NovelToon NovelToon
Takhta Yang Di Curi

Takhta Yang Di Curi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....





Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Malam harinya, Maudi izin keluar karena ada urusan penting,

"Malam-malam mau kemana Maudi?" Tanya Doni dengan lembut.

"Maudi mau ke rumah sakit pa...temen Maudi ada yang sedang di rawat jadi Maudi mau menjenguknya" jawab Maudi jujur.

Doni menatap putrinya dengan rasa kekhawatiran seorang ayah pada anak, namun melihat kemuliaan hati anaknya ia harus percaya pada anaknya itu "kalau begitu,minta bantuan pada supir untuk mengantarmu,"

Maudi mengangguk " iya pah".

____

Maudi melangkah masuk ke kamar VVIP dengan saksama. Di tangannya, ia membawa sebuah rantang Susun. Di depan pintu, ia sempat tertegun melihat Kevin yang sedang sibuk menyemprotkan cairan antiseptik ke udara seolah sedang mengusir roh jahat.

"Tuan Rasya, Nona Maudi datang!" seru Kevin dengan nada lega.

Rasya, yang sedang bersandar pucat di ranjangnya, menoleh dengan tatapan lemas.

"Assalamualaikum ...."Ucap Maudi datar.

"Kenapa lama sekali? Dan apa itu? Bau apa itu....kau membawa apa...?... aromanya terlalu kuat untuk indra penciumanku yang sedang sensitif." sahut Rasya dengan menutup hidung mancungnya.

Maudi meletakkan rantangnya di meja makan yang diletakkan jauh dari jangkauan tempat tidur Rasya, menjaga jarak aman sekitar dua meter agar tidak terjadi persentuhan yang tidak disengaja.

"Ini nasi hangat dan sayuran tumis segar, Tuan Rasya. Makanlah supaya perutmu tidak terus-menerus mual," ucap Maudi tenang sambil merapikan hijabnya.

Rasya melirik ke arah makanan itu, lalu ke arah tangannya sendiri. "Mana sendok perak yang sudah disterilkan? Aku tidak bisa memakan sesuatu tanpa peralatan yang terjamin bebas kuman."

Maudi menggelengkan kepala melihat tingkah berlebihan laki-laki di depannya. "Tuan Rasya, Anda ini terlalu terobsesi pada hal lahiriah sampai lupa bahwa kesehatan itu juga datang dari keberkahan. Dalam agama saya, Rasulullah SAW mengajarkan kesederhanaan. Beliau makan menggunakan tangan kanan sendiri, bahkan menyarankan untuk membersihkan sisa makanan di jemari setelahnya agar tidak ada keberkahan yang terbuang."

Rasya membelalak. "Membersihkan jemari... dengan mulut sendiri? Kau tahu berapa banyak koloni bakteri yang berpindah?"

"Itu namanya menghargai nikmat, Tuan," potong Maudi tegas. "Tubuh kita punya sistem imun yang diciptakan Allah untuk bekerja. Jika Anda menutup diri dari segala hal, sistem itu akan melemah. Makanlah sendiri dengan tanganmu, tentu setelah dicuci bersih. Itu jauh lebih alami daripada bergantung pada peralatan kimia."

"Aku tidak bisa... tanganku masih lemas," keluh Rasya, mencoba mencari perhatian. "Bisakah kau... menyuapiku?"

Maudi langsung memberikan tatapan tajam yang membuat Rasya bungkam. "Tuan Rasya, kita bukan mahram. Saya tidak akan menyentuh Anda, apalagi menyuapi Anda. Saya sudah siapkan sendok kayu sekali pakai yang masih terbungkus rapat di dalam rantang ini. Ambil sendiri, atau biarkan Kevin yang menyuapi Anda."

Kevin yang mendengar itu langsung sigap. "Siap, Nona! Saya sudah pakai sarung tangan lateks dan masker N95 untuk menyuapi Tuan Rasya!"

Rasya mendengus kesal. "Tidak perlu, Kevin! Kau bukan bidadari bersyal pink, suapanmu hanya akan terasa seperti cairan infus."

