Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17 : ANTARA KEAJAIBAN DAN PENGKHIANATAN DARAH
Bau antiseptik yang menusuk di ruang ICU seolah-olah mengkristalisasi waktu. Di dalam ruangan kedap suara itu, hanya terdengar irama monoton dari mesin ventilator yang memompa udara ke paru-paru Papa Arkatama. Devan berdiri di sisi ranjang, menatap tubuh pria yang selama ini menjadi kompas hidupnya. Pria yang biasanya tampak tak terkalahkan dengan setelan jas mahalnya, kini terlihat begitu rapuh dalam balutan gaun pasien berwarna biru pucat.
Tangan Devan gemetar saat ia meraih telapak tangan ayahnya yang terasa dingin dan kaku. Ia berlutut di samping ranjang, menundukkan kepala hingga keningnya menyentuh pinggiran tempat tidur.
"Pa..." suara Devan pecah. "Aku di sini. Si pembohong ini ada di sini."
Di luar ruangan, Anya menatap suaminya melalui kaca transparan. Air matanya tak berhenti mengalir. Di sampingnya, Mama Arkatama terus merapal doa dengan tasbih di tangannya. Namun, ketenangan itu terusik oleh suara derap langkah kaki yang terburu-buru dan berisik dari ujung lorong.
Tiga orang pria paruh baya dengan setelan jas yang tampak terlalu dipaksakan mewah muncul. Mereka adalah Om Bram dan Tante Melinda, adik-adik dari Papa Arkatama, ditemani oleh putra mereka, Rico, sepupu Devan yang selama ini selalu iri dengan jabatan CEO yang dipegang Devan.
"Di mana kakakku?!" seru Om Bram dengan suara keras, sama sekali tidak menghargai ketenangan rumah sakit.
Mama Arkatama berdiri, menyeka air matanya dengan martabat yang masih tersisa. "Bram, kecilkan suaramu. Kakakmu sedang kritis di dalam."
"Kritis atau sudah tidak ada harapan, Mbak?" sahut Tante Melinda dengan nada sinis. "Kami mendengar berita buruk. Bukan cuma soal kesehatan Kak Arka, tapi soal pernikahan Devan yang katanya hanya tipuan untuk mengamankan saham. Kalau itu benar, Devan sudah melanggar konstitusi keluarga kita!"
Anya melangkah maju, menghalangi jalan mereka menuju pintu ICU. "Ini bukan tempat untuk berdebat soal saham atau konstitusi keluarga. Papa sedang berjuang untuk hidupnya!"
Rico menatap Anya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Oh, ini dia sang arsitek yang harganya dua belas miliar itu? Hebat juga kamu, bisa masuk ke keluarga kami lewat pintu belakang. Tapi dengar ya, kalau Om Arka lewat, pernikahan kontrak kalian tidak punya kekuatan hukum di depan dewan direksi. Devan harus turun, dan hartanya harus dibagi rata!"
"Kalian benar-benar tidak punya hati," desis Anya. "Kakak kalian sedang sekarat di sana, dan yang kalian pikirkan hanya angka?"
"Dunia ini memang soal angka, Sayang," balas Om Bram dingin. "Devan sudah menipu kita semua. Kami akan memanggil pengacara keluarga malam ini juga untuk membekukan akses Devan ke rekening perusahaan sebelum dia menguras semuanya untuk membayar hutang ibumu yang bangkrut itu."
...****************...
Di dalam ruangan, Devan tidak mendengar keributan di luar. Dunianya hanya berisi ayahnya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Papa Arkatama, membisikkan sesuatu yang selama ini ia kunci rapat di dalam jiwanya.
"Pa, maafkan aku soal kontrak itu. Aku melakukannya karena aku bodoh, karena aku pikir Papa hanya peduli pada kesuksesan bisnis. Aku takut mengecewakan Papa," Devan terisak, air matanya jatuh ke punggung tangan ayahnya. "Tapi Pa, tolong dengarkan aku... soal Anya, aku tidak berbohong. Dia adalah satu-satunya hal terbaik yang pernah terjadi padaku. Aku mencintainya, Pa. Aku benar-benar mencintainya sekarang. Kontrak itu sudah aku bakar dalam hatiku. Jika Papa bangun, aku berjanji akan memberikan pernikahan yang nyata, cucu-cucu yang Papa inginkan, dan aku akan menjadi putra yang Papa banggakan..."
Devan meremas tangan ayahnya lebih kuat. "Tolong, jangan pergi saat Papa sedang membenciku. Beri aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa cinta yang Papa ajarkan itu benar-benar ada."
Tiba-tiba, mesin monitor yang tadinya berbunyi stabil mulai mengeluarkan suara peringatan yang melengking. Tiiiiiit! Garis di layar monitor mulai mendatar.
"Dokter! Suster!" teriak Devan panik.
