“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Berat dan Rencana Tersembunyi
Di kediaman megah keluarga Wijaya, suasana tampak tenang setelah makan malam usai. Para orang dewasa kini berkumpul santai di ruang keluarga. Abyan sudah masuk ke kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Sepasang paruh baya, Pak Wijaya dan Bu Sarasvati, duduk di sofa panjang. Di hadapan mereka, sebuah televisi besar menyala, dan berbagai makanan ringan tersaji di meja kaca.
"Kata Ibumu, tadi Lidia datang ke sini?" Pak Wijaya memecah keheningan.
Aditya, yang duduk di sofa tunggal, menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Iya, Ayah."
"Tapi langsung pulang?" tanya Pak Wijaya lagi, nadanya menuntut penjelasan. Bu Sarasvati hanya diam, duduk di samping suaminya, menatap putranya dengan cemas.
"Adi, Ayah sedang mengajakmu bicara," tegur Bu Sarasvati lembut.
Aditya mendesah lirih, terpaksa meletakkan ponselnya. "Memangnya sepenting apa, Yah?" tanyanya, tidak mengerti dengan keributan ini.
Pak Wijaya menghela napas berat, menatap putranya dengan tatapan serius.
"Nak, tidak seharusnya kamu bicara kasar seperti itu. Lidia adalah putri dari teman karib Ayah," tegurnya.
"Ibu sudah menceritakan semuanya kepada Ayah. Bukan apa-apa, Nak. Ibu hanya takut Lidia sakit hati, lalu mengadu pada Papa dan Mamanya," sahut Bu Sarasvati, ikut menimpali.
Aditya akhirnya menatap wajah ibu dan ayahnya, sedikit emosi terlihat dalam sorot matanya.
"Terus, Adi harus bagaimana, Yah? Dia dengan begitu mudahnya, tanpa rasa sungkan sedikit pun, mengajak Adi makan siang bersama. Padahal Adi lelah pulang kerja dan hanya ingin segera beristirahat, Yah," bela Aditya.
Pak Wijaya menggeleng pelan, menghela napas kasar.
"Lain kali jangan kamu ulangi, Adi. Meskipun begitu, Lidia adalah putri teman baik Ayah. Kamu bisa, kan, menolaknya dengan baik-baik? Tidak harus dengan nada yang tinggi," tegur Pak Wijaya. Aditya hanya mengangguk asal, tidak menunjukkan penyesalan yang mendalam.
"Ini juga sebenarnya salah Ibu," celetuk Bu Sarasvati tiba-tiba, membuat kedua pria itu menoleh padanya.
"Yah, bagaimana jika kita beri tahu Effi dan Tyo tentang penolakan Aditya yang sebenarnya?" usul Bu Sarasvati kepada Pak Wijaya.
"Iya, kamu benar. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang semakin rumit di antara kita semua," ujar Pak Wijaya setuju. Bu Sarasvati mengangguk lega.
Pak Wijaya kembali menatap putranya. "Adi, apa kamu benar-benar masih tidak mau menerima Lidia untuk menjadi calon istrimu?"
"Tidak," jawab Aditya tegas tanpa ragu.
"Baiklah. Besok, Ayah dan Ibumu akan bertemu dengan orang tua Lidia," putus Pak Wijaya. Aditya yang mendengar itu hanya diam, tidak menghiraukan keputusan yang dibuat orang tuanya.
❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈
💥 Amarah Lidia dan Kemurkaan Orang Tua
PRANG!!!
Suara pecahan barang pecah belah terdengar nyaring dari salah satu kamar di rumah mewah keluarga Lidia.
"Astaghfirullah! Lidia! Tenang, Nak!" seru Bu Effi, ibu Lidia, panik. Berlari masuk ke dalam kamar putrinya yang sudah berantakan.
"MAS ADI KETERLALUAN, MA! DIA BICARA KASAR DAN MENGUSIR AKU DARI RUMAHNYA! DI DEPAN IBUNYA SENDIRI!" teriak Lidia, wajah cantiknya kini memerah padam, air mata kemarahan membasahi pipinya yang bermake up. Melepaskan seluruh kekesalan dan rasa sakit hatinya.
Bu Effi terlihat sangat gusar, kedua matanya memerah menahan amarah yang meletup-letup. Ia beralih menatap suaminya, Tyo.
"Jaya dan Saras sungguh keterlaluan, Pa! Mereka membiarkan Aditya memperlakukan putri kita dengan semena-mena!" murka Bu Effi.
"Mama tenang saja, Papa pasti akan bicara baik-baik dengan Jaya," ujar Tyo menenangkan.
"Tidak bisa! Mama akan ikut! Saras juga harus diberi tahu tentang hal ini, sebelum semuanya benar-benar melangkah terlalu jauh!"
