Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Luka Yang Terungkap.
Pagi itu, suasana kediaman keluarga Anderlecht di Spanyol terasa tenang. Victor William Anderlecht duduk di meja makan bersama dua adiknya, Albert dan Sean. Aroma roti panggang dan kopi baru terseduh memenuhi ruangan.
“Kak…” panggil Albert dan Sean hampir bersamaan.
Victor meletakkan cangkirnya. “Iya? Ada apa kalian pagi-pagi sudah serius begitu?”
Sean menatap Victor dengan ekspresi yang jarang muncul khawatir.
“Aku memikirkan Kak Liora,” ucapnya pelan. “Sudah lima tahun sejak Ayah dan Ibu pergi... tapi Kakak belum mau membuka hatinya lagi. Dia bahkan tidak pernah membicarakan soal menikah.”
Albert mengangguk kuat, seperti menegaskan keresahan itu.
“Kita juga sudah sering bilang supaya Kak Liora memikirkan masa depannya… tapi dia selalu menghindar.”
Victor menghela napas panjang. “Aku juga tidak tahu harus bagaimana. Sejak Ayah dan Ibu meninggal, dia seperti kehilangan cahaya dalam hidupnya.”
Sean tampak ragu sejenak. Namun akhirnya ia bicara.
“Tapi Kak… aku dengar sesuatu dari asistennya, Kenzo…”
Victor dan Albert langsung fokus.
“Katanya Kak Liora… sedang dekat dengan seorang pria,” lanjut Sean, lirih.
Victor dan Albert langsung tersedak hampir bersamaan.
“Uhuk! Apa?!” seru mereka kaget.
Sean mengangguk mantap. “Nama pria itu Adrian Warinata. Kenzo bilang… Kak Liora menolongnya waktu dia hampir tertabrak mobil.”
Victor menatap adiknya tajam seolah ingin memastikan ucapan itu bukan lelucon.
“Kau yakin?”
“Aku juga sempat melihat mereka bersama. Waktu aku pulang dari kampus,” jawab Sean.
Ruangan mendadak sunyi. Lalu Victor berdiri sambil meraih jasnya.
“Kalau begitu… kita ke Italia.” Suaranya tegas, tak memberi ruang untuk bantahan.
Albert dan Sean saling pandang.
“Malam ini,” tambah Victor.
“Kami ikut, Kak!” jawab keduanya kompak.
Malam itu juga, ketiganya terbang ke Italia tanah tempat Liora kini tinggal seorang diri. Meski mereka bertiga sudah menjalani kehidupan masing-masing di Spanyol, hubungan mereka dengan Liora tak pernah pudar. Bagi mereka, Liora bukan hanya kakak. Ia adalah pelindung, pengganti orang tua, dan wanita paling berharga dalam hidup mereka.
Mansion Keluarga Anderlecht Italia
Ting tong.
Pintu besar mansion terbuka. Kepala pelayan langsung membungkuk.
“Selamat datang, Tuan muda Victor, Albert, dan Sean. Silakan masuk.”
Para maid bergerak cepat memberi tahu Liora.
Tok tok tok.
“Nyonya, Tuan muda sudah tiba.”
Liora yang sedang mengompres kening Adrian terkejut mendengarnya.
“Baik. Aku akan turun,” ujarnya, lalu bangkit dan menuju ruang tamu.
Saat melihat ketiga adiknya, wajahnya langsung cerah.
“Boys!” serunya.
“Kakak!” Mereka bertiga memeluknya erat, seperti anak-anak yang sudah lama tak bertemu ibu.
“Kapan kalian sampai? Kenapa tidak memberi tahu Kakak dulu?” Liora mengetuk dahi mereka satu per satu.
“Aduh! Kak!” keluh mereka sambil tertawa kecil.
Liora ikut tertawa. “Kakak senang kalian datang. Ada apa sampai repot-repot ke sini?”
Victor tidak menunda waktu. Tatapannya berubah serius.
“Kak… kami ingin bertanya sesuatu. Apa benar Kakak dekat dengan pria bernama Adrian Warinata?”
Albert dan Sean langsung memasang wajah penyelidik.
Liora terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Kakak hanya menolongnya. Dia tidak punya tempat tinggal… jadi Kakak membawanya ke sini.”
Albert menyipitkan mata penuh curiga.
“Yakin cuma menolong?”
Sean bersandar santai. “Kak… kalau Kakak suka sama dia, bilang saja. Kami tidak akan marah.”
“Benar,” tambah Victor.
Liora menarik napas. “Kalian ini… selalu saja.”
