NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

“Wow… bau apa ini? Kenapa harum sekali?”

Suara Peter langsung memenuhi rumah begitu pintu terbuka. Langkahnya berhenti sejenak di ambang pintu, matanya membesar seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang sudah lama ia rindukan. Aroma masakan yang memenuhi ruangan membuatnya tanpa sadar tersenyum lebar.

“Peter, kamu sudah pulang?” tanya Nindi begitu suara langkah terdengar dari arah pintu.

“Sudah kuduga,” Seru Peter sambil melepas jaket dengan santai, “Pasti kamu sedang memasak. Baunya bahkan sampai ke luar rumah.”

Sonya yang masuk di belakangnya ikut tersenyum kecil, mengangguk pelan. “Rumah ini memang selalu terasa berbeda kalau dia ada di dapur.”

Nindi yang sedang berdiri di dekat kompor hanya terkekeh pelan. Tangannya tetap sibuk mengaduk saus di wajan, sementara matanya melirik sekilas ke arah dua orang yang baru datang.

Nindi mengangguk pelan. “Syukurlah. Hari ini kamu benar – benar sudah pulang. Karna hari ini aku lagi masak lasagne sama es cendol. Favoritmu.”

Kalimat itu langsung membuat wajah Peter berubah lebih cerah.

“Serius?” tanyanya seperti memastikan.

“Heem,” jawab Nindi singkat sambil tersenyum kecil.

Peter tertawa pelan. “Kalau begitu aku merasa hari ini benar-benar hari keberuntunganku.”

Di sudut ruangan, Clay hanya memperhatikan tanpa komentar. Tapi matanya mengikuti percakapan itu lebih lama dari yang seharusnya. Kata “favorit” dan cara Nindi berbicara dengan santai pada Peter menunjukkan seberapa dekat mereka.

Sonya tersenyum kecil sambil melangkah ke arah meja makan. “Baiklah, kalau ini makanan kesukaan pacarku, apa yang bisa aku bantu?”

Nindi menoleh sekilas. “Tolong siapkan meja makan saja, Sonya.”

“Oke.”

Sonya mulai menata piring dan sendok dengan tenang. Sesekali ia melirik ke arah Clay yang sejak tadi duduk diam di dekat meja. Pria itu tidak banyak bicara, hanya mengamati ruangan dengan ekspresi datar seperti biasanya.

Sonya tersenyum kecil padanya. Clay hanya membalas dengan anggukan ringan tanpa perubahan ekspresi.

Peter yang melihat itu hanya terkekeh pelan. “Kalau aku, aku bisa bantu apa?”

Nindi langsung menoleh tanpa ragu sedikit pun.

“Kamu? Lebih baik kamu mandi dulu.”

“Eh?” Peter langsung berhenti melangkah.

Nindi meliriknya dari ujung mata. “Serius. Aku tidak tahan baumu.”

Peter langsung mengendus bajunya sendiri dengan panik kecil. “Serius bau?”

Sonya ikut menimpali sambil tertawa kecil. “Aku tadi sudah bilang di jalan.”

Peter menghela napas panjang, lalu mengangkat tangan pasrah. “Baiklah, sebelum aku diserang lebih parah, aku mandi dulu.”

Sebelum pergi, ia menepuk pundak Clay yang duduk diam di dekatnya.

Clay hanya tersenyum miring kecil, tidak banyak bereaksi, tapi matanya sempat mengikuti langkah Peter sampai menghilang ke arah kamar.

Untuk sesaat, tatapannya sedikit berubah. Bukan dingin seperti biasanya. Lebih seperti mengamati.

Di dapur, Nindi kembali fokus pada masakannya. Gerakannya cepat, teratur, dan tanpa ragu. Ia seperti seseorang yang sudah benar-benar menyatu dengan ruang itu.

Clay yang duduk di meja makan perlahan mengalihkan pandangannya ke arah dapur. Matanya mengikuti setiap gerakan Nindi tanpa ia sadari sepenuhnya.

“Dia, benar-benar nyaman di sini,” gumam Clay pelan, hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Peter kembali dengan pakaian bersih. Suasana langsung berubah lebih ramai. Semua mulai berkumpul di meja makan yang sudah tertata rapi. Aroma makanan semakin kuat, memenuhi seluruh ruangan. Nindi berdiri di ujung meja, menyilangkan tangan ringan.

“Oke. Selamat menikmati makananku.”

Ia melirik Clay sekilas, sengaja.

