NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Nafas Terkahir Sang Ratu Mafia.

Pertemuan yang tak pernah disangka terjadi kembali setelah delapan belas tahun. Dua sosok yang dahulu terikat oleh kenangan panjang kini berdiri dalam ruang dan waktu yang sama. Dialah Veriska Alexander Wiliam Anderlecht… dan pria yang dulu mengisi sebagian masa kecilnya: Louis Tomlinson.

Kini, gadis itu berada di sebuah mansion megah milik Louis di Italia bangunan tua namun anggun, dengan arsitektur klasik yang membuat siapa pun yang memandangnya seakan kembali ke abad lampau.

“Om…” panggil Veriska pelan.

Louis menoleh, senyum lembut terukir di wajahnya.

“Hm? Ada apa, Baby?”

“Ini mansion Om luas sekali. Rasanya seperti berjalan di istana. Hampir mirip dengan mansion Kakek Heron di Italia.”

Louis mengangguk kecil.

“Kamu benar, Baby. Tempat ini memang milik Om. Sudah lama Om menempatinya… jauh sebelum kamu lahir.”

Veriska menatap sekeliling, lalu menunduk.

“Om… sepertinya aku harus pulang sekarang. Ibu pasti khawatir. Ini sudah terlalu malam.”

Dalam sekejap, Louis menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya erat, hangat, seakan tidak ingin melepaskannya.

“Tidak bisakah kamu tinggal sebentar saja? Om masih ingin kamu di sini, Baby.”

Veriska tersenyum samar, lalu menatap mata pria itu.

“Sejak kapan Om jadi manja begini?”

Louis terkekeh, namun suaranya terdengar sendu.

“Sejak Om kenal kamu… sejak delapan belas tahun lalu.”

“Om…”

“Iya, Baby,” jawabnya lirih, memeluk Veriska semakin erat seakan takut gadis itu akan menghilang.

Veriska akhirnya menghela napas lembut.

“Baiklah… aku akan tetap di sini malam ini.”

Louis tersenyum lega.

“Terima kasih, Baby.”

“Iya, Om,” ucap Veriska sambil membalas pelukan itu sesuatu yang sudah lama ingin ia lakukan namun tak pernah berani.

Di Kediaman Keluarga Alexander

Notifikasi pesan terdengar dari ponsel Viola. Sebuah pesan dari putrinya masuk.

*Ibu, hari ini Viora menginap di rumah dosen. Masih ada tugas kuliah yang harus dikerjakan.*

Viola tersenyum tipis dan membalas cepat.

*Iya, Sayang. Hati-hati dan jangan lupa makan.*

Tak lama kemudian, suaminya menghampiri.

“Sayang, Viora ke mana? Kenapa belum pulang?”

Viola menunjukkan pesannya.

“Dia izin menginap. Katanya masih ada tugas kuliah dan harus dibimbing langsung oleh dosennya.”

“Benarkah?” tanya suaminya, masih tampak khawatir.

“Iya, Mas. Dia bilang begitu.”

Pria itu mengangguk pelan.

“Baiklah… asal dia aman dan tidak ada masalah.”

“Tentu, Mas. Kita percaya saja pada anak kita.”

Di Kediaman Keluarga Wiliam Anderlecht

Di rumah besar itu, langkah kaki terdengar menuruni tangga. Seorang pemuda berpakaian rapi dengan aura dingin dan wibawa kuat muncul. Dialah Reoghert Pattinson Wiliam Anderlecht pewaris yang kini menggantikan Dirgantara mengelola perusahaan keluarga di Italia. Darah Heron mengalir kuat dalam dirinya: tampan, tegas, dan tidak mudah digoyahkan.

“Reoghert, Nak… makan dulu,” panggil ibunya.

“Iya, Ibu,” jawabnya datar tetapi sopan.

Seluruh keluarga besar berkumpul di meja makan: Heron, Willia, Victor, Albert, Sean, Melinda Wulandari, Dynara Aprillia, Laura Alexander, Viora, dan Robert.

