"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7
Suasana di dalam kamar rawat Ibu Retno mendadak senyap, kontras dengan kegaduhan di luar yang perlahan meredup seiring tertutupnya pintu IGD. Maya duduk di samping ibunya, mencoba menulikan telinga dari bayang-bayang teriakan Arlan yang masih terngiang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk dengan kasar. Maya dan ayahnya saling berpandangan. Belum sempat Ayah berdiri, pintu itu terbuka lebar. Arlan berdiri di sana dengan napas memburu. Matanya merah, menatap Maya dengan campuran antara amarah, keputusasaan, dan ego yang masih tersisa.
"Maya! Ikut aku sekarang!" perintah Arlan tanpa salam. Suaranya bergetar, namun masih ada nada menuntut di sana. "Dion kritis. Dokter bilang ini reaksi alergi parah. Kau yang paling tahu apa yang harus dilakukan, kau yang biasanya memegang obat daruratnya!"
Maya tidak bergeming. Ia bahkan tidak berdiri dari kursinya. "Mas, kau lupa? Semua barangku sudah kau buang ke gudang, termasuk catatan kesehatan Dion. Dan kau sendiri yang bilang aku tidak boleh menyentuh apa pun di rumah itu lagi."
"Ini bukan waktunya untuk dendam, Maya! Ini soal nyawa Dion!" Arlan maju selangkah, hendak mencengkeram tangan Maya, namun Ayah Maya segera berdiri dan menghalangi jalan Arlan.
Arlan terengah, ia menatap mertuanya dengan pandangan meremehkan yang sama seperti biasanya. "Ayah jangan ikut campur. Maya adalah istriku, dia punya kewajiban..."
"Kewajiban sebagai apa, Mas?" sela Maya tenang. Ia kini berdiri, menatap Arlan tepat di manik matanya. "Sebagai pelayan yang kau paksa memakai celemek semalam? Atau sebagai istri yang kau usir ke gudang pengap? Jika Sarah yang kau pilih untuk menggantikan posisiku, biarkan dia yang bertanggung jawab. Bukankah dia 'malaikat' yang paling mengerti anak nya itu?"
"Sarah tidak tahu apa-apa! Dia... dia tidak sengaja memberikan saus yang mengandung kacang!" Arlan berteriak frustrasi.
Maya tersenyum pahit. "Dia bukan tidak tahu, Mas. Dia hanya tidak peduli. Dan kau... kau tahu dia adalah ibu kandungnya hal seperti sepenting itu apa dia tidak tahu?"
"Dia ibu kandungnya, Mas! Hal sepenting itu apa mungkin dia tidak tahu? Atau dia memang sengaja lalai karena terlalu sibuk mencari perhatianmu?" Maya mencecar dengan nada bicara yang masih sangat tenang, namun menusuk tepat ke ulu hati Arlan.
Arlan terdiam membeku. Logikanya mulai berperang dengan egonya. Selama ini ia memuja Sarah sebagai ibu yang malang dan penuh kasih, namun kenyataan bahwa Sarah melupakan alergi mematikan putranya sendiri adalah tamparan keras yang nyata.
"Mbak Maya... teganya Mbak bicara begitu," Sarah mendadak muncul di ambang pintu, bersandar pada kusen dengan wajah yang dibasahi air mata. "Aku panik, Mbak. Aku tidak fokus karena memikirkan Kak Arlan yang terus memikirkan Mbak..."
" Kau tidak perlu memikirkan urusan rumah tangga ku, Sarah," potong Maya tajam. Ia beralih menatap Arlan. "Kau ingin aku menyelamatkan Dion? Aku sudah memberitahumu semalam sebelum kau mengusirku, bahwa stok EpiPen Dion di kotak obat sudah kedaluwarsa. Aku memintamu membelinya, tapi kau lebih memilih menyuruhku membersihkan debu di kamar bermain Dion agar dia tidak bersin, bukan?"
Arlan tersentak. Memorinya berputar kembali ke momen pagi itu. Maya memang sempat mengatakan sesuatu tentang obat, tapi ia membentaknya agar diam.
"Dokter membutuhkan riwayat imunoterapi Dion yang terakhir, Maya," suara Arlan melemah, nada perintahnya kini berganti menjadi permohonan yang putus asa. "Hanya kau yang menyimpan semua berkas itu. Tolong... aku tidak ingin kehilangan Dion."
