Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian di Ujung Gigi Taring
Angin berhenti berhembus.
Di halaman kandang kuda yang berlumpur itu, waktu seolah membeku. Kata-kata Yang Chen—"Apakah Jenderal sanggup membayar harganya?"—masih menggantung di udara, berat dan tajam seperti guillotine yang siap jatuh.
Para prajurit elit Black Iron menahan napas mereka. Tangan mereka mencengkeram gagang pedang begitu erat hingga buku-buku jari mereka memutih di balik sarung tangan kulit. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Seorang pangeran sampah, yang bahkan tidak dianggap manusia oleh ayahnya sendiri, baru saja memeras Panglima Tertinggi Kerajaan?
Wajah Pengurus Kuda Zhang sudah berubah warna menjadi abu-abu, mirip warna mayat yang sudah tiga hari mati. Dia menunduk begitu dalam hingga hidungnya menyentuh lumpur, berharap bumi akan menelannya saat itu juga. Dia tahu karakter Jenderal Feng. Jenderal membenci dua hal: pengkhianatan dan ketidaksopanan.
Namun, Feng Wuhen tidak langsung meledak.
Ekspresi sang Jenderal tetap datar, seperti permukaan danau beku. Hanya matanya yang sedikit menyipit, menciptakan kerutan tajam di sudut kelopak matanya. Aura Tekanan Roh-nya, yang tadi menyebar liar menekan semua orang, kini perlahan ditarik kembali. Dipadatkan. Difokuskan hanya pada satu titik: Yang Chen.
"Harganya..."
Feng Wuhen akhirnya membuka mulut. Suaranya tidak keras, tapi memiliki resonansi logam yang berat.
"Nyawamu sudah ada di ujung pedangku sejak kau keluar dari gubuk itu tanpa izin, Pangeran Ketiga. Kau tidak punya modal untuk menawar."
Jenderal itu mengambil satu langkah maju. Sepatu bot besinya menghantam tanah, memercikkan lumpur. Kuda Blackwind di sampingnya mendengus keras, merasakan perubahan emosi tuannya, dan ikut memamerkan gigi-giginya yang besar dan kuning ke arah Yang Chen.
"Tapi..." Feng Wuhen melanjutkan, nada suaranya berubah sedikit lebih rendah, penuh intrik. "Aku adalah orang yang adil. Jika kau benar, dan diagnosaku serta pengalamanku selama tiga puluh tahun merawat kuda perang ini salah... maka tentu saja, ada harga yang pantas untuk ilmu itu."
Sudut bibir Feng Wuhen terangkat sedikit, membentuk seringai yang mengerikan.
"Tapi jika kau salah... atau jika kau hanya membual untuk mencari perhatian..."
Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Semua orang tahu kelanjutannya. Kepala Yang Chen akan menggelinding di lumpur sebelum matahari mencapai puncaknya.
"Maju," perintah Feng Wuhen. Dia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi jalan bagi Yang Chen untuk mendekati kuda iblis itu. "Buktikan."
Yang Chen tidak segera bergerak. Dia menarik napas pendek dan dangkal, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Tubuhnya yang lemah ini bereaksi secara alami terhadap ancaman kematian—keringat dingin mengucur di punggungnya, lututnya ingin goyah. Tapi jiwanya menahan semua itu dengan kendali besi.
Tenang. Ini hanya seekor binatang tingkat rendah dan seorang kultivator ranah bumi. Di masa jayaku, mereka bahkan tidak layak menjadi hiasan gerbang istanaku.
Yang Chen mulai melangkah.
Satu langkah. Lumpur menyedot sepatunya yang kotor. Dua langkah. Bau napas kuda yang asam dan panas mulai tercium.
Jarak sepuluh meter itu terasa sangat jauh. Saat dia melewati barisan prajurit elit, dia bisa merasakan tatapan mereka menusuk kulitnya. Tatapan yang meremehkan, namun juga waspada.
Saat dia sampai dalam jarak tiga meter dari kuda Blackwind, binatang itu bereaksi.
Hiiighhh!
Kuda hitam itu mengangkat kaki depannya sedikit, menghentakkan kuku besinya ke tanah dengan keras. Brak! Tanah bergetar. Ekornya mengibas agresif. Matanya yang liar, dengan pupil persegi yang aneh, menatap Yang Chen dengan permusuhan murni.
Ini bukan kuda biasa. Ini adalah Wind Dragon Horse, keturunan campuran antara kuda perang dan siluman ular angin. Mereka karnivora. Mereka memakan daging jika lapar. Dan bagi Blackwind, Yang Chen yang kurus ini terlihat seperti camilan tulang yang renyah.
"Hati-hati, Nak," salah satu prajurit berbisik mengejek. "Dia suka menggigit tangan orang asing."
Yang Chen mengabaikannya. Dia terus maju.
Sekarang dia berada di dalam "Zona Pembunuhan"—jarak di mana kuda itu bisa menendang atau menggigitnya dalam sekejap mata.
Yang Chen berhenti tepat di depan kepala kuda itu. Dia tidak menatap mata kuda itu—itu tantangan dominasi yang akan memicu serangan. Sebaliknya, dia menatap leher kuda itu.
"Kau kepanasan, bukan?" bisik Yang Chen pelan, sangat pelan hingga hanya dia dan kuda itu yang bisa mendengarnya.
Kuda itu mendengus, uap panas menyembur dari hidungnya, menerpa wajah Yang Chen. Baunya busuk. Bukan bau rumput, tapi bau belerang samar.