Ia menunduk pelan.
“Entahlah… Kakak sendiri bingung. Kakak pernah bersumpah tidak akan menikah… tidak akan membuka hati setelah Ayah dan Ibu pergi.”
Ketiga adiknya terdiam menghormati luka masa lalu itu.
“Tapi… entah kenapa… hanya dengan dia… Kakak merasa hidup lagi. Seperti kembali menjadi diri Kakak yang dulu.”
Victor tersenyum lembut. “Mungkin… ini yang Ayah maksud dalam mimpi Kakak waktu itu.”
Liora membeku sejenak. Kata-kata Victor mengusik hatinya.
“Mungkin Ayah ingin Kakak menemukan kebahagiaan lagi,” lanjut Victor.
Albert dan Sean mengangguk mantap.
“Iya, Kak.”
Liora tersenyum, meski tipis. “Terima kasih… kalian memang harta paling berharga bagi Kakak.”
Sean mendongak. “Ngomong-ngomong, di mana pria itu?”
“Di kamar,” jawab Liora. “Dia sedang sakit… dan sepertinya punya trauma berat.”
Victor mengangguk. “Kalau begitu, sembuhkan dia dulu.”
Albert tersenyum nakal. “Tapi Kak… kami sih setuju kalau Kakak menikah dengannya.”
Liora menggeleng kecil. “Dasar. Sudahlah. Fokus dulu pada kesembuhannya.”
Malam Hari
Setelah ketiga adiknya masuk ke kamar masing-masing, Liora berjalan pelan menuju kamar Adrian. Ia membuka pintu perlahan.
“Jangan… jangan pukul aku…”
Suara Adrian terdengar lirih dari dalam tidurnya. Tubuhnya berkeringat dingin.
Liora langsung berlari menghampiri.
“Adrian…” Ia mengusap pipinya lembut. “Bangun, hey…”
Adrian tersentak bangun dan tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk Liora erat-erat seperti seseorang yang ketakutan kehilangan satu-satunya tempat berlindung.
“Aku takut…” bisiknya.
Liora membelai rambutnya. “Kenapa kamu selalu ketakutan seperti ini?”
Ia menatap mata Adrian, memintanya membuka diri.
“Ceritakan padaku. Aku di sini untukmu.”
Butuh waktu beberapa detik sampai Adrian akhirnya berbicara.
“Aku… punya trauma…”
Suara itu pecah, bergetar.
“Ibuku meninggal saat melahirkanku…”
Liora menahan napas.
“Ayahku benci aku karena itu. Dia bilang aku pembawa sial…”
Air mata mengalir di pipi Adrian.
“Saat ayah menikah lagi… hidupku semakin hancur. Aku dipukul, dihina, dipaksa bekerja seperti budak… bahkan…”
Ia menutup muka dengan tangannya.
“Aku dijual…”
Kalimat itu nyaris tak terdengar.
Liora mengepalkan tangan, menahan amarah, dan juga rasa sakit yang mencubit hatinya.
“Dan aku kabur… sampai akhirnya bertemu denganmu…”
Hening panjang mengisi ruangan.
Liora menggenggam tangannya. “Adrian… kamu tidak sendiri lagi.”
“Aku takut…” ucap Adrian lirih.
“Ada aku di sini,” jawab Liora lembut namun tegas.
Ia menghela napas.
“Aku… mencintaimu, Adrian.”
Adrian membeku.
“A-Apa…?”
“Aku tidak tahu kapan tepatnya… tapi kamu membuatku kembali merasakan hidup.”
Air mata Adrian jatuh lagi, kali ini karena kelegaan.
“Kau… mencintaiku?”
“Iya.”
Liora mengusap air matanya.
“Aku akan melindungimu. Aku akan membantumu melawan masa lalu itu.”
Adrian menggenggam tangannya semakin kuat.
“Aku ingin berubah… Aku ingin melawan semua ketakutanku.”
“Aku akan membantumu,” jawab Liora tanpa ragu sedikit pun.
Adrian memeluknya erat. “Terima kasih…”
Liora tersenyum lembut. “Sekarang tidurlah.”
Adrian menahan tangannya. “Tetap di sini…”
Liora mengangguk. “Baik.”
Malam itu… mereka tertidur berdampingan dalam keheningan yang hangat.
Bukan karena cinta yang sempurna.
Namun karena dua jiwa yang sama-sama terluka…
Akhirnya menemukan tempat pulang.
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya…
Hati Liora yang beku selama bertahun-tahun
Mulai mencair perlahan.