NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Celah di Tengah Neraka

 

Hari ke-42 sejak Florence dikurung.

Informasi itu ia dapatkan secara tidak sengaja. Dua orang pengawal yang berjaga di depan kamarnya berbicara dengan suara pelan, mengira tahanan di dalam sudah tertidur.

“Bos ke Singapura. Urusan kartel. Paling cepat tiga hari baru kembali.”

“Baguslah. Kalau Bos ada, napas pun rasanya diawasi.”

Florence yang semula terbaring lemah di lantai, seketika membuka mata. Jantungnya berdegup kencang. Ini dia. Celah yang ia tunggu selama lebih dari sebulan. Lucifer tidak ada di pulau.

Sejak hari itu, strateginya berubah. Ia tidak lagi berteriak atau membanting nampan. Sebaliknya, ia mulai merintih. Pelan pada awalnya, kemudian semakin keras menjelang malam.

Pada hari ke-44, ia melancarkan rencananya.

Tubuhnya ia gulingkan ke lantai, tepat di depan pintu. Nafasnya ia buat tersengal-sengal. Dengan sisa tenaga, ia mengerang kesakitan sambil memegangi perut.

“Tolong... sakit...” suaranya lemah, nyaris tidak terdengar dari luar.

Salah seorang pengawal mengintip dari lubang kecil di pintu baja. Wajahnya panik melihat Florence tergeletak pucat di lantai.

“Hei, bangun! Kamu kenapa?!”

Florence tidak menjawab. Ia hanya menggigil, matanya terpejam, bibirnya membiru. Semua itu akting, tetapi akting dari seorang yang memang sudah kurus dan lemah membuat penampilannya meyakinkan.

Kedua pengawal itu berdiskusi dengan gugup.

“Gawat. Kalau sampai mati, kita yang habis. Bos sudah pesan, asetnya tidak boleh lecet sedikit pun.”

“Tapi Bos bilang jangan buka pintu apa pun yang terjadi.”

“Bos tidak ada di sini! Kalau dia mati beneran, terus Bos pulang, kepala kita yang dipenggal!”

Rasa takut terhadap amarah Lucifer mengalahkan perintah Lucifer sendiri. Logika mereka sederhana: membiarkan tawanan Lucifer mati jauh lebih berbahaya daripada melanggar perintah membuka pintu.

Dengan tangan gemetar, salah satu dari mereka memutar kunci. Dua kali.

Pintu baja itu terbuka.

Kesempatan itu tidak Florence sia-siakan. Begitu kedua pengawal itu berjongkok untuk memeriksa keadaannya, Florence mengumpulkan seluruh tenaga yang ia simpan selama berminggu-minggu. Ia meraih kursi besi yang sudah ia geser sedikit demi sedikit ke dekat pintu, lalu menghantamkannya ke kepala pengawal yang terdekat.

Bruk!

Pengawal itu jatuh terkulai. Yang satunya lagi terkejut, hendak meraih pistol di pinggangnya, tetapi Florence lebih cepat. Ia melilitkan tali dari sobekan seprai yang sudah ia siapkan ke leher pengawal itu dari belakang, mencekiknya hingga kehilangan kesadaran.

Nafas Florence memburu. Tangannya gemetar. Ia berhasil. Ia benar-benar berhasil.

Tanpa membuang waktu, ia mengambil satu kunci dari ikat pinggang pengawal yang pingsan, lalu berlari. Ia tidak tahu denah vila sepenuhnya, tetapi ia ingat arah laut. Ke mana pun, asalkan menjauh dari tempat ini.

Ia menerobos hutan kecil di belakang vila, ranting-ranting pohon menggores kulit kaki dan lengannya. Gaun putihnya yang sudah kumal kini sobek di beberapa bagian. Hujan gerimis turun, membuat tanah menjadi licin. Beberapa kali ia terjatuh, tetapi ia terus bangkit. Kata _kabur_ menjadi satu-satunya tenaga yang menggerakkan kakinya.

Entah berapa lama ia berlari. Mungkin berjam-jam. Hingga kakinya menyentuh pasir. Laut. Ia berhasil mencapai sisi lain pulau.

