Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Amanat di Ambang Malam
Angin gunung semakin dingin menusuk tulang, namun suasana di meja restoran atas tebing itu terasa hangat oleh kejujuran yang baru saja terucap. Davit Jacob menatap kosong ke arah kegelapan lembah, tempat lampu-lampu kota mulai berkelap-kelip seperti taburan permata—perhiasan yang sangat disukai oleh menantunya.
"Aku sudah tahu semuanya, Vanya," ucap Davit tiba-tiba, suaranya berat dan sarat akan kekecewaan. "Tentang rencana Olivia. Dia pikir aku buta, tidak melihat bagaimana dia diam-diam memindahkan aset dan melobi dewan direksi untuk menaikkan Karlo."
Vanya tertegun. Ia tahu ibu mertuanya pilih kasih, tapi ia tidak menyangka Olivia Jacob berani bermain api sejauh itu di belakang suaminya sendiri.
"Olivia ingin Karlo yang berkuasa, karena Karlo lebih mudah dikendalikan. Devan? Dia terlalu keras kepala, dan Olivia tahu itu. Dia berniat menyingkirkan Devan pelan-pelan agar Karlo naik ke puncak sendirian," lanjut Davit. Ia kemudian menoleh, menatap tepat ke manik mata Vanya.
"Vanya," panggil Davit dengan nada memohon yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Papa titip Devan, ya? Setidaknya sampai dia sadar di mana posisinya sekarang. Anak itu sedang berjalan menuju jurang yang disiapkan ibunya sendiri, dan hanya kamu yang cukup pintar untuk menariknya kembali."
Vanya merasa jantungnya berdegup kencang. Tanggung jawab ini terasa jauh lebih berat daripada mengelola sepuluh perusahaan perhiasan sekaligus. "Pah, kok bilang begitu sih? Papa masih sehat, Papa bisa mengaturnya sendiri."
Davit tertawa kecil, sebuah tawa getir yang pecah di kesunyian malam. "Haha... mungkin karena aku merasa sudah tua, Vanya. Kekuatan fisikku mungkin masih ada, tapi hatiku lelah melihat istri dan anak-anakku sendiri saling sikut demi harta."
Davit mengusap wajahnya, lalu menatap Vanya dengan bangga. "Aku sangat bersyukur. Aku bersyukur kamu adalah anak si tua bangka itu."
Vanya tersenyum mendengar Davit menyebut ayahnya, Benjamin, dengan sebutan "tua bangka". Di dunia bisnis, kedua pria itu adalah rival abadi yang saling menghormati sekaligus saling melempar ejekan pedas.
"Papa selalu menyebut Ayah begitu," ucap Vanya sambil terkekeh pelan.
"Karena dia memang keras kepala! Tapi dia berhasil mendidikmu menjadi berlian yang luar biasa," Davit ikut tertawa. Suasana haru tadi perlahan mencair oleh tawa mereka yang bergema di atas tebing.
"Pah, nggak ikut pulang?" tanya Vanya saat melihat asisten Davit mulai mendekat untuk merapikan meja.
"Aku masih ingin lama di sini, menghirup udara yang tidak penuh dengan kebohongan," Davit menepuk tangan Vanya. "Kamu pulanglah duluan, sudah malam. Supir akan mengantarmu sampai ke dalam mansion."
Sementara itu, di kediaman Jacob, suasana tidak sedamai di atas tebing. Di dalam ruang kerja pribadi Karlo, Rose sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas yang berlebihan. Di depannya, Karlo duduk dengan segelas wiski di tangan, mencoba menenangkan diri setelah insiden rapat pagi tadi.
"Mah, wanita itu bakal jadi penghalang kita!" seru Rose saat Olivia masuk ke dalam ruangan. "Mama lihat sendiri kan di kantor tadi? Ayah lebih membela Vanya daripada anak kandungnya sendiri! Bagaimana kalau rencana kita untuk menaikkan Karlo gagal karena dia?"
Olivia Jacob menghempaskan tubuhnya ke sofa mewah dengan anggun, meskipun matanya memancarkan kemarahan yang tertahan. Ia merasa otoritasnya sebagai nyonya besar di rumah itu mulai terancam oleh menantu yang selama ini ia injak-injak.
"Kamu ini kok seheboh itu sih, Rose?" ucap Olivia dengan nada meremehkan. "Memang sehebat apa dia? Dia hanya anak kecil yang kebetulan belajar membaca laporan keuangan. Dia tidak punya kekuasaan, tidak punya suara di dewan direksi."
"Tapi Ma, Ayah membawanya pergi tadi! Mereka pergi berdua!" Rose bersikeras. "Vanya itu diam-diam menghanyutkan. Aku takut dia mulai mempengaruhi Ayah untuk tetap mempertahankan Devan, atau lebih buruk lagi, dia yang ingin mengambil alih!"
Karlo mendengus pelan. "Sudahlah, Ma. Rose benar, Vanya tadi sangat berbeda di kantor. Dia tahu hal-hal yang bahkan tim auditku tidak tahu. Kita tidak bisa lagi menganggapnya hanya sebagai 'pajangan'."
Olivia menyipitkan matanya. "Kalau begitu, kita harus mencari tahu dari mana dia mendapatkan kekuatan itu. Selama ini dia hanya di rumah, tapi tiba-tiba jadi jenius bisnis? Tidak mungkin."
Olivia berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke halaman depan. "Tenang saja. Sehebat apa pun dia, dia masih terikat status sebagai istri Devan. Dan Devan... anak itu masih berada di bawah kendaliku. Selama Devan tidak peduli padanya, Vanya tidak akan punya kekuatan apa-apa di rumah ini."
