NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang dan Pengakuan Mengejutkan

Pagi hari itu Kinanti sudah sibuk memasak untuk sarapan dirinya dan sang ayah.

"Bapak, sarapan dulu, yuk," ajak Kinanti. Kaki mulusnya melangkah menuju teras rumah, menjemput ayahnya yang sedang sibuk memberi makan burung peliharaannya.

"Sudah matang, Nak?" tanya Pak Wisnu.

"Sudah, Pak. Ayo, selagi masih hangat," jawab Kinanti. Bapak dan anak itu pun masuk ke dalam rumah.

Di ruang makan, sudah tersaji nasi goreng dengan telur mata sapi. "Begini cukup, Pak?" Kinanti menuangkan nasi hangat ke piring ayahnya.

"Sudah segitu saja. Nanti nambah lagi kalau kurang," Pak Wisnu mengambil lauk-pauknya sendiri. Kini giliran Kinanti yang bergantian mengambil nasi untuk sarapannya.

"Bapak libur lagi?" tanya Kinanti.

Pak Wisnu mengangguk, lalu menggeleng. "Aslinya iya, Nak. Tapi, katanya Juragan nanti ada pasokan beras datang dari Madura. Jadi, Bapak disuruh ke pabrik sebentar, angkut barang," jelasnya.

Kinanti hanya mengangguk, karena mulutnya sudah terisi makanan. "Enak, Pak?" tanyanya.

"Mantap sekali. Makin pintar kamu memasak, Nak," puji Pak Wisnu. Kinanti yang dipuji tersenyum malu.

Masakannya memang tidak pernah gagal lagi, semenjak umurnya beranjak 19 tahun. Dulu, di awal-awal belajar, masakannya memang kadang keasinan atau hambar. Wajar, namanya juga masih dalam tahap belajar.

Pukul sembilan pagi, Kinanti sudah siap berangkat ke pasar untuk membeli bahan dapur yang habis. Ia mengenakan daster batik sepaha berwarna biru, rambut dicepol ke atas, membuat poni sampingnya bergelantungan indah, dan tak lupa sendal jepit hitam kesayangannya.

"Bapak antar saja, ya, Nak," ucap Pak Wisnu, melihat Kinanti yang mengeluarkan sepeda ontelnya dari dalam rumah.

Kinanti menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak usah, Pak. Kinan berangkat sendiri saja. Ada sepeda, kok."

Ayahnya mau tak mau mengangguk kecil. "Ya sudah, tapi hati-hati ya, Nak." Kinanti berpamitan dan bersalaman pada ayahnya, setelah itu ia bergegas ke pasar sebelum hari semakin siang.

❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁

🏡 Kedatangan Sang Adik

Pukul setengah sebelas siang, Kinanti baru sampai rumah. Ia memarkirkan sepeda ontelnya di samping rumah, lalu menenteng tas belanjaan untuk dibawa masuk ke dalam rumah.

"Kinan pulang," ucap gadis cantik itu. Ia lupa menutup pintu, alhasil salah satu daun pintu rumahnya masih terbuka. Kaki mulusnya melangkah ke arah dapur. Di sana, ia melihat ayahnya sedang sibuk memandikan burung peliharaannya di belakang rumah.

"Pak,"

"Eh, sudah pulang?!" Pria paruh baya itu beranjak dari duduknya dan menghampiri putrinya.

"Beli apa saja?" tanyanya.

Kinanti mengeluarkan semua barang-barang yang ia beli tadi. Mulai dari berbagai macam bawang, rempah-rempah, cabai, sayur, kecap, penyedap, garam, hingga ikan dan daging ayam.

"Komplet, Nak," puji Pak Wisnu.

Kinanti terkekeh. "Biar tenang, stok dapur full."

Pak Wisnu kembali mengurus burung peliharaannya, sedangkan Kinanti menata barang belanjaan tadi ke dalam kulkas. Setelah semua beres, gadis cantik itu mulai menyapu rumah. Kinanti sedikit merasa risih karena lantai mulai berdebu, dari area dapur, ruang makan, sampai pada batas sekatan antara ruang TV dan ruang tamu.

"Astaga!" Betapa terkejutnya Kinanti ketika menemukan seorang remaja laki-laki sekolah menengah pertama berdiri di ambang tirai gorden sekatan ruang tamu dan ruang TV.

"Hehehe..." Anak laki-laki itu nyengir sambil menggaruk kepalanya.

Kinanti mengelus dadanya, napasnya naik turun karena kaget.

"Kamu siapa? Kok main masuk ke rumahku?" Sapunya tadi sudah Kinanti sandarkan di sekitar sana.

Anak laki-laki tersebut cengengesan sambil berujar, "Aku Abyan, Mbak cantik."

Kinanti mengernyit heran. Siapa Abyan? Tetangganya tak ada yang punya anak SMP bernama Abyan.

"Byan! Kamu ngapain masuk ke situ?!" Terdengar suara berat dari seorang pria di luar rumah.

Kinanti keluar dari balik gorden, berjalan mendekat, dan melihat bahwa ada seorang pria yang duduk di kursi plastik teras rumah.

"Loh, Nak Byan, kamu sedang apa di sini?" Suara Pak Wisnu membuat Kinanti dan pria tersebut menoleh.

DEG!

