NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: JANJI YANG MENAGIH DARAH

Fajar di lereng Panderman tidak pernah terasa sedingin ini. FIIIIUUUUU...

Bau kabut yang samar terbawa angin dari arah timur, bercampur dengan aroma melati yang kental. Sebuah pertanda bahwa gerbang antara dunia kasar dan dunia halus di tanah Jawa sedang merenggang.

WREEEEEEUMMM...

Arka Nirwana berdiri mematung, tangannya masih menggenggam Gading Hitam yang kini telah berubah menjadi putih bersih setelah disentuh oleh Dafa.

Di sampingnya, Reyna Viyanita masih menatap Dafa dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebagai keturunan maestro spiritual, Reyna tahu bahwa benda yang dipegang Arka bukan sekadar tulang hewan.

Itu adalah Gading Gajah Sluku Sempa, sebuah pusaka kuno yang dalam catatan kakeknya hanya akan muncul saat tanah Jawa mendekati titik nadir.

Namun, perubahan warna dari hitam ke putih saat disentuh Dafa adalah anomali yang tidak pernah tertulis dalam ramalan mana pun.

"Arka," bisik Reyna, suaranya gemetar halus. "Kita harus segera pergi dari sini. Munculnya Sang Pamomong dan berubahnya pusaka ini... itu bukan sekadar penghormatan."

"Itu adalah lonceng peringatan. Tanah ini sedang bergejolak."

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menggendong Dafa. Anak itu sudah tertidur di bahunya, kelelahan setelah ketegangan yang luar biasa.

Bagi Dafa, Arka adalah benteng yang tak tertembus, Papanya yang dulu dianggap gila namun kini menjadi pelindungnya. Arka mencium kening Dafa dengan tulus.

Baginya, tidak peduli apa rahasia spiritual yang dibawa anak ini, Dafa adalah darah sukmanya.

Sumpah yang ia ucapkan saat menjemput Dafa dari pengasingan Maya adalah sumpah mati, siapa pun yang menyentuh Dafa, akan berhadapan dengan murka tujuh segelnya.

"Wironegoro," panggil Arka dengan nada rendah yang berwibawa.

Sang Jenderal, yang sejak tadi bersujud, mendongak. DUG!  "Gusti."

"Bawa unitmu mundur. Tutup semua akses ke lereng ini. Jika ada intelijen asing atau sisa-sisa pasukan Black Order yang mencoba mendekat, gunakan protokol 'Tanah Terlarang'."

"Jangan biarkan satu pun kaki najis mereka menginjak jejak kaki Dafa," perintah Arka dingin.

"Sendika dawuh, Gusti. Lalu, ke mana tujuan kita selanjutnya?"

Arka menatap ke arah puncak Gunung Semeru yang puncaknya tertutup kabut kemerahan.

"Trowulan. Kita akan kembali ke pusat poros yang lama. Aku harus bertemu dengan sosok yang disebut dalam mimpi kakek di bioskop itu."

"Janji Sabdo Paloh bukan hanya soal kehancuran, tapi soal penagihan hak yang tertunda selama lima ratus tahun."

***

VROOOOOM.

Perjalanan menuju Trowulan dilakukan menggunakan jalur darat yang dirahasiakan. Di dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, Arka duduk bersandar sambil membiarkan Dafa tidur di pangkuannya.

Reyna duduk di sampingnya, terus memutar tasbih kayu cendana di tangannya, bibirnya merapal doa-doa perlahan.

"Arka," Reyna memecah kesunyian saat mobil melewati perbatasan Malang-Mojokerto. "Siska dan keluarga Adiningrat... kau benar-benar akan menghancurkan mereka sampai ke akarnya?"

Arka menatap keluar jendela, pada hamparan sawah yang mulai diterangi matahari pagi. "Aku tidak menghancurkan mereka, Rey. Aku hanya mengambil kembali keberuntungan yang selama ini mereka curi dariku.

Selama setahun aku mencuci piring dan sepatunya, mereka telah menghisap energi keberuntunganku untuk memperkaya diri.

Sekarang, saat aku bangun, energi itu kembali padaku. Kemiskinan mereka adalah konsekuensi dari keserakahan mereka sendiri."

