NovelToon NovelToon
Duda Pemuas Hasrat

Duda Pemuas Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Duda / Playboy / Cerai
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.

Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".

Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Solusi Di Balik Meja

Setelah beberapa minggu berusaha menyeimbangkan kekacauan dalam kehidupan pribadinya, Arlan kini harus menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya. Sebuah proyek berskala besar internasional yang disebut "Golden Synergy"—sebuah kolaborasi untuk membangun kawasan bisnis terintegrasi berbasis teknologi ramah lingkungan di koridor Sudirman—sedang dalam posisi kritis.

Proyek ini adalah cita-cita terbesar Arlan yang telah ia kerjakan selama dua tahun belakangan. Apabila sukses, reputasi perusahaannya akan melambung ke tingkat global. Namun, jika gagal, dampak keuangannya bisa menghantarkan perusahaan Arlan menuju kebangkrutan—mirip dengan situasi kelam yang pernah ia alami sebelumnya bersama Shinta.

Konsorsium investor asing dari Singapura tiba-tiba mengubah ketentuan kontrak sepihak. Mereka meminta pemotongan anggaran operasional sebesar 20 persen, namun sekaligus meminta percepatan waktu penyelesaian selama enam bulan dari rencana yang ada. Bagi Arlan, ini adalah perhitungan yang tidak masuk akal dan dapat membahayakan keselamatan kerja.

Entah bagaimana, draf analisis risiko dan strategi penawaran harga dari perusahaan Arlan bocor kepada pesaing utama mereka. Kebocoran ini melemahkan posisi tawar perusahaan Arlan di depan para pemegang saham secara signifikan. Arlan mencurigai ada "orang dalam" atau pengintip yang sengaja sabotase proyek ini dari belakang—sebuah kecurigaan yang tanpa langsung memicu ketegangan di dalam kantornya sendiri.

Sebenarnya, tantangan terberat dari proyek ini datang dari dalam diri Arlan sendiri. Dalam pikiran Arlan masih tersimpan bayangan Mika yang terjebak di rumah Shinta, serta kehadiran Ghea yang kini bekerja di bawah pengawasannya membuat konsentrasinya sering terganggu. Di tengah rapat-rapat penting yang berlangsung selama berjam-jam, Arlan sering kali terlihat melamun melihat dokumen, berjuang untuk menahan kecemasan dan kelelahan yang luar biasa.

Di tengah keadaan kritis ini, Ghea—yang menjabat sebagai analis data baru—mulai menunjukkan kemampuannya. Di hadapan ruang rapat yang dipenuhi ketegangan para direktur, Ghea tampil dengan penuh percaya diri, membawa tumpukan dokumen hasil analisis terbarunya.

"Pak Arlan, dengan menggunakan metode restrukturisasi aset jangka pendek, kita bisa mengurangi biaya tanpa merugikan keselamatan pekerja atau mengurangi waktu proyek secara drastis," ucap Ghea dengan tenang, suaranya yang merdu dan penuh keyakinan segera meredakan kegundahan dalam pikiran Arlan.

Arlan memandang Ghea dari ujung meja panjang. Di balik rasa kagumnya terhadap kecerdasan Ghea, ia tidak menyadari bahwa data analisis yang disampaikan Ghea sebenarnya adalah bagian dari rencana perlindungan ganda. Ghea sengaja menyusun data yang terlihat “lemah” untuk dilaporkan kepada Shinta—agar Shinta berpikir Arlan sedang menuju kegagalan—sementara ia memberikan solusi nyata kepada Arlan secara rahasia.

Persaingan dalam dunia bisnis ini sekarang bukan hanya tentang mempertahankan keberlangsungan perusahaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Arlan untuk menunjukkan apakah ia mampu bangkit dari titik terendahnya, atau malah jatuh kembali di tengah badai yang sengaja diciptakan untuknya.

Melihat Arlan yang semakin tertekan di bawah tekanan proyek Golden Synergy, Ghea menyadari bahwa ini adalah waktunya untuk bertindak. Ia tidak dapat lagi menjadi penonton yang pasif atau sekadar berpura-pura menjadi mata-mata Shinta. Pria yang dicintainya berada dalam batas kemampuannya, dan Ghea memiliki semua alat untuk menyelamatkannya—baik dalam aspek profesional maupun pribadi.

Malam itu, jarum jam telah melewati angka sembilan. Semua pegawai telah pergi, meninggalkan keheningan di tingkat eksekutif. Hanya cahaya redup dari kantor CEO yang tetap menyala.