Sepasang suami istri paruh baya itu benar-benar naik pitam.
Putri mereka adalah kandidat utama calon istri Aditya, namun mengapa perlakuan Aditya terhadap putrinya begitu tidak menyenangkan.
*Ini sungguh tidak adil,* batin Bu Effi, membara.
Terlebih lagi, putrinya sangat mencintai dan begitu menginginkan putra sulung dari keluarga Wijaya tersebut. Mereka merasa harga diri mereka diinjak-injak.
❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈
😔 Dilema Kinanti dan Permintaan Pak Wijaya
Di tempat lain yang begitu tenang, Kinanti sedang memijat kaki ayahnya yang tampak kelelahan setelah seharian bekerja.
"Kinan," panggil Pak Wisnu.
"Ya, ada apa, Pak?" jawab Kinanti lembut.
"Tadi siang, Juragan Jaya datang kemari."
DEG!!!
Kinanti yang tadinya fokus memijat langsung mengalihkan pandangan, menatap ayahnya dengan raut wajah terkejut.
"Ada keperluan apa, Pak?"
"Juragan Jaya meminta agar kamu mau mempertimbangkan kembali lamaran dari Juragan Adi. Bapak tidak tega melihat Juragan Jaya tampak sedih dan terpukul karena putranya," ucap Pak Wisnu, mengingat kembali pembicaraan tulus mereka siang tadi.
"Tapi, Pak..." Kinanti mencoba menyela.
"Nak, cobalah untuk mengenal Juragan Adi lebih jauh lagi. Memang benar ada calon lain yang menginginkannya, tapi... Juragan Adi tidak cocok dengan gadis itu, Nak. Dia menolak mentah-mentah perjodohan dengan putri dari teman karib Juragan Jaya. Hal itu yang kini menjadi beban pikiran berat bagi Juragan Jaya," jelas Pak Wisnu.
Kinanti terdiam, memikirkan matang-matang apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi, ia tidak ingin dicap sebagai orang ketiga atau perusak hubungan. Namun, di sisi lain, ia merasa iba dan sedih memikirkan Pak Wijaya yang selalu bersikap baik kepada Bapak dan dirinya.
"Boleh Kinan pikirkan dulu, Pak," lirih Kinanti.
Pak Wisnu menghela napas, maklum mendengar perkataan putrinya.
"Ya sudah. Jangan terlalu lama mengambil keputusan, Nak," ujar Pak Wisnu. Kinanti menjawab dengan anggukan pelan.
❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈
☀️ Pagi yang Mendung dan Rencana Lain
Hari ini terlihat sedikit mendung, tetapi semangat para pekerja tetap membara, giat mencari rezeki. Demikian pula dengan muda-mudi yang menimba ilmu, mereka tampak bergegas penuh semangat menuju sekolah.
Pak Wisnu dan Kinanti bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Rumah mereka benar-benar akan kosong setiap kali Kinanti mendapat jadwal kerja pagi.
Hari ini Kinanti berangkat sendiri karena Pak Wisnu akan pulang terlambat. Gadis cantik itu memilih berangkat dengan sepeda ontel kesayangannya.
"Pak, Kinan berangkat kerja dulu, ya," pamit Kinanti.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Selalu lihat kanan kiri kalau mau menyeberang," pesan Pak Wisnu.
"Iya, Pak. Kinan tahu, jangan dikira masih anak kecil," Kinanti cemberut pura-pura kesal.
"Memang masih anak kecil kan, putrinya Bapak," goda Pak Wisnu, yang dibalas senyum manis oleh Kinanti sebelum ia akhirnya pamit dan berangkat.
❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈ ❈❈❈
😈 Strategi Lain dari Gadis Ambisius
Di sebuah kediaman megah, meskipun tidak semegah milik keluarga Wijaya, sepasang paruh baya tampak tergesa-gesa memasuki mobil. Hari ini mereka ingin bertemu dengan calon besan mereka, keluarga Wijaya. Sebelum pergi, mereka sempat mengajak putri mereka.
"Kamu benar-benar tidak mau ikut, Nak?" tanya sang Ibu.
Gadis itu hanya menggeleng. "Aku di rumah saja, Ma."
Sang Ibu mengangguk, lalu masuk ke kursi penumpang. Mobil mewah itu pun melaju, meninggalkan pekarangan rumah yang luas. Memandang mobil Papa dan Mamanya yang kian menjauh, gadis dengan dress rumahan itu tersenyum penuh maksud.
"Aku tidak akan membiarkanmu merebut Mas Adi begitu saja. Hari ini, aku juga akan bertindak," gumamnya, menyeringai penuh rahasia.
Gadis itu segera masuk ke dalam rumah, berganti pakaian, dan mulai menjalankan rencana yang akan ia tuntaskan hari ini.
Bersambung__
___