NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum Di Balik Lensa

​​Lampu flash kamera menyambar bertubi-tubi seperti petir yang ingin membutakan mata Kanaya. Di lobi hotel mewah tempat konferensi pers diadakan, udara terasa tipis dan menyesakkan. Kanaya bisa merasakan telapak tangan Arkan yang besar merangkul pinggangnya dengan erat....terlalu erat, seolah-olah pria itu sedang memperingatkannya agar tidak melakukan gerakan tambahan.

​"Tersenyum, Kanaya," bisik Arkan tanpa menggerakkan bibirnya. Wajahnya tetap menatap ke arah kerumunan wartawan dengan ekspresi pria paling bahagia di dunia. "Satu detik saja wajahmu terlihat tertekan, sahamku akan anjlok."

​Kanaya memaksakan sudut bibirnya terangkat. "Kamu benar-benar gila hormat, Arkan."

​"Itu namanya strategi bisnis. Sekarang diam dan ikuti naskahnya."

​Mereka duduk di balik meja panjang yang penuh dengan mikrofon. Janu berdiri di samping, memberikan kode agar sesi tanya jawab dimulai.

​"Pak Arkan! Benarkah pernikahan mendadak ini hanya untuk meredam isu penggelapan dana yang menyeret nama ayah dari istri Anda?" tanya seorang wartawan dari baris depan dengan nada menyerang.

​Arkan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat tulus dan meremehkan tuduhan itu secara elegan. Ia meraih tangan Kanaya di atas meja, menggenggamnya dengan jemari yang terasa sangat dominan.

​"Pertanyaan menarik," jawab Arkan tenang. "Justru sebaliknya. Saya mempercepat pernikahan ini karena saya tidak ingin Kanaya menghadapi fitnah jahat itu sendirian. Baskara bukan hanya karyawan saya, dia adalah mertua saya. Dan saya pastikan, siapa pun yang mencoba menjebaknya akan berhadapan langsung dengan tim hukum terbaik saya."

​Kanaya menoleh pada Arkan, menatap wajah pria itu dari samping. Jika ia tidak tahu fakta di balik memo merah di ruang kerja itu, ia mungkin akan percaya. Akting Arkan begitu sempurna hingga membuatnya merasa mual.

​"Lalu bagaimana dengan Mbak Kanaya sendiri?" tanya wartawan lain. "Apakah Anda merasa tertekan menjadi istri dari CEO yang baru saja menahan ayah Anda?"

​Jantung Kanaya berdegup kencang. Ia merasakan remasan kuat pada tangannya di bawah meja—sebuah kode keras dari Arkan.

​"Saya..." Kanaya menjeda, menelan ludah yang terasa pahit. "Saya sangat berterima kasih pada Arkan. Dia adalah sosok pelindung bagi keluarga saya di masa sulit ini. Kami sudah lama berhubungan, hanya saja kami memang lebih suka menjaga privasi sebelum keadaan memaksa kami untuk terbuka."

​Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibirnya hingga ia sendiri merasa jijik. Arkan memberikan tatapan "puas" yang sangat menyebalkan.

​Setelah dua jam sesi tanya jawab yang melelahkan, Arkan menuntunnya keluar menuju area privat di belakang panggung. Begitu pintu tertutup dan mereka hanya berdua, Arkan langsung melepaskan rangkulannya seolah Kanaya adalah barang yang baru saja terkontaminasi virus.

​"Kerja bagus. Kamu mulai paham cara bermainnya," Arkan mengambil tisu basah dari kantongnya, menyeka tangannya yang tadi menggenggam tangan Kanaya.

​Kanaya mengepalkan tinju. "Sampai kapan aku harus membohongi dunia seperti ini?"

​"Sampai semua komisaris busuk itu masuk ke lubang yang aku siapkan," jawab Arkan dingin. Ia melirik jam tangan Rolex-nya. "Aku ada rapat penting. Janu akan membawamu pulang. Jangan coba-coba keluyuran."

​"Aku mau ke rumah sakit! Kamu janji Ayah bisa pulang hari ini!"

​"Janu akan mengurus perpindahan ayahmu ke rumah pribadimu, bukan ke apartemenku. Aku tidak mau ada orang asing di rumahku, meskipun itu ayah mertuaku sendiri," Arkan berbalik pergi tanpa menunggu jawaban Kanaya.

​Kanaya duduk di kursi belakang mobil, menatap jalanan Jakarta yang macet. Janu mengemudi dalam diam. Namun, saat mobil berhenti di lampu merah, sebuah motor besar tiba-tiba berhenti tepat di samping jendela Kanaya.

​Pengendaranya menggunakan helm full face hitam. Ia mengetuk kaca jendela Kanaya dengan keras dan melemparkan sebuah amplop kecil melalui celah jendela yang sedikit terbuka untuk sirkulasi udara. Sebelum Janu sempat bereaksi, motor itu sudah melesat membelah kemacetan.

​"Mbak? Apa itu?" tanya Janu waspada, matanya melirik melalui spion.

​Kanaya dengan cepat menyembunyikan amplop itu di balik tasnya. "Bukan apa-apa. Hanya sampah dari orang jalanan."

​"Saya harus melaporkan setiap kejadian pada Pak Arkan, Mbak."

​"Jangan jadi budak yang terlalu rajin, Janu. Itu cuma brosur pinjaman online," sentak Kanaya dengan nada ketus.

