Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
"Kamu mau kan sayang?" tanya Grace, Mingyu menatap Ghaffar
"Kalo kamu mau, ga papa kok. Mau tinggal dimana pun sama saja, kamu tetap keluarga kami." ucap Ghaffar
"Kalo.... Mingyu ikut mommy, apa Mingyu masih boleh bertemu kakak?" mendengar pertanyaan Mingyu, tentu saja semua orang tertawa
"Tentu saja, memang mommy mau kurung kamu di rumah apa? Jahat dong mommy kalo gitu" jawab Grace
"Muka kamu antagonis mungkin Grace, jadi Mingyu punya pikiran ke situ." celetuk Santi
"Ya Tuhan, antagonis dong." kembali terdengar tawa semua orang
"Ehem... ada apa ini? Seru sekali nampaknya." tanya daddy Matius
"Kita di lupakan, kalo sudah bersama anak bungsu kita Mat." sambung ayah Danang
"Kamu benar Dan, kita mah apa atuh?" ucap papa Bagus
"Haish... kalian ini para orang tua, iri sama Ghaffar." Ibu Hesti mencium punggung tangan suaminya, di ikuti para ibu yang lain. Mencium punggung tangan, suami-suami mereka. Grace... yang tadinya tidak pernah, semenjak sering berkumpul dengan Hesti dan Santi. Dia jadi mengikuti kebiasaan baik tersebut, menghormati suaminya.
"Daddy, kenalkan ini Mingyu. Adik angkat Ghaffar, mommy minta dia untuk tinggal dengan kita." ucap Grace, Matius menatap Mingyu
"Anak yang tampan, kamu mau?" Mingyu melihat ke semua orang, lalu ia mengangguk
"Terima kasih sayang" Grace memeluk Mingyu, akhirnya di rumah akan ada suara anak juga.
"Nanti kalo ada yang membuatmu tak nyaman, bilang ya. Jangan diam saja, apapun itu. Mau sekecil apapun, harus bilang pada mommy atau daddy. Jangan merasa sungkan, ya?" ucap Grace lagi, ia masih trauma dengan apa yang terjadi pada putrinya. Dia tak tau apa-apa tentang putrinya, karena putrinya yang terlalu pengertian.
Ia tak mau, Mingyu pun akan seperti Theresia.
"Iya mommy" Grace tersenyum
"Besok kamu udah masuk ke sekolah kakak, di SMA xxx." ucap Ghaffar
"Secepat itu?" tanya Devan terkejut, begitu juga dengan yang lainnya
"Semua sudah di urus bang, ada beberapa berkas dari sekolah lama. Besok bisa di urus,, ada orang yang akan membantu Ghaffar." jawab Ghaffar, Devan mengangguk kaku.
"Kamu akan terkejut, bila tau siapa Ghaffar." ucap Abraham, membuat Devan menoleh padanya
"Ya udah, udah deal ya. Mingyu tinggal bareng Grace, meski namanya ada di KK milik Ghaffar." ucap Hesti, Grace hendak protes. Namun di tahan oleh sang suami, Matius menggelengkan kepalanya. Grace pun menghembuskan nafas pelan, ia memilih kembali duduk tenang.
"KITAAA MULAAAIII BAKAR-BAKARANNYAAAAAAA" teriak Damar, yang baru saja datang. Di susul Akbar, yang berjalan santai di belakangnya
Semua pun menikmati acara makan malam tersebut, sesekali terjadi perdebatan di antara Akbar, Damar dan Mingyu. Yang berakhir kejar-kejaran, jelas sekali terlihat pancaran kebahagiaan di wajah Mingyu.
'Terima kasih' Ghaffar menoleh, ia memiringkan kepalanya
"Apa kamu...
'Aku Fang Yin, ibunya Mingyu. Terima kasih sudah memberikan keluarga untuk putraku, kini aku bisa pergi dengan tenang.' Ghaffar mengangguk, arwah itu pun menghilang
.
Tak terasa, makan malam pun selesai. Mingyu ikut pulang dengan mommy Grace, meski tadinya menolak. Namun melihat wajah memohon mommy Grace, Mingyu tak bisa menolak. Begitu juga dengan yang lainnya, yang sudah pamit pulang.
"Mau kemana Ghaff?" tanya Akbar
"Ke rumah sakit, nganterin ini ke kak Arimbi." jawab Ghaffar, sembari mengangkat kotak makan yang cukup besar. Mungkin ukurannya sekitar 30x50, berwarna hitam.
"Banyak banget, isinya apaan?" tanya Akbar lagi
"Yang kita makan tadi malam, isinya sama. Ada ayam bakar, sate saus bbq, sosis bakar dan...