Betapa kagetnya Aditya ketika melihat pemandangan yang sangat menyejukkan mata dan hatinya. Di samping pintu yang terbuka sebelah, gadis pujaan hatinya tengah berdiri sambil memegang pundak adiknya.

"Pak Wisnu," sapa Aditya seraya bangkit dari duduknya.

"Juragan Adi?" Pak Wisnu jelas kaget melihat kedatangan dua putra Pak Wijaya itu.

"Kebetulan saya lewat sini, sekalian kasih tahu Pak Wisnu kalau pemasok beras sudah mau ke pabrik. Sekalian juga, minta tolong Bapak untuk beli vitamin sawah," jelas Aditya.

Pak Wisnu menatap wajah putrinya yang nampak bingung. "Tadi Kinan sedang menyapu, eh, lihat adik ini berdiri celingak-celinguk di ambang gorden, Pak," Kinanti spontan mengelus rambut hitam remaja laki-laki sekolah menengah pertama itu.

"Astaga, Nak Byan, Nak Byan," Pak Wisnu terkekeh.

Aditya tak lepas menatap gadis tersebut.

"Maaf atas kenakalan Byan, Pak Wisnu, Dik Kinan," ucap Aditya, merasa sungkan, sambil menyeret pelan adiknya agar keluar dari rumah.

Kinanti lekas menoleh, menatap Aditya yang sempat memanggil namanya dengan embel-embel 'Adik'. Terdengar sedikit menggelikan menurutnya.

"Tidak apa-apa. Terima kasih informasinya, segera saya ke pabrik," ucap Pak Wisnu.

Aditya mengangguk. "Iya, Pak. Permisi, saya pergi dulu."

"Dah, Mbak cantik!" pamit Abyan, sambil melambai-lambaikan tangannya riang. Hal itu membuat Kinanti tak kuasa menahan senyumnya. Alhasil, senyum manis terbit di bibir ranumnya.

DEG! DEG!

Dada Aditya semakin berdebar kencang kala melihat senyuman itu.

*Andai senyum itu tertuju padaku, dapat menikmatinya setiap hari. Ah! Betapa senangnya,* batin Aditya. Lagi-lagi angan-angan itu mampir di benaknya. Aditya semakin bertekad menjadikan Kinanti sebagai istrinya.

Aditya mulai tancap gas sepeda motornya, dengan Abyan yang duduk nyaman di belakangnya.

Pak Wisnu keluar sambil menaikkan sarang burung ke kawat atap di teras rumah. Kinanti berdiri di ambang batas pintu, sembari melanjutkan kegiatannya. Sekilas, gadis itu melihat Aditya yang menatap lekat ke arahnya sebelum meninggalkan pekarangan rumah.

*Kenapa pria itu terus menatapku? Aneh sekali,* batin Kinanti.

❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁ ❁

💍 Calon Mantu Ayah dan Ibu

"Ayah, Ibu, tadi Byan ketemu Mbak cantik di rumah Pak Wisnu!" Byan yang baru saja turun dari motor langsung berlari menuju sang ayah yang duduk berdua dengan ibunya, sembari menikmati pisang goreng dan teh tawar hangat.

"Oh ya, Mbak cantik siapa, Nak?" tanya Bu Sarasvati pada anak bungsunya, yang langsung duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Sementara itu, Aditya berjalan santai menuju orang tuanya.

"Tidak tahu, Bu. Tapi cantik banget! Sayangnya Byan masih SMP," seru Byan.

Bu Sarasvati menatap anak bungsunya geli, sedangkan Pak Wijaya tampak tertawa kecil melihat Abyan yang heboh saat bercerita. "Emangnya kenapa, Nak, kalau kamu masih SMP?" tanya Pak Wijaya.

"Kalau Byan seumuran Mbak cantik, sudah pasti Byan pacari, Yah!" seru Byan.

"Ketemu siapa sih, Bang?" tanya Bu Sarasvati, saat melihat putra sulungnya sudah duduk di kursi depannya, mencomot satu iris pisang goreng yang masih hangat di atas piring. Aditya mengunyah dengan nikmat.

"Mungkin putrinya Pak Wisnu," sahut Pak Wijaya, yang melihat tak ada sahutan apa pun dari anak pertamanya.

Bu Sarasvati hanya ber oh ria. Setelah selesai menelan satu iris pisang goreng di mulutnya, Aditya baru bersuara dengan santai,

"Calon mantu Ayah dan Ibu."

DEG!

"Eh?!" terkejut orang tua Aditya.

"Mana boleh Abang mengaku-ngaku! Lagipula Abang terlalu tua buat Mbak cantik itu!" protes Abyan tak terima.

Aditya menatap datar adiknya, kemudian beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada orang tua. Hari ini ia ada jadwal bertemu dengan beberapa orang penting di kebun kelapa sawit.

"Adi pamit, Yah, Bu. Ada jadwal di kebun sawit."

"Loh, Bang?!" Bu Sarasvati, yang pertama sadar dari terpakuannya, berteriak memanggil putra sulungnya itu, namun tak ditanggapi oleh si empu yang sudah keluar rumah.

Sementara itu, Pak Wijaya masih terdiam. Perkataan Aditya barusan masih terngiang-ngiang jelas di benaknya.

"Anak itu... apa benar?" gumam Pak Wijaya, tampak terkejut.

Pengakuan Aditya barusan meninggalkan tanda tanya besar untuk kedua orang tuanya.

Bersambung__

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!