Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: JEJAK YANG HILANG DAN TEMPAT PERLINDUNGAN
Perjalanan mereka berjalan sangat lambat dan penuh kesulitan. Sejak meninggalkan puncak gunung tempat Istana Kematian berada, Mo Fei hampir sepenuhnya tidak sanggup menggerakkan kakinya sendiri. Setiap kali ia mencoba melangkah, rasa nyeri yang luar biasa hebat seakan menyambar seluruh persendian dan tulang di tubuhnya, membuat keringat dingin terus mengalir deras di sekujur wajahnya. Tenaga dalamnya yang selama ini menjadi andalan dan sumber kekuatannya, kini terasa kosong melompong seolah sudah tersedot habis tak tersisa sedikitpun setelah ia mengeluarkan serangan terkuatnya untuk mengalahkan Kakek Tian Lao. Bahkan aliran darah di dalam tubuhnya pun berjalan sangat lambat dan tersendat-sendat, menandakan bahwa bagian dalam tubuhnya mengalami kerusakan parah yang butuh waktu sangat lama untuk pulih kembali seperti semula.
Melihat keadaan Mo Fei yang makin hari makin lemah dan nyaris tak berdaya, Bai Yue tidak punya pilihan lain selain memapah dan menopang tubuh pemuda itu sekuat tenaganya meskipun dirinya sendiri pun sebenarnya juga terluka cukup parah dan tenaganya sudah hampir habis sepenuhnya. Tubuhnya yang kecil dan ramping tampak susah payah menahan berat tubuh Mo Fei yang tinggi dan besar, namun ia tidak pernah sekalipun mengeluh atau menampakkan wajah lelahnya sedikitpun. Di dalam hatinya, ia sadar betul bahwa saat ini dialah satu-satunya tempat bergantung dan penopang hidup bagi Mo Fei, dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada pemuda itu di bawah pengawasannya.
"Sebentar lagi kita sampai," bisik Bai Yue pelan di samping telinga Mo Fei, suaranya lembut dan menenangkan hati. "Ada desa kecil di kaki gunung ini, tempat di mana penduduknya hidup sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk serta perselisihan dunia persilatan. Di sana kita bisa beristirahat dengan tenang, mengobati luka, dan memulihkan tenaga sepenuhnya tanpa takut diganggu atau ditemukan oleh siapapun."
Mo Fei hanya mengangguk perlahan sebagai jawaban, matanya terpejam rapat karena rasa lelah dan nyeri yang menyerangnya terus-menerus sepanjang perjalanan. Di dalam benaknya yang masih kabur dan lemah, kata-kata terakhir Kakek Tian Lao terus berputar dan bergema berulang kali, menimbulkan rasa cemas dan kegelisahan yang dalam di lubuk hatinya.
"Di atas langit masih ada langit lain... Istana Surga Gelap... Dan mereka sudah mengincarmu sejak lama..."
Semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa sepanjang hidupnya selama ini, ia sebenarnya hanyalah sosok kecil yang bergerak di dalam alur rencana raksasa yang diatur oleh pihak yang jauh lebih kuat dan berkuasa. Segala penderitaannya, latihannya, pertemuannya dengan Bai Yue, hingga pertarungan besarnya melawan gurunya sendiri... semuanya mungkin sudah diperkirakan dan disiapkan sedemikian rupa sejak ribuan tahun yang lalu. Memikirkan hal itu membuatnya merasa marah sekaligus jijik, hatinya bergolak hebat membayangkan ada pihak yang diam-diam mengendalikan nasib dan kehidupan jutaan orang seolah mereka hanyalah mainan murahan yang bisa diatur dan dibuang sesuka hati.
Namun di sisi lain, rasa amarah itu perlahan berubah menjadi semangat yang membara dan tekad yang makin membaja di dalam dadanya.
