"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Cahaya matahari pagi yang masuk menembus celah gorden kamar terasa seperti tamu yang tidak diundang. Aku terbangun dengan kepala yang berat dan mata yang perih. Di sampingku, Mas Dika masih terlelap, namun guratan lelah di wajahnya tidak hilang meski ia sedang tidur. Tangannya masih melingkar protektif di perutku, seolah bahkan dalam mimpi pun ia takut aku akan pergi atau disakiti.
Aku melepaskan pelukannya pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Tubuhku terasa kaku, namun aku tahu aku tidak bisa terus bersembunyi di dalam kamar. Jika aku tidak keluar sekarang, Ibu Mertua akan punya alasan baru untuk menyebutku menantu pemalas yang hanya tahu cara memikat anaknya.
Dengan jantung yang berdebar, aku melangkah keluar kamar. Suasana rumah begitu sunyi, namun bukan sunyi yang damai. Ini adalah sunyi yang mencekam, sisa dari ledakan amarah semalam. Begitu aku sampai di anak tangga terakhir, aku melihat Ibu Mertua sudah duduk di meja makan. Beliau sedang menyesap tehnya dalam diam, menatap lurus ke arah taman belakang dengan tatapan kosong.
"Selamat pagi, Bu..." sapa ku nyaris berbisik.
Ibu Mertua tidak menoleh. Beliau bahkan tidak berkedip. Pengabaian itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan semalam. Aku memberanikan diri menuju dapur, berniat menyiapkan sarapan. Namun, di atas meja dapur, sudah tersedia nasi goreng dan lauk pauk yang aromanya sangat kukenal—masakan Bi Sumi, asisten rumah tangga yang biasanya datang pagi-pagi.
"Tidak usah masak," suara Ibu Mertua terdengar dingin dari ruang makan. "Saya tidak mau meja makan saya dikotori oleh masakan yang dicampur dengan rasa tidak tahu malu."
Langkahku terhenti. Tanganku yang hendak meraih penggorengan membeku di udara. Aku menarik napas panjang, mencoba menelan bulat-bulat hinaan itu demi menjaga kedamaian yang sudah retak.
"Maaf, Bu. Aira cuma mau bantu..."
"Membantu?" Ibu Mertua akhirnya berdiri dan berjalan menghampiriku. Beliau berhenti tepat di depanku, menatapku dari ujung kepala hingga ke perut dengan tatapan menghakimi. "Membantu menghancurkan hubungan saya dengan anak saya sendiri? Kamu lihat apa yang terjadi semalam? Dika membentak kakaknya, mengusir darah dagingnya sendiri hanya untuk membela kamu."
"Aira tidak pernah menyuruh Mas Dika melakukan itu, Bu," jawabku lirih, air mata mulai menggenang.
"Memang tidak secara langsung. Tapi kehadiranmu di sini adalah racun, Aira. Kamu membuat Dika lupa pada baktinya. Kamu membuat rumah ini yang tadinya penuh tawa menjadi seperti kuburan," Ibu Mertua melangkah maju, membuatku terpaksa mundur hingga punggungku menabrak pinggiran wastafel. "Jika kamu masih punya sedikit hati nurani, kamu harusnya sadar bahwa kamu tidak pantas berada di sini."
Tepat saat itu, langkah kaki cepat terdengar dari arah tangga. Mas Dika muncul dengan wajah panik, kemeja kantornya bahkan belum terkancing sempurna.
"Ibu! Berhenti menekan Aira!" seru Mas Dika. Ia segera berdiri di antaraku dan Ibunya, nafasnya memburu.
"Lihat, Dika. Belum lima menit kamu bangun, kamu sudah siap menerkam Ibu lagi demi dia?" Ibu Mertua tertawa getir, matanya berkaca-kaca. "Silakan, bela terus istrimu itu sampai Ibu mati karena serangan jantung. Mungkin itu yang kalian tunggu-tunggu supaya bisa menguasai rumah ini."
"Bu, Dika cuma mau Ibu adil!"
"Adil?" Ibu Mertua menggelengkan kepala. Beliau berjalan meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi. "Jangan harap ada keadilan untuk orang yang masuk ke rumah ini dengan cara menghancurkan kehormatan. Sampai kapan pun, dia tetap orang asing di mata Ibu."
Mas Dika berbalik, memelukku erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Aku menangis sesenggukan di dadanya. Pagi yang kuharap bisa menjadi awal yang baru, ternyata justru menjadi babak baru dari perang dingin yang kian membeku.
"Mas... aku nggak kuat kalau harus begini terus," bisikku di sela tangis.
Mas Dika tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya, namun aku tahu, di dalam hatinya, ia pun sedang hancur karena terjepit di antara dua wanita yang ia cintai. Dan di rumah megah ini, aku menyadari bahwa meskipun matahari sudah terbit tinggi, kegelapan di hatiku justru semakin pekat.
Aku melepaskan pelukan Mas Dika perlahan, mencoba menjauhkan diri dari dadanya yang bidang. Aku menarik napas panjang, berusaha mengendalikan getaran di bahuku. Dengan ujung jari, aku menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi, lalu kupaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang paling tegar yang bisa kuberikan saat ini.
"Sudah, Mas. Jangan dilanjutkan lagi," bisikku sambil merapikan kerah kemejanya yang berantakan karena terburu-buru tadi. "Kancingkan bajumu, Mas nanti telat ke kantor. Kamu harus kerja."
Mas Dika menatapku dengan sorot mata yang sarat akan luka dan keraguan. "Tapi, Ra... Ibu tadi keterlaluan. Aku nggak tenang ninggalin kamu sendirian di rumah ini kalau suasananya kayak begini."
Aku memegang kedua lengannya, menatap matanya dalam-dalam untuk menyalurkan ketenangan yang sebenarnya juga sedang kuperjuangkan di dalam batin. "Aku nggak apa-apa. Mas kan tahu, Aira itu kuat. Aku akan di kamar saja, atau bantu-bantu Bi Sumi nanti. Mas fokus kerja saja, ya? Jangan sampai masalah rumah dibawa ke kantor. Kasihan kamu, Mas."
Mas Dika terdiam sebentar, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia meraih tanganku, menciumnya berkali-kali seolah itu adalah satu-satunya cara baginya untuk meminta maaf atas ketidakberdayaannya.
"Janji ya? Kalau ada apa-apa, atau kalau kamu merasa nggak enak badan, langsung telepon Mas. Mas bakal langsung pulang," ucapnya tegas, seolah sedang memberikan perintah yang tak boleh dibantah.
Aku mengangguk pelan. "Iya, janji. Sana, sarapan dulu sedikit. Masakan Bi Sumi sudah di meja."
Setelah memastikan Mas Dika mulai menyendok nasinya dengan tenang, aku berbalik menuju wastafel, berpura-pura sibuk mencuci gelas hanya agar ia tidak melihat mataku yang kembali berkaca-kaca. Aku ingin menjadi tempatnya pulang yang damai, bukan beban yang membuatnya kehilangan fokus. Namun, di balik suara kucuran air, aku tahu bahwa ketenangan ini hanyalah gencatan senjata sementara sebelum badai berikutnya datang menghantam.