"Berkas itu ada di map biru di dalam laci meja rias yang kau kunci, Arlan. Kuncinya kau bawa, bukan? Cari di sana," sahut Maya dingin. Ia kembali duduk dan menggenggam tangan ibunya. "Sekarang pergilah. Sarah, anaknya, dan masa depanmu bukan lagi tanggung jawabku."
"Maya, kumohon..."
"Mas, dengar," Maya menatap Arlan untuk terakhir kalinya. "Keselamatan Dion ada di tangan dokter dan ketelitianmu mencari berkas itu. Aku sudah memberikan segalanya selama setahun ini, bahkan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh ibu kandungnya. Sekarang, biarkan aku mengurus ibuku dan diriku sendiri."
Sarah mencoba mendekati Maya, ingin meraih lengannya, namun Ayah Maya berdehem keras dengan tatapan yang sangat mengancam. Sarah mengurungkan niatnya dan justru menarik ujung jas Arlan.
"Kak Arlan, ayo kita cari berkasnya. Dokter sudah menunggu," bisik Sarah, ketakutan jika kebohongannya yang lain terbongkar di sana.
Arlan menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan ,ada penyesalan yang mulai tumbuh, kemarahan pada diri sendiri, dan kesadaran bahwa wanita yang ada di depannya benar-benar telah melepaskan dirinya.
Tanpa sepatah kata lagi, Arlan berbalik dan berlari menuju parkiran, diikuti Sarah yang tertatih.
Kamar rawat itu kembali sunyi. Maya memejamkan mata sejenak, merasakan dadanya yang sesak perlahan mulai lapang. Ia tahu Dion akan selamat karena dokter di rumah sakit ini sangat kompeten, namun ia juga tahu bahwa mulai malam ini, Arlan akan mulai melihat lubang besar yang ditinggalkan Maya ,lubang yang tidak akan pernah bisa ditutup oleh air mata palsu Sarah.
"Kau melakukannya dengan baik, Nak," bisik Ayahnya bangga.
Maya hanya tersenyum kecil. Ia mengeluarkan ponselnya, mencari kontak firma hukum milik Bramasta, dan mengetik satu pesan singkat."Lanjutkan gugatannya. Saya sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menunda."
Beberapa hari kemudian, proses hukum berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan Arlan. Maya tidak meminta harta gono-gini, tidak meminta tunjangan bulanan, ia hanya meminta satu hal.kebebasan mutlak.
Sementara itu, suasana di rumah mewah Dirgantara berubah menjadi mencekam. Dion memang selamat, namun insiden alergi itu menjadi titik balik bagi Arlan. Ia mulai melihat Sarah dengan kacamata yang berbeda. Tak ada lagi kekaguman, yang tersisa hanyalah kecurigaan.
Sore itu, Arlan baru saja kembali dari kantor ketika ia mendapati Sarah sedang bersantai di ruang tengah, sementara Dion menangis sesenggukan di sudut ruangan karena terjatuh. Sarah bahkan tidak beranjak, ia justru sibuk memoles kuku kakinya.
"Kenapa Dion menangis, Sarah?" tanya Arlan, suaranya rendah dan sarat akan ancaman.
Sarah tersentak, segera memasang wajah sedih andalannya. "Eh, Kak Arlan sudah pulang? Itu... Dion nakal sekali, Kak. Sudah dibilang jangan lari-lari, tapi dia tidak mau dengar. Kakiku sedang pegal sekali karena seharian mengurus rumah tanpa Mbak Maya..."
Arlan tidak menjawab. Ia berjalan menghampiri Dion, menggendong anak itu, lalu menatap laci meja rias yang kuncinya masih menggantung. Ia teringat kata-kata Maya tentang map biru.
Setelah menenangkan Dion, Arlan membuka laci itu. Di sana, ia menemukan map biru yang dimaksud Maya. Namun, dibawahnya terdapat juga beberapa resep obat untuk Dion. Arlan mengambil kertas kecil itu dan sebuah catatan detail mengenai hal-hal yang boleh dan tak boleh di konsumsi oleh Dion.
Arlan menatapnya begitu dalam ,ia pun mulai merasa ada yang salah dalam pandangan nya hal-hal sekecil ini saja Maya begitu memperhatikan nya bahkan sampai mencatat nya agar ia tak salah dalam memberikan makanan yang di konsumsi oleh Dion,tapi mengapa Sarah mengatakan hal yang sebaliknya jika Maya begitu membenci dirinya dan Dion?.
Arlan menatap ke arah Sarah yang sedang menenangkan Dion , padahal sejak tadi sebelum Arlan datang ia hanya membiarkan putranya itu menangis .