"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH
"Siapa namanya?" Kanaya bertanya tidak sabaran, ia menatap lekat-lekat wajah Dayu.
"Esmeralda." Ulang Dayu dengan pengucapan yang jauh lebih lugas dan suara lebih lantang.
"Oooh, Esmeralda ya. Esmeralda,... Cantik namanya.
Apa Esmeralda itu beneran nama asli dia?" Tanya Kanaya lagi, ekspresi wajah wanita itu tampak semakin penasaran.
"Nggak, bukan. Nama aslinya Ningsih, aslinya dia orang Sukabumi. Esmeralda cuman nama samaran, nama panggung lah istilahnya."
"Oalah, jauh banget ya namanya dari Ningsih jadi Esmeralda." Celetuk Kanaya asal.
"Ya namanya juga gundik, ani-ani. Perempuan simpenan. Sasaran mereka kan laki-laki tua bangka kaya raya. Masa mau masuk lingkup orang berada tapi namanya nggak beken."
"Ya udah lah, bodo amat. Nggak penting siapa nama asli dia siapa sebenernya. Buat aku yang penting dia mau nurut dan ngelakuin apapun yang sesuai sama rencanaku. Kapan sih dia datangnya? Kamu nggak salah kasih info sama waktu kan ke dia? Jangan sampe dia nggak datang."
Kanaya mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling restarant, berusaha menemukan seorang perempuan yang akan menjadi bagian dari rencana epic balas dendamnya pada keluarga Andra.
"Nggak, kok. Aku udah kasih tau dia sesuai sama waktu dan tempat yang kamu minta. Pasti dia bakal dateng ke sini, tunggu aja sebentar lagi."
Jawab Dayu tenang, ia ikut memantau dan mengecek pintu masuk restaurant menunggu kedatangan Esmeralda.
"Tuh,... Dia dateng."
Dayu mengedikkan dagunya ke arah pintu masuk di mana seorang perempuan dengan dress yang sangat ketat dan pendek baru saja masuk.
"Esme!"
Dayu memanggil nama sang perempuan, seketika menarik perhatian wanita tersebut yang langsung berjalan mendekat ke arah meja mereka.
"Oh, hai. Madam,...."
Dengan langkah yang berlenggak-lenggok, Esmeralda menghampiri dan menyapa mereka.
Kanaya memperhatikan wanita itu dari atas kepala
hingga ujung kaki.
Rambut pirang panjang yang tebal, panggul besar dan bokong yang padat, kaki jenjang panjang serta kulit mulus yang halus terlihat jelas bahkan dari kejauhan.
Wajah cantik khas hasil polesan dokter yang dibalut make-up.
Aroma parfume yang cukup menyengat menyerebak memenuhi indera penciuman mereka.
Bibir Kanaya menyeringai, ia tersenyum puas, wanita di hadapannya ini memang sangat cocok dengan
rencananya.
"Esme,... Kenalin, ini teman Madam. Kanaya." Dayu mempekenalkannya pada wanita itu.
"Hai, Miss. Esmeralda,..."
Esmeralda mengulurkan tangannya untuk bersalaman yang langsung disambut baik oleh Kanaya.
"Halo, Kanaya." Kanaya tersenyum puas saat merasakan kulit halus telapak tangan Esmeralda.
Ayah mertuanya itu pasti akan sangat suka dengan perempuan satu ini.
"To the point aja, Esme. Kita ajak kamu ketemu di sini karena kita punya penawaran yang menarik." Ucap Dayu membuka obrolan.
"Tawaran menarik apa, Madam?" Tanya Esmeralda centil.
Suara wanita itu terdengar lembut mendayu-dayu dan sensual, penuh godaan duniawi.
Sesuatu yang pastinya akan membuat lelaki mana pun tergila-gila.
"Kanaya, kamu aja yang jelasin lebih detailnya." Ucap Dayu sambil menatap Kanaya sekilas, wanita itu mengangguk semangat.
"Esme,... Aku panggil kamu Esme aja ya supaya lebih akrab. Jadi begini, aku punya tawaran perkerjaan yang cukup menarik dan upahnya banyak. Kerjaannya? Gampang! Kamu pasti bisa. Bisa dibilang kalo kerjaan ini tu keahlian kamu."
"Kerjaan apa itu, Miss?" Tanya Esmeralda.
"Jadi simpanan." Ucap Kanaya tanpa ragu.
"Hehm, jadi simpanan? Begitu aja? Gampang itu mah memang pekerjaan aku, Miss."
