Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
***
Malam itu, lilin di meja kecil Lilianne sudah hampir habis, menyisakan lelehan lilin yang membeku seperti air mata. Di tangannya, selembar perkamen tua yang ia selundupkan dari Perpustakaan Terlarang melalui Lisa beberapa hari lalu bergetar hebat. Dokumen itu bukan sekadar catatan suksesi, melainkan sebuah catatan medis terlarang yang disegel dengan darah.
"Subjek kedua: Arthur. Prosedur penghapusan tanda lahir di punggung kiri bawah. Penggunaan pisau bedah panas untuk menyamakan tekstur kulit dengan mendiang Putra Mahkota Arthemus. Identitas asli harus dikubur. Arthemus adalah cahaya, Arthur adalah bayangan yang dipaksa menjadi cahaya."
Lilianne menutup mulutnya, menahan pekikan horor. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seiring dengan denyut di perutnya yang kian membesar. Arthur suaminya yang dingin, kejam, dan obsesif hanyalah seorang pemeran pengganti. Seorang pangeran buangan yang dipaksa memakai kulit saudaranya yang telah mati.
Pantas saja ia begitu takut pada dunia. Pantas saja ia mengurung Lilianne begitu rapat. Ia bukan hanya takut kehilangan istrinya ia takut Lilianne melihat jahitan pada identitasnya.
Pintu kamar terbanting terbuka. Arthur masuk dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Aroma alkohol dan keringat kuda menyeruak, namun ada yang lebih mengerikan: aura membunuh yang begitu pekat.
Lilianne tidak sempat menyembunyikan dokumen itu. Ia berdiri membeku di samping ranjang, sementara Arthur melangkah mendekat seolah-olah ia adalah malaikat maut yang datang menagih janji.
"Apa yang kau pegang, Lilianne?" suara Arthur rendah, namun mengandung getaran guntur yang siap meledak.
Lilianne memberanikan diri. Ia mengangkat dokumen itu, menatap mata biru gelap suaminya. "Kenapa kau tidak pernah mengatakannya, yang mulia? Tentang Arthemus. Tentang bekas luka yang kau sembunyikan setiap kali kita berbagi ranjang."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Wajah Arthur berubah pucat, lalu perlahan-lahan mengeras menjadi topeng monster yang paling mengerikan yang pernah Lilianne lihat. Matanya berkilat liar sebuah perpaduan antara ketakutan yang mendalam dan amarah yang tak terkendali.
"Siapa... yang memberimu izin... untuk menyentuh masa laluku?" Arthur bertanya, suaranya parau dan bergetar.
"Aku istrimu, Arthur! Aku mengandung anakmu! Aku berhak tahu apakah pria yang menyentuhku setiap malam adalah pria yang namanya tertulis di altar, atau hanya bayangan yang mencuri mahkota orang mati!" teriak Lilianne, keberaniannya memuncak akibat adrenalin.
BRAK!
Arthur menghantamkan tinjunya ke tiang ranjang emas di samping kepala Lilianne. Ia mencengkeram pinggang Lilianne dengan satu tangan, menariknya begitu keras hingga Lilianne meringis kesakitan, sementara tangan lainnya merampas dokumen itu dan meremasnya hingga hancur.
"Tahu banyak hal tentang suamimu juga tidak terlalu baik, Putri Mahkotaku," desis Arthur tepat di depan wajah Lilianne. Tidak ada lagi sisa kelembutan semu yang ia tunjukkan beberapa bulan terakhir. Yang ada hanyalah sang panglima perang yang tega membantai ribuan nyawa tanpa berkedip.
"Lepaskan... kau menyakiti bayinya, Arthur!" rintih Lilianne, tangannya mencoba mendorong dada bidang suaminya yang keras seperti baja.
"Bayi ini adalah darah Valerius! Tidak peduli siapa aku, dia akan tetap menjadi penguasa!" Arthur semakin mempererat cengkeramannya di pinggang Lilianne, mengabaikan rintihan kesakitannya. "Kau pikir dengan mengetahui rahasia ini kau bisa mengendalikanku? Kau pikir kau bisa menjadikanku pionmu?"
Arthur tertawa, suara tawa yang kering dan pecah. "Kau salah, Lilianne. Kau sangat salah. Mengetahui hal ini hanya akan membuat sangkarmu menjadi lebih sempit. Jika kau tidak bisa mencintai bayangannya, maka kau akan membusuk bersamanya!"
