Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Umpan Sempurna di Jalur Industri Mati
Pagi itu, taman belakang perpustakaan SMA Taruna Citra terasa lebih sejuk berkat sisa hujan semalam. Di atas meja kayu gazebo, dua porsi bubur ayam berukuran jumbo sudah terhidang. Rama menepati janjinya. Porsi kerupuknya menggunung, dan sate ususnya bertambah. Nayla menatap mangkuk di depannya dengan mata berbinar, tapi anehnya, tangan gadis itu tak langsung menyentuh sendok. Matanya yang bulat justru menyipit, menatap Rama dengan penuh kecurigaan.
"Muka lo tenang banget hari ini, Bos. Terlalu tenang malah. Kayak air laut sebelum tsunami," selidik Nayla, mengaduk teh hangatnya pelan. "Lo merencanakan sesuatu yang gila kan buat sore ini?"
Rama, yang sedang mengunyah buburnya dengan elegan khas anak teladan, hanya mengedikkan bahu. "Gue selalu ngerencanain hal gila tiap hari. Salah satunya ya nurutin kemauan majikan cerewet yang minta porsi kuli begini. Makan aja, nggak usah banyak mikir. Nanti otak lo ngebul pas pelajaran matematika."
"Dih, ngalihin pembicaraan," cibir Nayla. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke manik mata Rama di balik kacamata minusnya. "Ingat ya, Ram. Lo udah janji nggak bakal nekat sendirian. Kalau Kobra Besi beneran mantau gerbang belakang, lo harus cari jalan aman."
Tatapan Rama melembut. Ia menghentikan kunyahannya, membalas tatapan gadis berjilbab ungu itu dengan kesungguhan yang tak bisa ditutupi. "Gue janji. Semua udah ada di bawah kendali gue. Lo fokus aja belajar, pulangnya langsung naik ojek online atau taksi yang aman. Gue udah pesanin lewat HP gue, nanti pelat nomornya gue forward ke lo. Jangan nolak."
Nayla membuang napas kasar, sadar kalau berdebat dengan Rama di saat mode protektifnya menyala adalah hal yang sia-sia. "Iya, iya, Tuan Muda. Tapi awas aja kalau besok lo datang ke sekolah dengan muka babak belur lagi. Gue bakal nambahin sambal sebotol penuh ke mangkuk bubur lo."
Rama terkekeh pelan. Ancaman konyol itu justru terdengar seperti melodi terindah di telinganya. "Siap, Tuan Putri."
Bel pulang sekolah akhirnya menggema, membubarkan ribuan siswa yang sudah penat dengan dijejali rumus dan teori. Rama membereskan alat tulisnya dengan cepat, memberikan anggukan singkat pada Nayla sebagai kode agar gadis itu pulang lebih dulu sesuai rencana. Begitu kelas mulai sepi, Rama melangkah keluar.
Namun, tujuannya bukan gerbang utama. Ia berjalan menyusuri koridor samping yang mengarah langsung ke parkiran khusus di area belakang sekolah. Sambil berjalan, tangan Rama dengan cekatan melepas kacamata minusnya dan menyimpannya di saku tas. Ia membuka dua kancing teratas seragam kemeja putihnya, mengeluarkan ujung kemeja itu dari dalam celana abunya, dan mengacak rambut klimisnya hingga berantakan. Topeng si anak emas terlepas, digantikan oleh aura sang Hantu Wana Asri yang siap memangsa.
Di pojok parkiran, motor sport hitam legamnya terparkir dengan tenang. Rama memakai jaket kulit hitam yang selalu ia simpan di dalam jok, memasang helm full-face dengan kaca visor gelap, lalu memutar kunci kontak.
Vroom! Raungan mesin ber-cc besar itu memecah kesunyian area belakang. Rama memacu motornya perlahan menuju gerbang belakang yang berbatasan langsung dengan jalan raya pinggiran Yogyakerto. Begitu ban motornya menyentuh aspal jalan raya, insting bertarungnya langsung menyala maksimal.
Matanya melirik tajam ke kaca spion. Benar saja dugaannya. Tak jauh dari sebuah warung kopi kumuh di seberang jalan, tiga motor modifikasi yang sejak tadi terparkir diam kini mulai menyalakan mesin. Para pengendaranya mengenakan jaket yang dibalik hingga berwarna hitam polos, persis seperti laporan Bagas semalam.
Rama menyeringai di balik helmnya. "Ayo main-main, anjing Kobra. Kita lihat seberapa jauh kalian berani ngikutin gue."
Alih-alih melaju kencang ke arah pusat kota atau rumahnya, Rama sengaja memutar tuas gas ke arah yang berlawanan. Ia mengambil jalur menuju kawasan proyek industri di pinggiran kota yang pembangunannya mangkrak. Jalanan ke arah sana lebar, tapi sangat sepi karena jarang dilewati warga sipil. Kanan kirinya hanya dipenuhi ilalang tinggi dan bangunan-bangunan beton setengah jadi yang terbengkalai.
