NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Hari itu café terasa lebih hidup dari biasanya.

Suara lonceng kecil di pintu café berbunyi pelan saat seseorang masuk. Aroma kopi yang baru digiling langsung menyambut hangat ruangan yang sudah ramai sejak pagi. Cahaya matahari menembus kaca besar di depan, memantul di permukaan meja kayu yang sudah mulai dipenuhi cangkir dan piring kecil.

Di balik meja kasir yang menyatu dengan area bar, Nindi sudah berdiri sejak pagi. Rambutnya diikat sederhana, apron hitam terpasang rapi, dan senyum yang ia pakai sejak awal shift belum juga pudar.

“Selamat pagi, selamat datang di café kami,” ucapnya ramah pada pelanggan pertama yang datang.

Seorang pria muda tersenyum lebar padanya. “Pagi juga. Kamu baru ya di sini?”

“Iya, saya baru mulai kemarin,” jawab Nindi tetap sopan.

Pria itu tampak tertarik. “Oh, pantas saja aku belum pernah melihatmu. Kamu dari mana?”

“Indonesia,” jawab Nindi singkat.

“Wow, jauh juga. Kamu sendiri ke sini?”

Nindi tetap tersenyum, meski antrean di belakang mulai bertambah. “Maaf, boleh pesanannya dulu? Yang lain juga menunggu.”

“Oh iya iya, maaf.” Pria itu tergelak kecil. “Aku pesan, apa saja yang kamu rekomendasikan.”

Nindi mengangguk ringan, lalu dengan cepat mulai menawarkan menu. Cara bicaranya hangat, tenang, dan membuat pelanggan merasa diperhatikan tanpa berlebihan.

Dari sudut bar, Clay memperhatikan semua itu tanpa banyak ekspresi. Tangannya tetap bergerak: menggiling kopi, menekan portafilter, menuang susu. Namun matanya sesekali melirik ke arah kasir. Bukan tanpa alasan. Hampir setiap pelanggan laki-laki yang datang, selalu punya “alasan tambahan” untuk bertanya pada Nindi. Nama, asal, bahkan sekadar pujian kecil yang dibungkus rapi.

Clay mendecih pelan, nyaris tak terdengar.

“Ramai sekali,” gumam Maron yang lewat sambil membawa nampan.

“Seperti biasanya,” jawab Clay singkat. Tapi tatapannya tidak benar-benar santai.

Di sisi lain, Nindi baru saja berhasil melayani beberapa pelanggan berturut-turut. Ia menghela napas kecil, lalu mengambil segelas air dari belakang meja.

“Ah… segarnya,” gumamnya pelan.

Baru saja ia meneguk, suara Maron terdengar dari samping.

“Nindi.”

“Hm?” Nindi menoleh.

Maron berdiri dengan ekspresi setengah lelah, setengah bingung. Di tangannya ada beberapa kertas kecil dan tisu.

“Kamu tahu tidak?” katanya pelan, “Sejak kamu kerja di sini, café ini jadi agak berbeda.”

Nindi mengerutkan kening. “Beda gimana?”

Maron mengangkat kertas itu. Nomor telepon. Banyak sekali.

“Mereka menitipkan ini padaku,” katanya. “Minta disampaikan padamu.”

Nindi langsung terkekeh kecil, bukan panik, tapi lebih ke heran. “Serius?”

“Ini nggak lucu,” balas Maron. “Mereka itu datang bukan cuma buat kopi.”

Nindi melirik sekeliling. Beberapa pelanggan laki-laki memang masih sesekali mencuri pandang ke arahnya.

“Maaf ya, jadi merepotkan,” ucap Nindi jujur.

Maron menghela napas panjang. “Masalahnya bukan merepotkan. Tapi, cara mereka lihat kamu itu.”

Nindi terdiam sebentar, lalu mengikuti arah pandang Maron.

Beberapa dari mereka curi – curi pandang. Dan beberapa lagi yang lain menatapnya langsung tanpa perlu menutupinya.

Tapi Nindi hanya tersenyum kecil. “Bukankah pemandangan seperti ini sudah biasa?” katanya santai.

Maron langsung menoleh, alisnya terangkat. “Biasa?”

“Iya,” jawab Nindi ringan. “Kemarin juga para gadis disini banyak yang menatap Clay seperti itu.”

Maron menghela napas panjang, kali ini jelas tidak setuju.

“Itu beda,” katanya tegas. “Jangan samakan para lelaki ini dengan para gadis itu.”

Nindi menatapnya, masih tenang. “Bedanya di mana?”

“Di niatnya,” jawab Maron cepat. “Yang sekarang itu bukan cuma kagum. Tapi sudah mulai mengganggu.”

Ia menatap Nindi lebih serius.

“Dan kamu, jangan terlalu santai. Di sini kamu bukan cuma dilihat. Kamu juga bisa jadi target.”