Tim medis berhamburan masuk. Devan didorong keluar ruangan oleh para perawat. Di lorong, Om Bram dan Rico justru terlihat saling lirik dengan binar mata yang seolah mengatakan 'ini saatnya'.
"Sudah kubilang, dia tidak akan selamat," gumam Rico tanpa dosa.
Mama Arkatama histeris, jatuh pingsan di pelukan Anya. Devan berdiri mematung di depan pintu kaca, melihat dokter melakukan CPR pada ayahnya. Alat kejut jantung disiapkan.
"Satu... dua... Shock!"
Tubuh Papa Arkatama terangkat dari ranjang, namun garis di monitor masih tetap datar. Devan jatuh terduduk di lantai, menutup wajahnya dengan tangan. Ia merasa dunianya hancur. Ia merasa telah membunuh ayahnya dengan kebohongannya sendiri.
Anya berlari memeluk Devan. "Jangan menyerah, Devan! Papa kuat!"
"Sekali lagi! Shock!" teriak dokter di dalam.
Keheningan yang mematikan menyelimuti lorong itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Bahkan Om Bram dan keluarganya terdiam, menunggu pengumuman kematian yang mereka dambakan.
Tiba-tiba, suara beep... beep... beep... kembali terdengar.
Dokter di dalam tampak menghela napas lega, menyeka keringat di dahinya. Garis di monitor tidak lagi datar, melainkan menunjukkan grafik detak jantung yang meski lemah, namun stabil. Lebih ajaibnya lagi, jari tangan Papa Arkatama yang tadi digenggam Devan tampak bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar.
Dokter keluar dengan wajah yang masih tegang namun ada secercah harapan. "Ini keajaiban. Jantungnya sempat berhenti hampir dua menit, tapi dia kembali. Dan sepertinya... dia merespons suara Tuan Devan. Kondisinya stabil untuk saat ini, meskipun dia masih dalam masa kritis."
Om Bram tampak pucat pasi. "Bagaimana mungkin? Dia sudah stadium akhir!"
Devan berdiri, matanya yang merah kini memancarkan api yang sangat berbeda. Ia berjalan mendekati Om Bram dan Rico. Aura kepemimpinan Arkatama yang asli terpancar dari dirinya, membuat paman dan sepupunya itu mundur beberapa langkah.
"Kalian dengar itu? Papa masih hidup," ucap Devan dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Dan mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan satu pun dari kalian menyentuh pintu ruangan ini. Pergi dari sini sebelum aku memerintahkan keamanan rumah sakit untuk menyeret kalian keluar secara tidak hormat."
"Devan, jangan sombong! Kami punya bukti kontrak itu!" teriak Rico.
"Bawa bukti itu ke pengadilan jika kalian berani," tantang Devan. "Tapi ingat, Arkatama Shipping memiliki tim hukum terbaik di negeri ini. Dan aku tidak akan ragu menghancurkan siapa pun yang mencoba memanfaatkan sakitnya Papaku untuk kepentingan pribadi. Pergi!"
Melihat kemarahan Devan yang meledak, Om Bram dan keluarganya akhirnya pergi dengan menggerutu, menyadari bahwa mangsa mereka belum benar-benar jatuh.
Setelah keadaan tenang, Mama Arkatama tersadar dari pingsannya. Ia melihat Devan dan Anya yang saling berpegangan tangan di depan ruang ICU.
"Dia... dia masih ada, Ma," bisik Devan sambil membantu Mamanya duduk.
Mama Arkatama menatap Devan, lalu beralih ke Anya. Ia melihat bagaimana Anya begitu tulus mendukung anaknya di masa paling sulit ini. Kemarahan di hati sang Mama mulai luruh, digantikan oleh pemahaman baru.
"Devan, Anya..." Mama Arkatama memegang tangan mereka berdua. "Mama minta maaf karena sudah meledak tadi. Mama hanya takut kehilangan Papa. Dan soal kontrak itu... Mama sadar, mungkin itu cara takdir membawa kalian bersama. Kalian berdua melakukan hal yang salah dengan alasan yang bisa Mama mengerti."
Anya mencium tangan mertuanya. "Terima kasih, Mama. Anya janji, mulai sekarang tidak akan ada lagi rahasia. Anya akan mencintai Devan dan menjaga keluarga ini dengan segenap jiwa Anya."
Malam itu, meskipun Papa Arkatama belum sepenuhnya sadar, ada kedamaian baru yang tumbuh di antara mereka. Di koridor rumah sakit yang dingin, sebuah keluarga yang tadinya retak karena kebohongan dan keserakahan, mulai merekat kembali lewat air mata dan kejujuran.
Namun, di kegelapan parkiran rumah sakit, Rico sedang menelepon seseorang. "Halo, Pak Hendra? Rencana kita gagal. Si tua itu hidup lagi. Kita butuh rencana B. Sebarkan dokumen kontrak itu ke seluruh media sosial besok pagi. Biar mereka hancur lewat opini publik."
Perang sesungguhnya baru saja dimulai.