No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pengkhianat di Balik Cahaya
Perjalanan turun dari Puncak Langit Terlarang terasa lebih cepat, namun suasana batin rombongan kecil itu tetap tegang. He Xueyi terus memutar-mutar lenteranya yang kini berwarna emas murni. Logika detektifnya sedang bekerja keras menyusun kepingan teka-teki yang tercecer.
"Bian Zhi, mari kita bedah secara logis," ucap He Xueyi saat mereka beristirahat di bawah pohon ginkgo yang daunnya mulai menguning. "Raja Hantu itu sudah disegel seribu tahun. Segel Langit disembunyikan oleh keluarga kerajaan. Dan sisa jiwaku ada di puncak yang dijaga oleh Arwah Langit. Bagaimana mungkin semua informasi ini bocor secara bersamaan?"
Bian Zhi mengasah pedang hitamnya dengan batu asah kecil. "Hanya ada satu tempat yang menyimpan semua catatan kematian, kelahiran, dan segel kuno: Perpustakaan Bayangan di Istana Sembilan Kegelapan."
"Tepat," He Xueyi menjentikkan jarinya. "Dan satu-satunya orang yang punya akses ke sana selain Raja Roh adalah Penasihat Lu. Pria tua yang selalu tersenyum ramah tapi matanya tidak pernah berkedip itu."
Xiao Bo yang sedang asyik mengejar kupu-kupu tiba-tiba berhenti. "Penasihat Lu? Yang sering memberi Xiao Bo permen arwah itu? Dia kan baik, Tuan Besar!"
"Xiao Bo, dalam logika pengkhianatan, orang yang paling baik adalah orang yang paling mencurigakan," sahut He Xueyi dingin. "Dia memberimu permen agar kau tidak banyak bertanya saat dia masuk ke ruang rahasia paviliun saat aku sedang meditasi tidur."
Tiba-tiba, dari arah semak-semak di depan mereka, muncul kepulan asap hitam. Bukan asap biasa, tapi asap yang membawa bau belerang yang sangat kuat. Dari dalam asap itu keluar seorang prajurit bayangan dengan zirah yang sudah hancur. Ia jatuh tersungkur di depan kaki kuda Bian Zhi.
"Nona... He..." prajurit itu merintih. Suaranya serak. "Istana... dikudeta... Penasihat Lu menggunakan Cairan Pemurni Sukma untuk meracuni Raja Roh..."
Bian Zhi langsung waspada, pedangnya terhunus. "Lalu kenapa kau bisa sampai ke sini?"
"Aku... pelayan setia Raja Roh... kabur untuk memberitahu... Anda adalah satu-satunya... yang punya kekuatan penyeimbang..." Setelah mengatakan itu, prajurit bayangan itu hancur menjadi debu hitam, menyisakan sebuah medali perak dengan simbol bulan sabit yang retak.
He Xueyi mengambil medali itu. Matanya berkilat marah. "Berani sekali dia mengacaukan rumahku saat aku sedang sibuk mengurus perutku yang lapar."
"Tuan, jika Raja Roh tumbang, maka seluruh aliran roh di dunia bawah akan kacau. Paviliun Lentera Abadi akan menjadi tempat pertama yang meledak karena tumpukan energi negatif yang tidak tersalurkan," Bian Zhi menganalisis dengan nada serius.
"Itulah rencananya," He Xueyi berdiri, jubahnya berkibar ditiup angin pegunungan. "Dia ingin aku mati bersama paviliunku, sementara dia menguasai dunia bawah dengan sisa kekuatan Raja Hantu yang mungkin sudah dia siapkan wadahnya. Secara logika, ini adalah pengkhianatan yang sangat rapi, tapi dia lupa satu hal."
"Apa itu, Tuan?" tanya Xiao Bo gemetaran.
"Dia lupa bahwa aku sekarang punya jantung. Dan jantung manusia itu... sangat pendendam jika diganggu waktu istirahatnya," jawab He Xueyi sambil melompat ke atas kudanya. "Bian Zhi, kita tidak kembali lewat jalan biasa. Kita akan gunakan Lintasan Cermin Terlarang. Kita harus sampai ke Istana Sembilan Kegelapan sebelum bulan purnama besok malam."
"Tapi Tuan, lintasan itu sangat menyiksa bagi fisik manusia!" Bian Zhi memperingatkan.
He Xueyi menatap lenteranya, lalu menatap perutnya sendiri yang mulai berbunyi lagi. "Siapkan roti kering yang banyak, Bian Zhi. Kita akan bertaruh dengan waktu. Aku lebih baik mual di perjalanan daripada melihat rumahku dihancurkan oleh pria tua bermata ikan itu."
Rombongan itu pun memacu kuda mereka secepat kilat. Debu salju beterbangan di belakang mereka. He Xueyi kini benar-benar menjadi pusat badai yang akan menghantam siapa pun yang berani meremehkan seorang wanita yang baru saja kembali hidup.