Dari kaca spion, Rama melihat ketiga motor itu mulai menambah kecepatan, berusaha menempel ketat di belakangnya. Mereka jelas tidak curiga dan berpikir Rama sedang berusaha melarikan diri karena panik ketahuan. Rama sesekali melambatkan lajunya sedikit, bertingkah seolah ia bingung mencari jalan keluar, memberikan ilusi kepada para penguntitnya bahwa mereka berhasil memojokkannya.
Angin sore menghantam tubuhnya dengan beringas. Jantung Rama berdetak dalam ritme yang tenang namun penuh antisipasi. Di jalanan aspal ini, ia adalah sutradaranya, dan musuhnya hanyalah aktor figuran yang sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Semakin jauh mereka memasuki kawasan industri mati itu, suasana semakin sunyi. Hanya ada suara deru mesin empat motor yang saling beradu.
Tepat di tengah-tengah sebuah jalan beton yang diapit oleh dua kerangka gudang raksasa, Rama menarik tuas rem depannya dengan hentakan yang terkalkulasi. Ban motornya berdecit keras bergesekan dengan aspal, memercikkan sedikit debu jalanan. Ia mematikan mesin, menurunkan standar motor, dan duduk santai di atas jok sambil melepas helmnya. Angin langsung menerpa wajahnya, mengibarkan rambutnya yang berantakan.
Ketiga motor penguntit itu langsung mengerem mendadak tepat sekitar sepuluh meter di belakang Rama. Mereka mematikan mesin, lalu turun dari motor dengan gaya congkak. Mereka tertawa-tawa kecil, mengira Rama akhirnya menyerah karena jalannya buntu di depan sana terhalang portal besi proyek.
"Woy, Sang Hantu! Kok berhenti? Udah capek lari-larian ya?" seru salah satu dari mereka, cowok berbadan gempal dengan bekas luka bakar di leher. Ia mencabut sebatang besi pendek dari balik jaketnya. "Ternyata bos The Ghost gampang banget dipojokin. Cuma modal modal muter-muter di jalan sepi. Lo pikir lo bisa kabur dari kami?"
Rama sama sekali tidak terlihat panik. Ia menyandarkan helmnya di atas tangki, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap ketiga preman itu dengan tatapan sedingin es.
"Siapa yang bilang gue mau kabur?" suara serak Rama menggema di antara bangunan beton kosong itu, terdengar sangat santai tapi menyimpan ancaman mematikan. "Gue ke sini bukan buat lari dari kalian. Gue yang bawa kalian ke sini."
Ketiga kacung Kobra Besi itu saling pandang dengan kening berkerut, mulai merasakan firasat buruk.
Rama mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu menjentikkan jarinya ke udara.
Detik itu juga, suasana sunyi kawasan industri mati itu pecah oleh suara raungan puluhan mesin motor yang memekakkan telinga. Dari balik kerangka gudang di sebelah kanan, Galang dan Cakra melesat keluar menggunakan motor mereka, memblokir akses jalan mundur ketiga preman tersebut. Dari arah kiri, Bagas dan belasan anggota The Ghost lainnya bermunculan dari semak-semak ilalang dan celah bangunan, mengelilingi ketiga penguntit itu dalam bentuk lingkaran ketat.
Wajah ketiga anggota Kobra Besi itu langsung pucat pasi, persis seperti mayat hidup. Besi yang tadinya dipegang dengan gaya mengancam kini perlahan turun. Mereka baru sadar, mereka tidak sedang memojokkan sang Hantu Wana Asri. Mereka baru saja masuk sukarela ke dalam kandang iblis.
"S-sialan! Kita dijebak!" umpat cowok berbadan gempal itu, matanya bergerak liar mencari celah untuk kabur, tapi rapatnya barisan motor modifikasi anak-anak The Ghost tidak menyisakan ruang bahkan untuk seekor tikus sekalipun.
Galang mematikan mesin motor bebeknya, turun sambil menepuk-nepuk tongkat bisbol kayunya ke telapak tangan. Cowok berambut gondrong itu menyeringai buas. "Selamat datang di Wana Asri, pecundang. Nyali lo pada gede juga berani mantau bos kita di siang bolong."
Rama turun dari motornya. Langkahnya pelan, berat, dan penuh dominasi saat ia berjalan mendekati ketiga penguntit yang kini tubuhnya mulai gemetar ketakutan. Kerumunan The Ghost secara otomatis membuka jalan untuk bos mereka.
"Gue kasih kalian dua pilihan," desis Rama, berdiri tepat di depan cowok berbadan gempal yang sepertinya adalah pemimpin dari ketiganya. "Pilihan pertama, kalian cerita semuanya. Apa aja instruksi Tora, sejauh mana dia mantau gue, dan siapa aja yang ada di radar incaran dia. Kalau kalian jawab jujur, gue janji kalian bakal pulang dengan kaki yang masih bisa dipakai jalan."
Rama memiringkan kepalanya sedikit, matanya menyipit mematikan. "Pilihan kedua, lo pada tutup mulut, sok setia sama Tora, dan biar Galang sama Bagas yang ngajak tulang-tulang kalian ngobrol. Gimana?"
