NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEBU YANG BERUBAH MENJADI KARANG

​Matahari pagi menyusup di sela-sela rimbunnya Hutan Kematian, membawa kehangatan yang tidak pernah dirasakan Han Feng sebelumnya. Biasanya, pagi hari baginya adalah pengingat akan tulang yang pegal dan tugas-tugas berat yang menanti. Namun hari ini, setiap partikel udara yang masuk ke paru-parunya terasa seperti aliran madu yang murni dan bertenaga.

​Han Feng berdiri di tepi sungai kecil yang membelah hutan. Tubuhnya yang kemarin hancur kini terasa asing—bukan karena sakit, tapi karena kekuatannya. Dia mengepalkan tangan, merasakan kepadatan otot dan struktur tulang yang kini lebih menyerupai giok daripada daging manusia.

​Sutra Dewa yang Terbuang.

​Han Feng memejamkan mata. Di dalam benaknya, sebuah hamparan perpustakaan cahaya tak terbatas terbuka. Jutaan gulungan teknik, resep alkimia, dan rahasia semesta tersusun rapi, menunggu untuk disentuh. Dengan satu pemikiran, dia memanggil sebuah teknik dasar pernapasan: "Napas Sunyi Dewa Langit".

​Seketika, seluruh pori-porinya seolah menghisap energi Qi dari alam sekitar. Di Daratan Bawah, seorang kultivator butuh waktu berjam-jam untuk menyerap satu tetes energi alam. Namun bagi Han Feng, energi itu datang seperti pelayan yang rindu pada tuannya, berebut masuk ke dalam nadinya yang kini seluas samudra.

​Wush!

​Dia melayangkan satu pukulan lurus ke arah sebuah pohon besar berdiameter dua meter di depannya. Gerakannya lambat, hampir malas. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada teriakan heroik. Namun, saat tinjunya berhenti beberapa inci sebelum menyentuh kulit pohon, udara di depannya meledak.

​BRAK!

​Batang pohon itu hancur berkeping-keping, menyisakan lubang besar yang tembus ke belakang. Han Feng melihat tangannya sendiri dengan tatapan datar.

​"Hanya sepuluh persen dari kekuatan fisik murni tanpa energi Qi," gumamnya. Suaranya tidak lagi serak ketakutan; suaranya kini memiliki resonansi yang dalam dan menenangkan, seperti denting lonceng di kuil kuno. "Dunia ini... ternyata jauh lebih rapuh dari yang aku ingat."

...***...

​Han Feng berjalan keluar dari hutan dengan langkah santai. Jubah pelayannya yang abu-abu robek di sana-sini, memperlihatkan kulitnya yang kini putih bersih tanpa bekas luka sedikit pun. Wajahnya yang luar biasa tampan tidak lagi ditutupi oleh ekspresi memelas, melainkan ketenangan yang sangat mengintimidasi.

​Saat dia mendekati gerbang belakang Sekte Pedang Langit, dua penjaga pelayan yang sedang bersandar di tombak mereka mendongak. Salah satunya adalah Zhang Hu, pelayan senior yang sering mencuri jatah makan Han Feng.

​"Eh? Mata hariku pasti sedang rusak," Zhang Hu mengucek matanya. "Si Sampah itu... bukankah kemarin Li Wei melemparnya ke Hutan Kematian untuk dimakan serigala?"

​Han Feng terus berjalan tanpa mengubah kecepatannya.

​"Hei! Berhenti!" Zhang Hu melangkah maju, menghalangi jalan Han Feng dengan tombaknya. "Berani-beraninya kau kembali tanpa izin? Dan lihat wajahmu itu... kenapa kau terlihat begitu... sombong?"

​Han Feng berhenti tepat di depan ujung tombak Zhang Hu. Matanya yang keemasan menatap langsung ke pupil mata Zhang Hu. Tidak ada kemarahan di sana, hanya kekosongan yang membuat Zhang Hu tiba-tiba merasa kedinginan, seolah dia sedang menatap jurang yang tak berdasar.

​"Minggir," ucap Han Feng pendek.

​Zhang Hu tertegun. Suara itu... sejak kapan pelayan ini punya keberanian untuk memerintah? "Kau... kau mencari mati! Berlutut dan minta maaf sekarang, atau aku akan—"

​Sret.

​Sebelum Zhang Hu bisa menyelesaikan kalimatnya, Han Feng melangkah maju. Gerakannya sangat efisien, seolah dia tahu persis ke mana arah tombak itu akan bergeser bahkan sebelum Zhang Hu bergerak. Han Feng melewati Zhang Hu seolah-olah pria besar itu hanyalah udara kosong.

​"Aku bilang minggir. Aku sedang tidak ingin mengotori tanganku dengan sampah sepertimu di pagi hari yang cerah ini," suara Han Feng bergema di telinga Zhang Hu, dingin dan tajam.

​Zhang Hu berdiri mematung. Dia ingin berteriak, ingin memukul, tapi tubuhnya gemetar tanpa alasan. Ada sesuatu dalam diri Han Feng yang membuatnya merasa bahwa jika dia bergerak satu inci saja, nyawanya akan melayang.

......................

​Han Feng kembali ke barak pelayan. Ruangan itu bau, lembap, dan penuh dengan debu. Di atas mejanya, menumpuk belasan kuali alkimia bekas yang berkerak hitam—tugas dari kepala pelayan yang sengaja ingin menyiksanya. Kerak itu berasal dari sisa pembakaran herbal tingkat rendah yang sangat sulit dibersihkan bahkan dengan asam kuat sekalipun.

