Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dinding batu dingin yang basah oleh lumut dan rembesan air tanah menjadi batas akhir pelarian Lin Ruoxue. Aula bawah tanah itu buntu. Tidak ada jalan rahasia, tidak ada celah cahaya. Hanya bau busuk dari mayat-mayat siluman yang baru saja dibantai, tumpang tindih dengan bau karat dari darahnya sendiri.
Lin Ruoxue terengah-engah. Dada kirinya terkoyak oleh cakar kelelawar, darah segar merembes membasahi jubah abu-abunya yang compang-camping. Pedang patahnya telah lama terlepas entah dari mana. Ia hanya bisa bersandar pada dinding batu yang keras, menatap tajam ke arah tiga bayangan yang perlahan mendekatinya dari lorong gelap.
Tiga murid senior Sekte Awan Azure. Ketiganya memancarkan Qi yang stabil dan menekan pada tahap lima Kondensasi Qi. Mereka saja selesai membantai sisa Siluman Kelelawar Tanah yang mengejar Lin Ruoxue, bukan untuk membantunya, melainkan untuk mengamankan mangsa baru mereka.
"Kau berlari cukup jauh, Tikus Kecil," ucap murid memandang tirus yang memimpin kelompok itu. Pedangnya berlumuran darah hitam siluman. Ia mengusap pedang pedang itu dengan ibu jarinya, menatap Lin Ruoxue dari atas ke bawah dengan menirukan yang menelanjangi. "Tapi sayangnya, jalanmu berakhir di sini."
Murid kedua, seorang pria bertubuh gempal dengan bekas luka bakar di Jing-wang, tertawa parau. "Jangan salahkan kami, Adik Seperguruan Lin. Salahkan Kepala Sekte yang melempar kita ke neraka ini. Di luar sana, kau mungkin berpura-pura dingin dan angkuh. Tapi di dalam Reruntuhan Kuno, aturan sekte adalah omong kosong. Tidak ada yang akan mendengar maksimalmu."
"Kita ambil batu rohnya, kita nikmati tubuhnya selagi hangat, lalu kita lemparkan mayatnya ke sarang siluman," murid ketiga dengan seringai cabul.
Mereka bertiga melangkah maju, melontarkan jarak, memojokkan gadis itu layaknya serigala kelaparan yang mencakup seekor kelinci terluka.
Namun, Lin Ruoxue bukanlah kelinci.
Mendengar ancaman brutal itu, tidak ada setetes pun air mata yang jatuh dari mata Lin Ruoxue. Ketakutan yang seharusnya ada pada gadis seusianya menguap total, digantikan oleh kehampaan yang membekukan jiwa. Matanya berubah sedingin es abadi—sebuah awal dari entitas yang di masa depan akan dikenal sebagai Iblis Es Hitam.
Di dalam tubuhnya, Lin Ruoxue mengambil keputusan mutlak. Ia mulai mengemukakan aliran Qi elemen es di meridiannya secara paksa. Ia tidak bermaksud menyerahkan harga dirinya kepada tiga anjing busuk ini. Ia akan mengumpul dantiannya sendiri, menghancurkan radius sepuluh meter di sekitarnya dalam badai es murni, dan menyeret ketiga keparat ini ke neraka bersamanya.
Fluktuasi mematikan mulai membalikkan tubuh rapuhnya. Suhu di aula buntu itu langsung terasa. Kulit Lin Ruoxue memucat hingga nyaris transparan, urat-urat es mulai menonjol di cermin.
Murid menatap tirus menyadari hal itu. Matanya melebar panik. "Pelacur gila! Dia ingin merangkum meridiannya! Potong tangan sekarang!"
Ketiga senior itu melesat maju secara serentak, pedang mereka terhunus untuk dibungkus lengan dan kaki Lin Ruoxue sebelum proses peledakan itu selesai. Jarak tersisa mereka kurang dari dua meter. Lin Ruoxue memejamkan mata, bersiap menyambut rasa sakit absolut dari kehancuran jiwa.
Namun, ledakan itu tidak pernah terjadi.
Sebuah tekanan mental yang luar biasa gelap, kuno, dan dipenuhi aroma seumur hidup seumur hidup tiba-tiba meledak dari mulut menuju lorong aula. Tekanan itu bukan Qi, melainkan Niat Membunuh absolut yang begitu pekat hingga membuat udara di dalam ruangan terasa seberat timah.
