NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyerangan Langsung

​Di puncak gedung PT Aksara Murni, suasana ruangan kerja Wijaya Aksara terasa lebih mencekam daripada pemakaman tengah malam. Wijaya duduk di balik meja mahagoninya, memutar-mutar ponsel model lama yang baru saja ia gunakan untuk menerima laporan dari intelijennya di Ciampea. Di depannya, Alexa berdiri menatap cakrawala Jakarta yang tertutup polusi, jemarinya yang masih berbalut perban kecil akibat ritual darah tempo hari tampak mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.

​"Jalaludin Al Bulqini," desis Wijaya, menyebut nama itu seolah-olah itu adalah racun yang menyangkut di tenggorokan. "Lahir di detik yang sama. Buta yang sama. Ini bukan kebetulan, Alexa. Ini adalah ancaman yang harus dipangkas sebelum akarnya menghujam bumi."

​Alexa menoleh, matanya yang tajam berkilat penuh kebencian. "Ayahku benar. Keseimbangan itu nyata, dan aku tidak suka ada orang lain yang berbagi takdir dengan Satya. Bayi di Ciampea itu harus lenyap. Aku tidak mau sepuluh atau dua puluh tahun lagi, anakku harus bersusah payah menghadapi lawan yang seharusnya bisa kita injak sekarang."

​Wijaya terdiam sejenak. Ada secercah keraguan yang melintas di benaknya, bukan karena rasa kasihan, melainkan perhitungan risiko. "Membunuh bayi... itu pekerjaan yang kotor. Kalau jejaknya sampai ke telinga publik atau rival bisnis kita, ini bisa jadi bumerang."

​"Sejak kapan seorang Wijaya Aksara peduli pada moral?" cibir Alexa, langkahnya mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari suaminya. "Kita bicara tentang takdir dunia, Wijaya! Singkirkan dia sekarang mumpung dia masih lemah, mumpung dia masih menangis minta susu. Kirim orang-orang terbaikmu. Jangan sisakan siapapun di rumah itu."

​Wijaya menarik napas panjang, lalu menekan sebuah tombol di interkomnya. "Siapkan tim elit. Sepuluh orang. Besok pagi, berangkat ke Ciampea. Ratakan target, jangan bawa pulang saksi hidup. Dan satu lagi... jangan berurusan dengan polisi."

 

​Sementara itu, di sebuah sudut sederhana di Ciampea, aroma kopi hitam dan singkong rebus memenuhi ruang tengah rumah Ahmad Syihabudin. Ahmad sedang duduk bersila, memperhatikan Risma yang sedang mengepak pakaian ke dalam tas kain besar. Di sampingnya, Jalaludin tertidur lelap, tangannya sesekali bergerak seolah sedang meraba udara.

​"Kang, beneran nih aku dibolehin pulang ke Indramayu duluan?" tanya Risma, suaranya mengandung nada ragu bercampur harap. "Emak sama Abah sudah ngebet pisan pengen akikah sama syukuran di sana. Katanya mumpung saudara-saudara lagi pada kumpul."

​Ahmad mengaduk kopinya perlahan, matanya menatap lekat ke arah Jalal. "Sebenarnya hati Akang mah berat, Neng. Rasanya rumah ini bakal sepi banget kalau nggak ada kamu sama si dede. Mana si Jalal lagi lucu-lucunya kalau lagi nyari puting susu."

​"Ih, si Akang mah mikirnya ke situ terus!" Risma mencubit lengan Ahmad, membuat pria itu tertawa kecil. "Cuma dua minggu kok, Kang. Nanti Akang nyusul kan?"

​"Iya, seminggu lagi Akang nyusul setelah urusan dagangan di pasar beres semua. Stok kerupuk sama emping harus Akang rapihin dulu biar tenang ditinggal," ujar Ahmad. Meski ia berusaha tersenyum, ada perasaan ganjil yang mengganjal di dadanya—seperti ada mendung yang tidak terlihat sedang menggantung di atas atap rumah mereka. "Tapi Neng, hati-hati ya di jalan. Perasaan Akang teh nggak enak, kayak ada yang ngawasin."

​"Halah, si Akang mah kebanyakan baca novel silat jadi parnoan!" Risma tertawa, mencoba menghalau kecemasan suaminya. "Lagian ada Abah yang jagain. Siapa yang berani ganggu cucu jawara Indramayu?"

Ahmad kembali mengangguk, matanya tidak lepas dari bayi kecil–anak pertamanya.