Di kejauhan, ia melihat cahaya lampu. Sebuah perahu nelayan kecil. Tanpa berpikir panjang, ia naik ke perahu itu, melepas talinya, dan membiarkan arus serta dayung seadanya membawa perahu menjauh dari pulau neraka.

Badai kecil datang malam itu. Perahu terombang-ambing. Florence yang kelelahan, kedinginan, dan kelaparan akhirnya tidak sadarkan diri. Ia terdampar.

 

Cahaya matahari yang menyengat membangunkan Florence. Yang pertama kali ia rasakan adalah kasarnya pasir di pipi dan hangatnya selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

“Kasihan, Nak. Sudah sadar rupanya.”

Suara serak seorang perempuan tua terdengar. Ketika Florence membuka mata, ia melihat seorang nenek berambut putih dengan wajah keriput yang teduh sedang mengompres dahinya. Di samping nenek itu, berdiri seorang kakek dengan punggung sedikit bungkuk, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

“Kamu terdampar di pantai belakang rumah kami, Nak. Di Pulau Bira Tengah. Untung Kakek lagi mau melaut, jadi cepat ditolong,” ujar sang Kakek.

Pulau Bira Tengah. Nama yang tidak pernah Florence dengar. Artinya, ia sudah jauh dari pulau Lucifer.

Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Florence merasa aman. Air matanya jatuh, bukan karena sakit, melainkan karena lega. Ia mencoba bicara, tetapi tenggorokannya kering.

“Sudah, jangan banyak gerak dulu, Nduk,” kata sang Nenek lembut. “Namamu siapa? Kok bisa sampai di sini?”

“Florence...” bisiknya lirih. “Tolong... jangan kasih tahu siapa-siapa... saya di sini.”

Kakek dan Nenek itu saling pandang, lalu mengangguk. Tatapan mereka penuh pengertian, tanpa bertanya lebih jauh.

 

Di sisi lain, di pulau neraka.

Lucifer baru saja kembali dari Singapura. Pesawat jet pribadinya mendarat, dan hal pertama yang ia lakukan adalah menanyakan kondisi asetnya.

Laporan yang ia terima membuatnya membeku.

“Kabur, Tuan. Tahanan... kabur dua hari yang lalu.”

Dunia Lucifer seketika runtuh.

Matanya yang biru berubah menjadi gelap, seperti badai yang siap menghancurkan apa pun. Rahangnya mengeras hingga terlihat urat-uratnya. Dengan satu gerakan, ia mencengkeram kerah pengawal yang melapor dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“ULANGI SEKALI LAGI!” geramnya, suaranya rendah dan mematikan.

“Am-ampun, Tuan. Dia... dia pura-pura sakit. Kami takut Tuan marah kalau dia mati, jadi kami buka pintu...”

BRAK!

Tubuh pengawal itu ia banting ke dinding. Lucifer kemudian menghancurkan seluruh isi ruang kerjanya. Meja, kursi, layar monitor, semua hancur berkeping-keping. Anak buahnya hanya bisa menunduk, tidak ada yang berani bersuara.

“MENCARI! KERAHKAN SEMUA ORANG! SISIR SEMUA PULAU DI SEKITAR SINI! LANGIT, LAUT, DARAT! AKU TIDAK PEDULI KALIAN HARUS BAKAR LAUTNYA SEKALIPUN! TEMUKAN DIA!”

Teriakannya menggema ke seluruh vila. Untuk pertama kalinya, Raja Neraka kehilangan kendali.

Malam itu, di balkon vila, Lucifer berdiri seorang diri. Di tangannya ada bubuk kelopak mawar yang sudah ia simpan sejak lama. Ia tatap laut yang gelap.

Mawar layu itu... benar-benar kabur. Dan sialnya... neraka ini terasa kosong tanpa dia.

Frustrasi. Marah. Dan ada satu perasaan lain yang tidak mau ia akui: takut. Takut mawar itu benar-benar mati di luar sana. Tanpa dia.

 

1
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!