NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMATA DI BALIK KERAK BUMI

​Kota Seribu Awan tidak pernah benar-benar tidur. Saat matahari mulai tenggelam dan digantikan oleh rembulan yang pucat, kota di atas langit ini justru menunjukkan wajahnya yang lain. Di distrik atas, lentera-lentera kristal memancarkan cahaya biru yang anggun, melambangkan kemewahan para bangsawan dan murid sekte inti. Namun, jauh di bawah kemegahan itu, di pinggiran kota yang berbatasan dengan jurang awan, terdapat sebuah wilayah yang dikenal sebagai Pasar Hitam Bawah Awan.

​Tempat ini adalah rahim yang kotor bagi segala sesuatu yang tidak diinginkan oleh dunia luar. Bau apek dari barang-barang antik yang lembap, aroma obat-obatan terlarang, dan desas-desus tentang harta karun yang terkubur dalam lumpur memenuhi udara. Han Feng melangkah masuk ke dalam gang-gang sempit itu dengan topi bambu yang ditarik sangat rendah. Jubah cokelat yang dikenakannya sudah tampak usang, sengaja dibiarkan kotor dan berdebu agar ia tampak seperti ribuan pengembara miskin lainnya yang mencoba mengadu nasib di kota ini.

​Pasar Hitam Bawah Awan adalah tempat di mana spekulasi adalah satu-satunya hukum yang berlaku. Di sepanjang jalanan sempit yang becek, ribuan artefak yang digali dari reruntuhan kuno diletakkan begitu saja di atas tikar bambu yang sudah mulai lapuk. Para pedagang di sini tidak pernah menjamin keaslian barang mereka; siapa pun yang tertipu hanyalah dianggap sebagai tumbal bagi ketidaktahuan mereka sendiri.

​Han Feng berjalan dengan langkah yang sangat tenang, hampir tidak menimbulkan suara di atas jalanan batu. Ia tidak melihat dengan mata fisiknya, yang hanya akan disuguhi oleh tampilan palsu dari barang-barang yang dipoles agar terlihat mewah. Sebaliknya, ia memejamkan mata secara metaforis dan menggunakan Divine Sense-nya yang kini telah mencapai tingkat kemurnian yang menakutkan semenjak ia memiliki Pondasi Surgawi. Ia membiarkan Qi Emas di dalam Dantian-nya beresonansi perlahan, bertindak sebagai radar alami yang mencari getaran energi yang sejajar dengan kualitas "Dewa" miliknya.

​Di sekelilingnya, kerumunan kultivator kaya dari sekte-sekte menengah tampak sedang tawar-menawar dengan antusias. Mereka mengerumuni lapak yang menjual pedang-pedang berkarat yang dilapisi bubuk emas agar terlihat seperti harta tingkat Bumi. Han Feng melewati mereka dengan senyum dingin di balik bayangan topinya. Ia tahu bahwa di tempat seperti ini, barang yang paling bersinar biasanya adalah barang yang paling tidak berharga. Emas sejati sering kali bersembunyi di dalam lumpur yang paling dalam.

​Langkah kaki Han Feng tiba-tiba terhenti di sebuah pojok paling sepi, tepat di persimpangan gang yang jarang dilalui. Di sana, seorang lelaki tua yang tampak sangat sekarat sedang duduk bersandar pada dinding kayu yang sudah rapuh. Wajahnya kelabu, napasnya tersengal-sengal, dan matanya hampir sepenuhnya tertutup oleh katarak. Di atas tikar bambunya yang kecil, tidak ada barang mewah. Hanya ada beberapa potong tulang binatang yang sudah menguning dan sebuah batu hitam kusam seukuran kepalan tangan.

​Batu itu tampak menjijikkan; permukaannya berminyak, kotor oleh kerak tanah hitam, dan memiliki bau seperti air rawa yang membusuk. Tampaknya batu itu hanya digunakan sebagai pemberat jaring ikan selama puluhan tahun. Namun, saat Han Feng berada dalam radius dua meter dari batu itu, Qi Emas di dalam tubuhnya tiba-tiba berdenyut kencang. Itu bukan sekadar denyutan biasa; itu adalah reaksi ketakutan sekaligus ketertarikan dari energi alam yang paling murni.

​Han Feng menahan napasnya, mencoba tetap tenang. Ia menyapu batu itu dengan Divine Sense-nya secara mendalam, menembus lapisan kerak bumi yang busuk itu. Di pusat batu tersebut, ia menemukan sesuatu yang membuatnya hampir kehilangan kendali atas pernapasan. Ada sebuah struktur kristal ungu yang sangat kecil namun berdenyut dengan frekuensi yang sangat tinggi, mengandung hukum alam tentang kehancuran dan kelahiran kembali.

