NovelToon NovelToon
Antara Pagar Dan Detak Jantung

Antara Pagar Dan Detak Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dalgichigo

Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.

Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.

Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.

Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.

Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mancing Mania

Genta, Adit, Vino, dan Kula sepakat untuk pergi memancing ke sungai yang airnya masih jernih, sebuah lokasi yang dianggap sangat tepat untuk menghabiskan waktu luang. Keempat pemuda ini membawa peralatan lengkap dengan target hasil tangkapan yang akan dijadikan menu bakar-bakar pada acara kumpul nanti malam.

Suasana di pinggir sungai terasa sangat tenang, kontras dengan keributan di lapangan senam sebelumnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama karena tingkah laku para pemancing ini.

Genta tampil paling antusias sebagai pemimpin rombongan, meskipun sesekali ia masih asyik bernyanyi untuk memanggil ikan agar mendekat ke umpannya. Adit tampil dengan gaya "jamet" andalannya, memakai singlet dan kacamata hitam sambil sesekali melakukan gerakan dance kecil setiap kali umpannya ditarik ikan.

Vino yang selalu hemat, tampak sangat serius karena ia menganggap hasil pancingan ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan makan malam mewah secara gratis. Kula bukannya fokus ke kailnya, malah sibuk mengecek ponsel untuk memastikan tidak ada pesan dari Zahra yang terlewatkan.

Di tengah asyiknya mereka menunggu tarikan kail, dua sosok yang sangat jarang keluar rumah terlihat muncul di jalan setapak menuju sungai. Kiran dan Ara ternyata memutuskan untuk menyusul keempat pemuda tersebut.

Kiran melangkah dengan tenang, membawa tas kain berisi perlengkapan meditasi karena ia merasa lingkungan sungai yang asri adalah tempat terbaik untuk "mengecas" energi dan menyeimbangkan auranya dari polusi suara komplek.

Ara datang dengan alasan mencari inspirasi untuk proyek musik terbarunya, mengklaim bahwa suara gemericik air sungai dapat membantunya menyusun nada yang lebih segar. Namun, di balik alasan profesionalnya, Ara diam-diam sering melirik ke arah Adit yang sedang sibuk beradu mulut dengan Vino.

Meskipun ia sering menyebut Adit sebagai jamet yang mengganggu, Ara tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran si koreografer itu selalu berhasil membuat suasana hatinya yang dingin menjadi sedikit lebih berwarna.

Kiran segera mencari posisi yang nyaman di bawah pohon rindang untuk duduk bersila, sementara Ara memilih duduk di atas batu besar tak jauh dari posisi Adit berada. Kehadiran dua wanita ini tentu saja membuat Genta dan kawan-kawan semakin semangat untuk memamerkan keahlian memancing mereka demi mendapatkan perhatian

Setengah jam berlalu di pinggir sungai yang jernih itu, namun ember yang mereka bawa masih kosong melompong. Bukannya ikan yang didapatkan, justru para pemuda itu yang menjadi sasaran empuk nyamuk-nyamuk sungai yang lapar. Berbagai metode mancing mulai dari mengganti umpan hingga berpindah-pindah titik sudah dilakukan oleh Genta, Adit, Vino, dan Kula, namun tetap tidak ada satu pun ikan yang menyangkut di kail mereka.

Untuk mengobati kebosanan yang mulai melanda, Adit dengan tingkah jahilnya mulai menyiramkan air sungai ke arah Kula dan Vino. Tidak berhenti di situ, ia juga mulai mengganggu ketenangan Kiran yang sedang bermeditasi serta Ara yang sedang mencari inspirasi. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi kacau karena pecahnya perang air di antara mereka.

Ara yang merasa sangat kesal karena ketenangannya terusik, akhirnya kehilangan kesabaran dan mendorong Adit dengan kuat hingga si koreografer itu tercebur ke dalam sungai. Beruntung, bagian sungai tersebut cukup dangkal sehingga tidak membahayakan. Merasa tidak terima, Adit dengan sigap menarik tangan Ara hingga produser musik itu ikut jatuh ke dalam air. Rencana awal untuk memancing ikan akhirnya batal total karena mereka semua malah asyik bermain air. Hari itu mereka memang pulang tanpa membawa hasil pancingan untuk makan malam, namun mereka mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih berharga dari sekadar bermain di sungai bersama teman-teman komplek.

Meskipun rencana memancing gagal total, acara bakar-bakar tetap dilaksanakan karena Ara berbaik hati membelikan ikan sebagai penggantinya. Keenam warga komplek tersebut berkumpul di rooftop rumah Ara yang suasananya sangat mendukung untuk bersantai. Segala perlengkapan dan bahan makanan telah disiapkan dengan rapi oleh Kiran, sehingga mereka tinggal fokus pada proses pembakaran ikan saja.

