Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Batas yang Tak Terhitung Lagi
Elora tidak tidur malam itu. Bukan karena hujan yang masih sesekali terdengar jatuh di kaca jendela, bukan juga karena kata-kata Arshaka yang terus berulang di kepalanya seperti rekaman yang tidak bisa dimatikan. Tapi karena ada sesuatu yang berubah tanpa ia minta, sesuatu yang tidak lagi bisa ia tempatkan dengan rapi sebagai “kontrak kerja” atau “strategi publik”. Setiap kali ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas bahwa yang terjadi di antara mereka sudah bergerak ke arah yang tidak pernah mereka sepakati secara sadar, tapi juga tidak benar-benar mereka hentikan.
Dan yang paling mengganggu adalah kenyataan bahwa Arshaka tidak terlihat menyesal sedikit pun tentang itu.
Pagi datang dengan suasana yang terlalu tenang, seolah dunia di luar hotel tidak tahu bahwa sesuatu di dalam satu kamar itu sedang bergeser pelan. Elora duduk di tepi ranjang, masih dengan rambut yang belum sepenuhnya ia rapikan, menatap ponselnya tanpa benar-benar membacanya. Ada pesan dari manajer, ada jadwal baru, ada pembahasan tentang brand dan publik, tapi semuanya terasa seperti suara jauh yang tidak benar-benar menyentuhnya hari ini. Karena pikirannya masih tertinggal di malam sebelumnya—di jarak beberapa langkah antara dirinya dan Arshaka yang terasa terlalu dekat untuk dianggap kebetulan, tapi terlalu tenang untuk disebut ancaman langsung.
Ketukan pintu terdengar lebih cepat dari yang ia harapkan.
Tidak ada waktu untuk menebak. Elora sudah tahu siapa sebelum pintu itu benar-benar terbuka.
Arshaka masuk seperti biasa, rapi, tenang, dengan ekspresi yang tidak pernah benar-benar menunjukkan kelelahan. Tapi hari ini ada sesuatu yang sedikit berbeda di caranya berdiri di ambang pintu—lebih diam, lebih terfokus, seolah ada sesuatu yang sudah ia putuskan sebelum datang ke sana.
“Kita ada perubahan jadwal lagi,” katanya langsung tanpa basa-basi.
Elora mengangkat pandangan. “Kamu lagi?”
Arshaka tidak bereaksi pada nada itu. “Ini bukan keputusan sepihak.”
Elora tertawa pelan, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Tapi aku juga nggak diajak bicara.”
Arshaka melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. “Karena ini soal keamanan.”
Dan kata itu—keamanan—mulai terdengar terlalu sering dalam hidup Elora belakangan ini, sampai ia tidak yakin lagi apakah itu benar-benar alasan atau hanya cara lain untuk mengatakan “kontrol”.
“Keamanan dari apa?” Elora akhirnya berdiri, menatapnya langsung.
Arshaka tidak langsung menjawab.
Tapi kali ini tatapannya tidak menghindar.
“Aku sudah lihat beberapa hal,” katanya akhirnya, lebih pelan dari biasanya.
Elora mengernyit. “Hal apa?”
Ada jeda kecil sebelum Arshaka melanjutkan.
“Orang-orang mulai terlalu berani mendekat.”
Elora terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan. “Itu dunia aku sejak awal.”
“Tapi sekarang berbeda,” jawab Arshaka cepat, hampir tanpa jeda.
Dan di situlah Elora mulai melihat sesuatu yang tidak ia suka.
Nada itu.
Bukan lagi dingin.
Bukan lagi profesional.
Tapi sesuatu yang lebih… personal.
Elora melangkah sedikit lebih dekat, mencoba membaca sesuatu yang biasanya tidak pernah ia pedulikan. “Kamu sadar nggak sih,” katanya pelan, “kamu mulai ngomong seolah kamu punya hak buat nentuin siapa yang boleh dekat sama aku?”
Arshaka tidak menjawab langsung.
Tapi langkahnya bergerak satu kali.
Lebih dekat.
Seperti kebiasaan yang mulai terbentuk tanpa ia sadari lagi.