"Kalau benar semua ini sudah diatur dan direncanakan... Maka kali ini aku akan mengubah rencana itu sepenuhnya," janjinya di dalam hati dengan tegas dan dingin. "Aku tidak peduli siapa mereka, sekuat apa pun kekuatan mereka, atau berapa ribu tahun sejarah dan kekuasaan yang mereka miliki. Selama mereka masih ingin mempermainkan dan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah serta menganggap manusia hanyalah alat demi ambisi mereka... Aku akan datang dan meruntuhkan segala kekuasaan, kedudukan, serta sistem yang mereka bangun dengan darah dan air mata orang lain itu sampai ke akar-akarnya!"
Setelah berjalan terus selama hampir setengah hari, akhirnya mereka melihat dari kejauhan gugusan rumah sederhana yang tersusun rapi di tengah lembah yang hijau dan subur. Asap tipis tampak mengepul perlahan dari cerobong rumah penduduk, dan suara riuh rendah percakapan serta tawa orang terdengar samar terbawa angin. Pemandangan yang begitu damai dan sederhana itu seolah menjadi obat penenang yang ampuh bagi hati dan jiwa mereka yang sudah lelah bertempur dan melihat darah serta kematian terus-menerus selama sekian lama.
Sesampainya di tepi desa, mereka disambut oleh seorang lelaki tua yang tampak ramah dan berwajah teduh. Ia adalah kepala desa di tempat itu, bernama Kakek Su, yang sudah hidup di sana selama lebih dari enam puluh tahun dan dikenal sangat baik hati serta suka menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan tanpa memandang asal-usul atau latar belakang orangnya.
Melihat keadaan kedua remaja itu yang penuh darah, penuh luka, dan tampak sangat lemah, Kakek Su tidak banyak bertanya atau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Dengan sikap yang sopan dan ramah, ia langsung mengajak mereka masuk ke rumahnya, mempersilakan mereka beristirahat di ruangan belakang yang sepi dan sejuk, serta segera memanggil tabib desa untuk memeriksa dan merawat luka-luka yang parah di tubuh mereka berdua.
"Tenanglah di sini, anak-anakku," ujar Kakek Su dengan suara lembut dan menenangkan hati saat ia membawakan semangkuk air hangat untuk mereka minum. "Selama kalian berada di rumahku dan di desa ini, kalian aman dan tenang. Di tempat ini tidak ada pertarungan, tidak ada perselisihan, dan tidak ada urusan dunia persilatan yang masuk. Di sini kita hanya orang biasa yang bekerja keras, saling bantu, dan hidup berdampingan dengan damai. Anggap saja rumah ini sebagai rumahmu sendiri selama kalian butuh tempat berlindung dan istirahat."
Mendengar ucapan tulus dan ramah dari lelaki tua yang asing namun begitu baik itu, hati Bai Yue dan Mo Fei terasa tersentuh dan terisi rasa hangat yang jarang mereka rasakan selama ini. Di saat seluruh dunia di luar sana penuh bahaya, musuh, dan ketidakpastian, di sini mereka menemukan ketenangan dan kebaikan hati yang begitu murni dan sederhana.
"Terima kasih banyak, Kakek," jawab Mo Fei dengan suara lemah namun penuh rasa hormat dan terima kasih yang mendalam. "Kebaikan dan pertolongan Kakek ini tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup kami. Kalau bukan karena Kakek, mungkin kami sudah jatuh dan mati di tengah jalan tanpa ada yang tahu atau melihat."
Kakek Su hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak perlu berterima kasih begitu, Nak. Membantu sesama manusia yang sedang susah dan menderita adalah tugas dan kewajiban kita semua sebagai manusia yang berakal dan berhati nurani. Apa pun kesulitan atau masalah berat yang sedang kalian hadapi di luar sana, ingatlah satu hal ini: Semakin berat ujian dan penderitaan yang kau terima, semakin besar tugas dan tanggung jawab yang disiapkan untukmu di masa depan. Jadi jangan pernah menyerah atau kehilangan harapan, karena selama kau masih tetap berada di jalan yang benar dan tidak melupakan kebaikan hati serta kemanusiaanmu, pasti jalan keluar dan cahaya terang akan muncul di hadapanmu di saat yang tepat."
