NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : BISIK BISIK DI KANTOR

Pagi di kantor PT. HARSONO GROUP berjalan seperti biasa. Lampu fluoresen menyala, suara printer terdengar pelan dari sudut ruangan, dan aroma kopi dari pantry mulai memenuhi lorong lantai tujuh. Tapi bagi Kirana, pagi ini terasa berbeda. Langkahnya di koridor lebih berat dari biasanya, punggungnya tegak, ada sedikit kantung hitam dimatanya. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Setelah menutup pintu kamar dan mendengar Arga berbicara di telepon dengan Ibu Hana, pikirannya terus berputar. Tentang tatapan Arga yang bergetar saat bilang takut mengecewakan, tentang cara Arga memanggilnya Kirana tanpa embel-embel Nona untuk kedua kalinya, tentang rasa tenang aneh yang muncul saat ia melihat punggung Arga berjalan kembali ke sofa.

Kirana membuka pintu ruang divisi marketing dengan hati-hati. Ia berharap tidak ada yang memperhatikan. Namun ternyata Arga sudah lebih dulu tiba. Pria itu duduk di meja kerjanya, kemeja putih lengan digulung sedikit, rambut sedikit berantakan seperti baru bangun. Di layar laptopnya terbuka presentasi proposal klien baru, tapi perhatian Arga tidak sepenuhnya di sana. Ketika Kirana masuk, Arga mengangkat kepala. Senyum kecil terlukis di bibirnya, tidak berlebihan, hanya cukup untuk membuat dada Kirana berdebar tanpa alasan yang jelas.

"Pagi, Kirana. Kopi?" tanya Arga santai, seolah semalam mereka tidak ada yg terjadi hanya.

Kirana hanya mengangguk singkat. "Pagi. Tidak perlu."

Ia berjalan menuju mejanya sendiri, berusaha menjaga jarak dua meja yang selama ini selalu ia pertahankan. Tapi anehnya, jarak itu terasa semakin sempit. Setiap kali ia menunduk menatap layar komputer, ia bisa merasakan kehadiran Arga di sudut matanya. Pria itu tidak mengganggunya, tidak berbicara berlebihan. Tapi ada ketenangan yang dibawa Arga, ketenangan yang membuat Kirana merasa tidak sendirian lagi di ruangan ini.

Jam menunjukkan pukul 08.15. Karyawan mulai berdatangan satu per satu. Suara sapaan, suara heels di lantai, suara tawa kecil di pantry. Semua terdengar normal. Sampai pintu ruang direktur terbuka.

Pak Harsono masuk dengan langkah mantap seperti biasa. Pak harsono memilih kembali kekantor setelah kondisi membaik dan mendapat ijin dari Dokter, dia merasa tak betah jika terus berada dirumah. Dengan setelan jas abu-abu, rambut yang sudah mulai memutih disisir rapi, dan secangkir kopi hitam di tangan kanannya. Tapi yang berbeda pagi ini adalah senyumnya. Senyum yang penuh arti, seperti orang yang baru saja menemukan gosip paling menarik di perusahaan.

Pak Harsono melirik ke arah meja Kirana dan Arga. Tatapannya berhenti sejenak, lalu beralih ke meja HR yang berada di sisi kiri. Ia mengetuk pintu kaca ruang HR pelan, lalu masuk tanpa mengetuk lagi.

Kirana pura-pura fokus pada laporan anggaran yang ada di depannya. Tapi telinganya tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengar. Suara Pak Harsono memang tidak keras, tapi ruangan HR tidak terlalu kedap suara.

"Kirana dan Arga pulang bareng kemarin ya?" suara Pak Harsono terdengar pelan tapi jelas.

Ibu Rani, kepala HR yang sudah bekerja di sini selama sepuluh tahun, terlihat sedikit terkejut. "Iya, Pak. Saya lihat mereka keluar bersama sekitar jam 5 sore."

Pak Harsono mengangguk pelan sambil mengaduk kopinya sedikit tersenyum. "berdua saja? Menarik."

Ibu Rani hanya tersenyum tipis. Ia sudah lama bekerja dengan Pak Harsono dan tahu bahwa ketika direktur mulai tersenyum seperti itu, biasanya ada cerita yang akan menyebar ke seluruh kantor dalam waktu kurang dari dua jam.