Tanpa basa-basi pahlawan, tanpa teriakan peringatan, dan tanpa mengucapkan kata pun.
SRET !
Sebuah garis tak kasat mata membelah udara dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata. Garis itu menembus kegelapan, melewati celah antara dua murid lainnya, dan menghantam leher murid yang berada di tirus yang berada paling depan.
CROT !
Suara daging robek dan tulang leher yang terpotong terdengar sangat kasar dan memuakkan. Kepala murid tampak tirus itu terlepas dari itu dengan mulus, terbang ke udara dengan ekspresi panik yang masih membeku di wajahnya. Air muntahan darah segar menyembur setinggi dua meter dari leher buntungnya, mengguyur tubuh Lin Ruoxue dan dinding batu di belakangnya dengan cairan hangat berwarna merah pekat.
Tubuh tanpa kepala itu berlari dua langkah lagi karena momentum, sebelum akhirnya ambruk menabrak lantai batu dengan bunyi berdebum keras.
Lin Ruoxue membuka matanya seketika. Proses peledakan meridiannya terhenti. Ia menatap mayat tanpa kepala di depannya dengan pupil mengecil.
Dua murid senior yang tersisa membeku di tempat. Wajah mereka yang tadinya dipenuhi nafsu bejat kini digantikan oleh teror absolut. Mereka menoleh dengan kaku ke arah lorong masuk.
Dari balik bayang-bayang kegelapan aula, terdengar suara langkah kaki yang sangat tenang dan metodis.
Tap . Mengetuk. Mengetuk.
Jiang Xuan melangkah masuk. Jubahnya berkibar pelan. Wajah remajanya sepucat mayat, sama sekali tidak memancarkan emosi. Roda Langit emas di mata kirinya berputar konstan, sementara mata memastikan segelap jurang tak berdasar. Aura pembunuh yang keluar dari tubuhnya membuat suhu ruangan yang tadinya dingin oleh Qi Lin Ruoxue kini terasa benar-benar membekukan sumsum tulang.
"Jiang...Jiang Xuan?!" murid bertubuh gempal berteriak dengan suara pecah. Ia mengenali wajah 'sampah' sekte itu, namun insting hewannya menjerit bahwa sosok di depannya bukanlah manusia, melainkan malaikat maut yang menyamar. "B-bagaimana kamu bisa membunuh Kakak Seperguruan Liu?!"
"Keparat! Dia baru tahap tiga! Dia pasti menggunakan trik senjata rahasia!" raung murid ketiga, mencoba mengusir ketakutannya sendiri dengan kemarahan. "Bunuh sampah ini!"
Didorong oleh rasa panik dan amarah, kedua murid tahap lima Kondensasi Qi itu menerjang ke arah Jiang Xuan secara bersamaan. Qi mereka meledak, melapisi pedang mereka dengan energi yang mampu membelah batu besar.
Jiang Xuan tidak mundur satu milimeter pun. Ia bahkan tidak repot-repot menghunus senjata.
Otaknya yang berusia tiga ratus tahun memproses lintasan serangan kedua musuhnya layaknya melihat gerakan siput yang cacat. Saat pedang murid bertubuh gempal tertutup vertikal ke arah kepalanya, Jiang Xuan hanya menggeser bahu kirinya sejauh tiga inci. Bila pedang itu melewati telinga, hanya memotong udara kosong.
Pada saat yang sama, Jiang Xuan mengangkat tangannya. Jari telunjuk dan jari tengahnya merapat, dilapisi oleh Formasi Niat yang sangat padat hingga udara di sekeliling jari-jari yang terdistorsi.
Batalkan Kaligrafi. Di tangan sang Cendekiawan Tinta Hantu, jari adalah kuas, dan darah musuh adalah tintanya.
Jiang Xuan tidak memukul atau meninju. Ia hanya menggoreskan radius dengan gerakan menyilang yang sangat efisien tepat di atas dada murid gempal yang penutupannya terbuka lebar.
SRET ! SRET!
