang sebuah tas kulit eksotis dengan wajah yang berseri-seri. Saat melihat Nora masuk, senyum Stella berubah menjadi tatapan menyelidik yang penuh kemenangan. Ia menatap Nora dari atas ke bawah, seolah ingin memastikan bahwa kakaknya itu telah hancur.

​"Oh, lihat siapa yang baru pulang," sindir Stella dengan suara manjanya yang memuakkan. "Dari mana saja kau, Kak? Wajahmu tampak... sangat kusam. Kau ketinggalan pesta kecil kami."

​Martha segera bergerak cepat menuju dapur, menyembunyikan tasnya yang berisi seluruh hasil pemeriksaan kesehatan Nora. Beruntung, perhatian Adrian saat itu sedang terfalu fokus pada Stella.

​Adrian berdiri, menatap Nora dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa bersalah di matanya, namun ia menutupi itu dengan sikap otoriter yang biasa. "Kau sudah lebih sehat, Nora? Martha bilang kau pergi keluar untuk mencari udara segar."

​Nora tidak menjawab. Matanya menyapu deretan kemewahan di atas meja. Jam tangan itu, cincin-cincin itu... semuanya adalah simbol dari di mana hati Adrian berada. Saat ia berjuang dengan demam dan kenyataan tentang kehamilannya, Adrian justru sibuk memanjakan Stella.

​Stella sengaja bangkit dan mendekati Adrian, bergelayut di lengan pria itu dengan sangat akrab. "Adrian, terima kasih banyak untuk semuanya. Aku tidak menyangka kau akan mengingat setiap detail yang aku inginkan. Kau benar-benar pria paling pengertian di dunia."

​Stella melirik Nora, memastikan kakaknya melihat bagaimana ia "memanasi" suasana. Ia ingin Nora tahu bahwa meski Nora tinggal di mansion ini, dialah yang memiliki kunci menuju hati Adrian.

​Nora tetap diam. Ia tidak membalas provokasi itu dengan kemarahan. Ia tidak peduli lagi pada tas branded atau jam tangan berlian itu. Semua itu terasa seperti sampah dibandingkan dengan dua nyawa yang sedang ia lindungi di dalam perutnya.

​"Aku lelah," ujar Nora pendek. Suaranya datar, tanpa emosi.

​Tanpa menunggu balasan dari Adrian atau ocehan lebih lanjut dari Stella, Nora melangkah melewati mereka berdua dengan kepala tegak. Ia naik ke lantai atas, masuk ke dalam kamarnya, dan segera mengunci pintu dengan bunyi klik yang tajam.

​Di dalam kamar yang sunyi, Nora menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup. Ia bisa mendengar suara tawa Stella yang samar dari bawah.

​"Jangan takut," bisiknya pada perutnya sendiri sambil mengelusnya. "Ibu tidak butuh hadiah dari ayah kalian untuk menjadi kuat. Ibu akan menjadi tameng kalian yang sebenarnya."

​Nora tidak menangis lagi. Rasa sendu itu kini telah mengeras menjadi sebuah tekad yang membeku. Di luar sana, Adrian mungkin sedang merayakan ulang tahun Stella, namun di dalam kamar ini, sebuah perlawanan diam-diam telah dimulai. Nora Leone tidak lagi bermain dengan aturan Adrian; ia kini sedang membangun dunianya sendiri untuk dua detak jantung yang baru saja ia temukan.

1
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!