NovelToon NovelToon
Sang Pendekar Pengendali Naga

Sang Pendekar Pengendali Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: cici aremanita

Lue Ang yang hampir mati diselamatkan oleh wanita tua, di sana Lue Ang diberitahu kalau dirinya memiliki spirit.

Untuk membalaskan dendam yang diterimanya selama ini, Lue Ang mencoba berkulivasi dan mengembangkan spirit yang ada di dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memenangkan Taruhan

Walau tidak mengerti maksud Ameng Lue Ang mencoba mempercayainya, Ameng adalah spirit terkuat Lue Ang yakin spirit Naga api miliknya itu memiliki caranya sendiri.

Semua yang melihat pertandingan masih merasa takjub dengan Spirit singa terbang milik Wang Ang, Spirit singa terbang Wang Ang spirit tingkat tinggi semua yakin kalau Wang Ang akan menjadi pemenang akhir.

Hooooooooooooeeeeer.

Suara auman yang sangat keras terdengar dari dalam tubuh Lue Ang, spirit singa terbang milik Wang Ang yang mendengar suara auman Naga seketika menghilang.

"Surai bodoh kenapa kamu kembali," ucap Wang Ang.

"Aku akan lebih bodoh lagi jika tetap di sana, jika aku benar-benar menghilang apa kamu akan bertanggung jawab," sahut Surai.

Tuan Sam dan Tuan Daang melihat spirit Wang Ang yang menghilang, auman yang sangat besar tapi tidak ada wujudnya semakin membuat mereka tidak bisa berkata lagi.

Wheeeeeeeeeeessss.

Bruuuuuuuuuaaaaaaak.

Pertarungan belum berakhir walau spirit Wang Ang menghilang, tanpa banyak bicara Lue Ang mengambil kesempatan untuk langsung menyerang Wang Ang.

Satu serangan Lue Ang membuat Wang Ang terlempar cukup jauh.

Lue Ang yang masih sangat kesal saat mengingat semua anak Hu Ang menindasnya langsung mengambil pedangnya, Lue Ang memiliki dendam yang sangat besar pada mereka.

Hu Ang melihat situasi tidak menguntungkan untuk anak-anaknya bersiap ke tengah, sebagai orangtua dirinya tidak akan membiarkan anak-anaknya mati begitu saja.

"Aku rasa pertandingan belum selesai, kamu tidak bisa ikut campur sesuai perjanjian," ucap Tuan Sam.

"Tapi anak-anak ku dalam bahaya, dia ingin membunuhnya," sahut Hu Ang.

"Cara menyelamatkan anak-anak mu hanya dengan mengakui kalau anak-anak mu sudah kalah, dengan begitu dia tidak akan membunuhnya karena pertarungan telah berakhir," ucap Tuan Daang.

Hu Ang hanya bisa menggertakkan giginya karena tidak mungkin baginya menyerah begitu saja, tapi jika anak-anak nya mati dirinya sebagai orangtua yang gagal melindungi mereka akan menyesal seumur hidup.

"Baiklah, dia pemenangnya," ucap Hu Ang.

Mendengar Hu Ang sudah mengumumkan dirinya sebagai pemenang Lue Ang langsung menyimpan pedangnya, Lue Ang tersenyum ke arah semua warga yang sedang menatapnya saat ini.

Senyuman Lue Ang seperti mengatakan dengan jelas siapa yang sampah sebenarnya, Karena kalau yang sampah adalah dirinya yang terbaring penuh luka bahkan tidak sadarkan diri adalah dirinya.

Hu Ang bergegas menghampiri kelima anaknya yang hampir semua terluka parah, salah satunya bahkan masih tidak sadarkan diri.

"Kalian sebagai saksi seharusnya meminta taruhan segera diberikan bukan, aku mau taruhan ku mereka mendapatkan hal yang sama seperti yang aku dapatkan selama ini," ucap Lue Ang berteriak keras.

"Jangan melebihi batasan mu, kita masih satu keluarga kami yang merawat mu selama ini," sahut Sun.

"Hahahahaha, keluarga kalian bilang! Apa keluarga memang memberikan makanan basi untuk anak nya tidur ku juga bukan di kamar tapi di gudang," ucap Lue Ang berteriak sangat keras.

Semua orang menatap Sun dan Hu Ang sambil berbisik satu sama lain, mereka tidak menyangka Lue Ang diperlakukan sampai seperti itu oleh keluarganya sendiri, walau selama ini mereka tidak pernah baik pada Lue Ang setidaknya mereka tidak pernah memberikan makanan sisa padanya.