"Iya, aku tau itu kerjaan kamu. Tapi ini bukan cuma sekedar simpenan biasa. Aku pengen kamu godain seseorang sampe dia tergila-gila setengah mati sama kamu. Aku pengen kamu bikin dia tergila-gila sampe dia nggak bisa hidup tanpa kamu dan rela ngelakuin apapun buat kamu. Aku pengen kamu jadi simpenan sampe naik level jadi istri kedua. Gimana? Sanggup nggak? Dan oh, laki-laki target kamu ini udah tua bangka."
Terang Kanaya enteng.
"Jadi, gimana nih? Masih mau nggak kira-kira kamu ambil tawaran ini?" Tanya Kanaya kembali saat Esmeralda tampak hanya terdiam berpikir cukup lama.
Matanya memperhatikan wajah Esmeralda baik-baik, harap-harap cemas dengan jawaban apa yang kira akan diberikan oleh Esmeralda.
"Berapa uangnya? Kalau uangnya sedikit, aku nggak mau lakuin kerjaan yang bikin capek kaya begitu ah.
Upahnya harus jelas dulu."
"Satu Miliar." Jawab Kanaya tanpa ragu.
"Deal."
Esmeralda ikut menjawab tanpa ragu.
Kanaya tersenyum puas, langkah demi langkah dari aksi balas dendamnya perlahan tapi pasti berjalan dengan cukup baik.
"Jadi, kapan kerjaanku ini harus dimulai dan kapan uangnya bakal dibayarkan?"
"Nanti aku hubungi kamu lagi untuk rencana lebih detailnya, aku pengen hubungan kalian terjadi senatural mungkin. Dan untuk upahnya, aku bakal transfer beberapa kali sampe kamu berhasil selesein kerjaan ini nanti. Prosesnya pasti bakalan sedikit lama, karena sesuai yang aku bilang sebelumnya, aku pengen pertemuan dan hubungan kalian terjadi senatural mungkin. Tapi setelah selesai, aku pastiin kamu dapet semua yang kamu mau."
Esmeralda mengangguk paham.
"Satu miliar, apa itu nggak terlalu besar?" Dayu bertanya dengan suara pelan nyaris berbisik pada Kanaya.
Wanita itu tengah menyesap minumannya dengan
penuh khidmat seakan menikmati setiap partikel yang
terkandung di dalam cairan berwarna merah tersebut.
"E-euhm,.. No."
Kanaya menggelengkan kepalanya dengan elegan,
menelan minumannya dan meletakan gelas di atas meja.
"Nggak kemahalan karena duit yang ku pake buat
bayar dia nanti juga bukan duitku ehehe."
Dayu menatap Kanaya tak habis pikir, takjub juga tak
menyangka bersatu menjadi satu.
Ia jelas tidak pernah menduga kalau temannya yang manis bisa berubah selicik ini.
"Jangan bilang kamu pake duit suamimu?"
"Ya memang duit dia lah, duit siapa lagi? Mana sudi aku pake uang pribadiku, apalagi kalau sampe miliaran kaya begitu."
"Apa suami kamu nanti nggak akan curiga kalau kamu pake uang sebanyak itu?" Tanya Dayu, ia cemas kalau rencana Kanaya tidak akan berjalan sesuai dengan keinginan mereka.
Dayu khawatir kalau pada akhirnya malah Kanaya lah yang akan terluka.
"Ya makanya aku bilang kan kalau transfernya nanti bertahap, salah satunya ya untuk menghindari kecurigaan dia."
Dayu tertawa kecil, ia lagi-lagi menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan rencana matang yang dibuat Kanaya.
"Waaaw,...." Gumam Dayu sambil bertepuk tangan kecil.
"Waaaw, indeed." Kanaya mengiyakan dengan penuh bangga.
"Aku nggak sabar buat liat gimana nanti reaksi perempuan menyebalkan itu setelah suaminya bawa pulang istri kedua yang lebih cantik, seksi dan muda dari dia. Aku makin nggak sabar ngeliat reaksi dia setelah tau nanti kalau perselingkuhan suaminya secara nggak langsung dibiayai sama uang anaknya sendiri." Kanaya terkekeh puas.
Rasa sakit hatinya harus terbayarkan. Ia tak peduli jika ada manusia di dunia ini yang akan menyebutnya jahat.
"Kamu nggak takut kena karma ngelakuin ini semua?" Dayu bertanya santai, tak berniat menyinggung sama
Sekali.
"Karma?"
Kanaya tertawa, ia menyesap minumannya kembali sebelum akhirnya menjawab dengan satu kalimat yang membuat Dayu lagi-lagi merasa tak habis pikir.
"Apa yang aku lakuin sekarang adalah balasan dari apa yang mereka lakuin, I'am the karma."