Malam itu dipenuhi dengan keseruan yang luar biasa; suara merdu Genta mengiringi tawa mereka, sementara Adit tidak henti-hentinya menari dan melawak untuk menghibur suasana. Untuk menambah keseruan, mereka memutuskan bermain Truth or Dare menggunakan botol yang diputar di tengah lingkaran. Botol berhenti tepat ke arah Ara, dan dengan ragu ia memilih Truth.

Sebagai mood maker, Genta langsung bertanya, "Siapa pemuda komplek yang merupakan tipe ideal Ara?"

Wajah Ara seketika memerah padam. Meskipun ia sempat melirik ke arah Adit, ia berusaha menutupi perasaannya dengan menjawab "ngga ada" demi menghindari godaan teman-temannya.

Permainan berlanjut hingga botol menunjuk ke arah Adit. Tanpa ragu, si koreografer begajulan ini memilih Dare. Kiran yang sedari tadi menyimak dengan tenang langsung memberikan tantangan yang cukup berat yaitu mencium tangan salah satu orang yang ada di lingkaran tersebut.

Adit langsung mencoret nama Vino, Genta, dan Kula dari daftar pilihannya karena merasa tidak mungkin melakukan itu pada mereka. Ia juga tidak berani memilih Kiran, karena takut akan mendapatkan "salam olahraga" atau amukan.

Terdesak oleh keadaan, Adit akhirnya menarik tangan Ara dan mencium punggung tangannya dengan cepat. Ara tersentak kaget dan membeku di tempat dengan wajah yang sangat merah, sementara sorakan heboh dari Genta, Vino, Kula, dan Kiran pecah membelah keheningan malam di rooftop tersebut. Sepertinya, malam itu bukan hanya ikan yang terbakar, tapi juga perasaan.

Malam semakin larut di rooftop rumah Ara. Sisa-sisa bara api dari bakaran ikan tadi masih menyisakan kehangatan yang kontras dengan kecanggungan yang membeku di antara dua orang yang tersisa. Adit mengumpulkan piring-piring kotor dengan gerakan yang jauh lebih lambat dari biasanya, sementara Ara sibuk mengelap meja, menghindari kontak mata sama sekali.

"Ra," panggil Adit pelan, memecah kesunyian yang mencekik.

Ara hanya berdehem tanpa menoleh, tangannya terus bergerak memutar di atas permukaan meja yang sebenarnya sudah bersih.

"Soal tadi... yang di depan anak-anak... gue minta maaf ya. Gue cuma bingung milih siapa buat dare dari Kiran, dan otak gue beneran nggak jalan," ucap Adit dengan nada yang tulus, kehilangan gaya petentang-petenteng "jamet" aslinya sejenak.

Ara tetap bungkam, namun semburat merah di pipinya justru semakin terlihat jelas di bawah lampu balkon yang temaram. Ia menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut hitamnya yang panjang.

Melihat Ara yang terus menunduk dan tampak gemetar, Adit mendekat dengan raut cemas. "Ra? Lu nggak apa-apa? Muka lu merah banget dari tadi.".

Adit mengulurkan tangannya, bermaksud meraba dahi Ara. "Lu demam? Apa gara-gara tadi siang kita nyebur ke sungai?".

"Stop!" potong Ara tiba-tiba, menepis tangan Adit sebelum sempat menyentuh kulitnya.

Adit tersentak, tangannya menggantung di udara. Ia menarik napas pendek, merasa hatinya mencelos. "Oke, sori. Lu beneran marah ya sama gue?".

Ara menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang di balik dadanya. "Gue nggak marah, Dit. Gue cuma... cuma butuh waktu buat bikin hati gue stabil lagi. Udah, mending lu balik sana.".

Adit tertegun sejenak melihat Ara yang masih berusaha keras mengatur napasnya. Ia akhirnya tersenyum tipis, menyadari bahwa frekuensi di antara mereka malam ini sedang tidak biasa. "Ya udah, gue balik ya. Jangan lupa istirahat, Ra. Makasih buat ikannya.".

Adit melangkah pergi, meninggalkan Ara yang masih mematung di tengah keheningan rooftop, mencoba meredakan badai perasaan yang baru saja meledak karena sebuah kecupan tangan.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dalgichigo: siaapp💪
total 1 replies
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹
Dalgichigo: 🫰🏻🫰🏻🫰🏻
total 1 replies
Juli Idyawati
menarik ceritanya
Dalgichigo: Makasihh Kak Juli <3, jangan lupa lanjutin baca ya, karena ceritanya bakal makin menarik nihh
balas
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!