 

​Keesokan harinya, dengan berat hati, Ahmad mengantar Risma dan Jalal ke terminal. Setelah bus melaju meninggalkan debu jalanan, Ahmad kembali ke rumahnya dengan perasaan hampa. Rumah itu mendadak terasa terlalu luas dan terlalu sunyi.

​Keesokan harinya, sepuluh orang pria dengan gerakan yang sangat terorganisir menyusup ke jalanan setapak menuju rumah Ahmad. Mereka tidak menggunakan mobil hingga ke depan halaman agar tidak memancing kecurigaan tetangga; tiga mobil hitam mereka diparkir jauh di samping jalan. Mereka berjalan kaki, mengenakan setelan jas hitam rapi yang tampak kontras dengan tanah merah Ciampea. Tak ada suara obrolan, hanya bunyi sepatu pantofel yang melangkah taktis.

​Ahmad sendiri baru saja berangkat ke pasar sekitar sepuluh menit yang lalu menggunakan motor tuanya.

​"Masuk," perintah pemimpin tim melalui earpiece.

​Dengan peralatan profesional, mereka membuka paksa kunci pintu depan tanpa menimbulkan suara gaduh. Sepuluh orang itu menyebar ke seluruh penjuru rumah dengan senjata api yang dilengkapi peredam suara sudah di tangan. Kamar tidur diobrak-abrik dengan cepat namun sunyi, lemari pakaian dikosongkan, bahkan kolong tempat tidur pun diperiksa dengan teliti.

​"Kosong!" bisik salah satu anggota dari arah dapur melalui radio komunikasi.

​"Sial!" Sang pemimpin tim memaki pelan. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Wijaya. "Lapor, Tuan. Target tidak ada di lokasi. Rumah dalam keadaan kosong, sepertinya mereka baru saja pergi beberapa hari yang lalu. Jejaknya masih segar."

​Di seberang telepon, suara Wijaya terdengar dingin. "Geledah lagi! Cari dokumen, foto, atau apapun yang menunjukkan kemana mereka pergi! Jangan kembali dengan tangan hampa!"

​Sepuluh orang itu kembali mengacak-acak rumah Ahmad. Mereka membongkar meja makan, merobek kasur, dan memeriksa setiap sudut dinding untuk mencari ruang rahasia atau catatan perjalanan.

​Di saat yang bersamaan, Ahmad Syihabudin sedang memacu motor tuanya di jalanan pasar. Namun, tiba-tiba ia mengerem mendadak hingga ban motornya mencit. Ia menepuk jidatnya dengan keras.

​"Astagfirullah! Catatan bon belanjaan ketinggalan di atas meja makan!" gerutu Ahmad. "Bisa rugi bandar kalau nggak bawa catatan itu ke grosir. Mana itu titipan Pak RT semua."

​Tanpa pikir panjang, Ahmad memutar balik motornya. Perasaannya mendadak menjadi sangat gelisah. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas—sebuah firasat yang sering ia baca di novel-novel Kho Ping Hoo sebagai pertanda bahaya. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang menariknya untuk segera sampai ke rumah.

​"Kenapa ya, kok perasaan kayak mau ketemu malaikat maut?" gumam Ahmad sembari menambah kecepatan motornya.

​Ahmad memarkirkan motornya di bawah pohon nangka, sedikit jauh dari pagar agar tidak perlu repot memutar motor saat berangkat lagi nanti. Ia berjalan santai menuju halaman rumahnya. Dari luar, rumah itu tampak tenang, seperti rumah kosong pada umumnya. Pintu depan terlihat tertutup rapat (karena tim pembunuh telah menutupnya kembali dari dalam untuk menjebak siapapun yang datang).

​Ahmad melangkah naik ke teras, bersenandung kecil untuk mengusir rasa sepi. Ia merogoh saku celananya, mengambil kunci rumah yang tergantung di dompet kulit kusam.

​"Duh, moga-moga catatan itu nggak keselip di bawah tumpukan novel Risma," gumamnya pelan.

​Ia memasukkan anak kunci ke lubangnya, memutarnya perlahan hingga terdengar suara klik. Ahmad mendorong daun pintu kayu itu tanpa rasa curiga sedikit pun. Ia berniat langsung menuju meja makan di ruang tengah, tidak menyadari bahwa di balik kegelapan ruang tamu, sepuluh moncong senjata gelap sudah terarah tepat ke arah pintu yang sedang terbuka.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!