Namun ada satu kursi yang kosong.

Kursi milik Liora.

Ia sedang berada di Amerika untuk menjalani pengobatan intensif. Kesehatannya terus menurun, sementara John—suaminya—setia berada di sampingnya setiap hari.

Saat makan, Reoghert menoleh pada ibunya.

“Ibu… bagaimana kondisi Nenek Liora? Apakah sudah membaik?”

Willia terdiam sejenak.

“Ibu mendapat kabar dari Kakek John… kondisinya makin menurun.”

Kalimat itu membuat Heron terpaku. Wajahnya memucat, napasnya tercekat, seakan dunia runtuh di hadapannya. Liora… putri sulungnya… satu-satunya penopang keluarga saat masa kelam dulu.

“Mas… ayo kita ke Amerika,” ucap Willia dengan suara bergetar. “Kita harus menjenguk putri kita.”

Heron mengangguk.

“Iya, Willia. Kita berangkat secepatnya.”

Ia menatap cucu-cucunya.

“Boys, Kakek percayakan perusahaan pada kalian.”

“Iya, Kek. Tenang saja,” jawab Reoghert.

“Victor, Albert, Sean… kalian ikut Ayah dan Ibu. Kita harus menjenguk Kakak kalian.”

“Kami siap, Ayah.”

Keesokan paginya, Heron dan keluarganya berangkat ke Amerika, meninggalkan mansion besar itu hanya dengan Robert, Viola, dan Reoghert.

Di Amerika

Setelah perjalanan panjang, mereka tiba di rumah sakit milik keluarga besar Wiliam Anderlecht rumah sakit yang kini dipimpin Henry, adik Heron.

Para dokter dan perawat menunduk hormat ketika keluarga besar itu memasuki gedung.

Henry menyambut mereka dengan wajah pucat dan

Henry menghela napas panjang sebelum berbicara, suaranya bergetar menahan duka.

“Kak… maaf. Kondisi Liora benar‑benar memburuk. Dia sudah terlalu lama menyimpan luka. Berita tentang kematian Kakak dulu… kehilangan Adrian… dan sekarang Dirgantara tidak di sisinya… semuanya memakan batinnya perlahan.”

Heron memejamkan mata.

Ucapan itu seperti pisau yang menusuk dadanya berkali‑kali.

“Dia sedang disuapi John. Kakak bisa menemui Liora di ruang perawatan khusus keluarga kita.”

Tanpa menunggu lama, Heron langsung melangkah cepat. Willia, Victor, Albert, dan Sean mengikuti di belakangnya, masing‑masing dengan wajah tegang dan mata mulai berkaca-kaca.

Di dalam ruangan keluarga

Liora terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit khusus itu. Tubuhnya tampak kurus, kulitnya pucat, dan tatapan matanya kosong walau tetap menyimpan lembutnya kasih seorang kakak. Di sampingnya, John duduk dengan penuh kesetiaan, menyuapinya perlahan sambil membelai rambut istrinya.

Ketika Heron memasuki ruangan, suara pria itu bergetar.

“Liora… Sayang Ayah…”

Mata Liora perlahan terbuka.

Ia tersenyum tipis senyum yang masih sama seperti dua puluh tiga tahun lalu, ketika ia masih gadis muda yang kuat dan tak terkalahkan.

“Ayah…” bisiknya pelan. “Bagaimana Ayah bisa sampai di sini?”

Heron tidak menjawab.

Air matanya terlebih dahulu jatuh, tidak dapat ia tahan, bahkan meski ia berusaha menjaga wibawanya di hadapan putri sulungnya.

Willia langsung memeluk suaminya, turut menangis.

Ketiga adik Liora Victor, Albert, dan Sean langsung menghampiri kakaknya.