Reyna menghela napas. "Kau selalu punya alasan untuk setiap tindakan dinginmu. Tapi ingatlah, di Trowulan nanti, logika duniawi tidak akan berlaku. Kita akan masuk ke wilayah di mana 'Sang Penagih Janji' bersemayam."

***

Sesampainya di kawasan Trowulan, suasana mendadak berubah. Udara terasa lebih berat dan "berisi". HUUUUUMMM...

Saat mobil melintasi Gapura Wringin Lawang, Arka merasakan Segel Bumi di dadanya berdenyut kencang, seolah-olah tanah di bawah sana sedang berbicara padanya. DUG-DUG... DUG-DUG...

Mereka berhenti di sebuah pelataran sunyi yang jauh dari jangkauan turis. Di sana, seorang pria tua berpakaian hitam-hitam khas petani Jawa kuno sedang duduk di bawah pohon beringin.

KRETEK... KRETEK... (Suara kemenyan yang terbakar).

Di depannya terdapat sebuah keranjang berisi kembang setaman dan kemenyan yang sudah menyala.

Pria tua itu mendongak saat Arka turun dari mobil sambil menggendong Dafa. Matanya putih semua, tidak memiliki pupil, namun ia seolah bisa melihat langsung ke dalam sukma Arka.

"Sampun rawuh, Satria..." (Sudah datang, Satria) ucap pria itu dengan suara serak yang terasa berasal dari dasar bumi.

Arka melangkah maju. "Siapa Anda?"

"Kulo namung asu penjogo gerbang..." (Saya hanya anjing penjaga gerbang). Pria itu berdiri, tubuhnya yang bungkuk tiba-tiba tegak, dan auranya berubah menjadi sangat dominan.

"Gusti Sabdo Paloh sampun nunggu penjenengan. Tapi... bocah sing mbok gowo kuwi..." (Tapi anak yang kau bawa itu...)

Pria tua itu menunjuk ke arah Dafa yang masih terlelap. Tubuh pria itu mendadak gemetar hebat. DUG!  Ia jatuh berlutut, bukan kepada Arka, melainkan ke arah Dafa.

"Oalah... dudu menungso... dudu lelembut... niki nopo?" (Oalah... bukan manusia... bukan makhluk halus... ini apa?) tanya pria itu dengan nada ketakutan yang sangat dalam.

Arka mengerutkan kening, ia mendekap Dafa lebih erat. SRET.  "Dia anakku. Jangan lancang."

"Ngapunten, Gusti Arka... nanging cah iki nggowo cahyo sing iso nggugah macan sing lagi turu neng kene," (Maaf, Gusti... tapi anak ini membawa cahaya yang bisa membangunkan macan yang sedang tidur di sini) pria itu gemetar.

Reyna maju selangkah. "Kiai, apa maksudnya? Gading hitam yang kami bawa pun berubah menjadi putih saat disentuh anak ini."

Pria tua itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah sebuah sumur tua di tengah reruntuhan candi.

"Mlebuo. Dewek'an. Cah kuwi titipno rondo iki," (Masuklah. Sendirian. Anak itu titipkan pada wanita janda ini, merujuk pada Reyna yang secara spiritual dianggap suci/sendiri).

Arka ragu sejenak. Namun, Reyna memberikan tatapan meyakinkan. "Aku akan menjaganya dengan nyawaku, Arka. Pergilah. Ini adalah bagian dari tirakatmu."

Arka menyerahkan Dafa ke pelukan Reyna.

Saat langkah Arka mendekati sumur tua itu, bumi di sekitarnya seolah-olah melunak. Ia melompat masuk ke dalam sumur yang gelap, namun ia tidak jatuh ke air. SRAAK! 

Ia jatuh ke dalam dimensi ruang yang terlipat, sebuah lorong ghaib yang membawanya langsung ke sebuah aula bawah tanah yang megah, peninggalan era Majapahit yang tidak pernah ditemukan arkeolog mana pun. ZAP!

Di tengah aula itu, duduk seorang pria dengan pakaian kebesaran kuno, dikelilingi oleh ribuan naskah lontar yang melayang-layang di udara.WUT-WUT-WUT.

Pria itu menatap Arka dengan tatapan yang tajam seolah-olah bisa membelah gunung.