"Kenapa kalian masih tidak mengumumkan kalau mereka tetap harus membayarnya," ucap Lue Ang.

Tuan Sam yang melihat Hu Ang ingin melakukan sesuatu pada Lue Ang tidak tinggal diam, dirinya diundang untuk menjadi saksi dan sebagai saksi dirinya akan berlaku seadil-adilnya.

"Kita sudah sepakat semua di awal kamu hanya perlu membayar taruhan yang sudah kamu sepakati dengannya," ucap Tuan Sam.

"Jika kami melakukan taruhan itu mau ditaruh di mana harga diri kami," sahut Hu Ang.

"Tapi dari awal kamu sudah setuju tidak ada alasan untuk membatalkan karena kamu sudah mengaku kalah, Jika kamu tidak mau membayar taruhan itu aku akan membawa kasus ini ke pengadilan, kamu akan terkena beberapa masalah terutama masalah penyiksaan dalam anggota keluarga," ucap Tuan Sam.

"Yang dikatakan Tuan Sam benar, bahkan aku bisa menjadi saksinya yang akan memperberat hukumanmu dan keluargamu," ucap Tuan Daang.

Hu Ang dan istrinya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, mereka tidak ingin dipenjara karena itu akan merusak nama keluarga Ang, jika keluarga utama mengetahui mereka semua akan dihukum mati.

Tuan Sam meminta beberapa orang mengumpulkan makanan sisa dari tempat makan terdekat, walau tidak basi setidaknya mereka tetap harus menerima taruhan memakan makanan sisa karena mereka kalah.

Setelah semua selesai dikumpulkan semua orang semakin banyak berkumpul, banyak dari mereka yang tidak sabar ingin melihat Hu Ang dan istrinya memakan makanan sisa orang lain.

"Cepatlah makan agar taruhan selesai," ucap Tuan Sam.

"Tidak bisakah kami tidak ... ."sahut Sun tidak melanjutkan perkataannya.

"Jika kalian tidak memakannya akan ku bunuh anak anak itu," ucap Lue Ang

"Jangan," sahut Hu Ang.

Hu Ang hanya bisa mengepalkan tangannya dan bersiap memakan makanan sisa yang ada di depannya, Hu Ang bahkan memaksa istrinya untuk ikut makan semua demi anak-anak mereka agar tidak ikut memakan makanan sisa.

Walau sangat memalukan keduanya berhasil memakan makanan sisa, setelah beberapa suapan istri Hu Ang langsung muntah muntah.

"Apa semua itu enak?" Tanya Lue Ang sambil tersenyum puas.

"Apa kamu puas sudah mempermalukan kami?" tanya Hu Ang.

"Bagaimana jika aku mengatakan aku belum puas," ucap Lue Ang.

"Kamu akan menyesali yang kamu lakukan hari ini," sahut Hu Ang.

"Tidak, bukan aku yang harus menyesal, seharusnya yang menyesal adalah kamu karena tidak berhasil membunuhku saat aku lemah," ucap Lue Ang.

"Benar, itu penyesalan terbesar ku, jadi bagaimana kamu bisa tetap hidup bahkan sampai bisa berkulivasi?" sahut Hu Ang.

"Aku hanya akan memberitahumu jika kamu mati," ucap Lue Ang.

"Akan ku anggap dendamku pada kalian impas, satu lagi jika kalian mendatangi keluarga utama sampaikan pada mereka suatu hari nanti aku akan mendatangi mereka untuk meminta penjelasan," sambung Lue Ang sambil berjalan pergi.

Perasaan Lue Ang merasa cukup puas sudah mempermalukan keluarga cabang, walau sebenarnya Lue Ang sangat ingin membunuh mereka semua demi membalas dendamnya.

"Nak!"

Suara panggilan dari belakang membuat Lue Ang menghentikan langkahnya, Tuan Sam dan Tuan Daang berjalan menghampiri Lue Ang yang bersiap pergi begitu saja.

"Ke mana kamu akan pergi?" tanya Tuan Sam.

"Itu urusan ku, sepertinya aku tidak memiliki alasan untuk memberitahu kemana tujuanku," ucap Lue Ang.

"Tidak bukan seperti itu, kami tidak bermaksud jahat," sahut Tuan Daang.

"Aku tahu kalian tidak bermaksud jahat, karena jika kalian bermaksud jahat kalian akan langsung membawaku pergi atau membunuhku di tempat," ucap Lue Ang.

1
Suciani Ade
Ditunggu up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!