Ghea melangkah anggun menyusuri koridor yang sunyi, sambil membawa sebuah map hitam dan segelas kopi hangat—bukan dari mesin otomatis yang dingin, melainkan kopi spesial dengan aroma hazelnut, yang sangat disukai Arlan.

Tok.. tok..

Ghea mengetuk pintu kaca tebal itu pelan sebelum membukanya. Di dalam, Arlan duduk dengan jasnya yang tergantung di kursi. Lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, menunjukkan urat-urat di lengan kekarnya yang kini sedang memijat pelipisnya dengan rasa frustrasi.

"Masih belum ingin pulang, Pak Arlan?" sapa Ghea lembut, menutup pintu di belakangnya hingga membuat suara klik halus yang mengganggu kesunyian malam.

Arlan menatap ke atas. Mata merah dan lelahnya seketika menjadi lembut saat melihat Ghea yang menghampirinya dengan keanggunan yang menenangkan.

"Pekerjaan ini membuatku tidak bisa tidur, Ghea," jawab Arlan dengan suara serak, bersandar pada sandaran kursi.

Ghea meletakkan gelas kopi hangat di meja kerja Arlan, lalu berdiri di samping pria tersebut. Ia membuka map hitam yang dibawanya dan menyebarkannya di depan Arlan.

"Ini adalah analisis risiko yang sebenarnya," kata Ghea, suaranya berubah jadi bisikan profesional yang strategis. "Data yang sengaja diberikan kepada pesaing beberapa hari yang lalu... aku sudah melacak alamat IP pengirim dari departemen keuangan. Itu adalah orang yang diutus oleh Shinta."

Arlan terkejut, rahangnya langsung mengeras. "Shinta... jadi dia benar-benar ingin menghancurkanku melalui proyek ini?"

"Ya," Ghea mengangguk dengan tenang, jemari anggun menunjuk ke bagan analisis di dokumen tersebut. "Tetapi dia tidak mengetahui bahwa aku telah mengubah draf analisis risiko yang bocor itu. Data yang saat ini dimiliki pesaing adalah perhitungan palsu yang sengaja aku buat sehingga mereka menawarkan harga yang salah. Sementara ini..." Ghea mengetuk dokumen asli di depan Arlan, "...adalah rencana restrukturisasi anggaran yang sesungguhnya. Kita bisa memenuhi keinginan investor dari Singapura tanpa perlu mengurangi anggaran operasional utama."

Arlan tertegun melihat lembaran dokumen di depannya, lalu beralih menatap wajah cantik Ghea yang sangat dekat dengannya. Kecerdasan, ketenangan, dan kelicikan profesional Ghea malam ini benar-benar mengesankannya. Ghea tidak hanya menyelamatkan perusahaannya, tetapi juga menjaga dirinya dari serangan Shinta yang tidak terduga.

Melihat Arlan yang masih terdiam menatapnya dengan tatapan mendalam, Ghea memberikan senyum tipis. Keanggunan profesionalnya perlahan memudar, menampilkan sisi lembut seorang wanita yang sangat peduli pada pria yang ada di hadapannya.

Ghea memberanikan diri melangkah sedikit lebih dekat. Tangan lembutnya perlahan terangkat, menyentuh bahu Arlan yang tegang, kemudian mengerutkan dengan pijatan lembut yang menghadirkan kehangatan menembus kemeja tipisnya.

"Kamu terlalu menekan diri, Mas," bisik Ghea dengan suara sangat lembut. Desah nafas hangatnya menyentuh sisi wajah Arlan, membangkitkan kembali kenangan malam yang penuh panas di hotel butik. "Aku ada di sini untuk membantumu. Kamu tidak perlu menanggung beban ini sendirian lagi."

Arlan menutup matanya sejenak, menikmati sentuhan tangan Ghea di bahunya yang seolah menghancurkan semua tembok pertahanan dan keputusasaan yang ia pertahankan sepanjang hari. Aroma parfum Ghea yang elegan kembali menggoda inderanya, membuat detak jantungnya melaju kencang.

Arlan menggenggam tangan Ghea yang berada di bahunya, memegang jemari lentik itu dengan kuat dan membawanya ke bibirnya, mencium punggung tangan Ghea dengan penuh perasaan.

"Terima kasih, Ghea... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku dan perusahaan ini jika kamu tidak kembali," kata Arlan dengan tulus, matanya yang tajam kini menatap dalam ke manik mata Ghea, menunjukkan bahwa di tengah badai yang sulit ini, kehadiran Ghea adalah satu-satunya perlindungan yang dia butuhkan.

1
Soleh Mekanik
/Smile/
Heriyansah: Masih lanjut kok kak ceritanya, di tunggu ya. Semoga ga kecewa 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!