Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Pukulan Balik Pertama Rasa Malu yang Tertinggal
BOOOOMMM!!!
Ledakan energi terjadi seketika!
Api ungu pekat yang dilepaskan oleh Zhao Shan meluncur dengan kecepatan kilat, membawa hawa panas yang membakar kulit. Serangan itu cukup kuat untuk meluluhlantakkan sebuah rumah batu besar sekaligus!
Para penonton menjerit ketakutan, banyak yang menutup mata, tidak sanggup melihat bagaimana pemuda muda itu akan hancur berkeping-keping.
"MATILAH ANAK DURHAKA!!" teriak Zhao Shan dengan mata membelalak penuh amarah. Ia yakin serangan ini akan mengakhiri nyawa Ren seketika.
Namun...
Ren tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya berdiri tegak, menatap bola api yang datang menghampirinya dengan tatapan dingin.
Saat serangan itu tinggal satu meter dari wajahnya, Ren perlahan mengangkat tangan kirinya. Gerakannya sangat santai, seolah hanya sedang mengibas lalat.
"BUKA!!"
Teriak batin Ren.
TRANGGG!!!
Suara benturan terdengar bukan seperti benda lunak bertemu benda lunak, melainkan seperti palu godam menghantam landasan baja!
Bola api ungu raksasa itu... berhenti tepat di depan telapak tangan Ren! Seolah ada tembok tak terlihat yang menahannya! Api itu berputar-putar tak berdaya, tidak bisa maju sedikit pun!
"A-Apa?!" Zhao Shan terbelalak, keringat dingin langsung membanjir di dahinya. "Bagaimana bisa?!"
Tidak hanya menahan, Ren memutar pergelangan tangannya dengan gerakan halus.
"HANTAM KEMBALI!"
BLLAAAAARRRR!!!
Api ungu itu dipantulkan kembali dengan kekuatan dua kali lipat!
"AAAAAAHHHHH!!!"
Zhao Shan berteriak panik, ia buru-buru melipat kedua tangan di depan dada untuk bertahan.
DUG!!
Hentakan keras membuat tubuh pria paruh baya itu terlempar mundur puluhan meter! Kakinya menyeret tanah dalam hingga membentuk parit panjang! Wajahnya pucat pasi, dan mulutnya menyemburkan darah segar!
"Paman!!" teriak Zhao Hu yang baru bangun, matanya terbelalak tak percaya.
Seluruh alun-alun hening seketika.
Orang-orang menatap Ren dengan pandangan yang berubah total. Dari pandangan kasihan dan meremehkan, kini berubah menjadi ketakutan dan kekaguman yang luar biasa.
Dia memantulkan serangan Penduduk Bumi hanya dengan satu tangan?!
Ren perlahan menurunkan tangannya. Ia melangkah maju selangkah demi selangkah. Setiap langkahnya membuat jantung orang-orang yang melihatnya berdegup kencang.
Ia berhenti tepat di depan Zhao Shan yang kini sudah terduduk lemas di tanah, memandang keponakannya sendiri dengan mata penuh ketakutan.
"Kau... kau ini iblis apa..." bisik Zhao Shan parau. "Bagaimana mungkin meridian rusak bisa sekuat ini... ini tidak masuk akal..."
Ren menatap tajam ke bawah, menatap pria yang dulu sering memukulinya, yang dulu sering menendang makanannya, yang sering menyebutnya sampah.
"Dulu... kalian bilang aku cacat. Kalian bilang aku aib keluarga. Kalian bilang aku tidak pantas menyandang nama keluarga Zhao," suara Ren bergema dingin dan jelas.
"Apa yang kalian rasakan sekarang? Sakit? Kaget? Tidak terima?" Ren mendekatkan wajahnya, menatap mata Zhao Shan lekat-lekat. "Rasakanlah. Ini baru sedikit rasa dari apa yang aku rasakan selama bertahun-tahun di klan itu."
"AKU TIDAK TERIMA!!" Zhao Shan marah besar, rasa malu dan amarah menguasai akal sehatnya. "Kau hanyalah anak haram! Kau mencuri kekuatan itu dari mana saja! PARA PENGAWAL!! SERANG BUNUH DIA!! BUNUH SEKARANG!!"
Belasan pengawal klan yang tadinya ragu-ragu, kini mendengar perintah langsung, mereka berteriak dan menerjang maju dengan senjata terhunus!
"MATI KAU!!"
Xue Ying siap maju membantu, tapi Ren mengangkat tangan kanannya ke belakang, memberi isyarat agar gadis itu diam di tempat.