​Embrio Esensi Petir Langit.

​Benda ini adalah legenda di antara para kultivator elemen petir. Ia hanya bisa terbentuk di tempat yang tersambar oleh petir surgawi selama sepuluh ribu tahun tanpa jeda, memadatkan seluruh kemarahan langit ke dalam sebuah mineral kecil.

​"Berapa untuk tulang-tulang ini, Pak Tua?" Han Feng bertanya dengan suara parau yang sengaja dibuat-buat, suaranya terdengar seperti seorang pendekar yang sedang lelah.

​Lelaki tua itu terbatuk parah, mengeluarkan bercak darah ke telapak tangannya. Ia menatap Han Feng dengan pandangan kosong. "Sepuluh koin perak untuk semuanya... Ambil saja. Aku hanya butuh uang untuk membeli obat penghilang rasa sakit sebelum aku mati."

​Han Feng berpura-pura memeriksa tulang-tulang binatang itu dengan wajah bosan. "Sepuluh perak? Tulang-tulang ini sudah terlalu tua bahkan untuk dijadikan kalung jimat. Bagaimana dengan batu ini? Sepertinya cukup berat untuk kugunakan sebagai ganjal pintu di penginapan kumuhku."

​"Ambil saja... itu hanya batu yang kutemukan di dasar sungai," gumam lelaki tua itu dengan lemah.

​Han Feng mengeluarkan sepuluh koin perak dan menjatuhkannya ke tangan lelaki tua itu. Ia segera memungut batu tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya dengan gerakan yang seolah-olah acuh tak acuh. Namun, di dalam hatinya, ia berteriak. Sepuluh perak untuk sebuah harta yang di lelang besar Dataran Tengah mungkin bisa memicu perang antar-sekte besar.

​Tanpa membuang waktu, Han Feng segera meninggalkan pasar hitam dan kembali ke penginapannya. Ia sadar bahwa keberuntungan sebesar ini sering kali dibarengi dengan bahaya. Ia segera memesan sebuah ruang meditasi bawah tanah yang paling mahal—tipe yang hanya disewakan untuk para jenius sekte besar yang ingin menerobos ranah. Ruangan itu terbuat dari batu basal hitam yang sangat tebal dan dilengkapi dengan formasi peredam aura yang mampu menahan gejolak energi hingga ke tingkat Inti Sejati.

​Di dalam ruangan yang sunyi itu, Han Feng duduk bersila. Ia meletakkan batu hitam yang kotor itu di depannya. Dengan satu gerakan tangan yang dialiri oleh Qi Emas murni, ia memberikan tekanan pada permukaan batu tersebut.

​Crak!

​Lapisan kerak bumi yang berminyak dan busuk itu hancur berantakan, menyingkap isi di dalamnya. Seketika, ruangan meditasi itu diterangi oleh cahaya ungu yang menyilaukan. Sebuah kristal transparan berbentuk oval muncul, memancarkan aura listrik yang begitu padat hingga rambut Han Feng berdiri tegak karena induksi statis. Suara derik petir yang halus memenuhi ruangan, terdengar seperti nyanyian ribuan serangga guntur.

​Han Feng tidak membuang waktu untuk mengagumi keindahannya. Ia tahu bahwa energi ini sangat liar. Ia mulai menjalankan metode kultivasi Hukum Naga Emas Surgawi-nya, membiarkan Qi-nya keluar dan menyelimuti kristal ungu tersebut.

​Proses penyerapan dimulai. Aliran energi petir yang sangat panas mulai merambat dari kristal menuju telapak tangan Han Feng, lalu masuk ke dalam jalur nadi utamanya. Rasa sakitnya luar biasa. Rasanya seperti ribuan jarum besi panas sedang dipaksa masuk ke dalam pembuluh darahnya. Tubuh Han Feng bergetar hebat, dan keringat dingin bercampur kotoran tubuh mulai keluar dari pori-porinya—sebuah proses pembersihan sumsum tulang yang sangat dalam.

​Energi dari Embrio Esensi Petir Langit itu meledak di dalam Dantian-nya, menciptakan pusaran petir ungu yang mulai berinteraksi dengan Qi Emas miliknya. Di bawah tekanan energi yang begitu besar, Pondasi Surgawinya justru semakin bersinar. Ia merasakan dinding penghalang ranahnya yang selama ini terasa kokoh, kini mulai retak dan hancur seperti bendungan yang dijebol oleh banjir bandang.