Garis Niat Formasi tak kasat mata itu bertindak seperti kawat baja setipis rambut yang dipanaskan. Garis itu menembus, memotong kulit, merobek otot dada, dan membelah tulang rusuk murid gempal itu tanpa sedikitpun perlawanan.
"URGH!"
Murid gempal itu terbelalak. menyembur deras dari dada yang terbuka berbentuk tanda silang. Organ dalamnya terburai keluar, jatuh ke lantai dengan suara berceceran yang menjijikkan. Ia bahkan belum menyadari bahwa ia sudah mati saat tubuhnya ambruk ke depan.
Melihat rekannya dibelah hidup-hidup dengan tangan kosong, murid ketiga kehilangan akal sehatnya. Ia berteriak histeris, menguncikan pedangnya secara membabi buta ke arah perut Jiang Xuan.
Jiang Xuan menangkis tebasan itu tidak dengan menghindar, melainkan dengan memukul sisi datar pedang pedang musuh menggunakan punggung tangan kirinya.
TRANG !
Tenaga fisik tahap empat Kondensasi Qi milik Jiang Xuan yang telah dicuci sumsumnya menghantam pedang itu dengan keras, membuatnya terlempar dari genggaman sang murid. Murid itu terhuyung ke depan akibat momentumnya sendiri.
Jiang Xuan mengambil satu langkah ke depan, masuk sepenuhnya ke dalam zona pertahanan musuh. Dengan wajah sedingin es, tangan tajamnya melesat ke depan seperti ular berbisa, mencengkeram tenggorokan murid tersebut.
Jari-jarinya menancap ke dalam daging leher sang senior. Formasi Niat dialirkan langsung dari ujung penjepit ke dalam meridian musuh, mengunci aliran dan Qi-nya secara total.
Murid itu meronta-ronta di udara, kedua kakinya menendang pembohong, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeramannya maut dicontoh. Wajahnya membiru karena kekurangan oksigen. Matanya menatap Jiang Xuan dengan permohonan maaf yang tertidur.
Jiang Xuan menatap mata murid itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Tidak ada dialog. Tidak ada balasan balasan. Ia hanya menggenggam tangannya.
KRAK !
Tulang rawan di tenggorokan murid itu hancur berkeping-keping. Udara dan darah menumpuk di paru-parunya. Jiang Xuan melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh yang kejang-kejang itu jatuh ke lantai batu.
Tiga murid tahap lima Kondensasi Qi. Dieksekusi dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas. Tanpa membuang tenaga berlebih, tanpa menggunakan senjata fisik, dan murni menggunakan efisiensi pembunuhan yang absolut.
Jiang Xuan berdiri di tengah ruangan yang kini digenangi oleh darah kental. Bau besi memuakkan memenuhi udara. Ia menunduk menatap tubuh murid terakhir yang masih mengejang pelan di dekat kakinya.
Dengan gerakan lambat dan rasional, Jiang Xuan mengangkat kakinya dan menginjak tepat di tengah dada mayat yang masih berkedut itu.
KRAK !
Tulang rusuk murid itu hancur total di bawah tekanan sol sepatu Jiang Xuan. Kejang-kejangnya berhenti seketika. Hening kembali menguasai aula bawah tanah tersebut, hanya diselingi suara tetesan darah yang jatuh dari pilar batu.
Jiang Xuan perlahan mengangkat kepalanya. Poninya yang sedikit basah oleh cipratan darah menyingkir, menampilkan tampilan yang gelap, dalam, dan dipenuhi oleh aura predator yang belum sepenuhnya reda.
Tatapan itu langsung mengunci satu-satunya makhluk hidup lain di ruangan tersebut.
Di ujung aula, di sudut dinding yang dingin, Lin Ruoxue masih berdiri mematung. Tubuhnya berlumuran darah segar dari kepala murid pertama. Wajahnya tidak menunjukkan histeria atau rasa terima kasih, melainkan kewaspadaan ekstrem dari seekor binatang terluka yang baru saja melihat monster yang jauh lebih mematikan.
Di tengah lautan mayat yang terpotong-potong dan kumpulan darah hitam siluman, sang Pemutus Takdir dan sang embrio Iblis Es Hitam saling bertatap mata dalam keheningan yang panjang dan mematikan. Percikan benang takdir perlahan mulai berjalin di udara yang membeku.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