“Aku tidak menentukan itu,” katanya akhirnya. “Aku hanya menghindarkan kamu dari hal yang tidak perlu.”
Elora menatapnya cukup lama. “Dan kamu yang tentuin apa yang perlu atau nggak?”
Arshaka tidak membantah.
Dan itu justru membuat suasana di antara mereka terasa lebih berat.
Beberapa detik hening berlalu sebelum Elora akhirnya mengalihkan pandangan, berjalan ke arah jendela. Di luar, kota sudah mulai hidup lagi, seolah tidak ada percakapan yang sedang mengubah sesuatu di dalam ruangan kecil itu. Tapi Elora bisa merasakan satu hal dengan jelas—cara Arshaka berdiri di belakangnya sekarang tidak lagi terasa seperti “menemani”.
Lebih seperti “mengawasi”.
“Kenapa kamu jadi se… sejauh ini?” suara Elora akhirnya pecah pelan.
Arshaka tidak langsung menjawab.
Tapi langkahnya terdengar.
Pelan.
Sampai ia berhenti tidak jauh di belakang Elora.
“Karena kamu terlalu sering tidak sadar bahaya di sekitarmu,” katanya.
Elora menoleh sedikit. “Atau karena kamu nggak suka kalau aku terlalu bebas?”
Kalimat itu membuat Arshaka diam lebih lama dari biasanya.
Dan ketika ia akhirnya menjawab, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
“Kalau itu yang kamu pikirkan… aku tidak akan mengubahnya.”
Elora menatapnya cukup lama.
Karena itu bukan jawaban yang menyangkal.
Tapi juga bukan jawaban yang membenarkan.
Lebih seperti seseorang yang tidak lagi mencoba menjelaskan dirinya dengan cara yang aman.
Hari itu mereka tetap keluar hotel, tapi suasananya berbeda.
Arshaka lebih sering berada di sampingnya daripada biasanya. Tidak meninggalkan jarak seperti awal mereka mulai. Bahkan ketika ada tim lain di sekitar, bahkan ketika kamera tidak terlalu dekat, Elora bisa merasakan bahwa perhatian Arshaka tetap ada di sana, mengikuti setiap geraknya tanpa perlu diperlihatkan secara jelas.
Dan yang membuat Elora mulai tidak nyaman adalah fakta bahwa orang lain juga mulai menyadarinya.
Di salah satu lokasi meeting, seorang staf sempat berbicara terlalu lama dengan Elora tentang jadwal kerja sama. Tidak ada yang salah di permukaan, tidak ada yang bisa diprotes secara profesional. Tapi sebelum percakapan itu sempat menjadi panjang, Arshaka sudah berdiri di dekat mereka, tidak menyela, tidak berbicara, hanya hadir—dan cukup untuk membuat percakapan itu berubah arah dalam hitungan detik.
Elora menangkap itu.
Semua orang menangkap itu.
Tapi tidak ada yang berani mengatakannya langsung.
Di mobil saat kembali ke hotel, Elora akhirnya bersandar, menatap Arshaka yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi seperti biasa—tenang, tidak terganggu.
“Kamu sadar nggak sih,” kata Elora pelan, “orang-orang mulai lihat kamu beda sekarang.”
Arshaka menoleh sedikit. “Beda bagaimana?”
Elora menatapnya. “Lebih… dari sekadar kerja sama.”
Ada jeda.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Arshaka tidak langsung menjawab.
Tapi tangannya sedikit bergerak di samping, cukup dekat dengan tangan Elora di kursi, tidak menyentuh, tapi juga tidak lagi jauh seperti dulu.
“Kalau itu yang terjadi,” katanya akhirnya, “aku tidak akan menyangkalnya.”
Elora terdiam.
Karena di titik itu, ia mulai menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui terlalu cepat.
Arshaka tidak lagi sekadar menjaga jarak dengan dunia.
Dia mulai menghapus jarak itu sendiri.
Dan Elora tidak tahu lagi apakah yang paling berbahaya dari semua ini adalah skandal yang terus membesar…
atau cara seseorang di sampingnya mulai bertindak seolah tidak ada lagi batas yang perlu dihormati sejak awal.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...