Setelah mengatakan itu, lelaki tua itu perlahan berjalan meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya rapat-rapat agar mereka bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.
Beberapa hari berlalu sejak mereka tinggal di tempat itu. Di bawah perawatan tabib desa yang ahli dan pengobatan tradisional yang ampuh, serta udara dan lingkungan yang sejuk dan menyehatkan, kondisi fisik mereka perlahan mulai membaik dan pulih sedikit demi sedikit. Luka luar mereka sudah mulai kering dan menutup kembali, dan tenaga tubuh mereka perlahan mulai kembali pulih secara bertahap. Namun meski tubuhnya sudah mulai terasa lebih kuat dan tidak terlalu sakit lagi, Mo Fei tahu betul bahwa kerusakan bagian dalam tubuhnya serta kekosongan sumber tenaga dalamnya masih sangat parah dan butuh waktu yang jauh lebih lama untuk kembali seperti semula.
Suatu sore saat matahari mulai condong ke barat dan sinar keemasannya menyinari seluruh lembah dengan indah dan menyejukkan hati, Mo Fei duduk sendirian di beranda belakang rumah yang menghadap langsung ke arah lembah yang hijau luas dan sungai kecil yang mengalir jernih dan tenang di kejauhan. Ia menatap lurus ke depan, matanya tampak serius dan dalam seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting dan berat di dalam benaknya.
Belum lama kemudian, Bai Yue datang mendekat dan duduk di sampingnya, menyerahkan secangkir teh hangat yang baru saja diseduhnya sendiri.
"Masih memikirkan apa yang dikatakan Kakek Tian Lao saat itu ya?" tanyanya pelan namun tepat sasaran, seolah ia sudah tahu betul apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh pemuda di sampingnya itu.
Mo Fei mengangguk perlahan sambil menerima cangkir teh itu dan meminumnya sedikit demi sedikit untuk menghangatkan tubuh dan tenggorokannya.
"Ya... Aku terus memikirkannya setiap saat, Bai Yue," jawabnya terus terang dan jujur. "Semakin aku memikirkannya, semakin aku sadar bahwa pengetahuan dan pemahaman kita tentang dunia ini ternyata masih sangat dangkal dan sempit sekali. Selama ini kita mengira bahwa kita sudah mengetahui segalanya dan mengerti jalan kehidupan dengan jelas, padahal kenyataannya kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang asal-usul, aturan, dan rahasia besar yang tersembunyi di balik sejarah dan kekuatan yang ada di dunia ini."
Ia menoleh menatap tepat ke mata Bai Yue dengan tatapan yang tajam dan serius.
"Ia mengatakan bahwa ilmu Seribu Jarum Emas yang aku miliki bukanlah ilmu biasa, melainkan warisan kuno yang diciptakan khusus untuk menghadapi dan melawan Istana Surga Gelap. Dan juga dikatakan kalau aku sendiri... atau darah dan kemampuan mataku... adalah kunci utama yang mereka cari selama ini. Kalau benar semua itu, berarti aku harus tahu segalanya mulai dari asal-usulku yang sebenarnya, asal mula ilmu ini, dan sejarah masa lalu yang disembunyikan dari pengetahuan umum selama ribuan tahun lamanya."
"Dan kau sudah tahu di mana harus mencari jawaban atas semua pertanyaan dan kebingunganmu itu kan?" sambung Bai Yue seolah sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Mo Fei selanjutnya.
Mo Fei mengangguk mantap.
"Ya. Di tempat satu-satunya yang menyimpan catatan dan peninggalan paling tua dan paling lengkap di seluruh penjuru benua ini: Menara Pengetahuan Abadi."
Mendengar nama tempat itu, wajah Bai Yue seketika berubah menjadi pucat dan matanya membelalak kaget serta cemas luar biasa.
