NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Para Simpanan

Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan gudang distrik Rust memecah kesunyian malam yang mencekam. Asha Valeska, yang masih meringkuk di atas semen dingin dengan tubuh gemetar hebat, tersentak saat pintu besi itu terbuka dengan kasar. Cahaya lampu dari luar menusuk matanya yang perih, memaksanya untuk berpaling. Dua pelayan wanita berpakaian serba hitam melangkah masuk, namun mereka tidak membawa obat-obatan atau makanan, melainkan sebuah tas gantung berisi gaun malam yang sangat mewah namun memiliki potongan yang sangat terbuka.

"Nyonya, bangunlah. Tuan Arlan memerintahkan kami untuk meriasmu. Kau harus hadir di perjamuan malam ini," ucap salah satu pelayan dengan nada yang sama sekali tidak memiliki empati.

Asha mencoba mengerahkan tenaganya untuk duduk, meskipun rasa perih di bahunya akibat luka bakar cerutu Elena terasa kembali berdenyut. "Perjamuan? Aku sedang sekarat! Lihatlah tubuhku, aku butuh dokter, bukan gaun!"

Pelayan itu tidak menjawab. Mereka justru menarik paksa tubuh Asha dan mendudukkannya di sebuah kursi besi yang berkarat. Dengan kasar, mereka membersihkan luka-lukanya hanya dengan kain basah yang dingin, membuat Asha memekik kesakitan berulang kali. Mereka memoles wajah Asha yang pucat dengan riasan tebal untuk menutupi lebam, namun riasan itu justru membuatnya tampak seperti boneka porselen yang retak.

"Tuan Arlan menegaskan bahwa kau tidak boleh terlihat seperti korban. Namun, gaun ini dirancang khusus agar semua orang bisa melihat siapa pemilikmu," bisik pelayan lainnya saat ia memakaikan gaun berbahan sutra tipis yang hanya menutupi bagian-bagian minimal tubuh Asha.

Setelah selesai, Asha diseret menuju sebuah limousine yang telah menunggu. Di dalam kendaraan itu, Arlan duduk dengan keangkuhan yang nyata, sementara Elena bersandar manja di bahunya. Aroma parfum mawar milik Elena memenuhi ruangan kabin yang sempit, membuat Asha merasa mual. Arlan menatap istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan.

"Kau tampak cukup layak untuk malam ini, Asha. Setidaknya riasan itu bisa menutupi kelemahanmu," ujar Arlan sambil menyesap wiski mahalnya.

Asha menatap Arlan dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Arlan? Kau mempermalukanku di depan semua orang."

"Kau adalah asetku, Asha. Dan malam ini, aku ingin menunjukkan kepada rekan bisnisku bagaimana aku menangani aset yang tidak patuh. Bersikaplah manis, atau kau akan kembali ke gudang itu tanpa atap," ancam Arlan sambil mencengkeram rahang Asha, memaksanya untuk menatap pria itu.

Elena tertawa kecil, jemarinya yang lentik mengusap kerah jas Arlan. "Jangan terlalu galak padanya, Sayang. Dia hanya butuh sedikit pelajaran tentang etiket di depan para wanita simpananmu yang cantik, bukan?"

Mobil itu akhirnya berhenti di sebuah penthouse mewah di pusat Neovault Metropolis. Musik klasik bergema di seluruh ruangan yang dipenuhi oleh pria-pria berjas mahal dan wanita-wanita cantik yang mengenakan perhiasan berkilauan. Saat pintu terbuka dan Arlan melangkah masuk sambil menggandeng Elena di lengan kanan dan membiarkan Asha berjalan tertatih di belakangnya, seluruh mata tertuju pada mereka.

"Hadirin sekalian, perkenalkan, istri kontrakku yang luar biasa patuh," ucap Arlan dengan nada sarkasme yang kental saat mereka berdiri di tengah aula pesta.

Asha merasa ingin menghilang ke dalam lantai. Gaun yang ia kenakan sangat pendek dan terbuka di bagian punggung, memperlihatkan perban tipis yang menutupi luka bakarnya. Para kolega bisnis Arlan mulai berbisik-bisik, beberapa dari mereka melontarkan tatapan penuh nafsu, sementara yang lain tertawa mengejek.

"Bawa minuman untuk Tuan Smith, Asha," perintah Arlan tanpa menoleh.

Asha terdiam sejenak, kakinya yang pincang terasa sangat sakit untuk digerakkan. "Arlan, tolong jangan..."

"Lakukan sekarang, atau aku akan meminta Elena memberikan kenang-kenangan lain di bahumu yang satunya," potong Arlan dengan suara rendah yang mengancam.

Dengan tangan gemetar, Asha mengambil nampan berisi gelas-gelas kristal. Ia berjalan tertatih di antara kerumunan, melayani para pria yang merupakan rekan bisnis suaminya. Salah satu pria, seorang investor bernama Tuan Smith, sengaja menyentuh pinggul Asha saat mengambil gelas.

"Istrimu sangat cantik, Arlan. Sayang sekali dia tampak sedikit... rusak," ujar Tuan Smith sambil tertawa cabul.

Arlan hanya tertawa bersama pria itu. "Dia sedang dalam masa pelatihan, Smith. Barang berkualitas memang terkadang sulit dikendalikan."

Penghinaan itu terasa lebih tajam daripada pisau mana pun. Asha harus berdiri di sana, di samping Arlan dan Elena, sementara suaminya memamerkan kemesraannya dengan selingkuhannya di depan mata semua orang. Elena dengan sengaja meminta Asha untuk menuangkan minuman untuknya berulang kali, hanya untuk menjatuhkan mentalnya di depan para wanita simpanan kolega Arlan yang lain.