​Biasanya, Han Feng akan menghabiskan tiga hari tiga malam untuk menggosok kuali-kuali ini sampai tangannya berdarah.

​Tapi sekarang?

​Han Feng melirik ke arah sudut ruangan di mana tumbuh beberapa rumput liar dan lumut karena kelembapan. Dia mengambil beberapa lembar daun rumput tersebut, memeras sarinya ke dalam sebuah ember air, dan menambahkan sedikit abu dari tungku.

​"Reaksi netralisasi alkimia dasar tingkat satu," gumamnya.

​Bagi para master alkimia di sekte ini, membersihkan kuali adalah pekerjaan fisik. Tapi bagi otak Han Feng yang berisi pengetahuan Dewa, itu adalah soal memanipulasi struktur molekul. Dia menuangkan air racikannya ke dalam kuali-kuali tersebut.

​Sssss...

​Dalam hitungan detik, kerak hitam yang membatu itu mengelupas dengan sendirinya, memperlihatkan permukaan logam kuali yang mengkilap seperti baru. Han Feng hanya perlu membilasnya sekali. Pekerjaan tiga hari selesai dalam tiga menit.

​Dia kemudian duduk di atas tempat tidur kayunya yang keras, lalu mulai memejamkan mata. Dia tidak bermeditasi untuk naik level; dia sedang menyusun strategi. Balas dendam terbaik bukan sekadar membunuh, tapi menghancurkan fondasi kebanggaan musuhnya.

​"Han Feng! Keluar kau, sampah!"

​Suara teriakan dari luar memecah keheningan. Itu adalah suara salah satu pengikut setia Li Wei, seorang pelayan yang baru saja naik pangkat menjadi murid luar tingkat satu bernama Xiao Bo.

​Han Feng berjalan keluar dengan tenang. Di depannya, Xiao Bo berdiri dengan angkuh, dikelilingi oleh beberapa pelayan lain yang ingin menonton tontonan gratis.

​"Kau berani mengabaikan Zhang Hu di gerbang? Kau pikir karena kau selamat dari hutan, kau menjadi hebat?" Xiao Bo meludah ke tanah. "Aku baru saja mencapai tahap pertama Body Refining. Bagiku, mematahkan lehermu semudah mematahkan ranting pohon!"

​Xiao Bo menerjang maju. Pukulannya membawa sedikit angin Qi, cukup kuat untuk meretakkan tembok bagi standar manusia biasa. Para penonton sudah membayangkan Han Feng akan terpental dengan wajah hancur.

​Namun, Han Feng tetap berdiri dengan tangan di belakang punggung.

​Saat tinju Xiao Bo hanya berjarak satu inci dari hidungnya, Han Feng sedikit memiringkan kepalanya. Gerakan itu sangat tipis, sangat presisi. Tinju Xiao Bo melewati udara kosong.

​"Kau meleset," ucap Han Feng datar.

​"Sialan!" Xiao Bo kembali menyerang dengan tendangan memutar.

​Han Feng tidak menghindar jauh. Dia hanya menggeser kakinya satu inci ke samping. Di mata orang lain, seolah-olah Xiao Bo sengaja menendang ke arah yang salah. Tapi bagi Xiao Bo, dia merasa Han Feng selalu berada di luar jangkauannya, seolah dia sedang mengejar bayangan di atas air.

​"Lambat. Terlalu banyak lubang. Napasmu tidak stabil," Han Feng mulai memberikan komentar, suaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang mengajar murid yang sangat bodoh.

​"TUTUP MULUTMU!" Xiao Bo murka. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk pukulan terakhir.

​Han Feng hanya mengulurkan satu jari telunjuknya. Dengan ketepatan yang mustahil, jari itu menyentuh pergelangan tangan Xiao Bo tepat di titik saraf utamanya.

​Tuk.

​Seketika, seluruh lengan Xiao Bo menjadi mati rasa. Keseimbangannya hilang, dan karena momentumnya sendiri, dia terpelesat di atas tanah yang licin dan jatuh tersungkur dengan wajah mendarat tepat di kubangan lumpur di depan kaki Han Feng.

​PLOK!

​Keheningan menyelimuti area barak. Para pelayan yang menonton ternganga. Xiao Bo, seorang kultivator tahap satu, jatuh hanya karena satu jari?

​Han Feng menunduk, menatap Xiao Bo yang berusaha bangkit dengan wajah penuh lumpur dan kotoran. Tatapan Han Feng begitu dingin, membuat nyali semua orang yang melihatnya menciut.

​"Lumpur itu cocok untukmu," ujar Han Feng pelan. "Setidaknya di sana kau tidak perlu khawatir tentang jatuh lagi, karena kau sudah berada di tempat paling rendah."

​Han Feng kemudian berbalik dan berjalan masuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Xiao Bo yang gemetar karena malu dan takut. Dia tahu, berita ini akan sampai ke telinga Li Wei dengan cepat. Dan memang itulah yang dia inginkan.

​"Biarkan mereka datang," bisik Han Feng sambil menatap langit dari jendela kecilnya. "Aku baru saja mulai merapikan papan catur ini."

​Di kejauhan, di puncak gunung sekte, Tetua Mo yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya. Dia merasa ada riak kecil dalam energi alam di sekitar barak pelayan—sesuatu yang sangat murni, namun sangat asing. Dia mengerutkan kening, tidak menyadari bahwa serangga yang dia abaikan kemarin kini telah berubah menjadi naga yang siap menelan seluruh sektenya.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!