Benar saja. Tidak sampai pukul 09.00, bisik-bisik sudah mulai terdengar di pantry. Dua orang staf junior terlihat mencondongkan badan sambil berbisik.

"Katanya Kirana pulang bareng Arga kemarin," ujar salah satu dari mereka, suaranya diturunkan tapi tetap bisa terdengar oleh Kirana yang kebetulan sedang mengambil air putih.

"Serius? Nggak mungkin. Nona Kirana itu kan dingin banget sama semua orang."

"Itu makanya aneh. Tapi kemarin waktu meeting, Arga yang paling banyak bantu Kirana. Mereka juga sering diskusi berdua."

Kirana menutup gelas airnya lebih keras dari yang diperlukan. Suara "klik" itu membuat dua staf junior langsung berhenti berbicara dan berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Kirana berjalan kembali ke mejanya tanpa menoleh, wajahnya tetap datar. Tapi di dalam hatinya, ada rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh.

Arga yang duduk di seberang terlihat menyadari situasi itu. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap Kirana sejenak, lalu kembali mengetik di laptopnya. Tapi setelah beberapa menit, Arga sengaja menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke meja Kirana. Jarak yang awalnya dua meter kini menjadi satu setengah meter.

Kirana melirik sekilas. "Ada apa?" tanyanya datar.

"Tidak ada," jawab Arga sambil tetap menatap layar. "Cuma laptop saya agak lag. Butuh koneksi WiFi yang lebih kuat. Meja kamu lebih dekat ke router."

Alasan yang masuk akal. Tapi Kirana tahu, itu hanya alasan. Arga sengaja membuat jarak mereka semakin dekat, sengaja membuat orang lain melihat mereka berdua lebih sering bersama. Kirana ingin menegur, ingin mengatakan bahwa ini tidak profesional. Tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya.

Sepanjang pagi, suasana kantor terasa berbeda. Beberapa karyawan yang biasanya tidak pernah berinteraksi dengan Kirana kini tiba-tiba menyapanya lebih ramah. Ada yang pura-pura bertanya tentang file, ada yang sengaja lewat di depan mejanya hanya untuk melihat apakah Kirana dan Arga sedang berbicara.

Kirana merasa seperti sedang diawasi. Setiap gerakan kecilnya diperhatikan. Setiap kali ia berdiri untuk mengambil dokumen, ada mata yang mengikuti. Setiap kali Arga tersenyum padanya, ada bisikan yang terdengar dari belakang.

Saat jam istirahat siang tiba, Kirana memutuskan untuk tidak makan di kantin seperti biasa. Ia membawa bekal dari rumah dan duduk di ruang pantry yang lebih sepi di lantai delapan. Ia butuh ruang untuk berpikir. Ia butuh menjauh dari tatapan-tatapan yang membuat dadanya sesak.

Tapi ternyata ia tidak sendiri di sana.

Arga sudah lebih dulu duduk di sudut, membawa kotak makan dari rumah juga. Ketika melihat Kirana masuk, Arga hanya mengangguk sebagai sapaan. Ia tidak menghampiri, tidak mencoba memulai percakapan. Hanya memberi ruang.

Kirana duduk di meja yang berlawanan, membelakangi Arga. Ia membuka kotak bekalnya pelan-pelan. Nasi putih, ayam kecap, dan tumis kangkung. Makanan sederhana yang biasa ia buat sendiri setiap minggu.

"Bekalnya enak," suara Arga tiba-tiba terdengar dari belakang.

Kirana tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan makan.

"Buatan sendiri?" Arga bertanya lagi, suaranya pelan.

Kirana menghela napas. "Iya."

"Hmm. Pantas. Rasanya hangat."

Kali ini Kirana menoleh. "Kamu bisa mencium rasa dari sini?"

Arga tersenyum. "Bisa. Karena yang buat juga hangat."

Kirana langsung menoleh kembali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu apakah harus marah atau hanya diam. Arga selalu seperti ini. Tidak pernah langsung, tapi setiap kata yang keluar selalu membuat Kirana merasa tidak nyaman sekaligus tenang.