"Menara Pengetahuan Abadi?!" serunya dengan suara agak tinggi dan kaget. "Mo Fei... Kau tahu betul kan apa dan bagaimana tempat itu sebenarnya? Tempat itu bukan sekadar perpustakaan besar biasa seperti yang orang lain bayangkan! Tempat itu terletak di wilayah yang terlarang, dijaga ketat oleh aturan kuno yang sangat keras dan berat, dan tidak sembarangan orang boleh masuk atau melihat apa yang ada di dalamnya. Bahkan para ketua perguruan besar dan tokoh terkuat pun sering kali diusir atau tidak diizinkan masuk sama sekali, dan banyak di antara mereka yang masuk tidak pernah kembali lagi keluar dengan selamat atau bahkan kembali sama sekali!"
"Aku tahu semuanya itu, Bai Yue," jawab Mo Fei tenang namun tegas. "Aku tahu betul bahaya dan kesulitan untuk bisa masuk dan keluar dari sana dengan selamat. Tapi apa pilihan lain yang kita miliki saat ini? Kalau kita terus berjalan maju tanpa mengetahui apa-apa dan tanpa persiapan yang matang, kita hanyalah seperti serangga kecil yang terbang menuju nyala api besar. Kalau kita benar-benar ingin mengetahui kebenaran, memperkuat kemampuan kita sampai tingkat yang mampu menandingi kekuatan Istana Surga Gelap, dan mengubah takdir yang sudah diatur untuk kita... maka Menara Pengetahuan Abadi adalah satu-satunya jalan dan kunci awal untuk membuka semuanya itu."
Ia memegang erat tangan Bai Yue dan menatap matanya dengan penuh keyakinan dan tekad yang membaja.
"Aku tidak memaksamu untuk ikut bersamaku dan mengambil risiko yang begitu besar dan berbahaya, Bai Yue. Kau sudah banyak mengalami kesulitan dan bahaya demi aku, dan aku tidak mau kau terus-terusan membahayakan nyawamu hanya untuk mengikutiku terus-menerus. Kalau kau mau tetap tinggal di sini atau pergi ke tempat yang aman dan jauh dari segala bahaya, aku mengerti dan menghargai keputusanmu itu sepenuhnya."
Mendengar perkataan itu, seketika wajah Bai Yue berubah menjadi marah dan tersinggung, ia mencabut tangannya dari genggaman Mo Fei dan menatap tajam lurus ke wajah pemuda itu.
"Kau bicara apa sih, Mo Fei?!" serunya dengan nada suara yang sedikit tinggi dan emosi bercampur sedih. "Apakah sampai saat ini kau masih belum mengerti isi hatiku dan apa arti kebersamaan bagi kita selama ini? Bukankah kita sudah berjanji sejak awal untuk menghadapi segala hal bersama-sama, baik itu kemenangan, kesengsaraan, maupun kematian sekalipun? Kenapa sekarang kau bicara seolah-olah kau ingin melepaskanku dan membiarkanku pergi sendiri menjauh darimu? Apakah bagiku hidup di tempat yang aman dan damai tanpa kau di sampingku itu bisa disebut kehidupan yang bahagia dan berarti sama sekali?!"
Air mata mulai menetes perlahan dari sudut matanya saat ia melanjutkan ucapannya dengan suara yang makin lembut namun sangat dalam dan menyentuh hati.
"Di mana pun kau berada, betapa pun berbahayanya tempat itu, dan seberapa jauh pun perjalananmu nanti... di situlah tempatku berada dan jalan yang harus kutempuh juga. Kalau kau pergi ke tempat yang paling berbahaya dan mengerikan di seluruh dunia, aku akan ikut bersamamu dan berjalan di sampingmu selangkah demi selangkah. Kalau kau harus menghadapi seribu musuh terkuat sendirian, aku akan berdiri di sebelah kananmu dan bertarung bersamamu sampai tetes darah terakhirku. Dan kalau kau masuk ke neraka paling gelap dan panas sekalipun... aku akan tetap ikut bersamamu dan tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian sedikitpun. Jadi jangan pernah bicara soal berpisah atau menyuruhku pergi menjauh lagi, karena hal itu tidak akan pernah terjadi selamanya dalam hidupku."
