Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Amplop Cokelat dan Realita
Pagi ini, bau hujan semalam masih mengendap di sela-sela lantai kayu kedai, bercampur dengan aroma kopi Arabika yang baru saja aku giling. Biasanya, aroma ini adalah obat penenang palIng ampuh bagiku. Namun hari ini, setiap partikel wanginya justru terasa menyesakkan. Mataku terus melirik ke arah meja bar, di mana sebuah amplop cokelat besar tergeletak diam, seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledakkan seluruh hidupku.
Cipta Megah. Nama perusahaan itu tertulis dengan huruf kapital yang tegas di sudut amplop. Sangat rapi, sangat berkuasa.
Aku meraih amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tekstur kertasnya kasar, terasa dingin di kulitku. Begitu aku membukanya, aroma kertas baru dan tinta printer yang tajam menyeruak—aroma birokrasi yang sama sekali tidak punya hati.
...pengosongan lahan selambat-lambatnya tiga puluh hari sejak surat ini diterima.
Kalimat itu terasa seperti tamparan fisik. Aku merosot duduk di kursi bar, menatap deretan toples kopi peninggalan Nenek. Nenek, maafkan aku. Aku menjaga tempat ini dengan seluruh tenagaku, tapi bagaimana aku bisa melawan naga raksasa yang hanya melihat bangunan ini sebagai angka di atas denah mal?,batin senja, yang tampak sangat khawatir
Lonceng pintu berdenting. Jantungku mecelos. Aku tidak siap melihat wajah "Pria Berpayung Hitam itu lagi,"Ketus Senja dengan nada pelan . Tapi, seolah alam semesta senang bercanda, Arka Danadyaksa melangkah masuk.
Kali ini ia tidak membawa payung. Cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela kaca yang kusam menyinari kemeja biru navy-nya, membuatnya tampak semakin jauh dari duniaku yang penuh noda kopi dan debu kayu. Ia berjalan ke arahku tanpa ekspresi, seolah-olah ia sedang berjalan di lobi hotel mewah miliknya, bukan di kedai kecil yang akan ia hancurkan.
"Sudah dibaca?" tanyanya datar. Ia tidak duduk, hanya berdiri dengan satu tangan di dalam saku celana.
Aku mengangkat amplop cokelat itu tinggi-tinggi. "Surat ini? Anda menyebutnya 'Realita'? Saya menyebutnya penindasan."
Arka menatap amplop itu, lalu beralih menatapku. Matanya tetap sedingin es, namun ada kerutan tipis di dahinya yang tidak ada tiga hari lalu. "Itu adalah tawaran kompensasi yang sangat adil, Senja. Dengan uang itu, kamu bisa membuka sepuluh kedai baru di lokasi yang lebih strategis daripada gang sempit ini."
Sepuluh kedai baru? Aku tertawa getir dalam hati. Dia benar-benar tidak mengerti.
"Tuan Arka," aku melangkah mendekat, membiarkan aroma kopi yang melekat di pakaianku menantang aroma parfum mahalnya yang beraroma kayu cendana. "Anda bisa membangun sepuluh gedung baru, tapi Anda tidak bisa memindahkan 'jiwa'. Di bawah lantai ini, ada kenangan saat Nenek pertama kali menyeduh kopi untuk Kakek. Di dinding ini, ada tawa pelanggan yang sudah menganggap tempat ini rumah mereka. Anda bicara soal realita bisnis, tapi Anda buta soal realita manusia!!,"tegas Senja, dengan nada meninggi.
Arka terdiam. Ia tidak langsung membalas dengan istilah hukum atau angka. Ia menatap dinding kayu di belakangku, matanya terpaku pada sebuah foto hitam Putih kecil—foto Nenek yang sedang tersenyum di depan kedai ini empat puluh tahun lalu.
Apa yang dia pikirkan? Apa dia sedang menghitung berapa nilai ganti rugi foto itu? Ataukah dia sedang mencari cara paling cepat untuk meruntuhkannya? batin Senja gelisah.
"Dunia terus bergerak, Senja," ucap Arka, suaranya sedikit lebih rendah. "sentimentalitas tidak akan bisa membayar pajak atau biaya perawatan bangunan tua ini. Realitanya adalah... jika kamu tidak pindah secara sukarela, alat berat akan tetap datang. Saya hanya mencoba membuat prosesnya tidak terlalu menyakitkan bagimu."
"Tidak terlalu menyakitkan?" suaraku meninggi, hampir pecah. "Anda datang ke rumah seseorang, memberitahunya bahwa rumah itu akan dihancurkan, dan Anda bilang itu tidak menyakitkan? Anda benar-benar robot dengan kemeja mahal, bukan?!"
Aku bisa melihat rahang Arka mengeras. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas meja, tepat di atas amplop cokelat tadi.
"Hubungi saya jika kamu sudah selesai dengan kemarahanmu dan siap bicara soal angka," ucapnya dingin.
Saat ia berbalik untuk pergi, aku tidak bisa menahan diriku. "Tuan Arka!!"
Ia berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa sepenuhnya berbalik.
"Kopi kemarin... apakah benar-benar terlalu pahit?" tanyaku, entah kenapa pertanyaan itu yang keluar dari bibirku.
Arka terdiam cukup lama. Deru knalpot kendaraan di luar terdengar bising, mengisi kesunyian di antara kami.
"Kopi itu..." ia menjeda, suaranya nyaris menyerupai bisikan yang tertutup suara angin. "Setidaknya kopi itu membuat saya terjaga semalaman. Sesuatu yang jarang terjadi akhir-akhir ini."
Lonceng pintu berdenting lagi saat ia melangkah keluar.
Aku menatap kartu nama itu. Arka Danadyaksa - Direktur Pengembangan. Dia terjaga semalaman? Karena kopiku? Ataukah karena dia merasa bersalah? Aku menggeleng kuat, mencoba mengusir pikiran konyol itu. Jangan bodoh, Senja. Pria seperti dia tidak punya waktu untuk merasa bersalah. Dia hanya peduli pada realita. Dan realitanya, bulan depan aku mungkin tidak punya tempat lagi untuk menyeduh kopi.
Aku kembali meraih kain lap, namun kali ini tanganku terasa jauh lebih berat. Di luar, awan mendung mulai berkumpul kembali. Dunia terasa sangat tidak adil, dan satu-satunya perlindunganku hanyalah kedai tua yang dindingnya mulai retak ini.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