"OK ok... aku inget Ghaff, sendirian?" Ghaffar mengangguk
"Mau aku antar?" tanya Akbar
"Tidak usah, lebih baik kamu istirahat lebih dulu. Aku juga takkan lama, hanya mengantarkan ini karena sudah janji." jawab Ghaffar, Akbar mengangguk
"Kalo gitu, kamu hati-hati ya. Kabarin aku kalo ada apa-apa" balas Akbar
"OK" Ghaffar pun berpamitan
.
.
"Saya ingin bertemu dengan kak Arimbi" ucap Ghaffar, dengan wajah datar
"Arimbi? Yang mana? ada dua orang yang namanya Arimbi di sini." tanya seorang perawat jaga
"Arimbi spesialis Forensik" jawab Ghaffar, belum perawat itu mencari...
"GHAFFAR" terdengar suara familiar di telinganya, saat menoleh ke arah suara. Ghaffar melihat kakak nya berjalan cepat, menghampiri dirinya.
"Kakak, ga usah jalan cepet-cepet. Kalo kesandung gimana? Ghaffar ga akan bantu soalnya" tanya Ghaffar, membuat Arimbi langsung mendengus
"Ayo, kita makan di ruangan kakak saja." ucap Arimbi, saat melihat kotak yang di bawa Ghaffar. Ghaffar hanya diam, mengikuti mau kakak nya. Setelah kepergian mereka, mulai riuh lah bisik-bisik para perawat dan dokter yang ada di tempat tadi.
"Itu siapanya dokter Arimbi ya? Ganteng banget, keliatan lebih muda pula." tanya salah satu perawat
"Jangan-jangan pacarnya, kan banyak laki yang baby face." jawab rekannya
"Dokter Mili? Dokter kenal sama lelaki itu?" tanya perawat yang pertama, dokter Mili menggelengkan kepalanya
"Mungkin peliharaannya, dia kan selama ini jomblo. Tiap hari antengnya sama mayat" celetuk salah satu dokter, yang terlihat iri pada kak Arimbi.
"Husss... dokter Dania kalo bicara jangan sembarangan, nanti kedengeran sama pak Danang. Bisa di pecat kamu.." tegur dokter Mili tak suka
"Alah... mang dokter Arimbi siapanya pak Danang sih? Palingan juga baby sugar nya, aku juga bisa kalo mau deketin pak Danang." balas dokter Dania, membuat yang lain terkejut
"Kok, dokter Dania bilang gitu sih sama dokter Arimbi. Kalo ga tau apa-apa, mendingan mulutnya di jaga dok." ucap salah satu perawat, yang bernama Indah.
"Kamu cuma perawat di sini, ga usah ikut campur. Aku tau siapa Arimbi, kita satu kampus dulu. Dia ga pernah punya pasangan, soalnya targetnya itu orang-orang berduit. Kuliah dapet beasiswa, tapi barang-barangnya branded semua. Orang miskin mana, yang bisa kaya gitu. Kalo bukan dapet dari om-om?" dokter Mili dan perawat Indah saling tatap, begitu juga dengan yang lainnya
"Dokter Dania... beneran ga tau siapa dokter Arimbi?" tanya perawat, yang bernama Andin
"Emang siapa sih? Kalian hormat banget ma dia" tanya dokter Dania balik
"Kami maklum kalo kamu ga tau siapa dokter Arimbi, karena kamu dokter baru di sini. Tapi aneh aja kalo satu kampus, kamu ga tau siapa dokter Arimbi." ucap dokter Mili
"Siapa sih emangnya, dia rajin kerja cuma buat cari perhatian sama dokter laki-laki kan? Kaya waktu di kampus, sok cuek sok jual mahal. Tapi cari-cari perhatian sama yang lain. Aku pernah liat dia jalan sama laki-laki tua, kapan hari aku liat lagi dia gelendotan ke laki-laki yang sedikit lebih tua darinya." cerocos dokter Dania, serentak yang lainnya menggelengkan kepala.
Tanpa melihat pria yang di maksud, mereka sudah tau siapa yang di maksud dokter Dania.
"Kamu gali kuburan sendiri" ucap dokter Mili
"Maksud kamu apa?" tanya dokter Dania
"Asal dokter tau, dokter Arimbi itu bukan sok cuek atau sok jual mahal. Tapi sifat dokter Arimbi emang secuek itu, tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya. Dan perlu dokter tau, dokter Arimbi ga perlu jadi bayi gula siapa pun. Hanya demi barang-barang branded, karena dia...
"Dia apa?" dokter Dania sudah sangat penasaran, ia menunggu perawat Indah bicara
"Dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini."
JEDEEERRR
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
lanjuttt ,,☕️nya emak😘