Tepat saat itu, sorot lampu mobil Bentley memasuki halaman mansion. Olivia melihat Vanya turun dari mobil sendirian, melangkah masuk ke dalam rumah dengan kepala tegak dan aura yang jauh lebih tenang daripada saat ia berangkat pagi tadi.
"Lihat saja," desis Olivia. "Berlian secantik apa pun, jika diletakkan di tempat yang salah, tetap akan terlihat seperti batu kerikil. Aku akan memastikan dia tahu tempatnya kembali."
Di lantai dua, dari balik jendela kamarnya yang gelap, Devan juga memperhatikan kepulangan istrinya. Ia memegang ponsel yang menampilkan pesan singkat dari Kenzi: "Tuan, Nona Vanya pergi ke Restoran Tebing bersama Tuan Besar. Mereka bicara berdua selama tiga jam."
Rahang Devan mengeras. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya—rasa tersisih, marah, dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Mengapa ayahnya lebih memilih bicara dengan istrinya daripada dengannya? Dan rahasia apa yang sebenarnya mereka bagi di atas tebing itu?
Malam itu, di bawah atap mansion Jacob yang megah, garis peperangan telah ditarik. Di satu sisi ada keserakahan Olivia dan Karlo, di sisi lain ada Davit yang mulai lelah, dan di tengah-tengahnya ada Vanya—wanita yang kini menjadi kunci bagi masa depan seluruh dinasti Jacob.
Setelah kepergian Vanya dari restoran di atas tebing, Pak Davit tidak langsung pulang. Ia berdiri lama menatap kegelapan, seolah sedang memantapkan sebuah keputusan besar yang telah lama ia pendam. Malam itu juga, ia memanggil dua orang yang paling ia percayai di dunia ini: Andrew, pengacara pribadi yang telah menangani rahasia keluarga Jacob selama tiga dekade, dan Pak Hans, asisten setia yang lebih seperti bayangannya sendiri.
Tanpa memberitahu Olivia maupun anak-anaknya, Pak Davit bersama Andrew dan Pak Hans berangkat menuju Amerika menggunakan jet pribadi. Di sana, di sebuah kantor hukum terpencil yang jauh dari jangkauan mata media maupun mata-mata Olivia, sebuah dokumen rahasia disusun. Dokumen itu adalah wasiat terakhir yang isinya sangat mengejutkan, sebuah rencana besar untuk menyelamatkan Jacob Group dan memberikan keadilan bagi mereka yang disia-siakan.
"Ingat Andrew, Hans," ucap Pak Davit dengan suara serak namun tegas saat menandatangani lembar terakhir. "Hanya kalian berdua yang boleh memegang dokumen ini sampai waktu yang tepat tiba. Jangan biarkan Olivia atau anak-anakku menyentuhnya."
Dua hari kemudian, tepat pukul dua dini hari di kediaman Jacob, keheningan malam pecah oleh dering telepon yang tak kunjung berhenti. Olivia Jacob yang baru saja terlelap dengan masker wajah mahalnya, terjaga dengan perasaan tidak enak.
Saat ia mengangkat telepon dari Pak Hans, tangisannya meledak seketika.
"APA?! TIDAK MUNGKIN!" teriak Olivia histeris hingga suaranya bergema di seluruh lorong mansion yang sunyi.
Devan, Karlo, dan Rose yang masih terjaga atau terbangun karena teriakan itu, langsung berlarian menuju kamar utama. Mereka menemukan Olivia sudah jatuh terduduk di lantai, meremas telepon dengan tangan gemetar.
"Mama, ada apa?!" tanya Devan panik, mengguncang bahu ibunya.
"Papa kalian... Papa kalian kecelakaan di Amerika..." isak Olivia dengan napas yang memburu. "Pak Hans bilang mobil yang mereka tumpangi dihantam truk... Papa kalian meninggal di tempat!"
Ruangan itu seketika menjadi dingin. Devan membeku, matanya menatap kosong ke arah dinding. Karlo terduduk lesu di sofa, sementara Rose menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya bahwa sang pilar utama keluarga telah tiada. Vanya, yang baru saja keluar dari kamarnya karena keributan itu, berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Ia teringat percakapan terakhir mereka di atas tebing—percakapan yang seolah menjadi firasat perpisahan.
"Keadaannya bagaimana? Pak Hans di mana sekarang?!" cecar Karlo dengan suara bergetar.
"Semuanya siap-siap!" perintah Devan, mencoba mengambil kendali meski suaranya pecah. "Kita berangkat ke Amerika malam ini juga. Kenzi! Siapkan jet pribadi sekarang!"
Di tengah kepanikan dan tangis histeris Olivia yang terus mempertanyakan mengapa suaminya bisa mengalami kecelakaan di sana, Vanya hanya bisa terdiam. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat janggal. Pak Davit pergi ke Amerika secara mendadak tanpa pamit, dan kini ia pulang dalam keadaan tak bernyawa.
Saat keluarga Jacob sibuk berkemas dengan penuh emosi, Vanya teringat tatapan mata Pak Davit di atas tebing. 'Papa titip Devan, ya?' Kalimat itu kini terasa seperti sebuah wasiat yang sangat nyata. Vanya tahu, setelah kematian Pak Davit, perang yang sebenarnya di dalam mansion ini baru saja akan dimulai. Tanpa perlindungan Pak Davit, posisinya dan Devan kini berada dalam bahaya besar di bawah kendali Olivia dan Karlo