Mereka makan dalam diam selama beberapa menit. Suasana tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya nyaman. Sampai pintu pantry terbuka.

Ibu Rani masuk dengan membawa gelas kopi. Ketika melihat Kirana dan Arga duduk di ruangan yang sama, alisnya terangkat sedikit. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum tipis lalu berjalan menuju mesin kopi.

"Kirana," suara Ibu Rani memecah keheningan. "Pak Harsono minta kamu ke ruangannya setelah istirahat."

Kirana mengangkat kepala. "Ada apa, Bu?"

Ibu Rani mengangkat bahu. "Tidak bilang. Tapi sepertinya soal laporan anggaran yang kamu kirim kemarin."

Kirana mengangguk. Ia tahu itu hanya alasan. Pak Harsono pasti ingin bertanya tentang dirinya dan Arga. Tapi ia tidak bisa menolak.

Setelah Ibu Rani keluar, Kirana menghabiskan sisa makanannya dengan cepat. Ia tidak lagi merasa lapar. Perutnya terasa sedikit mual karena gugup.

Arga menutup kotak makannya juga. "Mau saya temani?" tanyanya pelan.

Kirana menggeleng. "Tidak perlu. Ini urusan kerja."

Arga tidak memaksa. Ia hanya mengangguk dan berdiri. "Kalau ada apa-apa, panggil saya."

Kirana tidak menjawab. Ia hanya melihat punggung Arga yang berjalan keluar dari pantry. Ada rasa aneh di dadanya. Rasa aman yang tiba-tiba muncul karena kata-kata sederhana itu.

Pukul 13.30, Kirana mengetuk pintu ruang Pak Harsono. "Masuk," suara Pak Harsono terdengar dari dalam.

Kirana membuka pintu dan masuk dengan sikap profesional. Ia duduk di kursi di depan meja Pak Harsono, punggung tegak, tangan di pangkuan.

"Kirana, duduk. Santai saja," ujar Pak Harsono sambil tersenyum.

Kirana tidak santai. Ia tahu senyum itu bukan senyum biasa.

"Jadi, Kirana," Pak Harsono memulai. "Gimana suasana di kantor apa sudah bisa menyesuaikan"

Kirana menelan ludah. "Iya, Pah, semua masih bisa Kirana tangani ."

Pak Harsono mengangguk. "Papa tahu. Tapi kalau kamu menemukan kesulitan jangan ragu untuk bertanya , atau menyerahkan ke yang lain. Papa nggak mau kamu sampai tertekan dengan pekerjaan kamu sekarang. Dan soal Arga anggap aja dia sebagai senior kamu Kirana. "

Kirana sedikit terkejut. Bagaimana Pak Harsono bisa tahu? Apakah apakah Arga menceritakan nya?

"Jangan khawatir," Pak Harsono melanjutkan seolah membaca pikirannya. "Papa akan selalu ada buat kamu ."

"Mama kamu pasti sangat bangga sama kamu, Kirana," kata Pak Harsono pelan.

Kirana menunduk. Ia tidak tahu harus merespon apa. Hatinya selalu goyah kalau mengingat mendiang Nyonya Anastasya.

"Kirana, Papa sudah lama memimpin perusahaan ini," lanjut Pak Harsono. "Papa sudah melihat banyak orang dengan kemampuan yg mumpuni , tapi untuk orang yg sejujur selain Arga. Kurasa diperusahaan ini papa masih Ragu...makanya Papa percaya sama Arga buat bimbing kamu."

"Pah.. Kirana nggak mau selalu bergantung dengan Arga, Kirana juga gak suka dengan gosip gosip yg tersebar di kantor, itu tidak profesional. " jelas Kirana.

Pak Harsono tersenyum. "Profesional, ya? Bagus. Papah juga berharap begitu. Karena Papah tidak ingin ada konflik kepentingan di divisi marketing."

"Tapi," Pak Harsono melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut. "Papa juga manusia, Kirana. Papa juga pernah muda. Papa tahu ketika dua orang saling peduli, meskipun mereka berusaha menyembunyikannya."

Kirana terdiam. Ia tidak bisa menyangkal. Karena di dalam hatinya, ia tahu Pak Harsono benar.

