Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 19
“Gak usah ngawur deh! Kita gak sedekat itu ya sampai Lo tertarik sama Gue!”
“Gue juga bingung. Kenapa gue bisa tertarik sama Lo!”
“Udah kan ngomongnya! Gue mau pergi!”
“Lys tunggu!”
“Apa lagi sih! Itu tangan bisa gak jauh-jauh!”
“Gue janji satu hal sama Lo! Gue bakal perjuangin Lo.”
‘DEG’
Pertama kali ditatap seteduh itu oleh laki-laki membuat jantung Allyssa berdetak kencang untuk sejenak. Tapi dia sadar dia tidak mau terlibat lebih jauh dengan Althan. Ia tidak ingin menambah beban hidupnya.
“Gak usah bawa kata janji deh! Gue udah punya pacar. Gue cinta sama pacar Gue. Dan Gue minta gak usah ganggu Gue lagi. Karena perasaan Lo, gak bakal bisa Gue balas!” Bohong Allyssa. Sejak kapan dirinya punya pacar. Allyssa benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan Althan dengan sekelumit pikiran yang entah apa.
***
Di Roftoop
“AAAAA...........” Teriak Allyssa.
“Kenapa Lo!” Allyssa kaget. Siapa yang selain dirinya berada di roftoop itu. Ia menoleh, melihat ke arah orang itu.
“Gabriel? Ngapain Lo di situ!” Awalnya Allyssa hanya menebak itu adalah sosok Gabriel. Dan bener saja, Gabriel tengah bebaring tak jauh dari sana.
“Gue yang harusnya nanya Al. Ngapain Lo di sini.” Ujar Gabriel bangkit dari posisi baringnya, lalu duduk.
‘Al? Kenapa dia manggil Gue dengan panggilan itu’ Batin Allyssa mencoba untuk mengabaikan.
“Gue lagi kesel!”
“Kesel? Ada yang gangguin?”
“Tau ah malas Gue jelasin!”
“Oh, yaudah.”
‘Udah gitu doang! Dingin banget jadi orang!’ Lirih Allyssa pelan dan tentunya tak didengar oleh Gabriel.
“Terus, Lo! Ngapain di sini?”
“Seperti yang Lo liat”
“Di mana- mana tidur itu di rumah! Bukan di sekolah.” Ujar Allyssa seolah menasehati. Entah apa yang membuat gadis itu begitu cerewet sekarang.
‘Emang Gue punya rumah.’ Batin Gabriel.
“Gue cuman pengen istirahat Al.”
“Nama Gue Allyssa ya! Bukan Al.”
“Gue tahu. Tapi Gue pengen manggilnya gitu” Jawab Gabriel.
‘Lo ingatin Gue sama teman kecil Gue Al’ Lanjutnya dalam hati.
“ckck. Terserah deh! BTW Luka lo semalam gimana? Udah mendingan?” Ujar Allyssa menghampiri Gabriel. Ia ikut duduk tak jauh dari Gabriel. Sebelumnya, ia merasa lelah untuk berdiri.
“Aman. Berkat nyokap Lo. Thanks!”
“Lah! Itu plesternya kenapa gak diganti?”
“Ini?” Tunjuk Gabriel pada plester yang tertempel di pelipisnya.
Allyssa mengangguk mengiyakan.
“Emang harus diganti?” Gabriel malah balik bertanya pada Allyssa.
“Astaga El! Kalau gak diganti nanti bakal infeksi!”
“Ntar di rumah Gue ganti.”
“Gak perlu. Nih Gue bawa. Pake yang bener!” Allyssa menyodorkan plester yang sengaja ia beli waktu di kantin. Entah mengapa tadi dirinya teringat begitu saja dengan luka Gabriel. Itulah alasan dia membeli plester itu.
“Ngomongnya gak usah ngegas gitu kali Al! Tapi, thanks.” Ujar Gabriel tidak datar seperti biasanya. Gabriel tersenyum meraih plester itu dan memakaikannya di pelipis.
DEG
‘Manis’ Batinnya.
Allyssa menggelengkan kepala. Ia menyadarkan dirinya, berusaha mengalihkan pikirannya.
“El. Lo tahu tempat bagus gak buat healing?” Tanya Allyysa. Entah kenapa ia memilih memanggil singkat nama laki-laki itu.
“Ada sih. Tapi Gue gak yakin Lo bakal ke sana.”
“Lah! Emang kenapa. Lo ngeraguin Gue?! Mentang-mentang Gue baru pindah. Bukan berarti Gue gak pernah jalan-jalan ya! Lagian pas di Bandung Gue sering traveling tau gak. Di gunung, air terjun danau, dan banyak lagi tempat yang Gue kunjungin!” Tidak biasanya Allyssa berbicara sebanyak ini. Apalagi ia baru dekat dengan Gabriel. Entah mengapa Allyssa suka membagi ceritanya dengan Gabriel. Sebelumnya Allyssa tidak dengan teman laki-laki. Di sekolah lamanya dia hanya memiliki 3 sahabat perempuan. Itupun dia jarang menceritakan tentang keinginannya.
“Gak Gitu. Cuman tempatnya lumayan jauh.”
“Jauhnya gak mungkin makan waktu sehari perjalanankan?”
“Sekitar 1 sampai 2 jam sih kalau gak macet.” Ujar Gabriel. Allyssa mengangguk paham.
“Nama tempatnya apa.”