Feng Wuhen memperhatikan dengan tangan bersedekap. Alisnya terangkat sebelah. Bocah ini tidak gemetar? Padahal kakinya terlihat sangat lemah, seperti ranting kering.
Yang Chen mengangkat tangan kanannya perlahan. Gerakannya halus, cair, tanpa hentakan tiba-tiba yang bisa mengejutkan binatang itu.
Dia tidak menyentuh kepala atau hidung kuda itu. Dia mengarahkan tangannya ke arah bahu kiri kuda, tepat di pertemuan antara leher dan badan.
Tiba-tiba, Blackwind menyentakkan kepalanya ke samping, mulutnya terbuka lebar, memamerkan barisan gigi pengunyah yang kuat, siap menyambar lengan Yang Chen yang terulur.
"Mati kau!" pikir para prajurit.
Tapi Yang Chen sudah menduganya.
Tanpa menarik tangannya, dia hanya memutar pergelangan tangannya sedikit, mengubah sudut, dan mencondongkan tubuhnya ke depan—masuk ke dalam jangkauan leher kuda itu, melewati area gigitan.
Itu adalah gerakan bunuh diri bagi orang awam, tapi bagi seorang ahli, itu adalah Blind Spot (Titik Buta).
Gigi Blackwind mengatup di udara kosong, hanya beberapa sentimeter dari telinga Yang Chen. Tak! Bunyi gigi beradu terdengar mengerikan.
Sebelum kuda itu sempat menarik kepalanya untuk serangan kedua, telapak tangan Yang Chen sudah mendarat di bahu kuda itu.
Bukan sekadar menempel. Dia menekan.
Jari tengahnya menekuk, menekan titik akupuntur Jian Jing pada kuda.
Kuda itu membeku. Otot-ototnya menegang sesaat, lalu mengendur. Niat membunuhnya tidak hilang, tapi kebingungan melandanya. Tekanan di titik itu mengirimkan sinyal aneh ke otak binatang itu—campuran antara rasa sakit dan rasa nyaman yang membingungkan.
"Diam," perintah Yang Chen, nadanya mengandung Intent (Niat) seorang penguasa hewan buas, sisa-sisa dari jiwanya yang dulu pernah menunggangi Naga Sejati.
Kuda itu mendengus pelan, tapi tidak menyerang lagi. Ia berdiri diam, meski matanya masih melirik tajam.
Yang Chen menghembuskan napas lega dalam hati. Hampir saja. Jika refleks tubuh ini lebih lambat sepersepuluh detik, telingaku sudah putus.
Sekarang, pemeriksaan dimulai.
Yang Chen tidak melihat ke arah kaki kuda yang bengkak. Dia mengabaikan kaki itu sepenuhnya. Feng Wuhen melihat ini dan keningnya berkerut.
"Kakinya yang sakit, Pangeran. Kenapa kau meraba perutnya?" tanya Feng Wuhen, nadanya mulai terdengar tidak sabar.
"Mata bisa menipu, Jenderal," jawab Yang Chen tanpa menoleh. "Bengkak di kaki hanyalah hilir sungai. Hulunya ada di sini."
Tangan Yang Chen bergerak turun menyusuri rusuk kuda itu. Dia merasakan tekstur kulitnya. Kasar. Kering. Dan panas. Panas yang tidak wajar.
Dia menempelkan telinganya ke perut samping kuda itu. Dia menutup matanya, mendengarkan suara di dalam.
Gurgle... ssshhhh... gurgle...
Suara pencernaan. Tapi ada suara lain. Suara desisan halus seperti uap yang melewati pipa sempit.
Yang Chen membuka matanya. Dia sudah tahu jawabannya.
Dia menegakkan tubuh, lalu berjalan memutari kuda itu menuju bagian belakang. Para prajurit tegang lagi. Berdiri di belakang kuda adalah posisi paling fatal. Satu tendangan belakang bisa menghancurkan dada manusia.
Tapi Yang Chen tidak berdiri tepat di belakang. Dia berdiri di samping pinggul kuda. Dia mengangkat ekor kuda itu sedikit, melihat bagian bawah pangkal ekornya.
Warna kulit di sana merah menyala, dengan bintik-bintik ungu kecil.
"Sudah kuduga," gumamnya.
Dia melepaskan ekor kuda itu, lalu berjalan kembali menghadap Feng Wuhen. Wajahnya kotor, tapi matanya bersinar dengan keyakinan mutlak.
"Sudah selesai?" tanya Feng Wuhen skeptis. "Kau hanya meraba perut dan mengintip pantatnya. Itu diagnosamu?"
"Jenderal," kata Yang Chen, suaranya lantang. "Kuda Anda tidak memakan rumput basah. Dia keracunan."
"Keracunan?" Feng Wuhen tertawa pendek, tawa yang tidak lucu. "Siapa yang berani meracuni kudaku? Dan jika keracunan, mulutnya akan berbusa, matanya akan memerah. Lihat! Matanya jernih, mulutnya bersih."
"Bukan racun pembunuh," potong Yang Chen tenang. "Tapi racun elemen."
Yang Chen menunjuk ke arah Pengurus Kuda Zhang yang masih gemetar di lumpur.
"Orang ini..." kata Yang Chen. "...karena persediaan rumput Blue Moon habis akibat hujan, dia menggantinya dengan rumput Red Star kering yang dia temukan di gudang lama, bukan?"
Zhang tersentak kaget. Dia mendongak, matanya terbelalak horor. "Ba-bagaimana Pangeran tahu? Sa-saya pikir itu sama-sama rumput kering..."
"Bodoh!" sentak Yang Chen. Suaranya tiba-tiba memiliki wibawa yang membuat Zhang menciut.