NovelToon NovelToon
Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:53.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.

Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.

Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Buta

Natalia melangkah keluar dari Kediaman Li tanpa menoleh sedikit pun. Cap kediaman telah ia serahkan, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, langkahnya terasa ringan.

Wulan berjalan cepat menyusul di belakangnya. Ia masih sulit percaya bahwa semuanya benar-benar berakhir seperti ini.

Di dalam kereta sederhana yang mereka tumpangi, suasana sempat hening. Derak roda kayu dan suara kuda menjadi satu-satunya pengisi perjalanan.

Wulan menatap hati-hati ke arah majikannya. “Nyonya … apa Anda baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Natalia tersenyum tipis tanpa membuka mata. “Aku baik-baik saja.” Ia membuka matanya perlahan. “Justru sekarang aku merasa lebih bebas.”

Wulan tertegun sesaat, lalu tersenyum lega. “Itu bagus, Nyonya…selama ini Anda terlalu menderita di sana. Dan mereka bahkan tidak berterima kasih sedemitpun.”

Beberapa saat kemudian, Wulan kembali bertanya. “Kalau begitu kita akan pergi ke mana sekarang?”

Natalia melirik ke luar jendela kereta. Senyumnya kali ini lebih dalam, penuh arti. “Kau akan tahu sendiri,” jawabnya santai.

Tak lama, kereta berhenti di tengah keramaian pasar ibu kota. Suara pedagang, tawa anak-anak, dan hiruk-pikuk manusia langsung menyambut mereka.

Natalia turun dari kereta dengan langkah ringan. Wulan mengikuti di sampingnya, matanya sibuk memperhatikan sekeliling.

“Ramai sekali,” gumam Wulan kagum.

Natalia hanya tersenyum. “Mungkin akan ada pesta di tempat ini.”

Mereka berjalan perlahan menyusuri deretan kios. Aroma makanan manis dan gurih bercampur di udara.

Tiba-tiba langkah Natalia terhenti.

Matanya tertuju pada tusukan buah berlapis gula yang berkilau di bawah sinar matahari. “Tenghulu,” gumamnya pelan.

Wulan tersenyum kecil. “Nyonya ingin mencobanya?”

Natalia mengangguk ringan. “Sepertinya menarik.” Ia langsung menghampiri pedagang itu. “Satu,” katanya singkat sambil mengambil satu tusuk tenghulu.

Pedagang itu tersenyum ramah. “Pilihan yang bagus, Nona.”

Saat Natalia mengeluarkan kantung uangnya, sesuatu terjadi begitu cepat. Sebuah tangan kecil tiba-tiba menyambar kantung itu.

Dalam sekejap, kantung uang Natalia sudah berpindah tangan. “Hei!” seru Natalia kaget. “Kembalikan uangku!”

Seorang anak laki-laki sekitar sepuluh tahun terlihat berlari kencang di antara kerumunan. Gerakannya lincah, nyaris tak terkejar.

Tanpa ragu, Natalia langsung mengejarnya. “Berhenti!” teriaknya.

Wulan panik dan ikut berlari di belakang. “Nyonya! Hati-hati!”

Anak itu berbelok tajam melewati gang sempit. Natalia terus mengejar tanpa kehilangan jejak.

Langkahnya ringan dan cepat, jauh melampaui wanita biasa. Wajahnya mulai serius, matanya mengunci target.

Anak itu terus berlari tanpa menoleh. Seolah ia sudah terbiasa melakukan ini.

Keramaian pasar perlahan menghilang. Jalanan menjadi semakin sepi dan sempit. “Nyonya … tunggu!” teriak Wulan yang mulai tertinggal.

Namun Natalia tidak berhenti. Akhirnya, anak itu berlari keluar dari area kota. Di depan mereka, hutan gelap terbentang luas.

Langkah anak itu tidak melambat. Ia langsung masuk ke dalamnya tanpa ragu.

Natalia mengerutkan kening. “Hutan larangan,” gumamnya.

Namun tanpa berpikir panjang, ia tetap mengejar masuk. Angin dingin langsung menyambut. Suasana berubah sunyi dan menekan.

Di belakangnya, Wulan berhenti di tepi hutan dengan napas tersengal. “Nyonya … jangan masuk,” serunya cemas.

Namun Natalia sudah melangkah lebih dalam. Matanya tajam menatap ke depan.

“Kau tidak akan lolos dariku,” ucapnya dingin.

Natalia melangkah semakin dalam ke Hutan Larangan, dedaunan kering berderak pelan di bawah kakinya. Ia tiba-tiba berhenti saat menyadari jejak anak itu menghilang begitu saja, seolah ditelan hutan.

Alisnya berkerut tipis. “Ke mana perginya anak itu?” gumamnya pelan.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara dentingan logam terdengar dari kejauhan. Suara pedang beradu, disertai teriakan dan langkah kaki yang kacau.

Trang!

Trang!

Tatapan Natalia langsung berubah tajam. “Ada perkelahian.”

Alih-alih mundur, ia justru bergerak cepat mengikuti arah suara itu. Langkahnya ringan, tubuhnya menyelinap di antara pepohonan dengan gesit.

Semakin dekat, suara itu semakin jelas. Bau darah samar mulai tercium di udara.

Natalia berhenti di balik sebuah pohon besar. Ia mengintip, dan seketika matanya sedikit melebar.

Di tengah area terbuka, seorang pria berbalut hanfu hitam berdiri dikepung puluhan orang. Jumlahnya tidak sedikit, sekitar lima puluh orang mengelilinginya rapat.