"Papa berharap...Kalian bisa bekerja sama dengan baik. Perusahaan ini butuh kalian berdua. Masa depan Perusahaan ini ada di tangan kalian." Ujar Pak Harsono.

Kirana mengangguk pelan. "Kirana mengerti, Pah."

Pak Harsono tersenyum lega. "Bagus. Kalau begitu kamu bisa kembali bekerja."

Kirana berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Kakinya sedikit lemas. Percakapan itu membuatnya merasa seperti seluruh dunia tahu tentang perasaannya yang belum ia akui sendiri.

Ketika pintu tertutup, Kirana berhenti sejenak di koridor. Ia menatap langit-langit, menarik napas dalam-dalam. Ia harus kuat. Ia harus profesional. Ia tidak boleh membiarkan perasaan ini mengganggu pekerjaannya.

Tapi saat ia berbalik, ia melihat Arga berdiri di ujung koridor. Pria itu tidak bergerak, hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.

Kirana berjalan mendekat. "Sudah selesai?" tanya Arga pelan.

Kirana mengangguk. "Iya. Papah hanya membahas laporan anggaran."

Arga mengangguk. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu Kirana tidak akan menceritakan semuanya sekarang.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Arga.

Kirana mengangguk lagi. "Iya. Aku baik-baik saja."

Arga menatap Kirana lebih dalam. "Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke aku, Kirana. Aku di sini."

Kata-kata itu sederhana. Tapi bagi Kirana, itu seperti janji yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun selama ini.

Kirana hanya mengangguk. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Karena jika ia membuka mulut, ia takut air matanya akan jatuh.

Mereka berjalan kembali ke ruang divisi bersama. Jarak di antara mereka tidak lagi dua meter. Kini hanya setengah meter. Dan tidak ada yang merasa itu salah.

Sepanjang sore, kantor masih dipenuhi bisik-bisik. Tapi Kirana sudah tidak peduli. Ia hanya fokus pada pekerjaannya. Dan setiap kali ia menoleh, Arga selalu ada di sana. Tidak mengganggu. Hanya ada.

Hari itu berakhir dengan cepat. Saat jam menunjukkan pukul 17.30, karyawan mulai beranjak pulang. Kirana mematikan komputernya pelan-pelan. Ia tidak terburu-buru. Ia juga tidak ingin pulang lebih dulu. Hanya duduk memperhatikan Arga.

Arga juga belum beranjak. Ia masih duduk di mejanya, menatap layar laptopnya. Lalu menoleh kesamping.

"Kirana," suara Arga memecah keheningan. " kamu sudah selesai..?? maaf bikin kamu menunggu ayo pulang." ajak Arga.

Kirana menoleh. Pertanyaan itu sederhana. Tapi maknanya dalam.

Kirana tidak menjawab langsung. Ia hanya mengambil tasnya dan berdiri. "Hemm.."

Arga tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa beban.

Mereka berjalan keluar kantor bersama. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang berbisik. Hanya mereka berdua dan lorong kantor yang mulai sepi.

Di lift, Kirana menatap pantulan dirinya di dinding stainless steel. Wajahnya tetap datar. Tapi matanya tidak lagi kosong seperti beberapa minggu lalu.

Arga melihat itu. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di samping Kirana, menjaga jarak yang tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh.

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Udara malam Jakarta menyambut mereka. Hangat dan sedikit pengap.

"Kirana," Arga berhenti sejenak sebelum keluar. "Terima kasih."

Kirana menoleh. "Untuk apa?"

"Karena kamu masih mau berbicara denganku. Karena kamu masih mau bekerja denganku. Karena... kamu masih mengijinkan aku berada di sisimu ."

Kirana terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia hanya mengangguk pelan.

Mereka berjalan keluar gedung bersama. Tidak ada gandengan tangan. Tidak ada pelukan. Hanya dua orang dewasa yang perlahan belajar untuk tidak lari dari perasaan yang tumbuh di antara mereka.

Dan di luar sana, kantor PT. Harsono Group masih dipenuhi gosip. Tapi bagi Kirana dan Arga, gosip itu tidak lagi penting. Karena yang penting adalah mereka masih saling ada.

[BERSAMBUNG...]

-

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!