"Lima ratus tahun aku menanti, Arka Nirwana," suara pria itu menggelegar.

"Aku telah melihatmu mencuci piring, aku telah melihatmu dihina oleh wanita-wanita duniawi, dan aku telah melihatmu menanggung kegilaan selama empat tahun. Kau telah lulus ujian kesabaran."

"Anda... Sabdo Paloh?" tanya Arka tenang.

"Aku adalah janji yang tak pernah mati. Aku adalah sumpah yang menagih kedaulatan Nusantara." Sosok itu berdiri.

"Tetapi ada satu hal yang tidak masuk dalam hitunganku selama lima ratus tahun ini. Anak yang kau bawa... Dafa."

Arka menegang. "Kenapa semua entitas ghaib ketakutan melihat Dafa?"

Sabdo Paloh tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung misteri. "Karena dia bukan berasal dari garis keturunan manusia maupun jin."

"Dia adalah 'Anomali Semesta' yang lahir dari doa tulus seorang Satria Piningit saat berada di titik paling rendah dalam kegilaannya."

"Dia adalah manifestasi dari kemurnianmu, Arka. Tetapi, ketahuilah... karena dia terlalu murni, dia menjadi incaran bagi mereka yang ingin menghancurkan poros dunia."

Tiba-tiba, dinding-dinding aula bawah tanah itu bergetar hebat. KRAKKKK!  Arka merasakan sebuah kehadiran energi yang sangat jahat dan sangat kuat sedang mendekat dari arah permukaan.

"Mereka sudah datang," ucap Sabdo Paloh. "Bukan lagi pasukan militer, bukan lagi Black Order. Tapi para Wali Songo Ghaib yang berkhianat dan para Danyang yang telah menukar sumpah mereka dengan kekuatan asing."

"Mereka menginginkan anakmu untuk dijadikan tumbal pembukaan gerbang kiamat."

Arka mengepalkan tangannya. BOOM!  Energi ungu dari Segel Nusantara meledak dari tubuhnya, menghancurkan beberapa pilar batu di sekitarnya.

"Siapa pun yang menginginkan anakku, harus melangkahi mayat Sang Poros Dunia terlebih dahulu."

"Kalau begitu, ambillah ini!" Sabdo Paloh melemparkan sebuah gulungan emas ke arah Arka. WUTSH!

"Buka Segel Kelima: Segel Sukma! Pergilah ke atas, lindungi anakmu. Karena saat ini, Reyna sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ia lawan dengan doa saja!"

Arka segera melesat kembali ke atas melalui lubang sumur ghaib itu. ZLAP!  Saat ia muncul di permukaan, pemandangan di depan matanya membuat darahnya mendidih.

Halaman candi itu kini diselimuti kabut hitam pekat. Reyna tergeletak pingsan di bawah pohon beringin, dan Dafa... Dafa sedang berdiri mematung di tengah lingkaran api hitam. HUUUUUU...

Di depan Dafa, berdiri sesosok makhluk bertubuh manusia namun berkepala kerbau raksasa yang membawa parang besar yang berlumuran darah segar.

Makhluk itu adalah Mahesa Suro, penguasa ghaib yang legendaris, yang kini tampaknya telah disuap oleh kekuatan gelap untuk menculik Dafa.

"Papa!" teriak Dafa saat melihat Arka. HUUUU... HUUUU... (Isak tangis yang tertahan).

Mahesa Suro tertawa, suaranya seperti reruntuhan batu. GRRRRRRRRRR!  "Satria Piningit... serahkan anak ini, atau aku akan meratakan seluruh tanah Trowulan bersama jasadmu!"

Arka tidak menjawab. Ia hanya menarik Gading Putih dari pinggangnya. SYUUUTTT! Gading itu mendadak memanjang, berubah menjadi sebuah pedang cahaya yang memancarkan aura suci yang sangat murni. ZING!

"Kau berani menyentuh anakku di tanah leluhurku sendiri?" Arka melangkah maju, setiap langkahnya membuat tanah Trowulan mengeluarkan suara raungan macan ghaib. ROOOOAAAAARRRR!

"Maka hari ini, aku akan menunjukkan padamu kenapa Sabdo Paloh memilihku."

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!