SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orbit yang Bersinggungan
Koridor laboratorium biologi biasanya menjadi tempat paling damai bagi Aruna, setidaknya sampai siang ini.
Saat ia baru saja keluar membawa setumpuk laporan praktikum yang tebal, sebuah bola basket oranye yang kusam menggelinding pelan dan berhenti tepat di depan ujung sepatunya yang putih bersih. Aruna menghentikan langkahnya, menatap bola itu selama beberapa detik sebelum pandangannya beralih ke arah datangnya bola tersebut.
"Woi, oper sini bolanya!"
Di ujung koridor, bersandar pada pilar beton dengan gaya yang sangat santai, berdiri seorang cowok dengan seragam yang tidak dikancing, memperlihatkan kaos hitam polos di baliknya.
Dasinya tidak terpasang rapi di kerah, melainkan melilit di dahinya seperti ikat kepala pejuang. Rambutnya sedikit berantakan, namun tidak bisa menutupi garis rahangnya yang tajam. Itu Askara, atau yang lebih dikenal sebagai Aska.
Aruna hanya menatap bola itu dengan wajah datar tanpa ekspresi, lalu kembali menatap Aska. Bukannya mengambilkan bola seperti yang diminta, ia justru melangkah melewati bola itu begitu saja, seolah benda itu tidak pernah ada di sana.
"Ck, cuek banget lu," gumam Aska. Suaranya terdengar serak namun penuh penekanan.
Dalam satu gerakan atletis yang sangat cepat, Aska sudah berada di depan Aruna, menghalangi jalan gadis itu sepenuhnya. Tubuh tingginya yang mencapai 180 cm membuat bayangannya jatuh menutupi tubuh Aruna, memaksa gadis itu untuk sedikit mendongak jika ingin melihat wajahnya.
"Gue bicara sama lu, Aruna, kan?" tanya Aska dengan nada yang menuntut.
Aruna memeluk tumpukan laporannya lebih erat. "Aku ada urusan," jawabnya pelan. Suaranya halus, namun jarak yang ia ciptakan terasa sangat lebar dan dingin.
Aska menyeringai, sebuah senyum miring yang seringkali membuat gadis-gadis di sekolah ini salah tingkah, namun tidak berlaku bagi Aruna. Aska menatap tumpukan kertas di tangan Aruna dengan tatapan meremehkan. "Urusan apa sih? Belajar mulu? Lu bisa yang sopan dikit nggak sih sama orang? Gue cuma nanya doang, nggak bakal gue makan juga."
Aruna menarik napas panjang, mencoba mempertahankan ketenangannya di tengah intimidasi fisik yang dilakukan cowok di depannya ini. "Aku ga ngerasa harus bersikap ramah dengan orang yang memanggilku seperti itu."
Aska tertawa kecil, suara tawa yang pendek namun terdengar maskulin. "Oh, jadi lu mau yang lebih formal? Oke, Gadis Terpintar, oper bolanya dong."
"Askara."
Suara bariton yang berat dan tenang itu muncul dari arah belakang mereka. Adrian berjalan mendekat dengan langkah tegap dan penuh wibawa.
Seragamnya sangat rapi, auranya memancarkan kepemimpinan yang membuat siapa pun secara otomatis memberikan jalan. Adrian berdiri tepat di samping Aruna, menciptakan penghalang antara gadis itu dan Aska.
"Aruna sudah ada janji denganku di perpustakaan untuk membahas materi olimpiade. Jangan ganggu dia," ucap Adrian dengan nada bicara yang datar namun sangat tegas.
Aska tidak lantas mundur. Ia justru memutar-mutar bola basket di jari telunjuknya dengan mahir, menunjukkan keterampilan motoriknya yang luar biasa. "Gue nggak ganggu, Bos. Santai aja. Gue cuma mau kenalan sama anomali sekolah ini. Emangnya salah ya kalau gue mau menyapa?"
Adrian menatap Aska dengan sorot mata tajam yang tidak goyah sedikit pun. "Gue peringatin lu, Ka. Awas kalau gue ngeliat lu ganggu anak sekolah sini lagi, apalagi Aruna. Lu tahu sendiri konsekuensinya kalau masuk ke ruang kesiswaan sekali lagi."
Aska mendengus, tawa sinis kembali menghiasi bibirnya. "Gue nggak ganggu, Bos. Lu aja yang terlalu protektif. Gue bukan preman yang bakal malakin dia di koridor."
Suasana di koridor laboratorium biologi itu mendadak menjadi sangat kaku. Para siswa yang kebetulan lewat di kejauhan mulai berbisik-bisik, menyaksikan pertemuan dua raksasa SMA Cakrawala Bangsa tersebut.
Pangeran sekolah yang sempurna melawan jagoan sekolah yang liar, dan di tengah-tengahnya berdiri seorang gadis sains yang tampak tenang namun terjepit dalam situasi yang ia benci.
"Ayo, Aruna. Abaikan saja dia, kita sudah terlambat sepuluh menit," ajak Adrian. Nadanya melunak saat berbicara kepada Aruna, tangannya sedikit memberikan isyarat agar Aruna melangkah pergi bersamanya.
Aruna mengangguk kecil, memberikan satu tatapan terakhir yang sulit diartikan kepada Aska sebelum ia mengikuti langkah Adrian. Saat mereka sudah berjalan beberapa meter menjauh, Aruna sedikit menoleh ke arah cowok di sampingnya.
"Terima kasih ya, Kak Adrian. Maaf jadi ngerepotin," ucap Aruna tulus.
Adrian tersenyum kecil, tipe senyum yang menenangkan namun tetap terlihat sangat terjaga. "Sama-sama, Na. Kamu nggak perlu minta maaf. Orang seperti Aska memang terkadang harus diingatkan posisinya. Dia jago di lapangan, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya."
Aruna hanya diam menanggapi itu. Di pikirannya, ia masih terbayang tatapan Aska yang tampak sangat letih meskipun cowok itu terus menyeringai. Ada sesuatu yang aneh dalam caranya menatap.
Sementara itu, di belakang mereka, Aska masih berdiri diam di tempatnya. Ia melempar bolanya ke udara dengan tinggi, lalu menangkapnya kembali dengan satu tangan yang kuat. Ia menatap punggung Aruna yang semakin menjauh bersama Adrian.
"Gadis terpintar, ya?" gumam Aska pada dirinya sendiri. "Lihat saja nanti seberapa pintar lu baca situasi, Aruna."
Aska berbalik arah menuju kantin belakang, tempat di mana ia biasanya bersembunyi dari hiruk pikuk sekolah yang munafik baginya.
Langkah kaki Adrian dan Aruna terus membawa mereka menuju ketenangan perpustakaan, namun Aruna tahu satu hal dengan pasti: garis hidupnya yang lurus dan teratur kini telah bersinggungan dengan sebuah orbit liar yang tidak bisa ia prediksi arahnya.
SMA Cakrawala Bangsa tidak akan pernah terasa membosankan lagi baginya.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