Melihat ketegasan dan kesetiaan yang begitu tulus dan dalam dari gadis di hadapannya itu, hati Mo Fei terasa bergetar hebat dan terisi rasa bahagia serta rasa beruntung yang tak terhingga besarnya. Ia menarik napas panjang dan tersenyum lebar, lalu memeluk erat tubuh gadis itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku, Bai Yue..." bisiknya pelan di telinga gadis itu dengan suara yang lembut dan tulus. "Maaf kalau aku menyakiti hatimu dengan perkataanku yang bodoh itu. Aku janji padamu mulai sekarang dan sampai kapan pun... kita akan berjalan bersama-sama, mengatasi segala rintangan dan bahaya bersama-sama, dan menyelesaikan seluruh perjalanan panjang dan berat ini bersama-sama sampai kita mencapai tujuan akhir dan memperoleh kebebasan yang sesungguhnya."
Bai Yue membalas pelukan itu dengan erat dan menempelkan wajahnya di dada bidang Mo Fei, mendengarkan detak jantungnya yang kuat dan tenang, merasa aman dan damai seolah tidak ada bahaya atau kesulitan apa pun yang sanggup menyentuh atau mengganggu mereka selama mereka tetap bersatu dan saling memegang erat satu sama lain.
"Baiklah kalau begitu," ujar Mo Fei perlahan setelah melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bai Yue dengan mata yang bersinar penuh semangat dan tekad baru. "Setelah tubuh kita pulih sepenuhnya dan tenaga kita kembali utuh, kita akan berangkat menuju ke sana, menuju Menara Pengetahuan Abadi, tempat di mana segala rahasia kuno tersimpan rapat selama ribuan tahun lamanya. Di sana kita akan mencari segala jawaban, memperkuat kemampuan kita,dan membuka jalan bagi perjalanan panjang kita selanjutnya menuju tempat yang jauh lebih tinggi dan jauh lebih berbahaya lagi."
Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya di balik lereng gunung, meninggalkan semburat warna merah keemasan yang indah di sepanjang cakrawala, seolah menjadi saksi bisu atas janji suci dan tekad kuat yang baru saja diucapkan oleh kedua anak manusia itu. Di saat yang sama, angin malam mulai bertiup lembut, membawa serta suara gemercik air sungai dan suara serangga malam yang mulai terdengar, menciptakan suasana yang begitu damai dan menenteramkan hati. Namun di balik ketenangan dan keindahan itu, keduanya tahu betul bahwa keputusan yang baru saja mereka ambil itu akan mengubah seluruh jalan hidup dan nasib mereka selamanya, membawa mereka masuk ke dalam pusaran peristiwa dan rahasia besar yang sudah tersembunyi selama ribuan tahun lamanya.
Beberapa minggu berlalu dengan cepat sejak hari itu. Di bawah lingkungan yang sejuk, udara yang bersih, serta pengobatan dan makanan yang bergizi serta alami yang disediakan oleh Kakek Su dan penduduk desa, akhirnya keadaan tubuh dan tenaga mereka pulih kembali secara utuh dan sempurna, bahkan terasa lebih kuat dan segar dibandingkan sebelum mereka terluka parah di puncak gunung dulu. Luka-luka di tubuh mereka sudah sembuh total, tidak meninggalkan bekas yang mengganggu sedikitpun, dan aliran tenaga dalam di sekujur tubuh mereka kini mengalir lancar dan kuat kembali seolah tidak pernah terganggu atau rusak sama sekali sebelumnya.
Namun meski fisik dan tenaga mereka sudah kembali sempurna, selama masa pemulihan itu Mo Fei sadar betul bahwa ada satu hal yang masih sangat jauh dari cukup dan butuh perbaikan besar secepat mungkin: Tingkat dan kualitas kemampuannya saat ini.