​Beruntung Janu tidak mendesak lebih jauh. Begitu sampai di rumah lamanya untuk memastikan ayahnya sudah sampai dengan selamat, Kanaya segera mengunci diri di kamar mandi. Ia membuka amplop itu dengan tangan gemetar.

​Di dalamnya ada sebuah foto. Foto Arkan yang sedang berjabat tangan dengan seorang pria asing di sebuah gudang tua. Di belakang mereka, terlihat tumpukan berkas yang sangat mirip dengan dokumen keuangan yang menyebabkan ayahnya ditangkap. Di balik foto itu ada tulisan tangan:

​“Arkan bukan hanya menjebak ayahmu. Dia menjual data perusahaan pada rivalnya dan menjadikan ayahmu sebagai kambing hitam agar dia terlihat bersih di mata komisaris. Temui aku di kafe lobi rumah sakit besok jam 10 malam. Datang sendiri, atau foto ini akan hilang selamanya.”

​Napas Kanaya memburu. Jika foto ini asli, maka Arkan bukan hanya seorang manipulator, tapi pengkhianat perusahaan. Ini adalah senjata yang ia butuhkan untuk menghancurkan pria itu. Namun, ia juga sadar ini bisa jadi jebakan lain.

​Kanaya keluar dari kamar mandi dan melihat ayahnya sudah terbaring di tempat tidur rumah mereka, didampingi seorang perawat pribadi yang dikirim Arkan.

​"Naya... terima kasih, Nak. Maafkan Ayah sudah merepotkanmu," bisik Baskara lemah.

​Kanaya menggenggam tangan ayahnya, hatinya terasa sakit melihat sosok yang biasanya tegap kini tampak begitu rapuh. "Ayah jangan bicara dulu. Fokus pulih saja. Naya sudah urus semuanya."

​"Pak Arkan... dia pria baik, kan?" tanya Baskara dengan tatapan tulus yang justru menyayat hati Kanaya.

​"Iya, Yah. Dia... sangat baik," bohong Kanaya lagi.

​Di dalam hatinya, kebencian itu semakin membara. Arkan telah mencuri segalanya dari keluarganya, dan sekarang pria itu dipuja sebagai pahlawan oleh ayahnya sendiri. Perasaan muak itu hampir membuatnya meledak.

​Malam harinya, Kanaya kembali ke apartemen Arkan. Ia menemukan Arkan sedang duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuannya, dikelilingi tumpukan dokumen. Wajahnya tampak sangat lelah, namun tetap mempertahankan aura angkuh yang sama.

​"Kenapa telat pulang?" tanya Arkan tanpa menatapnya.

​"Aku menemani Ayah. Apa itu salah?" Kanaya berjalan melewati Arkan, berusaha bersikap senormal mungkin meski amplop di tasnya terasa sangat berat.

​"Aku membiarkan ayahmu pulang bukan berarti kamu bebas mengabaikan tugasmu di sini," Arkan menutup laptopnya dengan bunyi brak yang keras. Ia berdiri dan menghalangi langkah Kanaya. "Besok malam kita ada acara gala dinner dengan klien dari Singapura. Pastikan kamu siap."

​"Besok malam aku ada urusan pribadi," ucap Kanaya tegas.

​Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh ejekan. Ia maju selangkah, membuat Kanaya terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Arkan meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Kanaya, mengurung wanita itu.

​"Urusan pribadi? Kamu lupa statusmu, Kanaya? Kamu tidak punya urusan pribadi. Setiap detak jantungmu milikku selama kontrak ini berjalan. Besok malam, jam tujuh, kamu harus sudah siap dengan gaun yang aku siapkan."

​Kanaya menatap mata Arkan dengan tajam. "Kamu tidak bisa terus-menerus memaksaku seperti ini, Arkan. Aku bukan budakmu!"

​"Kamu lebih dari budak, Sayang," bisik Arkan, jemarinya mengelus pipi Kanaya dengan kasar. "Kamu adalah jaminan hidup ayahmu. Satu pembangkangan kecil darimu, dan aku akan pastikan ayahmu kembali ke sel tanpa obat-obatan yang dia butuhkan. Mengerti?"

​Kanaya merasakan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia ingin sekali menampar wajah pria ini dan menunjukkan foto pengkhianatannya, namun ia tahu ia harus bermain cantik. Ia harus mendapatkan lebih banyak bukti sebelum menyerang.

​"Baik. Aku akan ikut ke acara itu," ucap Kanaya akhirnya.

​"Anak pintar," Arkan menjauhkan tubuhnya, memberikan ruang bagi Kanaya untuk bernapas. "Sekarang masuk ke kamar. Dan jangan pernah berpikir untuk menyembunyikan sesuatu dariku, karena aku punya telinga dan mata di mana-mana."

​Kanaya berjalan masuk ke kamarnya dengan perasaan berkecamuk. Ia tahu besok jam 10 malam adalah saat penentuan. Acara gala dinner itu biasanya selesai jam 9 malam. Ia punya waktu sempit untuk kabur sejenak menemui pemberi informasi misterius itu.

​Sambil menatap langit-langit kamar, Kanaya bertekad. Jika Arkan menganggapnya sebagai jaminan yang bisa ia kendalikan, maka ia akan membuktikan bahwa jaminan itu adalah bom waktu yang siap meledakkan seluruh hidup dan reputasi sang CEO angkuh itu.

​"Kita lihat siapa yang akan berlutut di akhir nanti, Arkan," bisik Kanaya pada kegelapan malam

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!