"Tuangkan lebih hati-hati, Asha. Kau hampir merusak gaun mahalku dengan tangan kotormu itu," cetus Elena sambil memberikan tatapan tajam yang penuh kemenangan.

Asha hanya bisa menunduk, membiarkan air matanya jatuh satu per satu ke atas nampan perak yang ia pegang. Ia merasa seperti pelayan terendah di rumahnya sendiri. Rasa sakit fisik di tubuhnya kini tertutup oleh rasa malu yang luar biasa hebat. Ia melihat bagaimana para wanita cantik di sekeliling Arlan saling berbisik dan menertawakannya, menyebutnya sebagai istri yang gagal dan piala yang sudah usang.

"Lihatlah dia, dulu dia sangat sombong saat pertama kali menikah dengan Arlan," bisik salah satu wanita di pojok ruangan.

"Sekarang dia tidak lebih dari sekadar pelayan yang dipakaikan gaun mahal," balas yang lain dengan tawa mengejek.

Pesta itu berlangsung berjam-jam, dan selama itu pula Asha dipaksa berdiri tanpa istirahat. Luka di kepalanya mulai berdenyut lagi, membuat pandangannya sesekali menggelap. Setiap kali ia tampak goyah, Arlan akan memberikan tatapan peringatan yang membuatnya harus kembali tegak. Ini adalah siksaan mental yang dirancang dengan sangat rapi oleh Arlan untuk menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih dimiliki Asha.

"Kau tahu mengapa aku membawamu ke sini, Asha?" tanya Arlan ketika mereka berada di sudut ruangan yang sedikit lebih sepi, namun masih dalam jangkauan pandang tamu lainnya.

Asha menggeleng lemah, bibirnya memutih karena menahan sakit. "Aku tidak tahu."

"Aku ingin kau sadar bahwa di Neovault, kau tidak punya pendukung. Semua orang di ruangan ini tahu kau bukan siapa-siapa tanpa namaku di belakangmu. Berhentilah menuntut harta, atau aku akan memastikan kau melayani setiap pria di ruangan ini sebagai ganti rugi atas kerugian yang kau berikan pada citra perusahaanku," bisik Arlan dengan nada yang begitu kejam hingga membuat bulu kuduk Asha berdiri.

Asha menatap mata Arlan, mencari sisa-sisa pria yang dulu pernah bersikap lembut padanya, namun ia tidak menemukan apa-apa selain kegelapan. "Kau benar-benar tidak punya hati, Arlan."

"Hati tidak akan membuatmu memimpin Neovault, Asha. Sekarang, kembalilah bertugas. Tuan Miller ingin mencoba wiski koleksi pribadiku, dan kau yang harus menuangkannya untuknya," perintah Arlan sambil mendorong Asha kembali ke arah kerumunan.

Setiap langkah yang diambil Asha terasa seperti berjalan di atas bara api. Ia harus tersenyum di hadapan orang-orang yang merendahkannya. Ia harus menelan semua hinaan yang dilemparkan kepadanya. Pesta para simpanan ini adalah neraka dunia bagi Asha. Ia menyadari bahwa pernikahan kontrak ini telah berubah menjadi perbudakan yang dilegalkan oleh status sosial.

"Aku membenci tempat ini. Aku membenci mereka semua," batin Asha sambil meremas nampan di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Elena mendekat lagi, kali ini ia membawa segelas sampanye. "Kau tampak sangat lelah, Asha. Mengapa kau tidak meminta izin pada Arlan untuk berlutut di bawah kakinya? Mungkin dia akan mengampunimu malam ini."

Asha hanya diam, tidak sanggup lagi membalas provokasi Elena. Fokusnya hanya satu, bertahan agar tidak jatuh pingsan di tengah aula yang penuh dengan manusia-manusia tanpa nurani ini. Namun, rasa mual yang sejak tadi ia rasakan mulai semakin kuat. Perutnya terasa bergejolak, dan kepalanya terasa seolah sedang dihantam oleh beban ribuan ton.

"Jangan berani-berani pingsan di sini, Asha. Jika kau mengotori lantai ini dengan tubuhmu, aku akan memastikan kau tidur di jalanan distrik Rust selamanya," Arlan muncul di sampingnya, seolah bisa membaca kondisi fisik istrinya.

Asha mencoba menarik napas dalam-dalam, namun aroma alkohol dan cerutu di ruangan itu membuatnya semakin pening. Ia merasa jiwanya benar-benar telah dikuliti habis. Penghinaan mental ini adalah puncak dari segala penderitaannya sejak babak pertama dimulai. Di tengah kemewahan penthouse Neovault yang gemerlap, Asha Valeska merasa dirinya hanyalah seonggok daging yang dipajang untuk memuaskan ego pria-pria berkuasa dan selingkuhannya yang licik.

"Cukup... aku mohon cukup..." bisik Asha saat musik klasik berganti menjadi irama yang lebih keras, menandakan puncak pesta yang semakin liar.

Namun bagi Arlan, ini belum cukup. Ia ingin memastikan bahwa ketika Asha kembali ke sel gudangnya nanti, tidak ada lagi keinginan untuk melawan di dalam diri wanita itu. Ia ingin Asha benar-benar hancur, sehancur-hancurnya, hingga wanita itu sendiri yang akan memohon untuk mengakhiri kontraknya tanpa membawa satu koin pun dari kekayaannya. Di bawah lampu kristal yang bersinar terang, wajah Asha yang penuh riasan tampak sangat kontras dengan matanya yang mati, mencerminkan sisa-sisa kehidupan yang terus diperas oleh kekejaman Neovault Metropolis.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!