Arthur melepaskan Lilianne dengan kasar hingga gadis itu jatuh terduduk di atas ranjang. Ia berbalik dan berteriak ke arah pintu yang terbuka.
"PENJAGA! Seret pelayan bernama Lisa ke penjara bawah tanah! Siapa pun yang berinteraksi dengan Putri Mahkota mulai detik ini tanpa kehadiranku, penggal kepalanya di tempat!"
"Yang mulia, tidak! Lisa tidak tahu apa-apa!" Lilianne merangkak menuju kaki Arthur, memohon dengan air mata yang mulai bercucuran. "Kumohon, jangan sakiti dia!"
Arthur berbalik, menatap Lilianne dengan pandangan dingin yang kosong. "Lisa adalah matamu, dan aku akan membutakanmu, Lili. Kau ingin tahu rahasia istana ini? Maka rasakanlah kegelapan yang sesungguhnya."
Arthur melangkah keluar dan membanting pintu ganda itu. Suara kunci besar yang diputar terdengar berkali-kali. Lilianne berlari menuju pintu, menggedornya dengan tangan mungilnya hingga memar.
"Yang mulia! Buka pintunya! Arthur!"
Namun yang terdengar hanyalah derap langkah kaki para penjaga yang kini jumlahnya berlipat ganda di depan kamarnya.
Tidak ada lagi Lisa yang membawakannya teh jahe. Tidak ada lagi buku sejarah yang menemaninya. Hanya ada keheningan yang menusuk dan aroma lili hutan yang kini terasa seperti aroma kematian.
**
Beberapa jam kemudian, pintu terbuka perlahan. Arthur masuk sendirian. Ia tidak lagi mengenakan jubahnya, hanya kemeja putih yang sedikit terbuka. Ia membawa nampan berisi makanan, namun wajahnya tetap kaku seperti patung.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap Lilianne yang meringkuk di sudut ruangan dengan mata sembab.
"Makan," perintahnya singkat.
Lilianne tidak bergerak. "Di mana Lisa?"
"Dia masih bernapas. Untuk saat ini," sahut Arthur dingin. Ia mendekati Lilianne, menarik dagunya agar menatap matanya. "Jangan memancing amarahku lebih jauh, Lilianne. Kau tidak akan suka melihat sisi pengganti yang sebenarnya. Arthemus mungkin seorang pangeran yang baik hati, tapi aku? Aku adalah pria yang merangkak dari menara pembuangan dengan tangan berdarah."
Arthur mengusap pipi Lilianne dengan ibu jarinya, gerakannya kasar dan menuntut. "Kau ingin mengenalku, bukan? Inilah aku. Seorang penipu yang akan membunuh siapa pun agar rahasia ini tetap terkubur. Termasuk jika aku harus menguburmu di dalam kamar ini selamanya."
Lilianne menatap suaminya dengan ngeri. Ia menyadari satu hal: ia telah salah perhitungan. Ia mengira rahasia itu akan menjadi senjatanya, namun ternyata rahasia itu adalah pemicu yang melepaskan iblis di dalam diri Arthur.
"Kenapa kau begitu membenciku?" bisik Lilianne parau.
"Aku tidak membencimu," Arthur mendekatkan bibirnya ke telinga Lilianne, membisikkan kata-kata yang membuat darah Lilianne membeku. "Aku sangat mencintaimu hingga aku lebih baik melihatmu mati di tanganku daripada melihatmu menatapku sebagai seorang pengganti yang menjijikkan. Ingatlah, Lili... kau mengandung anak dari seorang bayangan. Dan bayangan tidak akan pernah melepaskan cahayanya."
Lilianne memejamkan mata saat tangan Arthur meraba perutnya. Rasa sakit di pinggangnya akibat cengkeraman tadi masih terasa, namun rasa takut di hatinya jauh lebih besar. Ia kini benar-benar sendirian, terperangkap bersama seorang monster yang terluka, di dalam istana yang dibangun di atas kebohongan berdarah.
Strateginya telah hancur. Sekarang, ia tidak lagi berjuang untuk tahta. Ia berjuang untuk tetap waras di bawah kegilaan suaminya.
***
Bersambung...
Ehem, gimana menurut kalian cerita author yang satu ini hehehe....
komen, saran dan kritik di persilahkan, author sangat menunggu 😚🫶🫶
entah kenapa
komen ini hilang