"K-kita nggak bakal ngomong apa-apa! Lo pikir kita takut sama ancaman berandal sekolahan kayak lo?!" bentak salah satu penguntit yang bertubuh kerempeng, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya meski suaranya bergetar parah.
Rama hanya tersenyum miring, sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia mundur selangkah, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit.
"Pilihan kedua rupanya," gumam Rama santai. Ia menoleh ke arah Galang dan mengangguk pelan. "Lang, ajarin anjing-anjing ini cara ngegonggong yang sopan di wilayah orang."
"Dengan senang hati, Bos," sahut Galang dengan tawa mengerikan.
Bagas dan beberapa anggota inti The Ghost langsung bergerak maju. Pertarungan itu tidak bisa disebut pertarungan, melainkan pembantaian sepihak. Ketiga kacung Kobra Besi itu sama sekali bukan tandingan pasukan elit The Ghost. Dalam waktu kurang dari lima menit, suara pukulan, tendangan, dan rintihan kesakitan menggema di kawasan industri yang kosong itu.
Rama hanya menonton dalam diam. Di benaknya, terbayang wajah Nayla yang ketakutan saat di gang malam itu, terbayang wajah Raka yang menyusup ke lokernya, terbayang kehidupan siangnya yang nyaris hancur. Semua itu menyulut sumbu amarah di dadanya, membuat Rama tak memberikan instruksi berhenti meski ketiga musuhnya sudah babak belur di atas aspal kotor.
Baru setelah cowok berbadan gempal itu mengangkat tangan berlumuran darah sambil memohon ampun, Rama mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar pasukannya mundur.
Rama berjongkok di depan preman gempal yang kini napasnya tersengal-sengal di tanah. Ia menjambak kerah jaket cowok itu, menariknya hingga wajah mereka berdekatan.
"Ampun... ampun, Bos... gue ngomong... gue bakal ngomong semuanya..." rintih preman itu, nyalinya sudah hancur lebur tanpa sisa.
"Bagus. Anak pintar," desis Rama dengan suara sedingin es. "Sekarang, cerita ke gue. Apa rencana bos Tora lo itu, dan berani-beraninya dia ngirim kalian buat mantau sekolah gue?"
Preman itu menelan ludah yang terasa anyir oleh darah. "B-Bos Tora marah besar waktu gudang suku cadang kita dibakar semalam. Dia tahu itu kerjaan lo. Tapi dia sadar Kobra Besi belum siap buat perang terbuka sekarang karena logistik kita hancur. Makanya... makanya dia nyuruh kita buat nyari kelemahan lo yang lain."
"Kelemahan apa?" tekan Rama, cengkeramannya di kerah jaket itu semakin mengerat hingga preman itu nyaris tercekik.
"D-dia nyuruh kita mantau aktivitas lo sehabis pulang sekolah. Dia bilang, si Hantu Wana Asri pasti punya alasan kenapa sering keluyuran pakai seragam putih abu. Bos Tora ngincer orang terdekat lo di sekolah... dia bilang, dia bakal nyulik orang itu buat dijadiin jaminan biar lo mau serahin wilayah selatan ke kita..."
Jantung Rama seakan berhenti berdetak selama satu detik, sebelum akhirnya berpacu gila-gilaan karena kepanikan dan amarah yang meledak tak terkendali. Prediksinya dan Galang benar. Tora benar-benar mengincar nyawa orang-orang di sekitarnya. Dan satu-satunya orang terdekatnya di sekolah yang jelas-jelas terlihat berinteraksi dengannya setiap hari hanyalah gadis berjilbab ungu itu. Nayla.
Rama mengempaskan tubuh preman itu ke aspal dengan kasar. Ia berdiri dengan napas memburu, matanya memancarkan kilat merah kemarahan. Ia telah meremehkan kegilaan Tora. Kobra Besi tidak hanya mencari informasi, mereka sedang mencari celah untuk menghancurkannya lewat Nayla.
"Lang, Gas!" teriak Rama dengan suara menggelegar, membuat seluruh anggota gengnya langsung menoleh kaget. "Ikat mereka bertiga, rampas motor sama handphone-nya. Kirim pesan ke Tora pakai HP mereka, bilang kalau dia berani nyentuh satu aja murid di sekolah gue, gue sendiri yang bakal motong lehernya di aspal!"
Rama langsung berlari menuju motor sport-nya, memakai helmnya dengan gerakan brutal dan tergesa-gesa.
"Bos! Lo mau ke mana?!" teriak Galang panik melihat bosnya tiba-tiba terlihat seperti orang kesetanan.
"Gue ada urusan nyawa!" balas Rama dari balik helm.
Ia menstarter motornya, menggeber mesinnya hingga meraung marah, lalu melesat kencang meninggalkan kawasan industri itu. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi oleh satu nama. Rama harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Nayla selamat, bahwa gadis itu benar-benar sudah tiba di rumahnya. Karena jika sampai satu saja goresan terjadi pada Nayla gara-gara dunia gelapnya ini, Rama tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri seumur hidup.