"Biarkan aku yang selesaikan ini. Ini urusanku."
Ren berbalik menghadap puluhan penyerang sendirian.
"Kalian ingin membela tuanmu yang kalah? Baiklah. Aku akan mengajari kalian arti kesetiaan yang sebenarnya."
Ren tidak menarik senjata. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya.
"TEKNIK NAGA: BADAI SERIBU TINJU!!"
WUSH! WUSH! WUSH!
Tubuh Ren bergerak secepat bayangan! Di mata penonton, sosoknya tiba-tiba membelah menjadi banyak bayangan!
Hanya terdengar suara hantaman bertubi-tubi yang memekakkan telinga!
DUG! BUK! TRAK! ARGH!
Satu per satu pengawal itu terbang mundur! Tidak ada satu pun yang bisa mendekat dalam radius tiga meter dari Ren! Setiap kali mereka mengayunkan senjata, tangan mereka terpental, atau perut mereka menerima hantaman mematikan!
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik!
BRUK! BRUK! BRUK!
Seluruh belasan pengawal itu tergeletak di tanah serentak, meringis kesakitan, tak ada satu pun yang sanggup berdiri lagi!
Ren kembali berdiri tegak di tengah lapangan. Napasnya teratur, pakaiannya rapi, tidak ada satu pun goresan di tubuhnya.
Ia menatap Zhao Hu yang sudah gemetar hebat, kakinya lemas hingga jatuh berlutut.
"Jangan... jangan bunuh aku... Ren... aku sepupumu... kita keluarga..." Zhao Hu menangis ketakutan, wajahnya pucat seperti mayat hidup.
Ren melangkah mendekati sepupunya itu. Ia ingat betul, pria inilah yang paling sering menindasnya, yang sering mengambil makanannya, yang sering memaksanya memakan tanah.
Ren berhenti tepat di hadapannya. Ia tidak memukul, tidak menendang. Ia hanya menunduk menatapnya dengan tatapan yang membuat jiwa Zhao Hu gemetar.
"Dulu... kau menyuruhku merangkak seperti anjing dan menjilat sepatumu, kan?" bisik Ren pelan.
Zhao Hu menangis tersedu-sedu, menggeleng kuat. "Tidak... tidak... aku minta maaf... ampuni aku..."
"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal rendahan seperti itu," Ren tersenyum miring, senyum yang penuh ejekan. "Aku hanya ingin kau ingat hari ini selamanya. Ingat wajahku. Ingat kekuatanku."
Ren menepuk pipi Zhao Hu perlahan, tapi sentuhan itu membuat pemuda itu menjerit ketakutan.
"Kalian yang membuangku. Kalian yang mengusirku. Dan hari ini... aku datang bukan untuk meminta kembali tempatku. Aku datang untuk memberitahu kalian..."
Ren mendongak, suaranya menggelegar hingga terdengar ke seluruh penjuru kota.
"...bahwa mulai hari ini, Klan Naga Api tidak lagi pantas memiliki aku! Aku meninggalkan nama keluarga ini! Karena aku... sudah melampaui kalian semua! Aku melampaui sampah-sampah yang ada di klan itu!"
BRUK!
Zhao Shan dan Zhao Hu jatuh terduduk, wajah mereka hancur lebur karena rasa malu yang luar biasa. Seluruh warga kota melihat aib mereka. Mereka kalah telak oleh anak yang mereka buang! Mereka dipermalukan habis-habisan di depan umum!
Itu adalah rasa malu yang akan tertinggal selamanya!
Ren berbalik badan, tidak lagi menatap mereka. Ia berjalan kembali ke arah Xue Ying dengan langkah gagah dan tegap.
Gadis itu menatapnya dengan mata berbinar-binar, penuh kekaguman dan cinta.
"Kau hebat sekali, Ren..." bisik Xue Ying. "Itu sangat keren."
Ren tersenyum, aura ganasnya hilang seketika berganti menjadi lembut.
"Aku hanya membalas apa yang menjadi hakku. Dan membuktikan bahwa mereka salah menilaiku."
Ren menggenggam tangan Xue Ying.
"Ayo pergi. Tempat ini sudah terlalu pengap mencium bau sampah keluarga lama."
Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan alun-alun, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku takjub, dan meninggalkan musuh-musuhnya yang terkapar dalam kehinaan abadi.
Babak dendam pertama telah usai. Dan kemenangan mutlak berada di tangan Ren.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