"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Rahasia di Balik Kamar yang Wangi
Rahasia di Balik Kamar yang Wangi
Sore itu, mendung menggantung rendah di atas langit Jakarta, persis seperti suasana hatiku. Setelah drama di dapur semalam, aku memilih mengurung diri. Namun, ketukan pelan di pintu kamarku meruntuhkan pertahananku.
"Rum? Boleh Mbak masuk?"
Itu Mbak Siska. Aku menghapus air mataku kasar, lalu membuka pintu. Mbak Siska berdiri di sana dengan kardigan rajutnya, membawa dua cangkir teh kamomil yang harum. Kami duduk di balkon kamar, menatap rintik hujan yang mulai turun.
"Mbak tau, kamu lagi nggak tenang," ucap Siska lembut, matanya menatap jauh ke depan. "Maafin Mbak ya, Rum. Sejak Mbak sakit, rumah ini jadi terasa suram buat kamu."
Aku menunduk, memainkan ujung piyamaku. "Nggak, Mbak. Arum cuma lagi banyak tugas kampus."
Siska tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan banyak beban. "Kamu tahu, Rum? Mbak sama Mas Gavin itu... kami dijodohkan. Papa Mas Gavin dan Papa kita yang punya ide itu. Mbak dulu nggak punya pilihan."
Aku tersentak. Aku menoleh menatapnya. Dijodohkan?
"Mas Gavin itu pria yang sangat bertanggung jawab, Rum. Sangat. Tapi, terkadang Mbak merasa... Mbak cuma bagian dari tugasnya. Dia menjaga Mbak karena itu janji dia ke Papa. Apalagi dengan kondisi Mbak yang kena kanker rahim begini," Siska menghela napas, suaranya bergetar. "Mbak merasa gagal jadi wanita. Mbak nggak bisa kasih dia keturunan. Mbak sering merasa kalau Mas Gavin pantas mendapatkan seseorang yang... yang lebih utuh. Seseorang yang hidup, yang berapi-api, bukan yang layu kayak Mbak."
"Mbak, jangan ngomong gitu..." bisikku. Dadaku sesak, tapi kali ini bukan karena cemburu, melainkan rasa bersalah yang menghujam.
"Mbak sering liat dia berdiri di balkon malam-malam, menatap kosong. Mbak tau ada sesuatu yang dia simpan sendiri. Mbak cuma berharap, suatu saat nanti kalau Mbak bener-bener nggak bisa dampingi dia lagi, ada orang yang bisa bikin dia bener-bener merasa 'hidup', bukan cuma sekadar menjalankan tugas."
Tanpa kami sadari, di balik pintu balkon yang sedikit terbuka, Gavin berdiri mematung. Dia baru saja hendak masuk untuk memberikan vitamin pada Siska, tapi kalimat istrinya barusan membuatnya berhenti. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di samping tubuh. Dia mendengar segalanya—bagaimana Siska merasa hanya sebagai "tugas", dan bagaimana istrinya secara tersirat mulai merelakannya.
Esok Harinya - Kafe Dekat Kampus
"GILA! Jadi mereka dijodohkan?!" Bella memekik sampai tersedak es kopi susunya.
"Sstt! Pelan-pelan, Bel! Malu-maluin aja lo!" Tiara menabok lengan Bella, lalu kembali menatapku dengan mata melotot. "Terus, lo ngerasa bersalah sekarang?"
Aku mengangguk lemas. "Gue ngerasa jahat banget. Mbak Siska itu tulus banget, tapi gue malah pengen rebut suaminya. Tapi di sisi lain, tiap kali gue liat Mas Gavin, gue tetep nggak bisa berhenti."
"Ya itulah hidup, Rum. Kadang yang sah itu hambar, yang terlarang itu yang bikin nagih kayak micin," celetuk Tiara asal. "Tapi liat deh, daripada lo pusing, mending liat si Bella."
Aku menoleh. Di meja seberang, Raka sedang duduk sendirian sambil membaca buku. Tiba-tiba Bella berdiri, merapikan rambutnya, dan sengaja jalan berlenggak-lenggok melewati meja Raka.
"Aduh! Rak! Duh, buku lo jatuh!" seru Bella pura-pura tersandung di dekat meja Raka.
Raka yang kaget langsung sigap membantu. "Eh, Bel? Lu nggak apa-apa?"
"Aduh, pergelangan kaki gue kayaknya keseleo deh, Rak. Pegangin dong..." Bella mulai mode tebar pesona. Dia menatap Raka dengan mata berkedip-kedip manja, sangat berbeda dengan cara dia menghujat Raka di depanku.
"Cieee... si Bella kayaknya mau ambil alih proyek limbah yang lo buang, Rum," bisik Tiara sambil cekikikan. "Si Raka lumayan lho kalau dipoles dikit. Daripada nganggur gara-gara lo galakkin terus."
"Biarin aja, kalau Raka mau sama Bella, gue malah syukur," gumamku.
"Halah, bohong lo! Nanti kalau Raka beneran jadian sama Bella, lo pasti cemburu juga karena nggak ada lagi yang ngejar-ngejar lo!" Tiara menyenggol bahuku.
"Nggak akan! Gue cuma mau fokus gimana caranya bikin Mas Gavin ngakuin perasaannya tanpa nyakitin Mbak Siska. Tapi kayaknya mustahil ya?"
"Mustahil banget, Rum! Kecuali lo pindah ke planet lain," Tiara tertawa. "Tapi serius deh, Rum. Kalau Mas Gavin denger percakapan lo sama Mbak Siska tadi, kira-kira dia bakal gimana ya?"
Aku terdiam. Membayangkan wajah Gavin yang dingin mendengar kejujuran Mbak Siska membuatku merinding. Apakah dia akan semakin merasa bersalah dan menjauhiku, atau malah dia akan merasa 'bebas' untuk mengakui kalau dia memang tidak mencintai Mbak Siska secara utuh?
"Udah ah, ayo cabut! Tuh liat, si Bella malah udah duduk di kursi sebelah Raka sambil minta diajarin bab satu," tunjuk Tiara.
Kami bertiga pun keluar dari kafe, meninggalkan Bella yang masih asyik menggodai Raka yang tampak bingung tapi tetap melayani dengan sopan. Di dalam hatiku, ada sedikit rasa damai setelah bicara dengan Mbak Siska, tapi api obsesiku pada Gavin... sepertinya hanya butuh satu hembusan angin lagi untuk kembali berkobar.
Apalagi besok adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Aku tahu, itu akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kami bertiga.
jngan y thor