Nindi terdiam sejenak, lalu menurunkan pandangannya sedikit. Tapi senyumnya tidak hilang.

“Aku mengerti,” jawabnya pelan. “Tapi aku sudah terbiasa.”

Maron mendecih pelan, setengah frustasi.

“Masalahnya itu justru yang bikin aku khawatir.”

Nindi mengangguk ringan. “Aku bisa jaga diri Maron, kamu tenang saja.”

Maron menghela napas panjang, sepertinya dia menyerah untuk terus berdebat.

“Ya sudah…” gumamnya pelan, nada suaranya terdengar pasrah. “Kalau kamu memang mau menganggap itu biasa.”

Ia menatap Nindi sebentar lagi, masih dengan sisa kekhawatiran yang belum benar-benar hilang, lalu menggeleng kecil.

“Tapi kalau nanti ada apa-apa, jangan bilang aku tidak memperingatkanmu.”

Nindi hanya tersenyum tipis. “Aku akan ingat.”

“Baiklah,” katanya sambil kembali berjalan membawa nampan. “Aku kembali kerja.”

Maron pergi, menyisakan Nindi yang kembali pada ritme kerjanya. Dan tanpa mereka sadari, sejak tadi Clay tidak benar-benar fokus pada pekerjaannya. Tangannya memang bergerak, menggiling kopi, menekan portafilter, menuang susu dengan ritme yang sudah otomatis. Tapi matanya, beberapa kali melayang.

Ke arah kasir.

Ke arah Nindi.

Dan lebih tepatnya, ke arah percakapan Maron dan Nindi.

Saat Maron sudah pergi, Clay berbicara tanpa menoleh.

“Kamu terlalu santai.”

Nindi menatapnya. “Apa?”

Clay menyelesaikan satu espresso, lalu meletakkannya di meja dengan tenang.

“Semua orang di sini memperhatikanmu.”

“Lalu?”

“Dan kamu membiarkan itu.”

Nindi mengangkat alis. “Itu masalahmu?”

Clay menatapnya sekilas. “Bukan masalah. Tapi itu faktanya.” Nada suaranya datar tapi terasa tajam.

Nindi mendengus pelan. “Lucu sekali. Kamu bicara seolah aku yang salah.”

Clay tidak langsung menjawab. Sampai akhirnya ia berkata pelan, tapi menusuk:

“Rupanya kamu menikmati perhatian itu.”

Nindi terdiam sepersekian detik. “Apa?” suaranya lebih rendah.

Clay tetap bekerja, tapi kalimatnya berlanjut. “Kamu sadar mereka memperhatikanmu. Dan kamu tidak menghentikannya.”

Nindi tertawa kecil, tapi bukan tawa senang.

“Jadi menurutmu aku sengaja?”

Clay menoleh. Tatapan mereka bertemu.

“Bukan sengaja,” jawabnya datar. “Tapi kamu tidak keberatan.”

Suasana mendadak sedikit berubah.

Nindi menghela napas. “Kamu ini benar-benar punya cara bicara yang menyebalkan.”

Clay tidak membantah.

“Dan kamu pikir semua orang di sini punya niat buruk?” lanjut Nindi.

“Aku tidak bilang semua.”

“Tapi kamu mengasumsikan aku bodoh?”

Clay berhenti sejenak.

“Tidak.” Tapi diamnya terlalu lama untuk sekadar jawaban sederhana.

Nindi mengangguk pelan, lalu tersenyum miring. "Kalau begitu, kamu salah baca orang.”

Ia berbalik, mengambil beberapa pesanan lain, dan pergi tanpa menunggu jawaban. Clay hanya menatap punggungnya sebentar. Lalu kembali bekerja. Tapi ekspresinya tidak kembali seperti biasa.

Beberapa menit kemudian, café masih ramai. Nindi kembali ke kasir dengan ritme kerja yang stabil, tidak terganggu sedikit pun. Clay memperhatikannya lagi. Kali ini lebih lama. Lebih diam. Lebih fokus. Seolah ada sesuatu yang belum selesai ia pahami tentang gadis itu.

Dan untuk kali ini, tanpa Clay sadari, Maron dan Cris sejak tadi mengamati dari kejauhan. Keduanya berdiri di area yang tidak terlalu mencolok, seolah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun perhatian mereka jelas tidak lepas dari meja bar. Maron menyilangkan tangan di dada, matanya mengikuti arah pandang Clay yang beberapa kali melirik ke kasir.

“Sangat kelihatan sekali,” gumam Maron pelan.

Cris yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk kecil. “Iya.”

Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibir Maron. “Clay mulai terganggu.”

“Dia selalu bilang tidak peduli,” lanjut Cris, nada suaranya rendah. “Tapi tubuhnya tidak bisa bohong.”

Maron mendengus pelan, setengah tertahan tawa. “Dan dia tidak sadar itu kelihatan jelas.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!