Sejak ia berhasil mengeluarkan jurus pamungkasnya dan mengalahkan Kakek Tian Lao, ia menyadari dengan sangat jelas bahwa tenaga yang ia gunakan saat itu bukanlah tenaga yang dikumpulkan dan dilatih secara bertahap seperti biasa, melainkan tenaga yang muncul secara tiba-tiba karena didorong oleh perasaan yang kuat dan tekad yang membaja di saat genting. Itu berarti kemampuan itu hanyalah semburat kekuatan sesaat yang muncul karena keadaan khusus, bukan kekuatan yang ia kuasai sepenuhnya dan bisa ia keluarkan kapan saja sesuka hatinya. Kalau di masa depan ia menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dan hebat, serta di saat ia tidak memiliki dorongan atau keadaan yang mendukung seperti saat itu, maka kemungkinan besar ia akan kalah dan binasa seketika tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri.
"Tenagaku saat ini masih berada di tingkatan dasar yang sangat rendah dan terbatas," bisiknya dalam hati sambil memejamkan matanya dan merasakan aliran tenaga yang berputar perlahan di dalam saluran tubuhnya. "Aku mengira setelah bertahun-tahun belajar dan berlatih, serta mengalahkan banyak lawan kuat, aku sudah termasuk di antara orang-orang yang hebat dan tinggi tingkatannya. Tapi ternyata di mata mereka yang berkuasa dan mengatur segalanya, kekuatanku ini hanyalah sebutiran debu yang bahkan belum layak disebut sebagai kemampuan sama sekali."
Sadar akan kenyataan pahit itu, sejak hari itu Mo Fei mulai mengubah seluruh cara latihan dan tujuannya sepenuhnya. Selama masa tinggalnya di desa yang tenang itu, setiap hari dari pagi hingga larut malam ia menghabiskan waktunya untuk berlatih dan memperdalam pemahamannya mengenai hakikat dan dasar ilmu yang ia miliki. Ia tidak lagi hanya fokus pada gerakan, serangan, atau cara penggunaan tenaga seperti yang ia pelajari dari gurunya dulu, melainkan ia mencoba menelusuri asal mula, inti sari, dan hukum alam yang mendasari terbentuknya ilmu itu. Ia sadar benar bahwa untuk mencapai tingkatan yang benar-benar tinggi dan hebat, ia tidak boleh hanya menjadi pengikut atau pengguna ilmu semata, melainkan ia harus mengerti dan memahami segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, hingga pada akhirnya ia mampu menciptakan jalannya sendiri dan aturannya sendiri yang tidak terikat oleh apa pun atau siapapun di dunia ini.
Dan tentu saja, Bai Yue selalu ada di sampingnya menemani dan turut berlatih bersamanya setiap saat. Meskipun ilmunya berbeda dan jalan yang ditempuhnya tidak sama persis dengan Mo Fei, namun keduanya saling melengkapi, saling bertukar pendapat, dan saling mengoreksi kesalahan yang masing-masing buat. Berkat kebersamaan dan kerja keras mereka yang sungguh-sungguh itu, kemampuan dan pemahaman keduanya berkembang dengan sangat cepat dan melonjak naik jauh melebihi perkiraan siapa pun, bahkan melebihi perkiraan mereka sendiri sekalipun.
Hingga akhirnya tibalah hari di mana mereka memutuskan bahwa waktunya sudah tepat untuk meninggalkan tempat yang telah memberikan keselamatan dan ketenangan bagi mereka selama beberapa waktu itu. Di pagi hari yang cerah dan sejuk, saat kabut tipis masih menyelimuti lembah dan sinar matahari mulai perlahan menembus di antara celah-celah bukit, keduanya berpamitan kepada Kakek Su dan seluruh penduduk desa yang selama ini telah bersikap begitu baik dan ramah kepada mereka.
