NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Garis Mati

“Laporkan situasi.”

Kata seorang pengusaha tajir di sebuah ruangan yang kelewat mewah. Dengan santainya bapak-bapak bernama Priyo itu duduk di kursi kulit sembari menyelonjorkan kedua kakinya ke atas meja. Sebatang cerutu menyala di tangannya, mengirimkan kepulan asap putih yang memenuhi ruangan yang dihiasi dengan patung bidadari berpanah cinta. Sementara di layar ponsel yang dia genggam, wajah Herman dengan latar belakang jalanan yang gelap terpampang begitu jelas.

Herman tersenyum sinis dari balik layar itu. “Target sudah memasuki zona pengepungan yang kami buat, Tuan Priyo. Mereka tidak akan bisa keluar lagi.”

Si botak pun mengembuskan asap cerutunya sembari menarik napas panjang, merasakan kepuasan yang luar biasa. “Aku sudah menunggu malam ini. Keluarga Han akan segera hancur. Biarkan mereka yang di Korea merasakan kehilangan kedua putrinya dalam satu malam.”

“Anda benar Tuan Priyo. Sekarang mobil mereka sudah kami kunci dari samping. Kita tinggal menggiring kendaraan itu ke lokasi yang sudah ditentukan,” lapor Herman.

“Bagus. Jangan biarkan sopirnya hidup. Bajingan bernama Darren itu sudah terlalu lama menjadi duri di mataku. Tapi untuk yang dua itu, bawa hidup-hidup ke wajahku!”

Dengan pedenya Herman memberikan anggukan patuh. “Sudah saya siapkan tim di lapangan. Aku tidak akan mengecewakan Anda.”

Priyo menenggak habis minuman di tangannya, lalu menghempaskan gelas kosong itu ke meja. “Setelah ini, kita akan hancurkan seluruh bisnis keluarga Han. Satu per satu. Sampai mereka bertekuk lutut dan memohon padaku.”

Mobil melaju kencang di atas aspal jalanan yang secara mengejutkan terlihat sepi. Suara mesin meraung keras, dibarengi dengan ban yang mencicit tajam setiap kali Darren menikung dengan ekstrem. Pria itu menggenggam setir sangat erat dengan mata yang fokus menembus kegelapan di depan, kendati pikirannya sedang kacau.

“Nona, tolong jangan tunjukkan kepala kalian ke jendela bagaimanapun situasinya,” perintah Darren dengan lantang.

Sejak tadi, Wonyoung meringkuk ketakutan di dalam dekapan Seo yeon. Gadis itu begitu ketakutan sampai matanya terpejam rapat. Sementara Seo yeon memeluk adiknya dengan protektif, namun pandangannya tetap tertuju ke arah Darren.

“Darren, jelaskan apa yang terjadi!”

Darren menarik napas pendek karena menyadari bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. “Yang bisa Nona lakukan saat ini adalah tetap percaya kepadaku. Setelah ini selesai, akan aku jelaskan semuanya.”

Seo yeon tidak memberikan balasan kata, sementara Wonyoung hanya bisa menangis. Sedangkan supir mereka segera mengaktifkan sistem miliknya. Layar transparan biru menyala seketika di hadapan matanya, menampilkan peta jalan, radar deteksi radius satu kilometer, serta titik-titik merah yang mengepung posisi mereka.

“Blokade? Sepertinya mereka memang sudah menyiapkan pengepungan di depan. Herman bahkan ada di sana. Cih, ternyata benar cecunguk-cecunguk itu lagi,” batin Darren sembari menganalisis pergerakan musuh.

Melalui bantuan sistem, Darren mampu melihat keberadaan pria-pria bersenjata yang bersembunyi di balik mobil-mobil hitam beberapa ratus meter di depan mereka akibat notifikasi utang. Karena itulah Darren bisa menyadari bahwa mereka sedang digiring menuju jebakan. Dia mengamati titik-titik hijau di radar yang menandakan kehadiran orang-orang biasa yang tidak terlibat. Sampai di sebuah gang kecil di sebelah kiri, terdapat pemukiman padat penduduk. Darren berpikir jika dia bisa menyelinap ke sana, peluang mereka untuk selamat jauh lebih besar.

“Kita belok kiri di pertigaan berikutnya,” kata Darren.

Seo yeon menatap tajam ke arah Darren. “Belok kiri? Itu bukan jalan menuju gedung kita.”

“Percayalah.”

Lantas mobil mereka oleng ke kiri dengan cepat. Sementara dua mobil hitam yang mengejar ikut berbelok dengan agresif. Hingga suara tembakan terdengar membuyarkan keindahan malam.