​Level 4 tercapai hanya dalam hitungan menit. Namun, energi kristal itu belum habis. Han Feng terus menekan energinya, memaksa petir-petir itu untuk menyatu dengan tulang dan organ dalamnya. Dalam keheningan meditasi yang mendalam, ia seolah melihat gambaran langit yang terbelah oleh kilat raksasa. Ia memahami bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang menghancurkan, tapi tentang memurnikan.

​BOOM!

​Sebuah ledakan energi yang terkendali terjadi di dalam tubuhnya. Han Feng membuka matanya, dan untuk sesaat, pupil matanya berubah menjadi ungu keemasan sebelum kembali menjadi hitam pekat. Ia telah berhasil. Hanya dalam satu malam meditasi yang ekstrem, ia melonjak dari Level 3 dan kini berdiri kokoh di Ranah Pondasi Dasar Level 5.

​Auranya kini berubah secara drastis. Jika sebelumnya ia masih memancarkan sedikit aura liar seorang pendekar, kini ia tampak seperti manusia biasa tanpa kultivasi sama sekali. Han Feng telah mencapai tingkat di mana ia bisa menyembunyikan kekuatannya begitu dalam sehingga bahkan ahli setingkat Inti Sejati pun mungkin akan menganggapnya sebagai orang awam, kecuali mereka memeriksa nadinya secara paksa.

​Keesokan paginya, saat fajar baru saja menyentuh puncak-puncak menara Kota Seribu Awan, Han Feng keluar dari ruang meditasi. Ia merasa tubuhnya begitu ringan, seolah-olah ia bisa terbang hanya dengan satu lompatan kecil. Indranya pun kini menjadi sepuluh kali lebih tajam; ia bisa mendengar detak jantung orang-orang di lantai atas penginapannya dan merasakan aliran energi spiritual yang berputar di seluruh kota.

​Di luar, suara terompet yang terbuat dari tanduk binatang purba berbunyi dengan nada yang agung dan panjang. Itu adalah suara yang sudah ditunggu-tunggu oleh ribuan orang: tanda pendaftaran resmi seleksi Sekte Langit Abadi telah dibuka.

​Namun, saat Han Feng baru saja akan membuka pintu kamarnya untuk berangkat ke alun-alun kota, ia mendadak mematung. Matanya terpaku pada bingkai kayu di samping pintu kamarnya. Di sana, terdapat sebuah ukiran yang sangat halus, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Sebuah tanda silang merah dengan lingkaran di tengahnya—tanda yang pernah digambarkan oleh Kakek Bo sebagai simbol dari Unit Pengawal Bayangan.

​Tanda itu masih sangat baru. Serpihan kayu kecil masih menempel di lubang ukirannya, menandakan bahwa tanda ini baru saja dibuat saat ia sedang bermeditasi di ruang bawah tanah.

​Han Feng merasakan hawa dingin yang halus merayap di punggungnya. Seseorang telah berhasil melacaknya ke penginapan ini tanpa ia sadari. Apakah ini karena lencana perunggu yang ia bawa? Ataukah perbuatannya di Wadas Putih telah sampai ke telinga organisasi rahasia ini?

​"Tanda Bayangan..." gumam Han Feng pelan. Tatapannya menjadi tajam dan waspada. "Apakah ini peringatan untuk tetap diam, ataukah sebuah undangan untuk masuk ke dalam lubang harimau yang lebih dalam?"

​Han Feng tidak membuang waktu untuk merasa takut. Ketakutan adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki. Ia menarik napas dalam, membetulkan letak pedang tanpa nama di pinggangnya, dan menarik topi bambunya. Dengan kekuatannya yang kini sudah mencapai Level 5 dan kualitas Pondasi Surgawi, ia tahu bahwa dirinya bukan lagi mangsa yang mudah untuk ditelan.

​Ia melangkah keluar dari penginapan, menyatu dengan ribuan murid sekte yang mulai membanjiri jalanan menuju tempat pendaftaran. Di balik punggungnya, tanda silang merah itu seolah menatapnya dengan aura misterius, menandakan bahwa selain seleksi yang harus ia hadapi, ada pertempuran lain yang sedang menantinya di balik bayang-bayang kota ini. Naga itu kini telah memiliki taring petir, dan ia siap untuk merobek siapa pun yang mencoba menjadikannya target buruan.

​Seleksi telah dimulai, dan perburuan yang sesungguhnya pun baru saja dimulai.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!