"Terima kasih banyak Kakek, dan terima kasih juga kepada seluruh warga desa," ujar Mo Fei dengan nada suara yang tulus dan penuh rasa hormat yang mendalam. "Tanpa pertolongan dan kebaikan hati kalian, mungkin kami sudah tiada dan lenyap dari dunia ini sejak lama. Jasa dan kebaikan yang kalian berikan kepada kami tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup kami, dan kalau di masa depan nasib kami berjalan baik dan kami berhasil melewati segala bahaya dan rintangan yang ada di depan, kami pasti akan kembali lagi ke sini untuk menjenguk dan membalas segala kebaikan yang telah kalian berikan kepada kami."
Kakek Su tersenyum lembut dan mengangguk perlahan, matanya menatap keduanya dengan pandangan yang penuh rasa kasih sayang dan doa yang tulus.
"Pergilah anak-anakku... Ikutilah jalan yang telah ditentukan untuk kalian, dan capailah tujuan mulia yang kalian cita-citakan setinggi langit," ujarnya dengan suara yang berat namun menenangkan hati. "Ingatlah selalu apa yang pernah kukatakan padamu dahulu: Selama kalian tetap berada di jalan yang benar, tidak melupakan rasa kemanusiaan, dan tetap menjaga hati kalian tetap suci dan bersih, maka kekuatan apa pun dan rintangan sebesar apa pun tidak akan sanggup menjatuhkan atau menghancurkan kalian. Aku dan seluruh penduduk desa ini akan selalu mendoakan keselamatan dan keberhasilan kalian di mana pun kalian berada dan sejauh apa pun kalian melangkah. Anggaplah tempat ini sebagai rumahmu sendiri yang akan selalu terbuka lebar menanti kedatangan kalian kembali kapan saja kalian mau."
Setelah mengucapkan salam perpisahan dan terima kasih untuk terakhir kalinya, Mo Fei dan Bai Yue pun membalikkan badan dan mulai melangkah pergi menjauhi desa yang tenang itu, meninggalkan tempat yang telah menjadi saksi atas penyembuhan tubuh dan jiwa mereka, serta menjadi titik tolak bagi perjalanan baru mereka yang jauh lebih besar dan berat ke depannya.
Sesampainya mereka di ujung jalan setapak yang mulai menanjak naik menjauhi lembah itu, Mo Fei berhenti sejenak dan menoleh ke belakang untuk melihat pemandangan desa yang kini mulai tampak kecil dan jauh di bawah sana. Wajahnya tampak serius dan matanya menatap tajam ke kejauhan di mana letak Menara Pengetahuan Abadi berada, tempat tujuan pertama mereka dalam rencana panjang ini.
"Menara Pengetahuan Abadi... Aku datang," bisiknya perlahan namun tegas. "Siapkan dirimu untuk menjawab segala pertanyaanku, dan siapkan pula segala rahasia yang selama ini kau simpan rapat di dalam dadamu. Karena mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia yang akan tersembunyi dariku, dan tidak ada lagi kekuatan yang sanggup menghentikan langkahku sampai aku mencapai puncak tertinggi dan mengubah seluruh nasib dunia ini sepenuhnya."
Di sampingnya, Bai Yue mengangguk mantap dan mencengkeram erat lengan pemuda itu, tatapan matanya juga sama tajamnya dan penuh semangat membara yang takkan pernah padam.
"Ya, kita datang bersamanya... Dan apa pun yang menanti kita di sana, kita akan hadapi dan lewati bersama-sama sampai ke akhir perjalanan ini," sambungnya tegas dan mantap.
Dengan tekad yang membaja dan semangat yang berkobar di dalam dada, keduanya pun kembali melangkah maju dengan langkah yang mantap dan gagah, menghilang perlahan di balik rimbunnya pepohonan dan bukit batu, menuju perjalanan panjang yang penuh misteri, bahaya, dan kejutan yang sama sekali belum mereka ketahui bentuk dan rupa apa yang akan dihadapi di masa depan yang masih sangat panjang di hadapan mata mereka.