“Makanan ini aku buat khusus untuk membuktikan kalau aku memang chef bersertifikat CMC. Tapi jujur saja, aku rasa aku tidak perlu membuktikannya.” Nada kecil yang sedikit sombong itu langsung membuat Peter tertawa.

“Jadi ini karena Clay tidak percaya kamu chef?” tanya Peter sambil menunjuk Clay.

Nindi langsung mengangguk. “Iya. Dia kemarin meremehkanku.”

Nindi bahkan berakting seperti seorang yang sedang sangat kecewa.

Clay mendengus pelan. “Aku tidak meremehkan. Aku hanya tidak bisa percaya kalau tanpa bukti.”

Peter langsung bersiul kecil. “Wah, kamu cukup berani juga ya.”

Sonya tersenyum sambil duduk. “Kalau begitu, kamu harus jadi orang pertama yang mencicipinya.”

Tanpa banyak bicara lagi, Peter langsung mendorong piring ke arah Clay.

“Iya, kamu dulu.”

Clay menatap mereka satu per satu.

Peter terlihat terlalu antusias. Sonya tampak penuh harap. Dan Nindi…

Gadis itu hanya tersenyum kecil. Tapi ada sesuatu di sana. Bukan tekanan. Lebih seperti tantangan diam-diam.

Clay menghela napas pelan.

“Baiklah.”

Clay mengambil sendok.

Dan mencicipi masakan buatan Nindi.

Detik pertama setelah suapan itu masuk, ruangan terasa sedikit lebih tenang. Bukan karena tidak ada suara. Tapi karena Clay tidak langsung bereaksi. Matanya sedikit melebar. Bukan terkejut berlebihan. Tapi lebih seperti seseorang yang harus mengakui sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya.

“Bagaimana?” tanya Sonya cepat.

“Jangan ganggu dulu,” potong Peter. “Biar dia coba semuanya.”

Clay melanjutkan makan.

Lasagne. Sayur kacang hijau. Lalu terakhir es cendol.

Saat es itu masuk ke mulutnya, Clay benar-benar berhenti. Tatapannya sedikit berubah.

“Ini…” gumam Clay pelan sambil menatap gelas di tangannya. Ia mengaduk sedikit, lalu berhenti. “Ini apa?”

Nada suara Clay terdengar jujur penasaran, bukan sekadar bertanya basa-basi. Ia belum pernah merasakan minuman seperti ini sebelumnya. Manis, lembut, tapi ada tekstur yang asing di lidahnya.

“Es cendol,” jawab Sonya cepat, terdengar bangga. “Minuman khas dari negara asal Nindi.”

Clay mengangguk kecil, masih memperhatikan isi gelasnya seolah mencoba memahami apa yang baru saja ia minum. Lalu pandangannya perlahan bergeser.

Ke arah Nindi.

Gadis itu tidak terlihat menunggu pujian. Ia hanya duduk santai, tangan menopang dagu ringan, dengan senyum kecil yang nyaris tidak berubah sejak tadi. Seolah ia sudah tahu reaksi mereka akan seperti apa.

Dan itu entah kenapa membuat Clay sedikit kesal sekaligus tertarik.

Clay menghembuskan napas pelan.

“Aku salah.”

Peter langsung bersorak kecil. “Nah!”

Sonya tersenyum puas.

Clay menatap Nindi lebih lama dari sebelumnya.

“Maaf,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan meremehkanmu lagi.”

Nindi terdiam sepersekian detik.

Lalu tertawa kecil.

“Bagus. Untung aku bukan orang pendendam.”

Suasana langsung mencair.

Peter tertawa keras. “Akhirnya drama selesai juga!”

“Ya, kamu memang sumber dramanya,” balas Sonya sambil tersenyum.

Semua tertawa.

Makan malam pun berlanjut dalam suasana hangat. Suara sendok, tawa ringan, dan percakapan santai mengisi ruangan. Namun di antara semua itu, Clay beberapa kali tanpa sadar melirik Nindi. Bukan lagi dengan curiga. Tapi dengan sesuatu yang lebih tenang. Lebih dalam. Lebih sulit dijelaskan.

Dan di sisi lain meja, Peter sesekali melirik Clay. Lalu tersenyum kecil. Senyum yang berbeda. Seolah ia melihat sesuatu yang Clay sendiri belum sepenuhnya sadari. Ia menepuk pundak Clay pelan.

“Menarik, kan?” gumamnya pelan.

Clay menoleh.

Peter masih tersenyum. Tapi kali ini tidak sepenuhnya ramah. Ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang belum diucapkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!