Maudi tersenyum di balik cadarnya, seumur hidupnya,baru kali ini ia melihat secara langsung, seseorang yang benar-benar takut akan kuman, kotoran dan sebagainya. Ia teringat waktu kecil, bahkan sering makan nasi sisa bekas Eliza,

Meskipun kesal, Rasya akhirnya mulai makan sendiri dengan sendok kayu itu karena ancaman ceramah panjang Maudi jauh lebih menakutkan daripada bakteri di udara. Maudi memperhatikannya dari kejauhan, memastikan pasien anehnya ini mendapatkan nutrisi.

" pastikan makanannya habis, saya permisi dulu,karena ada urusan mendadak... Assalamualaikum..?" ucap Maudi langsung pergi tanpa menunggu jawaban Rasya....

Rasya yang sedang menikmati makanan lezat buatan Maudi berhenti, berniat untuk mencegah kepergian Maudi, namun langkah kaki Maudi terlalu cepat, Rasya hampir jatuh dari ranjangnya kalau saja Kevin tidak langsung memegangi tubuh Rasya.

"Tuan... Tuan.... biarkan nona Maudi pergi, besok saya pastikan nona kesini lagi" bujuk Kevin sambil membetulkan letak makanan dari Maudi yang hampir tumpah .

"Sebaiknya Anda habiskan makanannya agar nona Maudi bersemangat untuk membawakan anda makan lagi".

Rasya mengerutkan keningnya"benarkah?"

Kevin mengangguk semangat, apalagi barusan ada notifikasi kalau ia mendapatkan bonus 200 juta karena berhasil membawa Maudi ke sini.

Rasya mengangguk dengan semangat,ia kembali memakan makanan yang di bawa oleh Maudi, rasa jijiknya mulai terkikis oleh perhatian dari bidadari nya.

____

Suasana di ruang kerja Kakek Harison malam itu terasa sangat berat. Aroma kayu cendana dan buku-buku tua biasanya menenangkan, namun tidak kali ini. Doni duduk di kursi kulit dengan wajah lelah, sementara Kakek Harison menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan kegelapan malam.

Maudi berdiri di depan mereka, masih mengenakan gamis sederhana dan hijab yang rapi. Ia menarik napas dalam, memutuskan untuk membuka satu lapisan rahasia demi keselamatan keluarga ini.

"Papa, Kakek... ada sesuatu yang harus Maudi sampaikan," suara Maudi memecah keheningan. "Tentang kaburnya Ibu Seina."

Doni mendongak, matanya menyipit penuh selidik. "Apa lagi yang kau ketahui, Maudi? Bukankah polisi sudah mengatakan dia dibantu pihak luar?" yah pihak kepolisian memang sudah memberitahukan mengenai kaburnya Seina,dan saat ini polisi sedang memburu Seina sebagai buronan.

"Dia tidak hanya dibantu pelarian biasa, Pa," Maudi melangkah mendekat, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Orang-orang yang membantunya adalah sindikat profesional. Mereka memiliki akses senjata dan informasi yang luas. Seina tidak akan pergi jauh, dia akan tetap di sini, mengintai kita seperti singa yang terluka."

Kakek Harison mengerutkan dahi, ia merasa ada yang berbeda dari cara bicara cucunya. "Bagaimana kau bisa begitu yakin, Maudi? Kau terdengar seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti mereka."

Maudi hampir saja keceplosan menyebutkan analisis dari Sektor 7, namun ia segera mengerem lidahnya. "Maudi... Maudi banyak belajar tentang keamanan selama di pesantren, Kek. Kami diajarkan untuk selalu waspada terhadap fitnah dan ancaman, bahkan Maudi di bekali ilmu beladiri, memanah dan berkuda...Maudi hanya merasa, Eliza dan Saka adalah target termudah untuk membalas dendam pada kita semua."

Doni berdiri, ia memegang pundak Maudi dengan cemas sekaligus bangga dengan putrinya. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Papa tidak ingin kehilangan siapapun lagi."

"Tolong, Kek... Papa... besok saat kami berangkat kuliah, berikan pengawalan yang paling ketat untuk kami bertiga. Terutama untuk Eliza. Mentalnya sedang rapuh, dia akan sangat mudah dipengaruhi jika Seina muncul tiba-tiba," pinta Maudi dengan tatapan memohon yang tulus.

Kakek Harison mengangguk mantap. Ia mengambil ponsel di atas mejanya dan menekan sebuah nomor.