Kaca jendela belakang pun pecah berantakan. Wonyoung menjerit histeris. Seo yeon segera menundukkan kepalanya lebih rendah lagi demi melindungi adiknya dengan tubuhnya sendiri. Tak lama kemudian, kaca samping kanan meletus hancur. Darren tetap tidak bergeming sedikit pun, tangannya tetap di setir dengan fokus.

“Sistem, analisa jalur aman,” perintah Darren dalam hati.

Layar sistem bergerak dengan sangat cepat. Radar mendeteksi puluhan titik merah di sekitar mereka, namun terdapat satu area di selatan yang terlihat bersih tanpa ancaman. Itu adalah jalan kecil yang menuju ke arah kawasan industri yang sudah tidak beroperasi. Darren memutuskan bahwa jika saja mereka bisa mencapai ke sana, mungkin mereka bisa bersembunyi.

“Arah selatan,” batinnya.

Mobil mereka pun melesat semakin kencang menembus kegelapan. Di antara hujan tembakan, Darren menyadari bahwa Herman tidak akan berhenti, dan dia sangat yakin Priyo adalah dalang di balik semua ini.

Hingga celah sempit di antara dua truk besar yang sedang parkir di pinggir jalan terlihat seperti peluang di matanya. Jarak di antara kedua truk itu sangat sempit bagi sebuah mobil untuk lewat. Namun, Darren tahu bahwa itu adalah satu-satunya jalan keluar yang tersedia bagi mereka saat ini.

“Kalian pegang apa pun yang bisa dipegang!” seru Darren.

Darren menginjak gas sedalam mungkin. Mobil menyusup ke sela-sela truk dengan suara besi yang bergesekan dengan keras. Kaca spion kiri terlepas dan cat mobil tergores, namun akhirnya mereka berhasil lolos. Dua mobil hitam yang mengejar tidak bisa mengikuti manuver gila tersebut karena jalan yang terlalu sempit. Satu mobil musuh mencoba memaksa masuk namun justru berakhir menabrak truk dan berhenti seketika. Sementara itu, mobil yang satu lagi harus mencari jalur lain, melaporkan berita ini ke Herman dan bagaimana Herman mencak-mencak di seberang telepon saat mendengar Darren berhasil lolos.

Dari gang sempit itu dan memasuki kawasan industri yang sepi. Jalanan di sana tampak kosong dengan penerangan yang minim. Adapun gerbang belakang kawasan itu tampak terbuka lebar, beruntung Darren bisa menemukan tempat ini.

“Kita harus ke jalan besar untuk bergabung dengan keramaian.” Sistem menunjukkan bahwa titik-titik merah musuh sudah tertinggal cukup jauh. Saatnya bagi mereka untuk benar-benar kabur.

Mobil sudah relatif aman karena tidak ada lagi pengejar yang terlihat, meski Wonyoung masih gemetar ketakutan di dalam pelukan Seo yeon sampai gadis itu akhirnya berhasil menekan nomor ayahnya.

“Ayah... .” ucapan Wonyoung berubah menjadi tangisan yang makin menjadi-jadi.

“Apa yang terjadi?” Suara Han Jin Ho terdengar panik dari seberang telepon, menghilangkan kesan tegas yang biasanya dia miliki.

“Ayah, kami nyaris mati. Ada yang menembaki kami.”

“Di mana kalian sekarang? Jangan pulang ke gedung. Pulanglah ke rumah sekarang juga! Ayah akan siapkan pengamanan ketat di rumah sebelum ayah berangkat dari Korea besok.”

Wonyoung terus terisak, sehingga Seo yeon akhirnya mengambil alih ponselnya.

“Ayah, kami baik-baik saja. Darren menyelamatkan kami.”

“D-dia yang mengemudi? Bagaimana—”

“Begitulah kenyataannya, Ayah.”

Keheningan menyergap sebelum Han Jin Ho kembali bersuara. “Bawa adikmu pulang. Nanti Ayah jelaskan semuanya.”

Panggilan ditutup dan Seo yeon menatap ponsel, lalu menoleh ke Darren. “Kita harus lapor polisi.”

Akan tetapi Darren justru menggeleng dengan tegas. “Percuma saja.”

“Percuma? Apa maksudmu, percuma?”

Darren menghela napas panjang sembari terus fokus pada jalanan. “Nanti aku jelaskan. Percayalah. Sekarang aku akan mengantarkanmu pulang.”

Bibir Seo yeon terkunci mendengar itu dan memilih untuk tidak melanjutkan protes.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!