Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Kejujuran Razna
Razna berupaya menjawab pertanyaan Ibu mertuanya. Namun bibirnya masih tertutup rapat. Jemarinya digenggam oleh tangan yang mulai keriput itu. Melihat Sang Ibu tersenyum, hatinya mulai menghangat.
“Ibu…” suaranya bergetar, berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Sudah. Kita bicarakan di dalam saja ya! Tidak usah di sini. Engga enak didengar tetangga," ujar Ibu mertua sambil mengusap pelan bahunya.
Razna terpaksa mengikuti langkah Ibu mertuanya, walaupun sebenarnya dia enggan untuk menemui suaminya yang sudah tega mengkhianati dengan ingin menikahi wanita lain.
"Ayo, Nak. Sini duduk dulu! Kamu pasti lelah setelah melahirkan. Kalau belum ingin cerita sekarang juga tidak apa-apa. Kalau melahirkan di rumah sakit memang sering membuat bayi harus dirawat di sana dulu, apalagi jika lahir prematur. Jadi, kamu tidak perlu bersedih ya. Karena hal itu sudah biasa terjadi," ujar Ibu mertua perhatian, saat masuk ke dalam ruang tamu.
Razna terdiam, menunduk dalam-dalam. Ucapan lembut Ibu mertuanya justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Dia menggigit bibirnya pelan, berusaha menahan isak yang hampir pecah. Meski begitu, dia mencoba untuk menguatkan diri menghadapi kenyataan hidupnya.
Di sofa panjang, Ragil duduk santai sambil asyik menatap ponselnya. Kakinya selonjoran seolah tidak ada sesuatu yang penting sedang terjadi. Tatapannya sekilas jatuh pada Razna, lalu segera beralih ke ponselnya lagi. Sikapnya cuek, dingin dan datar.
“Kamu sudah pulang? Kirain masih mau menginap di sana," ucapnya menohok, tanpa sedikitpun nada hangat.
Razna terdiam tidak menjawab pertanyaan suaminya yang terdengar hanya sekedar basa-basi. Tidak ada kerinduan, tidak ada kekhawatiran yang sempat ia bayangkan sebelumnya. Pertanyaan itu terasa seperti pisau belati yang mengiris pelan-pelan. Sakit, perih.
"Ragil.....bukannya istri pulang tuh disambut dengan hangat, ini malah memancing keributan," tegur Ibu sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa sih Bu? Razna aja diam," ujar Ragil tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Tanpa banyak bicara, Ibu Mertua langsung merebut ponsel dari tangan Ragil. Dia tidak peduli meski anaknya terlihat kesal karena aktifitasnya terganggu.
"Ih Ibu...kenapa sih? Kembalikan ponselku Bu?" protes Ragil berusaha mengambil kembali namun tidak berhasil.
"Tidak. Kalau kamu ingin ponselmu kembali, layani dulu istrimu. Sana, ambilkan minum!"
Ragil mendengus kesal. Ia beranjak dari tempat duduknya dengan malas, melayangkan tatapan tajam pada istrinya sebelum akhirnya melangkah menuju dapur.
"Bikin kesel saja!" gumam Ragil, namun terdengar jelas di telinga Razna.
Jemari Razna kembali mengepal, kali ini terasa dingin. Hatinya yang sempat menghangat perlahan meredup lagi. Ia menatap punggung suaminya yang menjauh ke arah dapur. Razna kembali menunduk ingin mengungkapkan sesuatu yang penting.
“Maafkan Razna, Bu...Razna tidak bisa menjaga amanah seperti yang diharapkan,” kalimat itu mengalir begitu saja
Dahi sang Ibu berkerut. “Maksud kamu apa, Nak? Ibu tidak paham. Maafkan Ragil ya, Selama persalinan dia tidak datang mendampingimu. Tapi katanya untuk biaya sudah dibayarkan. Setidaknya itu bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang suami, meskipun sedikit,"
Razna tersenyum tipis. Tidak mengiyakan ucapan ibu mertuanya karena kenyataannya, petugas mengatakan bahwa pembayarannya belum lunas. Namun Razna hanya bisa diam. Air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan sedikit pun.
“Bukan itu yang ingin Razna katakan, Bu. Tapi..." ujarnya lirih, kalimatnya menggantung.
"Tapi apa? Katakan saja jangan sungkan. Ibu siap kok menjadi pendengar yang baik," ujar Ibu menenangkan.
Razna terdiam sesaat, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan kenyataan bahwa bayinya sudah meninggal.
"Bayi Razna… sudah tidak ada, Bu. Bayi Razna meninggal..." ucapnya lirih, tenggorokannya tercekat.
Ada rasa lega setelah mengungkapkan kebenaran itu. perlahan Razna memejamkan mata, seolah memberi ruang bagi hatinya yang remuk untuk bernapas sejenak.
Suasana mendadak menjadi sunyi. Hanya suara detak jam dinding terdengar, terasa begitu lambat.
Ibu mertua tertegun berusaha mencerna ucapan menantunya. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah pias, matanya membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“A...apa maksudmu, Nak?” suaranya bergetar. Badannya memanas.
“Tadi kamu bilang bayimu dirawat di rumah sakit. Tapi sekarang kamu bilang, bayi kalian sudah meninggal, ibu benar-benar tidak mengerti,” lanjut ibu sambil menggeleng pelan, merasa ada yang tidak beres dari ucapan menantunya.
Razna menunduk sambil mengusap air mata yang kembali mengalir. “Razna tidak sanggup mengatakannya sejak awal, Bu. Razna tadi tidak mengatakan apapun tentang keadaan bayi Razna. Semuanya terjadi begitu cepat. Razna merasa sendirian di rumah sakit. Waktu itu Razna masih mendengar tangis bayi dengan jelas, tapi keesokan harinya... dinyatakan meninggal..." ujar Razna sesegukan, tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Ibu Mertua tertegun, lalu mengingat kembali kejadian sebelumnya. Dia menyadari bahwa Razna memang tidak pernah mengatakan apapun tentang kondisi bayinya sejak tiba di rumah.
Bumi seolah berhenti berputar. Cucu yang diharapkan sudah pergi tanpa kembali. Tangan Ibu mertua yang semula menggenggam kini melemah tak berdaya. Ia menutup mulutnya, menahan keterkejutan yang menghantam secara bertubi.
“Ya Allah…” bisiknya lirih, air matanya perlahan lolos dari kelopak matanya.
Langkah kaki terdengar jelas dari arah dapur. Ragil kembali dengan membawa segelas teh hangat di tangan, wajahnya masih menyisakan kekesalan. Namun langkahnya terhenti saat melihat suasana yang berubah menjadi sunyi dan tegang.
Tatapannya berpindah dari wajah ibunya yang pucat, ke sosok Razna yang tertunduk dengan bahu bergetar. Ada sesuatu yang berbeda yang belum dia ketahui. Sesuatu yang membuatnya penasaran ingin tahu.
“Ada apa lagi?” tanyanya singkat.
Tidak ada yang langsung menjawab. Keheningan justru terasa semakin menekan jiwanya, seolah menyimpan kabar yang terlalu berat untuk disampaikan.
Razna mengangkat kepalanya, membuka matanya perlahan, menatap Ragil dengan sorot mata yang tak lagi sama. Ada luka, ada lelah dan ada keberanian yang akhirnya muncul.
“Anak kita… sudah tidak ada. Anak kita ,sudah meninggal” ucapnya pelan, namun cukup jelas.
Prang!
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...