"Doni, hubungi kepala keamanan kita. Saya ingin tim terbaik. Tidak hanya satu mobil, tapi tiga SUV hitam. Pastikan mereka dikawal sampai ke depan pintu kelas," perintah Kakek Harison dengan nada yang tak terbantahkan.

Doni menatap Maudi dengan bangga sekaligus haru. "Terima kasih sudah mengingatkan Papa, Maudi. Papa seringkali terlalu sibuk dengan urusan kantor sampai lupa bahwa musuh yang paling berbahaya adalah yang pernah tinggal satu atap dengan kita."

Maudi mengangguk pelan. "Satu hal lagi, Pa. Jangan biarkan siapapun yang tidak kita kenal mendekati area rumah atau paviliun malam ini. Maudi merasa... malam ini udaranya terlalu tenang."

Setelah berpamitan dan mencium tangan Kakek serta Papanya, Maudi keluar dari ruang kerja. Di lorong yang sepi, ia mengeluarkan ponsel kecilnya, bukan ponsel rahasia, melainkan ponsel biasa dan mengirimkan pesan singkat ke grup internal timnya

"Keamanan internal sudah diperketat. Tetap pantau dari radius luar. Jangan sampai pengawal keluarga menyadari keberadaan kalian."

Maudi menatap ke arah jendela, membayangkan Seina yang sedang merencanakan sesuatu di luar sana. Namun, pikirannya mendadak teralihkan saat melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenal sebagai asisten pria aneh itu.

"Nona Maudi, Tuan Rasya baru saja menyemprotkan seluruh ruangan VVIP dengan alkohol karena bermimpi bertemu cacing tanah di tangan Anda. Dia bilang Anda harus bertanggung jawab atas traumanya besok pagi!"

Maudi hanya bisa menggelengkan kepala. Di tengah ancaman nyawa dari ibu tirinya, ia masih harus berurusan dengan pria yang menganggap kuman lebih berbahaya daripada peluru.

1
Uba Muhammad Al-varo
bagaimana pun keadaannya semoga Maudy baik' saja dan Rasya selalu setia menemani Maudy dari sakit sampai sembuh kembali 💪💪💪
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄🙄🙄🙄
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
@Mita🥰
wah semoga Eliza jangan ...jadi cinta sama Rasya ya
Lovita BM
berasa lihat film action 😁
suti markonah
lanjut maning thor🙏
suti markonah
karna othor hr ini dah bikin aku seneng maka ☕ pun mendarat maning
suti markonah
hari ini othor bikin aku deg deg gan trs plus bikin penasaran..kuharap eliza tidak iri ketika rasya jatuh cinta sm maudi..eliza untuk kevin aja
Uba Muhammad Al-varo
Rasya dari pandangan pertama sampai dititik ini selalu terpesona oleh pesona nya Maudy dan kau Hans, Seina sebentar lagi kehancuran akan menghampirimu
Uba Muhammad Al-varo
Eliza lawan mamamu Seina, jangan sampai kau terperdaya oleh nya, Rasya....../Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Uba Muhammad Al-varo
good....... Rasya kau bantu dan tolong jaga Maudy, lindungi dan berikan rasa aman Maudy hajar, Hans jangan biarkan kejahatan Hans membuat keluarga besarnya Maudy celaka 💪💪💪
Diana Dwiari
klo part Rasya inginnya tertawa ae....ni orang lucu banget sih....eh,emang ada ya di dunia nyata orang kayak rasya
Aisyah Virendra
Pertempuran yg seruuu 🤩🤩🤩
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 Rasya terkagum " 🤣🤣🤭🤭
Lovita BM
ternyata Eliza tk spti ibunya yg rakus dan serakah....
suti markonah
lanjut thor ojo gawe aku dak dik duk
Yuyun Srie Herawati
rokok tanpa cukai
suti markonah
aku baca smpe tahan nafas karna tegang, bayangke maudi menyelamatkan eliza
suti markonah
eliza jgn terpengaruh sm seina..berpihak lah sm maudi agar hidupmu tidak berakhir di jalan..inget lah maudi yg sering di siksa sm mama mu saja masih mrangkul mu jadi saudara
@Mita🥰
semoga Eliza ada yang nolong
Aisyah Virendra
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!