“Kak…” suara Albert pecah. “Mengapa Kakak jadi seperti ini? Di mana kakak kami yang dulu? Yang paling kuat, paling dingin, paling gagah di antara kita semua?”

Liora tersenyum remuk.

“Maafkan Kakak… Kakak menyembunyikan semuanya dari kalian. Sejak kabar kematian Ayah dan Ibu dulu… sejak Adrian pergi… Kakak tidak pernah benar‑benar bangkit.”

Matanya berkaca-kaca.

“Kesedihan itu menumpuk… merusak tubuh Kakak… dan akhirnya membuat Kakak seperti ini.”

Liora memalingkan wajah, menahan sesak di dadanya.

“Kakak juga… belum bisa melepaskan Dirgantara. Tapi sekarang Kakak sudah tenang. Dia dicintai… dijaga… Kakak tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.”

John spontan menggenggam tangan istrinya.

“Jangan bicara seperti itu!” serunya putus asa.

Liora menatapnya lemah.

“Mas… maafkan aku. Aku menyembunyikan penyakit ini darimu. Aku tidak ingin kamu khawatir… tidak ingin kamu menyiapkan diri untuk kehilanganku.”

Air matanya jatuh perlahan.

“Penyakit ini… depresi yang menghancurkan tubuhku pelan‑pelan…”

Ia mengelus tangan John.

“Mas… aku titip perusahaan di Amerika… semua markas kita… tolong jaga…”

“Jangan!” John menangis, suaranya pecah. “Kamu akan sembuh! Kamu harus sembuh! Aku mencintaimu, Liora… Sangat.... Sangat... Mencintai…”

Ia mencium kening istrinya berulang‑ulang.

Tapi beberapa detik kemudian…

Napas Liora berhenti.

Hening.

Sunyi yang mematikan.

Lalu suara tangis pecah serentak.

Heron jatuh berlutut.

Willia menjerit.

Victor, Albert, dan Sean memeluk tubuh kakaknya, tubuh yang tak lagi bernafas.

Tit…

tit…

tit…

Layar monitor menunjukkan satu garis lurus panjang.

Pertanda akhir.

Henry masuk dan langsung tersungkur.

“Liora… Kakak…”

Gadis yang dulu ia lindungi… gadis yang kuat, galak, dingin… kini telah pergi.

Keluarga besar Wiliam Anderlecht kembali diselimuti duka yang dalam.

Untuk kedua kalinya… mereka kehilangan sosok yang sangat berarti.

Berhari-hari kemudian…

Para kerabat, rekan bisnis, dan seluruh keluarga besar datang memberikan belasungkawa.

Reoghert menangis diam‑diam, menutupi wajahnya yang biasanya tegas.

Veriska menggenggam tangan Louis, mencoba menahan sedihnya.

Viora berdiri tanpa suara.

Dan Javi…

Pria yang pernah mencintai Liora dengan tulus… hanya bisa menunduk, tidak sanggup berkata apa pun.

Tak lama kemudian, Dirgantara datang bersama kedua suaminya. Begitu melihat John, ia langsung memeluk ayah tirinya itu.

“Ayah…”

Tangisnya pecah.

“Boys…” suara John nyaris tak terdengar. “Ibumu... sudah pergi.”

Dirgantara memeluk John lebih erat.

“Aku tahu rasa sakit itu, Ayah… aku tahu…”

Mereka menangis bersama dalam pelukan yang penuh kehilangan

Liora Wiliam Anderlecht…

Wanita yang dikenal dingin, tak tersentuh, tegas, dan paling kuat di antara mereka…

Akhirnya tumbang oleh luka yang ia pendam sendirian.

Kesedihan demi kesedihan… menggerogoti dirinya sedikit demi sedikit…

Sampai akhirnya merenggut hidupnya.

Dan kini…

Ia pergi.

Mungkin… untuk menyusul cinta pertamanya,

Adrian Warinata,

yang sejak dulu hanya ia simpan dalam doa dan diamnya.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!