Tapi yang membuat Natalia terkejut bukan jumlah musuhnya. Melainkan pria itu.nIa berdiri tegak, wajahnya tampan dan dingin, namun matanya, tidak fokus. Pandangannya kosong, seolah tidak benar-benar melihat.

“Dia … buta?” bisik Natalia pelan.

Namun di detik berikutnya.

Sret!

Pedang pria itu bergerak cepat, memotong leher salah satu penyerang. Darah muncrat, tubuh itu langsung tumbang tanpa sempat bersuara.

Gerakannya tajam dan cepat,seolah ia bisa “melihat” segalanya.

Para penyerang mulai menyerbu bersamaan. Teriakan mereka menggema, pedang berkilat di segala arah.

Namun pria itu tidak mundur. Ia berputar, menghindar dengan perhitungan sempurna. Setiap ayunan pedangnya selalu mengenai sasaran.

“Habisi dia!” teriak salah satu dari mereka.

Natalia menyipitkan mata. “Menarik .…”

Namun di tengah kekacauan itu, ia melihat sesuatu.nSatu orang diam-diam bergerak dari belakang, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Serangan itu akan mengenai pria itu tepat di titik butanya. Natalia tidak berpikir dua kali.

Sret!

Sret!

Sret!

Sepuluh jarum beracun melesat dari sela-sela jarinya. Gerakannya cepat, nyaris tak terlihat.

Dalam sekejap sepuluh orang langsung terhenti. Tubuh mereka kaku sebelum ambruk satu per satu ke tanah.

Brugh!

Pria berhanfu hitam itu sedikit menoleh. Meski matanya kosong, ia jelas menyadari perubahan itu.

“Siapa kau? Jangan ikut campur!”

Natalia melangkah keluar dari balik pohon. “Aku tidak suka melihat orang mati konyol dari serangan belakang,” ucapnya santai.

Pria itu terdiam sejenak. “Kau .…” suaranya datar. “Siapa pun kau, jangan menghalangi.”

Natalia terkekeh pelan. “Tenang saja, aku tidak menghalangi. Aku justru membantu.”

Tanpa menunggu jawaban, Natalia langsung bergerak. Ia melesat ke depan, tubuhnya ringan seperti bayangan. Jarum-jarum beracun kembali meluncur dari tangannya.

Sret!

Sret!

Dua orang langsung roboh sebelum sempat mendekat. “Brengsek! Ada satu lagi!” teriak musuh.

Pertarungan berubah kacau. Kini dua orang melawan puluhan.

Pria berhanfu hitam itu tampak sedikit terkejut, namun tidak menolak bantuan. Ia kembali bergerak, pedangnya menari di udara.

Gerakannya brutal, setiap tebasan selalu berujung kematian.

Natalia bergerak di sisi lain, lincah dan mematikan. Ia menghindari serangan sambil melepaskan jarum ke titik-titik vital.

“Kiri!” seru Natalia tiba-tiba.

Pria itu langsung berbalik tanpa ragu. Pedangnya menebas tepat saat seorang musuh menyerang dari arah itu.

Sret!

Kepala pria itu terpisah dari tubuhnya. Sejenak, Natalia tersenyum tipis. “Pendengaranmu bagus.”

Pria itu tidak menjawab. Namun gerakannya menjadi lebih sinkron dengan Natalia.

Mereka bertarung seperti sudah lama saling mengenal. Dua bayangan di tengah badai darah.

Musuh mulai panik. “Mustahil … hanya dua orang!” teriak salah satu dari mereka.

Namun satu per satu mereka jatuh. Teriakan berubah menjadi jeritan. Jeritan berubah menjadi keheningan

Hingga akhirnya tubuh terakhir ambruk ke tanah.

Crash!

Hutan kembali sunyi. Hanya suara napas pelan dan tetesan darah yang tersisa.

Natalia berdiri tegak, jarum terakhirnya menghilang ke lengan bajunya. Ia menatap sekeliling dengan tenang.

“Selesai,” ucapnya singkat.

1
Arbaati
menarik, selalu di tunggu kelanjutannya
SENJA
lu berisik aja dari tadi elaaah😤
SENJA
tongkol ikan? atau dongkol perasaan nih kak ? 🤣🤣🤣
SENJA
itu kediaman punya siapa emangnya?? hadeeeh miskin aja belagu 😤
SENJA
diiih 😤
SENJA
miskin kok belagu 😤
SENJA
mantabs
Erna Fkpg
duh ni keluarga Li bener bener keluarga parasit bisa hanya koar koar saja
Tiara Bella
keluarga sampah ya JD gembel aja....
Osie
hmmm lht ekspresi lilitput jd sesuatu bgt ma stts nya..jangan jangan nih🤣🤣🤣
Wahyuningsih
mampus 🤣🤣🤣
Wahyuningsih
author ni terlalu bertele tele kelamaan gk sat set sat set
saniscara patriawuha.
gassssd deuiiii....
gina altira
Lilith itu penipuuuu
beybi T.Halim
makan lah tuu.halu😁
SENJA
sukur 🤣 lu pelihara tuh belau semua🤣
SENJA
laaah terus mau lu apa?!? hadeeh samaph 🤣🤣🤣
SENJA
usir aja bu ga tau malu emang pada ciisss 😤😤😤
SENJA
lu yang bisa apa? lu kan cuma sampah yang dibantu natalia 😤
Evi 060989
up lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!